[ppi] [ppiindia] Kembali ke Titik Nol

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/29/02.htm


Kembali ke Titik Nol 

  IBARATNYA, kita harus kembali ke titik nol atau bahkan mungkin negatif, 
karena kita harus mengurangi pertumbuhan ekonomi. 



AKHIRNYA Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui rencana kenaikan harga bahan 
bakar minyak (BBM) yang akan ditetapkan pada 1 Oktober mendatang. Subsidi dalam 
ekonomi memang tidak sehat. Politik subsidi energi yang dilakukan pemerintah 
sejak Orde Baru ternyata telah memerangkap kita. Subsidi telah menyebabkan kita 
kehilangan kesempatan (opportunity lost) membangun sektor lain yang bersifat 
bermanfaat secara jangka panjang, seperti pembangunan fisik, investasi, dan 
program pembangunan yang bersifat social safeguard seperti perlindungan 
kesehatan masyarakat, pendidikan, dan lain-lain. Memang, dalam hal subsidi ini, 
pemerintah tidak membayarkan atau memindahkan uang secara riil kepada sektor 
energi. Yang ada adalah perhitungan opportunity lost yang dinilai secara rupiah.

Kita mengetahui bahwa pasti akan ada aksi pro kontra tentang kenaikan BBM ini. 
Yang pro kenaikan BBM juga berdasarkan perhitungan rasional bahwa opportunity 
lost ini harus dihentikan agar kita punya kesempatan membangun sektor lain yang 
menguntungkan orang banyak. Secara ekonomi-normatif, kita sepakat bahwa memang 
subsidi ini harus dicabut karena hanya dinikmati golongan berpunya saja.

Tapi, lain halnya bila kita meninjau kenaikan harga BBM sebagai opportunity 
lost. Pemerintah mesti sadar bahwa banyak opportunity lost lain selain subsidi, 
yang juga belum kunjung diselesaikan. Misalnya, soal penuntasan kasus-kasus 
mega korupsi yang bernilai lebih dari Rp 1000 triliun. Kita bisa membayangkan, 
kesempatan atau opportunity apa yang bisa dilakukan jika pemerintah berhasil 
menarik --taruhlah-- setengah dari hasil mega korupsi tersebut? Tentu lebih 
besar dari sekadar subsidi BBM yang hanya berkisar Rp 89 triliun-Rp 113 triliun.

Selain itu, utang luar negeri yang membengkak menyebabkan kita harus menyicil 
pokok dan bunganya sehingga menggerus cadangan devisa. Andai saja pemerintah 
bisa memperjuangkan pemotongan utang (hair cut), maka biaya yang tadinya harus 
kita bayarkan untuk mencicil, bisa jadi dana untuk membangun. 

Bagaimanapun juga kita berhak untuk mengajukan hair cut kepada kreditor dunia 
tanpa harus malu-malu. Para kreditor ini juga adalah kaum kapitalis yang terus 
menerus menyedot kekayaan kita. Tak perlu lah kita tidak bayar utang 
(ngemplang) seperti Argentina, walaupun sebetulnya itu pun hak kita, tetapi 
mintalah hair cut. Hal lain lagi adalah soal pembalakan hutan (illegal 
lagging), inefisiensi birokrasi, intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, dan 
lain-lain.

Ketidakcakapan dalam bertindak tegas inilah yang kemudian menyebabkan kita 
selalu kehilangan kesempatan di berbagai bidang. Ketidakkonsistenan, 
ketidaktegasan, pandang bulu, pada akhirnya memenjarakan kita ke dalam spiral 
yang lebih rumit.

Pada hakikatnya, kesulitan yang harus kita tanggung adalah buah dari 
kepura-puraan selama bertahun-tahun. Dulu kita tumbuh seolah-olah berdasarkan 
kekuatan sendiri, tetapi ternyata selama ini kita berdiri karena utang. Dulu 
ekonomi kita tumbuh seolah-olah karena hasil efisiensi, tetapi ternyata hasil 
kongkalingkong dan sogok-menyogok. Kita menghamburkan minyak seolah-olah minyak 
itu murah, padahal sangat mahal.

Untuk keluar dari kepura-puraan itu, maka mau tidak mau kita harus meruntuhkan 
kepura-puraan itu sendiri. Ibaratnya, kita harus kembali ke titik nol atau 
bahkan mungkin negatif, karena kita harus mengurangi pertumbuhan ekonomi. 
Memang menyakitkan karena berarti dalam waktu dekat akan banyak PHK dan 
pengangguran, angka kriminal meningkat, gizi anak buruk, gejolak sosial di 
pusat dan daerah, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak bisa 
berharap banyak kepada negara, kita hanya berharap pada ketahanan masyarakat 
itu sendiri. 

Kita berharap di ujung terowongan gelap akan ada pelita. Tetapi setelah cahaya 
itu terang, belajarlah untuk memilih kesempatan yang terbaik. Jangan selalu 
kita kehilangan kesempatan dan jangan selalu kita jadi pecundang.***


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: