[ppi] [ppiindia] Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**Acep Zamzam Noor:
Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom
17/10/2005
Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan 
batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi 
bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan 
pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari 
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai 
Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.

Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan 
batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi 
bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan 
pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari 
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai 
Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.
JIL: Kang Acep, konon Anda lahir dari kalangan santri. Bagaimana sosialisasi 
agama kepada Anda sejak kecil?

ACEP ZAMZAM NOOR: Seperti anak-anak lain yang tumbuh di pesantren, saya dididik 
secara pesantren; mengaji, beribadah, dan kegiatan lainnya. Tapi ada hal 
penting dalam proses sosialisasi keagamaan saya, yaitu soal toleransi. 
Kebetulan, bapak saya tidak terlalu keras dalam mendidik anak. Dia juga memberi 
pemahaman yang lebih toleran, sehingga dari situ saya tumbuh, selain dari 
pergaulan dengan dunia seni. Dengan begitu, saya memandang agama lebih pada 
esensinya, bukan pada permukaan, atau pakaian saja.

Ini penting sekali menurut saya, karena di pesantren-pesantren tahun 
1960/1970-an, soal kostum atau pakaian itu tidak terlalu dipentingkan seperti 
sekarang. Artinya, santri-santri memang memakai sarung dan kopiah, tapi juga 
memakai kemeja atau kaos. Ini agak berbeda dengan sekarang. Banyak pesantren 
sekarang yang santri-santrinya memakai kostum, seragam putih-putih, lalu kopiah 
haji hijau. Ini agak berbeda dengan suasana masa dulu. 

JIL: Apakah Anda mencermati proses puritanisasi di pesantren-pesantren sekarang 
ini?

Ya, saya kira arahnya ke sana. Karena persoalan yang dulu dianggap sepele, 
sekarang tiba-tiba menjadi sangat penting dan diwajibkan pesantren-pesantren 
tertentu. Misalnya soal laki-laki harus berpakaian tertentu, sementara 
perempuan berpakaian tertentu pula. Mungkin ini erat juga kaitannya dengan soal 
bisnis. Mungkin saja ada perusahaan konveksi yang ingin kerja sama dengan 
pesantren, mereka lalu menawarkan produk-produknya berupa baju takwa, kopiah, 
dan lain-lain.

JIL: Kang Acep, apa nilai penting pesantren yang masih membekas dalam jiwa Anda 
sampai sekarang?

Soal ketulusan. Dalam mengerjakan sesuatu, atau menjadi siapa pun, kita sebagai 
manusia harus menjalankannya dengan ketulusan, keihlasan, dan kesabaran. Itu 
nilai-nilai keagamaan yang memang saya serap sejak dulu, sehingga ketika 
bergulat dengan dunia seni, ia sangat membantu. Bergulat dengan seni otomatis 
mesti bergulat dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Tanpa itu, kita 
mungkin tidak akan bisa bertahan. 

JIL: Apakah pesantren membantu Anda menjadi penyair atau kecelakaan saja?

Secara formal, tidak ada media atau sarana yang memungkinkan seorang santri 
menjadi seniman. Itu sama sekali tidak terbayangkan. Tapi bahwa di pesantren 
ada suasana yang memungkinkan santri menjadi seniman, yaitu suasana 
kontemplasi. Saya tidak tahu apakah di pesantren-pesantren sekarang suasana itu 
masih ada atau tidak. Tapi di masa lalu, paling tidak sebelum tahun 1970-an, di 
pesantren selalu ada suasana seperti itu. Dari suasana itu, seseorang bukan 
hanya dapat belajar, tapi juga merenung; merenungkan diri, lingkungan, dan juga 
alam. 

Dari situ sebenarnya ada potensi-potensi kepenyairan di kalangan santri. 
Potensi itu bisa dipupuk dengan menuliskan renungan-renungan. Itu yang saya 
maksud pesantren tidak menyediakan sarana apa pun untuk menjadi seniman, tapi 
ada nuansa pesantren yang bisa membuat orang menjadi apa saja.

JIL: Bagaimana perkembangan wawasan keagamaan Anda setelah kuliah di Seni Rupa 
ITB, Bandung?

Sebagai orang pesantren yang masuk perguruan tinggi seperti ITB, sebenarnya 
saya juga agak kaget dan agak minder juga. Kagetnya, karena di situ saya 
melihat orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beragama. Waktu itu, 
aktivitas Masjid Salman memang sangat padat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan. 
Saya kaget melihat gairah keagamaan yang formalistik itu, karena saya memang 
sejak kecil di pesantren. Waktu itu saya bertanya-tanya, ada apa gerangan, 
karena tidak sesuai dengan kebiasaan kecil saya yang tidak terlalu formal dalam 
berpakaian, sudah berambut gondrong sejak di pesantren, tidak berpakaian yang 
berlagak-lagak santri. Ketika melihat teman-teman yang bukan berlatar belakang 
santri, tapi cara beragamanya sedikit beda dengan saya, saya mulai 
bertanya-tanya.

JIL: Artinya, pola keberagamaan Anda di pesantren dulu natural saja, tapi pola 
keberagamaan di perguruan tinggi itu sudah membentuk identitas tertentu?

Ya, seperti itu, dan lebih banyak sebagai identitas pembeda. Ketika di 
pesantren, cara beragamanya natural dan mengalir saja, tapi ketika di kampus 
seakan-akan sedang ada pertarungan besar, lebih formal, jadi sangat fanatis, 
dan sangat senang membeda-bedakan antara "saya" dengan "mereka". Sementara saya 
yang berangkat dari pesantren tidak terlalu fanatis, tetap bergaul dengan 
macam-macam suku dan agama dengan santai saja. Tapi beberapa teman yang aktif 
di masjid-masjid kampus memang punya sikap yang agak berbeda. 

JIL: Kalau Anda refleksi ulang masa lampau Anda di ITB itu, apa tafsiran Anda?

Mungkin waktu itu saya agak nyeleneh dalam berpikir tentang gejala itu, dan 
karena itu saya melihat teman-teman itu sedang puber beragama. Mereka baru 
mengenal Islamnya waktu itu, ketika mau masuk kampus, sehingga ketika diberi 
hal-hal yang agak keras, ideologis, dan lain sebagainya, penerimaannya begitu 
bersemangat. Sementara, saya sejak kecil sudah melihat agama dijalani dengan 
santai. Dan itu yang membuat saya tidak tertarik untuk masuk ke dalam 
organisasi-organisasi keagamaan intra kampus. 

JIL: Adakah situasi sosial-politik yang memungkinkan organisasi-organisasi 
keagamaan intra kampus itu begitu mengental dan mengeras?

Nampaknya ada juga pengaruh kondisi sosial-politik, karena di antara 
aktivis-aktivis organisasi mahasiswa Islam dan aktivis kampus sendiri, begitu 
terkagum-kagum dengan Islam. Mereka begitu bersemangat, karena di ITB sendiri 
ada proses-proses penjaringan menjadi aktivis masjid. Di sana ada 
pelatihan-pelatihan. Dan bisanya, mereka akan mengeras setelah melewati masa 
pelatihan. Dulu ada istilah Latihan Mujahid Dakwah. Setelah dua minggu dilatih 
di sana, mereka betul-betul akan menjadi lain. 

JIL: Kang Acep, bagaimana Anda melihat pluralisme?

Saya melihat pluralisme sebagai keragamaan tentunya. Sebagai penyair, setelah 
tahu makna pluralisme, saya tidak lagi terlalu fanatik dengan agama, adat, dan 
tradisi, tapi lebih santai. Saya melihat semuanya jadi lebih santai. Jadi 
pluralisme itu dirayakan dan saya memaklumi banyak hal.

JIL: Apakah keragaman itu menginspirasi Anda dalam penulisan syair misalnya?

Ya. Misalnya, ketika menulis puisi, saya tetap membutuhkan simbol-simbol 
tertentu. Dan itu adalah hasil perjumpaan dengan banyak hal, banyak orang, 
banyak tempat, dan juga banyak keyakinan. Sebagai orang Islam, saya lalu tidak 
risih lagi mengambil simbol-simbol Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya. 
Seperti itulah. Sebab pada hakikatnya, ketika sebuah puisi diungkapkan, ia 
memang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat agama. Puisi bisa berlaku 
universal, dibaca siapa pun, dan bisa menjadi pengalaman siapa pun. Pengalaman 
saya sebagai orang Islam saya harapkan bisa dirasakan juga oleh teman-teman 
yang berlainan agama dengan saya.

JIL: Apakah seni bisa diharapkan dapat mengubah corak keberagamaan seseorang, 
misalnya yang sangat keras dapat berubah jadi lebih lembut?

Seni itu kan rasa, intuisi. Dalam tradisi Islam, ada sastra sufi di mana para 
sufi menuliskan puisi-puisinya. Tradisi itu sangat berbeda sekali dengan 
tradisi ahli fikih yang juga menuliskan gagasan-gagasannya. Bermain di dunia 
kepenyairan atau sastra itu selalu harus ada intuisi. Jadi tidak kaku. Dan pada 
tradisi sufistik, mereka kelihatan begitu akrab dengan Tuhan. Tuhan bukan 
sesuatu yang menakutkan, tapi bisa menjadi sangat akrab. Mungkin lewat seni 
kita bisa punya pandangan-pandangan semacam itu. Beragama juga bisa dilakukan 
dengan keakraban semacam itu, sehingga kita menjadi biasa saja ketika 
berhadapan dengan Tuhan atau siapa pun.

JIL: Mengapa khazanah sufi itu banyak juga yang digambarkan dalam bentuk syair 
atau puisi?

Kalangan sufi banyak menulis puisi, atau sesuatu yang bersifat puitis, karena 
mereka orang-orang yang giat mengolah perasaan dan batinnya. Sehingga, selalu 
ada momen-momen keindahan yang kemudian melahirkan karya sastra. Mereka menjadi 
sufi dulu, baru puisi lahir, dan bukan sebaliknya. Bagi saya, seorang penyair 
yang bukan sufi, tidak mesti harus menjadi sufi. Seorang penyair, ya penyair 
saja; keduanya persoalan yang berbeda. Bahwa sufi menulis puisi, itu wajar 
sekali, karena mereka memang menggali keindahan batiniahnya. Tapi, seorang 
penyair belum tentu sufi. Dan banyak sekali penyair yang tidak sufi. Hanya 
saja, banyak penyair yang mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan kaum sufi. 
Seorang sufi, mungkin tidak pernah berpikir akan menulis puisi. Tapi puisi 
keluar begitu saja sebagai ekspresi dari keindahan perenungan Ilahi yang ia 
jalankan. 

JIL: Anda bisa ceritakan lebih lanjut bagaimana dinamika keislaman di kampus 
ITB waktu itu?

Saya kebetulan kuliah di ITB, dan di sana sangat sedikit orang dari pesantren 
yang bisa masuk. Jadi pada tahun 1980-an itu, saya agak jarang menemukan santri 
yang kuliah di ITB. Kebanyakan mahasiswa yang di sana adalah mahasiswa umum 
baik yang Islam atau non-Islam. Waktu itu di ITB banyak yang aktif di kampus, 
dan di masjid-masjid kampus. Mereka giat mengikuti pelatihan-pelatihan, dan 
setelah pelatihan itu memang terjadi sesuatu yang agak mengagetkan. Misalnya 
perdebatan tentang agama yang sangat fanatik. Lalu, beberapa orang sangat 
ekstrim dalam aktivitasnya, sehingga kuliahnya terbelangkalai. Ada juga yang 
ikut sebuah jaringan di Bogor waktu itu. Yang terakhir ini lama tidak bertemu 
saya. Setelah ketemu lagi, dia sudah berjubah dan berjenggot, dan ngomong soal 
halal-haram. Ada juga teman-teman lain yang tiba-tiba memutuskan nikah tanpa 
izin orang tua mereka, karena dinikahkan di kampus oleh mentornya. Karena konon 
katanya, dalam Islam tidak ada konsep pacaran. Itu terjadi p
 ada teman-teman dekat saya. 

Tapi ada juga yang ikut tarekat dan dengan sangat atraktif melakukan 
zikir-zikir tarekat di masjid Salman, sehingga menjadi tontonan banyak orang. 
Mungkin juga karena di masjid itu tidak ada tradisi wiridan atau salawatan. 
Nah, teman saya yang ikuti tarekat ini, setiap selesai sembahyang selalu 
berzikir dengan sangat keras. Jadi, banyak sekali hal-hal aneh yang saya jumpai 
di kampus ketika itu. Tiba-tiba ada teman yang begitu saja memutuskan untuk 
kawin, karena dia menolak pacaran. Bagi dia, tak ada konsep pacaran dalam 
Islam; yang ada hanya kawin. Itu jumlahnya banyak sekali. Namun yang ke 
arah-arah fundamentalis juga ada beberapa orang, yang kemudian terlibat dalam 
jaringan yang saya tidak tahu apa itu.

JIL: Apa yang beda dengan cara pemahaman Anda di pesantren tentang agama?

Ketika kita belajar agama di pesantren, kita pertama-tama tidak disodori 
langsung isi agama, tapi tradisinya dulu; tradisi mengaji, bersalawat, dan 
berjamaah. Dengan begitu, tidak terasa tiba-tiba Islam menjadi bagian dari diri 
kita. Nah, pengajaran agama di kampus tidak seperti itu. Mereka yang sebelumnya 
tidak tahu Islam, kemudian masuk ke kelompok pengajian atau datang ke mentor, 
lalu diberi suntikan agama dengan dosis tinggi. Akibatnya jadi aneh-aneh.

