[ppi] [ppiindia] Kebijakan Pendidikan Setengah Hati

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/5/27/o1.htm

Kita sering salah paham bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan dalam hitungan 
tahun. Kenyataannya, kemajuan pendidikan baru bisa dirasakan pada hitungan 
dekade.
---------------------------------------

Kebijakan Pendidikan Setengah Hati
Oleh I Wayan Artika 

PADA suatu masa dunia pendidikan kita pernah dilanda optimisme konyol. Ketika 
itu, tes pelulusan jenjang studi tertentu hanya formalitas semata. Anak-anak 
yakin sepenuhnya bahwa mereka pasti lulus, sebodoh dan sejelek apa pun moralnya 
selama menjadi siswa. Kita bersyukur sejak lima tahun terakhir ini, pandangan 
tersebut semakin pupus. Kini ujian akhir sepertinya kembali memiliki ''taring''.

----------------------------

Pertanyaan kita, mengapa siswa kita resah dan takut tidak lulus? Mengapa para 
orangtua kita juga jauh lebih resah dan khawatir jika anak-anak mereka tidak 
lulus? Dalam proses belajar mengajar, materi tes atau materi ujian diambil dari 
bahan-bahan pelajaran yang telah diajarkan kepada siswa. Semua itu telah diatur 
dalam kurikulum. Jika hal ini yang dijadikan pedoman, ketakutan atau 
kekhawatiran tidak lulus itu sama sekali tidak beralasan. Kenapa ketakutan 
semacam ini muncul bersamaan dengan pelaksanaan ujian akhir? Jika siswa, 
sekolah, dan orangtua mau belajar dari pengalaman sebelumnya, seharusnya, 
ketakutan atau rasa khawatir seperti ini tidak ada. Kuncinya adalah bekerja 
keras. Hal ini harus menjadi pilihan dan tekad bersama: siswa, sekolah, dan 
orangtua. 

Yang menggembirakan di tengah kekhawatiran dan ketakutan tidak lulus ini adalah 
semakin berbesar hatinya sekolah-sekolah kita (bukan pasrah), bahwa mereka 
telah menyadari bahwa apa pun hasilnya itulah kenyataannya. Kegagalan beberapa 
siswa sama sekali bukan karena faktor sekolah atau hanya ditentukan oleh guru. 
Hal ini amat bergantung juga kepada siswa bersangkutan dan lingkungan 
keluarganya. Sebelumnya, memang sekolah yang merasa paling takut dan akan 
menanggung malu jika di suatu sekolah ada sejumlah siswa yang gagal atau tidak 
lulus. Untuk terhindar dari rasa malu tersebut, sekolah tega dan sanggup 
melakukan tindakan curang, sehingga, katanya, yang ujian bukan siswa tetapi 
guru.  

Daya Dukung Lemah 

Kita tidak bisa menutup mata terhadap persepsi masyarakat terhadap pendidikan. 
Masyarakat sesungguhnya belum menyadari sepenuhnya arti penting pendidikan. Hal 
ini tampak pada lemahnya daya dukung keluarga terhadap proses pendidikan 
anak-anak mereka. Kontribusinya terbatas pada penyediaan dana. Hal itu 
sesungguhnya belum cukup. Anak-anak ke sekolah dalam rangka rutinitas pagi. 
Belajar dengan model rutinitas seperti itu tidak memadai dan bahkan merugi. Hal 
ini terjadi lantaran kita melupakan penanaman sikap belajar yang bagus, bahwa 
yang paling utama bagi seorang pembelajar adalah memaknai belajar, menyadari 
makna informasi belajar, tahu menggunakan informasi itu bagi kehidupan nyata 
yang paling mungkin. Dengan demikian, belajar menjadi penuh arti. Belajar pun 
menjadi memiliki nilai guna. Jadi, lulus ujian dan dengan ijazah sebagai tanda 
buktinya, harus dilihat sebagai konsekuensi. Hanya ikutan dan hal itu bukan 
tujuan.

Kenyataannya, itulah yang melanda masyarakat kita. Mereka ribut dan khawatir 
jika anak-anak mereka gagal ujian. Hal ini terjadi bukan karena pertimbangan 
psikologis semata tetapi juga karena pertimbangan ekonomi. Beban atau biaya 
pendidikan dewasa ini memang terasa sangat tinggi. Jadi, wajar kalau orangtua 
siswa merasa rugi jika anak-anak mereka dinyatakan tidak lulus. Selebihnya, 
kondisi ini harus dikembalikan ke awal. Jika orangtua tahu biaya pendidikan 
sangat mahal, agar tidak merasa rugi atau dirugikan, mengapa tidak membantu 
anak-anak dalam belajar sehingga mereka lebih percaya diri dan meyakinkan dalam 
ujian? Orangtua sering kali membebankan tanggung jawab belajar pada diri anak 
dan sekolah (guru). Orangtua sibuk dengan berbagai alasan. 

Sementara itu, pemerintah rupanya sibuk juga dengan standar dan programnya 
sendiri. Pemerintah boleh saja demikian tetapi harus berani bertindak tegas. 
Sementara ini, pemerintah terkesan ''takut-takut berani'' atau setengah hati. 
Akibatnya, kebijakan-kebijakannya selalu akhirnya bisa ditawar. Akhirnya, 
maksud baik pemerintah kandas dan pemerintah pun ''kalah''. Demikian pula dalam 
hal penetapan standar pelulusan. Pemerintah selalu menyediakan jalan keluar 
bagi siswa yang tidak lulus dan akhirnya jalan keluar ini hanya mementahkan 
kesepakatan sebelumnya. Di sini dibutuhkan sikap kuat pemerintah. Plinplannya 
pemerintah sama sekali tidak bisa dihubungkan dengan demokrasi. Sepahit apa pun 
akibat sebuah kebijakan, pemerintah dan masyarakat harus tunduk dan sudi 
menerimanya. Semua itu memang lebih berorientasi ke masa depan.

Salah satu contoh plinplannya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan 
Nasional, adalah adanya jalan untuk sekadar lulus bagi siswa sekolah menengah 
yang gagal ujian nasional tahun ini, yakni dengan mengikutsertakan mereka dalam 
ujian kejar paket. Apa filosofinya? Apakah hal ini strategi semata bagi 
pemerintah dalam rangka ''menghibur'' masyarakat yang kecewa karena anak-anak 
mereka tidak lulus? Atau, cara ini dipilih karena murah, paling mungkin, dan 
cara yang paling instan untuk mengatasi persoalan ketidaklulusan? 

Sehubungan dengan kondisi ini, setidaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak 
(anak atau siswa, guru-guru dan pihak sekolah, orangtua, dan pemerintah) dan 
hal ini dijadikan pedoman bersama guna meningkatkan mutu pendidikan di masa 
mendatang. Kita sering salah paham bahwa mutu pendidikan bisa ditingkatkan 
dalam hitungan tahun. Kenyataannya, kemajuan pendidikan baru bisa dirasakan 
pada hitungan dekade. 

Kita juga meminta ketegasan sikap pemerintah. Jika diyakini sebuah kebijakan 
itu menguntungkan publik dan demi meningkatkan kualitas kehidupan bangsa, 
jangan ada tarik ulur, jangan ada keraguan, sepahit apa pun konsekuensinya pada 
masa kini. Seperti saat ini, jika sudah ditetapkan secara nasional bahwa 
standar kelulusan itu adalah 4,26, ya... ikuti saja dengan konsisten. Perkara 
tidak lulus adalah urusan lain. Jika pemerintah tidak tegas dalam hal ini maka 
masyarakat akan dimanjakan dan berakibat fatal pada masa depan bangsa ini. 
Masyarakat juga mesti mendukung kebijakan pemerintah. Tanpa dukungan 
masyarakat, kebijakan pemerintah akan mentok. Berilah pemerintah keyakinan dan 
kepercayaan sesuai dengan wewenang dan bidangnya. Sebab, itulah tugas 
pemerintah, mengatur kehidupan bermasyarakat, termasuk pula dalam bidang 
pendidikan. 

Jika pemerintah tegas,  tidak ada jalan lain lagi bagi siswa yang tidak lulus. 
Tidak lulus ya tidak lulus. Kita melihat betapa ragu-ragu Diknas dalam hal ini.

 Penulis, dosen IKIP Negeri Singaraja




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: