[ppi] [ppiindia] Kebijakan Fiskal Tumpuan RAPBN 2006
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sun, 28 Aug 2005 22:56:04 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **SUARA KARYA
Kebijakan Fiskal Tumpuan RAPBN 2006
Oleh Mandala Harefa
Senin, 29 Agustus 2005
DPR RI dalam hal ini Panitia Anggaran mulai membahas Nota Keuangan dan
RAPBN 2006 yang telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam
Sidang Paripurna DPR RI, baru-baru ini. Banyak kalangan sependapat bahwa
stabilitas makro ekonomi Indonesia terus mengalami tekanan cukup berat dan
mengalami perubahan yang begitu cepat. Hal ini terlihat dari nilai rupiah yang
cenderung melemah, harga minyak dunia yang terus melonjak, permintaan serta
konsumsi yang meningkat pesat dan berimplikasi terhadap inflasi.
Masih besarnya defisit, 0,7% dari PDB, walaupun sedikit mengalami
penurunan merupakan beban tersendiri bagi konsolidasi fiskal dalam RAPBN 2006.
Demikian pula dengan pembayaran cicilan utang mencapai Rp 60,4 triliun masih
terus berperan dalam memperbesar defisit.
Dalam pembahasan RAPBN 2006, DPR bersama pemerintah telah membahas
berbagai hal, termasuk asumsi-asumsi dasar dan pokok-pokok kebijakan fiskal.
Beberapa hal penting yang merupakan kesepakatan sementara DPR-pemerintah dalam
Nota Keuangan 2006, antara lain mengenai asumsi-asumsi dasar makro ekonomi,
seperti pertumbuhan ekonomi (Produk Domestik Bruto) sebesar 6,0% - 6,5% ;
asumsi kurs rupiah sebesar Rp 9.000 - Rp 9.400 per dolar AS; tingkat inflasi
sebesar 6,5% - 8,0%; asumsi harga minyak mentah berkisar antara 40-45 dolar AS
per barel; serta patokan produksi minyak mentah sebesar 1,075 juta barel sampai
1,125 juta barel per hari. Selain itu disepakati pula tingkat suku bunga SBI
sebesar 7,0% - 8,5% untuk tenggat 1 bulan.
Asumsi-asumsi sementara di atas merupakan dasar bagi pemerintah dalam
menyusun RAPBN 2006 yang akan dibahas bersama-sama DPR. Pemerintah sendiri
diharapkan mempertimbangkan perkembangan dan kondisi perekonomian selama
Semester I lalu sebagai masukan penyusunan anggaran 2006.
Terkait dengan upaya pemerintah menekan defisit anggaran mendekati 0%,
tentunya pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran di berbagai pos.
Walaupun defisit APBN tahun anggaran 2006 direncanakan 0,7% dari PDB, namun
pemerintah harus benar-benar memiliki rencana tindakan serta kebijakan yang
pasti agar defisit tersebut dapat dicapai sampai pelaksanaan anggaran berakhir.
Defisit anggaran sebesar 0,8% dalam APBN Perubahan 2005 merupakan tantangan
yang mesti dicapai.
Konsolidasi fiskal untuk tujuan menciptakan kesinambungan anggaran negara
(fiscal sustainability) haruslah terfokus pada upaya peningkatan penerimaan
pajak, pengurangan pinjaman luar negeri, dan kalau perlu pengurangan subsidi
secara bertahap agar beban anggaran negara semakin kecil. Dalam APBN Perubahan
2005, misalnya, subsidi BBM melonjak drastis menjadi Rp 76,514 triliun atau
2,9% dari PDB. Kenaikan ini mencapai 302,70% dari yang dianggarkan semula
sebesar Rp 19,0 triliun. Apabila harga minyak mentah naik terus hingga akhir
Desember 2005, maka beban anggaran akan bertambah besar lagi. Apalagi, rasio
(perbandingan) stok utang luar negeri pemerintah terhadap PDB saat ini masih
cukup tinggi, sebesar 47,5% dari PDB.
Dalam menetapkan anggaran negara untuk mengelola makro ekonomi, ada tiga
kebijakan yang bisa dilakukan, yaitu: kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan
kebijakan nilai tukar. Namun sejak adanya krisis, nilai tukar sudah diserahkan
pada market dan kebijakan nilai tukar bukan lagi menjadi instrumen yang
controllable. Praktis tinggal dua instrumen besar lagi yang dimiliki
pemerintah, yaitu kebijakan moneter dan fiskal.
Manajemen makro ekonomi harus mengacu pada necessary condition agar suatu
perekonomian berjalan normal. Dhus, kebijakan makro idealnya menghasilkan
pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi rendah, unemployment rendah, balance of
payment seimbang, dan membutuhkan sufficient condition. Kebijakan yang ditempuh
harus mampu menstimulasikan kondisi peningkatan peran ekonomi usaha kecil dan
mampu meredam lonjakan harga-harga barang, di samping memperbaiki undang-undang
lembaga keuangan atau perbankan dengan sebaik-baiknya.
Sebagai salah satu instrumen ekonomi, kebijakan fiskal harus mendorong
pertumbuhan ekonomi secara sehat, mampu mengendalikan inflasi, mengurangi angka
pengangguran, dan menyeimbangkan neraca pembayaran, sebagai tujuan utamanya.
Mengingat kondisi tahun ini dan tahun-tahun mendatang, fungsi fiskal menjadi
salah satu instrumen makro yang sangat penting.
Jadi, kalau kebijakan fiskal gagal berarti sangat mungkin kita tidak akan
mampu mencapai perbaikan makro ekonomi kita. Kebijakan fiskal melalui apa yang
tercantum dalam RAPBN 2006 menjadi taruhan semua pihak pada saat-saat kritis.
Dengan kondisi sekarang ini, arah fiscal policy harus jelas, baik
struktur dan formatnya. Kebijakan fiskal harus benar-benar diarahkan untuk
memperbaiki pertumbuhan ekonomi dan meredam inflasi minimal di bawah satu digit
(one digit).
Kebijakan fiskal juga harus mampu mengatasi tantangan jangka panjang
mengurangi angka pengangguran dan balance of payment harus tetap dijaga
seimbang hingga mampu menyiptakan akumulasi reserve dalam bentuk pendapatan
devisa.
Kebijakan fiskal melalui APBN biasanya mempunyai tiga karakteristik,
yaitu sebagai fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi. Selama
ini kebijakan fiskal dalam APBN cenderung sangat under utilizes. Ini terjadi
karena manajemen ekonomi makro kita lebih banyak bertumpu pada monetary policy,
mengikuti konsep liberalisasi sektor perbankan.
Di lain pihak karakter kebijakan fiskal sangat tidak fleksibel karena
setiap kebijakan fiskal harus diputuskan melalui konsultasi DPR bersama-sama
pemerintah dalam proses yang cukup lama. Prosedur anggaran untuk fiskal melalui
proses yang panjang, rumit dan bertele-tele sehingga sering kali persoalan yang
muncul tak sejalan lagi dengan kebijakan yang dikeluarkan. Tidak jarang, ketika
anggaran fiskal mendapat persetujuan DPR, menteri atau departemen terkait sudah
memberikan disposisi dan ketika dikembalikan ke departemen teknis, persoalannya
sudah berubah lagi.
Karakter fiskal yang lambat ini biasanya berpengaruh terhadap kondisi
makro perekonomian nasional. Oleh sebab itu, DPR harus mempunyai persepsi yang
sama untuk mengangkat masalah fiskal ini sebagai suatu instrumen yang sangat
penting di tengah kondisi krisis ini. Kebijakan fiskal melalui APBN yang
konservatif seringkali tak mampu mengakomodasikan persoalan yang besar. Karena
itulah, kebijakan fiskal kita ditantang untuk lebih terbuka. Kebijakan fiskal
kita dituntut mampu mengantisipasi perubahan yang besar dalam struktur APBN
dalam upaya me-recovery ekonomi kita.***
Penulis peneliti DPR RI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery.
http://us.click.yahoo.com/X3SVTD/izNLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kebijakan Fiskal Tumpuan RAPBN 2006