[ppi] [ppiindia] Kebijakan Pendidikan Setengah Hati
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 27 May 2006 02:49:19 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/5/27/o1.htm
Kita sering salah paham bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan dalam hitungan
tahun. Kenyataannya, kemajuan pendidikan baru bisa dirasakan pada hitungan
dekade.
---------------------------------------
Kebijakan Pendidikan Setengah Hati
Oleh I Wayan Artika
PADA suatu masa dunia pendidikan kita pernah dilanda optimisme konyol. Ketika
itu, tes pelulusan jenjang studi tertentu hanya formalitas semata. Anak-anak
yakin sepenuhnya bahwa mereka pasti lulus, sebodoh dan sejelek apa pun moralnya
selama menjadi siswa. Kita bersyukur sejak lima tahun terakhir ini, pandangan
tersebut semakin pupus. Kini ujian akhir sepertinya kembali memiliki ''taring''.
----------------------------
Pertanyaan kita, mengapa siswa kita resah dan takut tidak lulus? Mengapa para
orangtua kita juga jauh lebih resah dan khawatir jika anak-anak mereka tidak
lulus? Dalam proses belajar mengajar, materi tes atau materi ujian diambil dari
bahan-bahan pelajaran yang telah diajarkan kepada siswa. Semua itu telah diatur
dalam kurikulum. Jika hal ini yang dijadikan pedoman, ketakutan atau
kekhawatiran tidak lulus itu sama sekali tidak beralasan. Kenapa ketakutan
semacam ini muncul bersamaan dengan pelaksanaan ujian akhir? Jika siswa,
sekolah, dan orangtua mau belajar dari pengalaman sebelumnya, seharusnya,
ketakutan atau rasa khawatir seperti ini tidak ada. Kuncinya adalah bekerja
keras. Hal ini harus menjadi pilihan dan tekad bersama: siswa, sekolah, dan
orangtua.
Yang menggembirakan di tengah kekhawatiran dan ketakutan tidak lulus ini adalah
semakin berbesar hatinya sekolah-sekolah kita (bukan pasrah), bahwa mereka
telah menyadari bahwa apa pun hasilnya itulah kenyataannya. Kegagalan beberapa
siswa sama sekali bukan karena faktor sekolah atau hanya ditentukan oleh guru.
Hal ini amat bergantung juga kepada siswa bersangkutan dan lingkungan
keluarganya. Sebelumnya, memang sekolah yang merasa paling takut dan akan
menanggung malu jika di suatu sekolah ada sejumlah siswa yang gagal atau tidak
lulus. Untuk terhindar dari rasa malu tersebut, sekolah tega dan sanggup
melakukan tindakan curang, sehingga, katanya, yang ujian bukan siswa tetapi
guru.
Daya Dukung Lemah
Kita tidak bisa menutup mata terhadap persepsi masyarakat terhadap pendidikan.
Masyarakat sesungguhnya belum menyadari sepenuhnya arti penting pendidikan. Hal
ini tampak pada lemahnya daya dukung keluarga terhadap proses pendidikan
anak-anak mereka. Kontribusinya terbatas pada penyediaan dana. Hal itu
sesungguhnya belum cukup. Anak-anak ke sekolah dalam rangka rutinitas pagi.
Belajar dengan model rutinitas seperti itu tidak memadai dan bahkan merugi. Hal
ini terjadi lantaran kita melupakan penanaman sikap belajar yang bagus, bahwa
yang paling utama bagi seorang pembelajar adalah memaknai belajar, menyadari
makna informasi belajar, tahu menggunakan informasi itu bagi kehidupan nyata
yang paling mungkin. Dengan demikian, belajar menjadi penuh arti. Belajar pun
menjadi memiliki nilai guna. Jadi, lulus ujian dan dengan ijazah sebagai tanda
buktinya, harus dilihat sebagai konsekuensi. Hanya ikutan dan hal itu bukan
tujuan.
Kenyataannya, itulah yang melanda masyarakat kita. Mereka ribut dan khawatir
jika anak-anak mereka gagal ujian. Hal ini terjadi bukan karena pertimbangan
psikologis semata tetapi juga karena pertimbangan ekonomi. Beban atau biaya
pendidikan dewasa ini memang terasa sangat tinggi. Jadi, wajar kalau orangtua
siswa merasa rugi jika anak-anak mereka dinyatakan tidak lulus. Selebihnya,
kondisi ini harus dikembalikan ke awal. Jika orangtua tahu biaya pendidikan
sangat mahal, agar tidak merasa rugi atau dirugikan, mengapa tidak membantu
anak-anak dalam belajar sehingga mereka lebih percaya diri dan meyakinkan dalam
ujian? Orangtua sering kali membebankan tanggung jawab belajar pada diri anak
dan sekolah (guru). Orangtua sibuk dengan berbagai alasan.
Sementara itu, pemerintah rupanya sibuk juga dengan standar dan programnya
sendiri. Pemerintah boleh saja demikian tetapi harus berani bertindak tegas.
Sementara ini, pemerintah terkesan ''takut-takut berani'' atau setengah hati.
Akibatnya, kebijakan-kebijakannya selalu akhirnya bisa ditawar. Akhirnya,
maksud baik pemerintah kandas dan pemerintah pun ''kalah''. Demikian pula dalam
hal penetapan standar pelulusan. Pemerintah selalu menyediakan jalan keluar
bagi siswa yang tidak lulus dan akhirnya jalan keluar ini hanya mementahkan
kesepakatan sebelumnya. Di sini dibutuhkan sikap kuat pemerintah. Plinplannya
pemerintah sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan demokrasi. Sepahit apa pun
akibat sebuah kebijakan, pemerintah dan masyarakat harus tunduk dan sudi
menerimanya. Semua itu memang lebih berorientasi ke masa depan.
Salah satu contoh plinplannya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan
Nasional, adalah adanya jalan untuk sekadar lulus bagi siswa sekolah menengah
yang gagal ujian nasional tahun ini, yakni dengan mengikutsertakan mereka dalam
ujian kejar paket. Apa filosofinya? Apakah hal ini strategi semata bagi
pemerintah dalam rangka ''menghibur'' masyarakat yang kecewa karena anak-anak
mereka tidak lulus? Atau, cara ini dipilih karena murah, paling mungkin, dan
cara yang paling instan untuk mengatasi persoalan ketidaklulusan?
Sehubungan dengan kondisi ini, setidaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak
(anak atau siswa, guru-guru dan pihak sekolah, orangtua, dan pemerintah) dan
hal ini dijadikan pedoman bersama guna meningkatkan mutu pendidikan di masa
mendatang. Kita sering salah paham bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan
dalam hitungan tahun. Kenyataannya, kemajuan pendidikan baru bisa dirasakan
pada hitungan dekade.
Kita juga meminta ketegasan sikap pemerintah. Jika diyakini sebuah kebijakan
itu menguntungkan publik dan demi meningkatkan kualitas kehidupan bangsa,
jangan ada tarik ulur, jangan ada keraguan, sepahit apa pun konsekuensinya pada
masa kini. Seperti saat ini, jika sudah ditetapkan secara nasional bahwa
standar kelulusan itu adalah 4,26, ya... ikuti saja dengan konsisten. Perkara
tidak lulus adalah urusan lain. Jika pemerintah tidak tegas dalam hal ini maka
masyarakat akan dimanjakan dan berakibat fatal pada masa depan bangsa ini.
Masyarakat juga mesti mendukung kebijakan pemerintah. Tanpa dukungan
masyarakat, kebijakan pemerintah akan mentok. Berilah pemerintah keyakinan dan
kepercayaan sesuai dengan wewenang dan bidangnya. Sebab, itulah tugas
pemerintah, mengatur kehidupan bermasyarakat, termasuk pula dalam bidang
pendidikan.
Jika pemerintah tegas, tidak ada jalan lain lagi bagi siswa yang tidak lulus.
Tidak lulus ya tidak lulus. Kita melihat betapa ragu-ragu Diknas dalam hal ini.
Penulis, dosen IKIP Negeri Singaraja
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Home is just a click away. Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kebijakan Pendidikan Setengah Hati