[ppi] [ppiindia] Kemiskinan dan Disfungsi Pemerintah
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 19 Oct 2005 22:37:12 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/20/opini/2124026.htm
Kemiskinan dan Disfungsi Pemerintah
Tata Mustasya
Awan hitam tampaknya belum beranjak dari nasib puluhan juta kaum miskin di
Indonesia. Sebabnya, perbaikan kebijakan publik buah reformasi politik dan
demokratisasi selalu mengeksklusi kaum miskin. Realitas dan pengalaman di
banyak negara menunjukkan hal itu.
Kajian Guru Besar Ilmu Politik University of California, Los Angeles (UCLA)
Michael Ross menjelaskan, kesejahteraan kaum termiskin tidak terkait tipe
rezim. Pemerintahan yang demokratis, menurut Ross dalam paper berjudul Is
Democracy Good for the Poor?, tidak mendorong perbaikan kesejahteraan kaum
termiskin. Setidaknya itulah yang terjadi di 169 negara dalam kurun waktu
1970-2000.
Yang belum dijawab tuntas dan masih dipertanyakan Ross, mengapa mekanisme
demokrasi tidak juga memperbaiki kesejahteraan kaum termiskin?
Fenomena di Indonesia akhir- akhir ini, terutama setelah kenaikan harga bahan
bakar minyak (BBM), bisa membantu menjawab pertanyaan itu.
Disfungsi pemerintah
Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK), sejauh ini,
merupakan contoh nyata pemerintahan demokratis dengan label gagal melayani
kebutuhan kaum miskin. Daya pemerintah dalam mengendalikan dampak ikutan
kenaikan harga BBM seperti tarif angkutan umum, harga, dan ketersediaan minyak
tanah betul-betul tumpul. Pemerintah bahkan tak berhasil mengidentifikasi
keberadaan kaum miskin secara akurat sebagai input distribusi kompensasi untuk
keluarga miskin.
Banyak hal, secara salah kaprah, akhirnya diserahkan kepada mekanisme pasar
secara primitif. Padahal, kaum miskin tak mampu mengikuti dinamika kenaikan
harga barang dan jasa di pasar karena lemahnya daya beli. Kaum miskin juga
rentan terhadap guncangan ekonomi. Penyebabnya, mereka tidak memiliki tabungan
yang memadai sebagai amunisi penyesuaian (adjustment).
Paling sedikit, ada dua penyebab mengapa pemerintahan SBY-JK mengalami
disfungsi dalam mengelola dampak kenaikan harga BBM, terutama dalam kaitan
dengan kaum miskin. Pertama, pemerintah gagal memformulasikan pilihan sosial
(social choice) masyarakat.
Pilihan sosial, secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai agregat
pilihan-pilihan individu, ternyata tidak dipertimbangkan pemerintah. Padahal,
sekitar 36 juta 54 juta kaum miskin dan near poor tentu tidak mengharapkan
melonjaknya harga barang dan jasa yang biasa mereka konsumsi pascakenaikan
harga BBM. Hal ini sekaligus menunjukkan titik lemah demokrasi.
Pilihan sosial puluhan juta kaum miskin ternyata hanya diperhitungkan pada
pemilihan umum (pemilu). Dengan demikian, keuntungan kaum miskin, dengan
mempunyai hak politik, hanya berlaku ketika mereka boleh memilih kandidat
sesuai harapan mereka.
Setelah itu, kehendak kelompok penekan (pressure groups) yang didominasi elite
politik dan ekonomi menjadi penentu kisah.
Hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup non-elite seperti angkutan umum dan
minyak tanah menjadi tidak terlampau dihiraukan pemerintah. Elite sendiri tentu
lebih mampu menyesuaikan diri dengan turbulensi ekonomi. Selama elite tidak
terganggu, pemerintah tidak risau. Dalam kondisi seperti inilah mekanisme
demokrasi yang mampu memperbaiki kehidupan kaum miskin seperti disampaikan Sen,
(1999) tidak berjalan.
Penyebab kedua disfungsi pemerintahan dalam sistem politik demokratis adalah
lemahnya kelembagaan. Dengan asumsi pemerintahan SBY-JK peduli terhadap nasib
kaum miskin pun, tidak berfungsinya kelembagaan telah menggagalkan realisasi
komitmen pemerintah.
Peraih Nobel Bidang Ekonomi 1993 Douglass North menyebutkan tiga unsur
kelembagaan. Pertama, aturan formal berupa peraturan perundang-undangan. Kedua,
aturan nonformal seperti norma, nilai, dan kesepakatan. Ketiga, pelaksanaan
aturan formal dan nonformal.
Apa yang salah dari ketiga hal itu? Fungsi kelembagaan dalam manajemen dampak
kenaikan harga BBM tidak berjalan karena nihil pelaksanaan aturan. Pengemudi
angkutan umum dan penjual minyak tanah dengan gampang membangkang aturan.
Ketika seorang ibu memprotes harga minyak tanah yang jauh lebih tinggi
dibanding ketentuan pemerintah yang diumumkan di televisi, dengan enteng si
penjual minyak tanah berkata, Kalau begitu, beli minyak di teve aja.
Mencari harapan
Harapan terhadap kebijakan yang pro kaum miskin praktis terkikis oleh disfungsi
pemerintah. Dalam jangka panjang, bagaimanapun, harus ada usaha memperbaiki
mekanisme politik dan reformasi kelembagaan yang memungkinkan pemerintahan
terpilih mampu menjalankan fungsinya.
Dalam jangka pendek, masih tersedia alternatif-alternatif. Peluang pertama
berasal dari proses demokrasi lokal, seperti pemilihan kepala daerah (pilkada
langsung). Dari proses itu dapat lahir beberapa kepala daerah yang memiliki
watak kepemimpinan kuat sehingga mampu mengatasi aneka hambatan dalam
pengambilan kebijakan bagi kaum miskin.
Kekuatan ide atau gagasan merupakan peluang selanjutnya. Pengalaman di banyak
negara membuktikan gagasan dan desakan dari akademisi, teknokrat, aktivis LSM,
dan media massa mampu membantu pemerintahan yang lemah dalam melakukan
keberpihakan kepada kaum miskin. Dengan begitu, kaum miskin masih akan punya
harapan untuk memperbaiki kesejahteraan.
Tata Mustasya Peneliti Ekonomi-Politik The Indonesian Institute
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kemiskinan dan Disfungsi Pemerintah