[ppi] [ppiindia] Kemiskinan, Perempuan, dan BBM
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 20 Oct 2005 00:46:35 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**MEDIA INDONESIA
Kamis, 20 Oktober 2005
Kemiskinan, Perempuan, dan BBM
Siti Haiyinah Wijaya, Aktivis perempuan, mahasiswi UI, Depok.
BEBERAPA minggu ini kita disibukkan dengan berita orang miskin. Masalahnya
adalah pemerintah memberikan dana kompensasi BBM pada penduduk yang
dikategorikan miskin yang besarnya Rp300.000 untuk 3 bulan.
Artinya penduduk miskin disubsidi oleh pemerintah sebesar Rp100.000 setiap
bulannya. Sebenarnya apa yang dimaksud miskin itu? Badan Pusat Statistik yang
melakukan pendataan penduduk miskin menggunakan pendekatan basic needs.
Dengan pendekatan ini, kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan dalam
memenuhi kebutuhan dasar. Dengan kata lain, kemiskinan dipandang sebagai
ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun
nonmakanan yang bersifat mendasar.
Berdasarkan pendekatan basic needs, indikator yang dipakai adalah Head Count
Index (HCI) yaitu jumlah dan%tase penduduk miskin yang berada di bawah garis
kemiskinan (GK). GK dihitung berdasarkan rata-rata pengeluaran makanan dan
nonmakanan per kapita pada kelompok referensi (reference population) yang telah
ditetapkan. Kelompok referensi ini didefinisikan sebagai penduduk kelas
marginal, yaitu mereka yang hidupnya dikategorikan berada sedikit di atas
perkiraan awal GK.
GK ditentukan dengan melihat batas kecukupan makanan dan nonmakanan. Batas
kecukupan makanan (pangan) dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk
makanan yang memenuhi kebutuhan minimum energi 2.100 kalori per kapita per
hari. Patokan ini mengacu pada hasil Widyakarya Pangan dan Gizi 1978. Batas
kecukupan nonmakanan dihitung dari besarnya rupiah yang dikeluarkan untuk
nonmakanan yang memenuhi kebutuhan minimum seperti perumahan, sandang,
kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lain-lain.
Penghitungan angka kemiskinan tahun 2004 didasarkan pada data Survei Sosial
Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2004 yaitu Susenas Modul Konsumsi tahun 2004
(panel) untuk penghitungan kemiskinan tingkat nasional yang dipisahkan menurut
daerah perkotaan dan pedesaan, serta Susenas Kor tahun 2004 untuk penghitungan
kemiskinan tingkat provinsi.
Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin absolut tercatat sebesar 36,1 juta jiwa
atau 16,66% dari total penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut jika dipisahkan
menurut jenis kelamin ternyata lebih banyak penduduk perempuan miskin (16,72%)
dibanding laki-laki (16,61%).
Jika dirinci menurut rumah tangga, ternyata rumah tangga miskin yang dikepalai
perempuan jumlahnya makin bertambah dari tahun ke tahun. Hasil Susenas 1996 dan
1999 menunjukkan rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan bertambah sebesar
45,9%, dari 0,71 juta menjadi 1,03 juta. Angka ini meningkat menjadi 3,03 juta
pada tahun 2004.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa kemiskinan sangat dekat dengan
perempuan. Penerima dana kompensasi untuk keluarga miskin adalah laki-laki,
karena definisi kepala keluarga di Indonesia masih menempatkan laki-laki
sebagai subjeknya.
Dampak dari kemiskinan tersebut dapat ditebak, prioritas akses akan diberikan
pada laki-laki. Tidak mengherankan jika perempuan identik dengan kemiskinan.
Budaya patriarkat yang masih melekat di Indonesia menyebabkan perempuan
tertinggal di setiap sektor.
Di sektor pendidikan misalnya, data Susenas 1996 dan 1999 menunjukkan
persentase rumah tangga miskin yang dikepalai perempuan yang berpendidikan SD
dan SLTP meningkat lebih tinggi dibandingkan rumah tangga miskin yang dikepalai
laki-laki. Sebaliknya, persentase rumah tangga miskin yang dikepalai laki-laki
dengan pendidikan sekolah menengah ke atas meningkat lebih tinggi.
Dengan kondisi pendidikan perempuan yang rendah tersebut, tidak mengherankan
jika posisi tawar perempuan akan rendah. Lihat saja dari sektor
ketenagakerjaan, rata-rata upah/gaji perempuan selalu lebih rendah dari
laki-laki.
Data BPS menunjukkan di subsektor pertanian tanaman padi palawija, upah buruh
per ha perempuan pekerja lebih rendah (sekitar Rp56 ribu) dibandingkan
laki-laki pekerja (sekitar 65 ribu rupiah). Upah perempuan pekerja di subsektor
industri kecil dan kerajinan rakyat jauh lebih rendah daripada upah laki-laki
pekerja. Perempuan pekerja rata-rata dibayar 54,0% lebih rendah daripada
laki-laki pekerja.
Di sektor perdagangan rata-rata upah perempuan pekerja sekitar 78,0% dari upah
laki-laki pekerja. Upah perempuan pekerja tahun 1999 rata-rata Rp193.000/bulan
dan laki-laki Rp247.000/bulan.
Sekali lagi telah kita lihat dari data yang ada, proses marginalisasi terjadi
pada perempuan. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2004 BPS
menunjukkan bahwa perempuan banyak yang berstatus sebagai ibu rumah tangga.
Dari seluruh penduduk Indonesia yang mengurus rumah tangga 97,9% adalah
perempuan.
Dengan banyaknya perempuan yang berstatus sebagai ibu rumah tangga dapat
dipastikan perempuan sangat dekat dengan BBM. Dari mulai keperluan di dapur
seperti gas, beras, gula, juga keperluan kesehatan seperti sabun, obat, dan
keperluan rumah tangga lainnya seperti sapu dan lainnya sangat dekat dengan
perempuan.
Belum lagi transportasi, bila si ibu mengantar anaknya ke sekolah. Dapat
dibayangkan jika BBM naik harganya (dan ini sudah terjadi 1 Oktober 2005 yang
lalu) akan berdampak pada kepanikan ibu rumah tangga dalam mengelola keuangan
rumah tangganya. Dipastikan semua harga kebutuhan akan naik. Soal gaji suami?
Naik? Nanti dulu!!
Indonesia yang angka penganggurannya cukup tinggi. Data Sakernas 2004
menunjukkan jumlah laki-laki yang termasuk pengangguran terbuka sebesar 8,1%
dan perempuan yang termasuk kategori pengangguran terbuka sebesar 12,9%. Angka
yang ada membuat kita harus berpikir jernih.
Dengan kenaikan BBM dipastikan ongkos produksi akan naik dan ini akan berdampak
pada banyaknya penghematan yang akan dilakukan oleh produsen. Salah satu bentuk
penghematan adalah pemutusan hubungan kerja (PHK). Jika PHK terjadi dipastikan
angka pengangguran akan makin meningkat. Dengan demikian tingkat kriminalitas
juga akan meningkat dan berdampak pada rendahnya tingkat kenyamanan.
Bagaimana dengan perempuan? Jangan terkejut jika akan banyak perempuan yang
terpaksa harus membantu suaminya guna mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dengan kualitas yang terbatas dan persaingan yang kompetitif, mustahil
perempuan akan masuk pada lingkungan kerja formal.
Jangan terkejut kalau akan banyak perempuan yang bekerja sebagai PSK. Mengapa
harus PSK? PSK tidak membutuhkan pendidikan formal yang tinggi dan tidak perlu
modal yang besar. Sampai kapan pun yang namanya prostitusi tetap menjadi
komoditas yang menggiurkan. Ada demand yaitu laki-laki dan ada supply yaitu
perempuan. Masih belum yakin?
Mari kita renungkan dengan menjawab pertanyaan benarkah kita sudah menempatkan
perempuan pada sisi yang layak? Sudah benarkah kebijakan yang dilaksanakan
pemerintah dengan menaikkan BBM? Apakah perempuan harus selalu sebagai objek
yang termarginalisasi? Apakah pemberian dana kompensasi untuk rakyat miskin
bisa dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan?***.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kemiskinan, Perempuan, dan BBM