Saya banyak didatangi orang yang memang sudah pernah kenal waktu masih di 
kampus. Dia rupanya sedang mencari kader yang katanya, dalam dua minggu, bisa 
berubah menjadi orang yang siap berjihad. Jadi ada sebuah metode dalam 
indoktrinasinya, dan itu hanya akan mengena orang-orang yang memang belajar 
agama secara instan, langsung, tidak lewat proses budaya. Jadi, mereka tidak 
beranjak dari tradisi, tapi langsung ke inti. Akibatnya, terjadi 
benturan-benturan yang dahsyat dalam kepala, dan akhirnya menghasilkan 
karakter-karakter yang keras dan fundamentalis.

Makanya, setelah reformasi, tiba-tiba banyak gerakan Islam yang aneh-aneh. 
Banyak daerah yang tiba-tiba ingin menerapkan syariat Islam, banyak kerusuhan 
yang mengatasnamakan agama, dan bom yang juga diledakkan atas nama agama. Saya 
tidak terlalu kaget, dan tidak juga sedang menuduh pihak tertentu yang 
bertanggung jawab. Tapi, memang ada proses cara beragama yang mungkin berbeda 
dari sebelumnya; beragama yang pelan-pelan, tanpa terasa, menimbulkan masalah 
dalam masyarakat. Jadi memang ada metode yang saya sebut "suntik anjing" dengan 
dosis tinggi sehingga membuat orang beringas dan siap untuk apa pun. Mungkin 
karena itulah kerusuhan-kerusuhan terjadi, ledakan-ledakan bom bersahutan di 
Indonesia.

JIL: Kenapa itu bisa terjadi saat ini?

Hal-hal seperti itu bisa terjadi ketika kondisi negara memang sedang kacau. 
Kondisi ekonomi yang kacau dan tatanan sosial-politik tidak stabil, mungkin 
penyebab utamanya. Dengan begitu muncul orang-orang yang frustrasi. Saya tidak 
melihat bom bunuh diri misalnya murni berlandaskan ideologi. Ada unsur ekonnomi 
dan lain-lainnya. Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku dari jaringan 
tertentu. Dia sedang mencari kader-kader untuk diubah dalam dua minggu menjadi 
seorang militan yang siap syahid, berjihad. Nah, yang direkrut memang bukan 
orang-orang yang paham agama, atau mereka yang bukan mengalami proses yang 
natural dalam beragama. Tapi mereka juga orang-orang yang terdesak secara 
ekonomi, frustrasi, lalu ditarik dan digenjot dengan metode tertentu sehingga 
siap untuk melakukan apa pun.

JIL: Tapi proses membujuk orang untuk mati demi sesuatu yang absurd itu kan 
tidak gampang?

Ya, tidak gampang, memang. Mungkin mereka punya metodenya. Kalau merekrut dari 
orang-orang pesantren, mungkin juga agak susah. Makanya saya punya istilah 
"suntik anjing" itu tadi. Artinya, orang yang tidak tahu apa-apa, tapi 
disuntik, diprovokasi, sehingga menjadi orang yang lain sama sekali. Itu 
mungkin-mungkin saja, karena situasi sosial-politik yang tidak menentu dan 
banyak orang kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa. Dengan masuk 
kelompok tertentu itu, mereka seolah-olah mendapat tempat untuk mengekspresikan 
diri.

JIL: Tapi kan faktor pengaruh luar juga kuat, seperti contoh-contoh bom bunuh 
diri di luar?

O, ya. Kalau saya lihat, sebetulnya sejak tahun 1980-an proses radikalisasi 
sudah mulai. Sejak itu, banyak orang-orang yang dikirim ke Afganistan untuk 
perang, termasuk dari Tasikmalaya. Imam Samudra itu muncul belakangan itu 
adalah kader dari orang-orang yang sudah sejak tahun 1980-an berproses. 
Metodenya dalam memengaruhi orang bisa hebat sekali. Jadi ini bukan ujug-ujug, 
bukan tiba-tiba muncul setelah reformasi. Ada proses yang sangat panjang. Pada 
awal 1980 atau 1970-an, kita mengenal nama Imron. Kemudian ada beberapa nama 
lain.

JIL: Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi keagamaan di pesantren, apakah 
Anda merasa fanatik dalam beragama?

Fanatik bisa berbeda-beda makna. Dia bisa dimaknai suka menyerang orang, atau 
suka mengajak berdebat tentang soals-soal yang diyakini. Kalau fanatik pada 
agama untuk kita rasakan sendiri, tidak menyalahkan orang, itu tidak apa-apa. 
Tapi akan menjadi ekstrim ketika kita juga menyalahkan, menyerang, 
mempengaruhi, dan memprovokasi dan mengganggu orang lain. Bahwa kita meyakini 
agama kita, lalu menjalankannya dengn baik, itu tidak masalah. Tapi ketika 
mengatakan "hanya ini yang paling benar; itu salah", itu akan bermasalah. 
Apalagi kalau suka membikin vonis dan fatwa dengan gampangan. 

JIL: Apa yang pernah Anda lakukan untuk meminimalisasi radikalisasi beragama di 
Tasikmalaya?

Di Tasik, saya tinggal di pesantren, tapi kegiatan saya tidak melulu di 
pesantren, karena pesantren sudah banyak yang menggarap. Saya justru keluar, 
bertemu dengan teman-teman luar pesantren, tapi banyak juga yang santri, di 
Sanggar Sastra Tasik. Di situ kita belajar berpuisi. Karena dengan berpuisi, 
kita menjadi peka terhadap lingkungan, peka terhadap ketidakadilan, dan kritis 
terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan orang banyak. 

Jadi, kami membuat puisi untuk melawan bom, he-he. Pada awalnya kita belajar 
membuat puisi, membuat orang senang puisi, lalu berapresiasi. Kita membaca 
puisi di tempat-tempat yang tidak disebut gedung kesenian atau tempat-tempat 
tertentu. Kita membacanya langsung di desa, kampung, halaman rumah, atau di 
mana saja. Itu sebenarnya salah satu kegiatan yang kami lakukan; apresiasi 
puisi. Tapi sebenarnya harapan saya jauh dari sekadar apresiasi puisi. Yang 
penting, kita mengasah kepekaan batin kita yang mungkin selama ini kurang kita 
perhatikan. Itu salah satu harapan saya.

JIL: Apakah di Tasikmalaya juga terjadi isu formalisasi syariat?

Di Tasikmalaya, mungkin baru sekarang ada isunya syariat Islam akan diterapkan 
secara formal oleh Pemda. Tapi ternyata itu tidak jadi. Yang terjadi sekadar 
visi Tasikmalaya sebagai kota religius-islami, dan itu juga sudah lewat 
perdebatan yang sangat panjang. Tapi apa yang disebut religius-islami itu tidak 
jelas. Kan yang merumuskan DPRD. Kita sering diskusi dengan mereka soal itu, 
dan mereka juga tidak bisa menjelaskan dengan baik. 

Nah, saya bukannya tidak setuju syariat Islam diterapkan di Tasikmalaya. Tapi 
saya curiga kalau maksudnya memang bukan untuk memajukan Islam, atau bukan 
untuk menerapkan syariat Islam sebagaimana retorikanya. Itu hanya jualan 
politik yang dilakukan orang-orang politik. Saya melihat itu tidak serius, dan 
cenderung memperlakukan agama sebagai barang dagangan. Makanya harus saya 
lawan. Bersama teman-teman, saya berusaha membongkar apa yang sebenarnya ada di 
balik kepala mereka. Apa yang mereka maksud dengan penerapan. Ternyata, isu itu 
hanya ramai menjelang pemilu. Begitu pemilu selesai, tidak ada apa-apa lagi. 
Yang terjadi, beberapa pejabat asik berpoligami. Itu saja. Ternyata, perjuangan 
penerapan syariat Islam di Tasikmalaya itu intinya memperjuangkan poligami. 
Yang lain-lain tidak.

JIL: Apakah banyak berkesenian dapat diharap untuk membendung ekstremisasi 
beragama?

Kalau saya selalu lewat kesenian, karena ia salah satunya juga mendidik kita 
untuk berpikir terbuka; berpikir bahwa kita bukan yang paling benar, tapi 
selalu ada kebenaran-kebenaran lain. Dengan begitu, kita tidak memandang agama 
sebagai sesuatu yang kaku atau menakutkan, tapi bisa lebih santai. Saya dan 
teman-teman di Tasikmalaya mewacanakan Islam santai; berislam lebih gembira. 
Karena beragama itu juga harus gembira. Ketika tegang dalam beragama, kita akan 
bertemu perbedaan-perbedaan, dan ini akan menjadi musuh-musuh yang membuat kita 
lelah. Sementara yang kita butuhkan adalah kegembiraan. []

^ Kembali ke atas 
Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=906


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: