[ppi] [ppiindia] Kekerasan Terhadap Perempuan PSK Terjadi Secara Berlapis

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Jumat, 30 Juli 2004
Kekerasan Terhadap Perempuan PSK Terjadi Secara Berlapis
Jurnalis : Eko Bambang S
Jurnalperempuan.com - Jakarta. Kekerasan terhadap perempuan khususnya Pekerja 
Seks Komersial (PSK) dapat terjadi secara berlapis-lapis mulai fisik, seksual, 
psikologis, sosial dan ekonomi. Kekerasan terhadap PSK ini tidak bisa 
dilepaskan dari kekerasan terhadap perempuan yang tidak menjadi PSK. Demikian 
pendapat Esthi Susanti Hudiono, Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya 
dalam makalahnya yang disampaikan pada forum pertemuan dengan pelapor khusus 
PBB di Jakarta. Makalah ini juga 

Menurut Esthi PSK sudah mendapat kekerasan sejak mereka menjadi PSK. Kemiskinan 
keluarga telah menempatkan mereka pada situasi yang penuh dengan kekerasan 
seperti pemerkosaan dan terlantar pendidikannya karena tidak mempunyai uang 
disamping juga harus mengasuh keluarga. Hal ini juga terjadi pada mereka yang 
berlatar belakang ditinggal suami. Pada titik ini, kekerasan yang mereka alami 
ketika hidup bersama keluarga berlanjut terus ketika mereka menjadi PSK. 

Dalam makalahnya, Esthi menjelaskan bahwa ada empat faktor yang menjadi 
penyebab terjadinya kekerasan terhadap PSK. Pertama kekerasan terjadi bermula 
dari kekerasan berbasis gender yang berkembang di kalangan PSK. Kekerasan 
berbasis gender ini terjadi dalam 3 hal yaitu ; (1) Masyarakat, Pemerintah dan 
Keluarga mengkategosrisasikan perempuan dalam dua hal yaitu perempuan nakal dan 
perempuan baik-baik. Dalam budaya patriarki perempuan baik-baik itu dilindungi 
dan perempuan nakal tidak perlu mendapat perlindungan. Bahkan perempuan nakal 
dalam masyarakat dianggap perlu mendapat hukuman dan diabaikan. Selain selalu 
menjadi sasaran kekerasan bagi laki-laki yang menjadi pacara PSK, kategorisasi 
ini menempatkan PSK sebagai pelaku kriminal karena dianggap melanggar norma 
agama. Sementara para mucikari yang menerima keuntungan tidak pernah menerima 
ketidakadilan masayarakat; (2) Nilai keperawanan ada pada perempuan bukan pada 
laki-laki sebagai batasan antara perempuan baik-baik atau pe
 rempuan nakal. Bagi yang sudah kehilangan keperawanan bukan oleh suaminya, 
banyak yang merasa terlanjur menjadi PSK. Batas kedua adalah perkawinan. Bagi 
perempuan yang menjadi janda sering mengundang cemooh masyarakat. Mereka 
dianggap perempuan bebas dan bisa menganggu rumah tangga seseorang. Karena itu 
banyak perempuan desa yang di tinggal suami karena perempuan lain atau alasan 
lain mudah menjadi PSK; dan (3) Diskriminasi dalam pendidikan oleh keluarga 
dengan tidak menghargai perempuan yang bersekolah tinggi, karena pada akhirnya 
perempuan dianggap akan bekerja di dapur, menyebabkan banyak perempuan desa 
yang banyak tidak menyelesaikan sekolah. Tanpa bekal pendidikan tinggi mereka 
sulit bersaing dalam pendidikan. Dengan demikian pendidikan rendah telah 
menjadikan mereka menjadi PSK atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak 
aman. 

Faktor Kedua, Politik Seksualitas. Politik seksualitas yang ada di Indonesia 
juga merupakan sumber perempuan PSK menjadi korban kekerasan. Politik 
seksualitas di Indonesia tejadi ketika seksualitas perempuan didefinisikan 
dalam perkawinan yang sah. Di luar perkawinan yang sah tidak ada seks. 
Pandangan ini menyebabkan remaja dan orang yang tidak menikah tidak mempunyai 
akses pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual. Seks diluar nikah adalah 
pelanggaran norma masyarakat dan agama. Negara mendukung pandangan ini. Hal 
kedua menyangkut politik seksualitas adalah melihat bahwa masalah seks adalah 
masalah privat, karena itu tabu di bicarakan dan dipersoalkan. Akibatnya 
pendidikan seksualitas menjadi tidak penting. Darisinilah timbul masalah bagi 
perempuan yang tidak mengetahui tentang seksualitas. Akibatnya perempuan yang 
menjadi PSK melakukan tindakan yang membahayakan dirinya sendiri. 

Faktor Ketiga adanya praktek patriarki sosial dan negara. Patriarki yang 
didukung sistem sosial ini dan negara sebagai sumber kekerasan terhadap PSK 
terjadi dalam 3 hal. (1) Negara melakukan pembakuan peran gender dengan 
mendefinisikan laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama, 
Sedangkan perempuan di definisikan sebagai ibu rumah tangga dan mencari nafkah 
tambahan. Pembakuan peran gender ini yang mengkonstruksikan perempuan yang 
menjadi PSK mengharapkan laki-laki menjadi suami atau pasangannya. Banyak PSK 
yang terobsesi untuk mencari suami di tempat kerja. Obsesi tersebut mengundang 
berbagai kekerasan kepada dirinya sendiri, karena hampir tidak ada laki-laki 
yang datang ke PSK untuk menjadikan istri. (2) Patriarki sosial yang di dukung 
negara melakukan pembagian peran secara seksual yakni laki-laki berada di ruang 
publik dan perempuan di wilayah domestik, Laki-laki melakukan pekerjaan 
produktif dan perempuan melakukan pekerjaan reproduktif. Dari sini pula dik
 embangkan wacana tentang kodrat perempuan adalah melakukan pekerjaan domestik 
dan dengan melakaukan pemeliharaan anak, rumah dan suami. Pembagian ini juga 
berakibat pada kekerasan terhadap PSK; (3) Sistem patriarki berdampak pada 
hilangnya otonomi perempuan. Identitas perempuan hanya ada ketika dia belum 
menikah. Ketika dia menikah, banyak yang menggunakan identitas suami. Sampai 
sekarang hak-hak perempuan terutama terhadap tubuh dan integritasnya menjadi 
persoalan. Pengingkaran otonomi perempuan ini pula yang menyebabkan perempuan 
yang menjadi PSk tidak bangga dengan apa yang telah dilakukan dalam hidupnya. 
Mereka telah dan bisa menghadapi hidupnya bukan dilindungi oleh orang lain. 

Faktor Keempat adanya pembangunan yang berorientasi pada Liberalisme Global. 
Pembangunan yang ada di Indonesia, terutama di masa orde baru berisi 
nilai-nilai liberal yang tidak berpihak kepada hak dan kepentingan perempuan 
pada umumnya. Dampak pembangunan ini dapat di jelaskan dalam tiga hal, (1) 
Pembangunan yang selalu berfokus pada kota. Desa hampir tidak tersentuh. 
Akibatnya peluang kerja hanya ada di kota. Banyak perempuan yang mencari kerja 
di kota. Karena minimnya ketrampilan, maka banyak perempuan pencari kerja mudah 
sekali tereksplotasi dan menjadi korban kekerasan lainnya; (2) Pemberian nilai 
kerja yang tidak sebanding antara nilai kerja produktif dan reproduktif. 
Perempuan yang dikonstruksikan melakukan pekerjaan reproduktif menjadi korban 
karena mereka tidak mampu bersaing di dunia produktif.; dan (3) Pembangunan 
yang mengutamakan partisipasi warga masyarakat ustru melahirkan kekerasan 
terhadap perempuan dan menimbulkan beban ganda. Untuk perempuan miskin beban gan
 da itu menjadi bertambah karena merekalah yang di eksploitasi untuk melakukan 
kerja domestik yang seharusnya dikerjakan oleh perempuan yang lebih kaya atau 
mampu. 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: