[ppi] [ppiindia] Kemiskinan dan Kesejahteraan Rakyat

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**SUARA KARYA


Kemiskinan dan Kesejahteraan Rakyat
Oleh Sri Katonah 



Sabtu, 24 September 2005
Salah satu agenda Millenium Development Goals adalah penuntasan kemiskinan. 
Mengapa ini penting dikaji? Kemiskinan adalah fenomena global yang bisa 
berdampak luas pada semua aspek kehidupan. Bahkan, sentimen antara negara 
kaya-miskin juga bisa muncul karena faktor kemiskinan ini. Oleh karena itu, 
tidak ada alasan untuk tidak segera meminimalisasi terjadinya kemiskinan, 
terutama di banyak negara berkembang, termasuk juga di Indonesia yang kini 
sedang mengalami ancaman krisis kedua. 

Potret buram kemiskinan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari predikat 
negara miskin-berkembang. Meskipun demikian, potret kemiskinan juga terjadi di 
negara industri-maju. Jadi, sebetulnya ancaman kemiskinan telah menjadi problem 
sosial di banyak negara. Oleh karena itu, cukup beralasan jika saat ini banyak 
digencarkan seruan global bagi pengentasan kemiskinan. Bahkan, lembaga donor 
internasional tidak segan-segan memberikan bantuan program dan bantuan proyek 
yang ditujukan untuk pengentasan kemiskinan. Adanya komitmen itu, secara umum 
diakui bahwa problem kemiskinan ternyata hampir sama kasusnya di banyak negara. 

Salah satu Program of Action for Sustainable Development sebagai bagian dari 
Agenda 21 mencakup pokok pikiran tentang social and economic dimension yang 
meliputi: 1) kerja sama internasional mempercepat pembangunan berkelanjutan 
negara berkembang serta kebijakan domestiknya; 2) memerangi kemiskinan; 3) 
mengubah pola konsumsi; 4) dinamika demografi dan sustainibilitasnya; 5) 
proteksi dan meningkatkan kesehatan manusia; 6) promosi pengembangan pemukiman 
manusia berkelanjutan; 7) integrasi lingkungan dan pembangunan dalam 
pengambilan keputusan. Jadi, memerangi kemiskinan sudah menjadi nilai penting 
bagi proses pembangunan di era globalisasi. 

Memahami kemiskinan di Indonesia pada dasarnya tidak bisa lepas dari potret 
riil kependudukan. Publik mengakui bahwa jumlah penduduk yang besar, 
pertumbuhan tinggi dan persebaran yang timpang menuntut upaya survive yang 
lebih berat dan secara tak langsung memicu terjadinya kemiskinan, terutama 
untuk mereka yang tidak mampu bersaing. 

Kemiskinan sebagai salah satu faktor penyebab timbulnya berbagai masalah 
tentang kesejahteraan sosial muncul dalam berbagai bentuk ketidakmampuan 
pemenuhan kebutuhan dasar, kondisi keterpencilan dan keterasingan, 
ketergantungan, dan keterbatasan akses pelayanan sosial dasar. Penanganan 
penduduk miskin, terutama yang sangat miskin, apabila tidak dilakukan secara 
tepat, akan berakibat pada munculnya masalah sosial lain. Oleh karena itu, 
perhatian yang lebih serius untuk menurunkan jumlah penduduk miskin perlu lebih 
ditingkatkan agar masalah-masalah kesejahteraan sosial tidak makin meningkat 
dan meluas. 

Masalah kesejahteraan sosial yang terkait dengan kemiskinan adalah 
keterpencilan dan keterasingan. Hal ini terutama juga didukung oleh kondisi 
persebaran penduduk yang tidak merata. Di Jawa, misalnya, dengan tingkat 
kepadatan penduduk yang sangat tinggi memicu terjadinya kemiskinan yang sangat 
rentan. Sedang di luar Jawa dengan kondisi alam yang lebih menjanjikan ternyata 
tidak mengalami kepadatan penduduk yang tinggi sehingga banyak potensi alam 
yang belum tergarap. Kondisi ini tentunya sangat ironis dan karenanya ada 
program transmigrasi yang diharapkan tidak saja membuka potensi alam tetapi 
juga meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang mau bertransmigrasi (terutama 
yang berasal dari daerah yang tingkat kepadatan penduduknya tinggi). 

Agenda penghapusan kemiskinan global tampaknya menjadi sesuatu yang sangat 
strategis. Sasarannya, tak saja mayoritas negara miskin-berkembang yang 
merupakan kawasan paling padat jumlah kemiskinannya, tetapi juga negara 
industri-maju, terutama dikaitkan dengan tuntutan penghapusan kemiskinan 
sebagai suatu komunike dari World Summit on Social Development Copenhagen 1995 
atau KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial di Kopenhagen, baru-baru ini. Hasil KTT 
Kopenhagen menggariskan upaya-upaya sosial dalam hal penghapusan kemiskinan, 
perluasan lapangan kerja yang lebih produktif, penciptaan integrasi sosial yang 
lebih menitikberatkan pembangunan berdimensi kerakyatan, serta membuka peluang 
peningkatan kepedulian pemerintah, masyarakat dan dunia usaha dalam 
menyelenggarakan proses pembangunan kesejahteraan sosial. 

Meski pendefinisian tentang kemiskinan sudah spesifik, tetapi ukuran kemiskinan 
yang dianut oleh negara-negara dari standar Bank Dunia, ternyata secara empiris 
terkadang kurang bisa menjelaskan fenomena kemiskinan secara riil, terutama 
dikaitkan upaya membandingkan kemiskinan dengan taraf kesejahteraan. Intinya, 
tidak semua kemiskinan identik dengan ketidaksejahteraan.Demikian pula 
sebaliknya, tingkat pendapatan yang tinggi ternyata tidak mencerminkan tingkat 
kesejahteraan yang tinggi pula. 

Sejauh ini, pendekatan kesejahteraan telah dituangkan dalam beragam inpres. 
Pertama, Inpres Desa Tertinggal, tujuannya menciptakan kesetaraan desa dan 
memacu lapangan kerja di pedesaan. Kedua, Inpres Kesehatan, tujuannya memberi 
sisi layanan kesehatan yang mudah dan murah. Ketiga, Inpres Pendidikan, 
tujuannya memberikan layanan pendidikan gratis untuk pendidikan dasar sampai 
menengah. Keempat, Inpres obat-obatan, tujuannya untuk memberikan obat-obatan 
murah kepada masyarakat miskin. Kelima, beragam inpres lainnya untuk 
meningkatkan kesejahteraan penduduk pedesaan. 

Fakta terjadinya peningkatan kemiskinan dan penurunan kualitas SDM merupakan 
bukti bahwa krisis yang menimpa perekonomian kita telah memicu efek yang sangat 
kuat. Sebenarnya, konsekuensi atas meningkatnya kemiskinan dan penurunan 
kualitas SDM memang sudah diperkirakan sebelumnya. Konseptual di balik prediksi 
ini ditekankan pada realita terjadinya krisis yang kemudian memicu penurunan 
kinerja perekonomian makro. Ikhsan (1998) meyakini, krisis meningkatkan 
kemiskinan menjadi 51,5% jika harga pangan naik 25% menjadi 78,1%. Dan, jika 
harga pangan naik 50% dapat dipastikan akan berpengaruh secara signifikan 
terhadap penurunan kualitas SDM. Fakta ini semakin diperkuat ketika tarif 
pendidikan kian mahal dan tidak terjangkau oleh para penduduk miskin. 
Sayangnya, dalih subsidi untuk pemerataan pendidikan yang dirancang para 
petinggi dunia pendidikan tetap tidak mampu mengatasi ancaman rendahnya 
kualitas SDM. 

Realitas terjadinya ledakan angka kemiskinan dan penurunan kualitas SDM 
menunjukan bahwa trilogi pembangunan masih belum menunjukkan hasil yang 
optimal. Padahal trilogi pembangunan menegaskan bahwa orientasi yang utama 
adalah pemerataan hasil pembangunan. Kecenderungan terjadinya kemiskinan dan 
penurunan kualitas SDM merupakan bukti masih adanya pemusatan hasil 
pembangunan. *** 

Penulis pemerhati masalah sosial, tinggal di Solo. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: