[ppi] [ppiindia] Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 22 Oct 2005 22:34:48 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**Acep Zamzam Noor:
Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom
17/10/2005
Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan
batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi
bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan
pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai
Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.
Bagi sebagian seniman, yang terpenting dari hidup adalah menambah kepekaan
batin sehingga mampu menghasilkan keindahan-keindahan yang bernilai seni. Tapi
bagaimana makna agama bagi seorang penyair yang tumbuh dari lingkungan
pesantren seperti Acep Zamzam Noor? Berikut perbincangan Novriantoni dari
Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan pendiri Sanggar Sastra Tasik, dan Partai
Nurul Sembako Tasikmalaya itu, Kamis (6/10) lalu.
JIL: Kang Acep, konon Anda lahir dari kalangan santri. Bagaimana sosialisasi
agama kepada Anda sejak kecil?
ACEP ZAMZAM NOOR: Seperti anak-anak lain yang tumbuh di pesantren, saya dididik
secara pesantren; mengaji, beribadah, dan kegiatan lainnya. Tapi ada hal
penting dalam proses sosialisasi keagamaan saya, yaitu soal toleransi.
Kebetulan, bapak saya tidak terlalu keras dalam mendidik anak. Dia juga memberi
pemahaman yang lebih toleran, sehingga dari situ saya tumbuh, selain dari
pergaulan dengan dunia seni. Dengan begitu, saya memandang agama lebih pada
esensinya, bukan pada permukaan, atau pakaian saja.
Ini penting sekali menurut saya, karena di pesantren-pesantren tahun
1960/1970-an, soal kostum atau pakaian itu tidak terlalu dipentingkan seperti
sekarang. Artinya, santri-santri memang memakai sarung dan kopiah, tapi juga
memakai kemeja atau kaos. Ini agak berbeda dengan sekarang. Banyak pesantren
sekarang yang santri-santrinya memakai kostum, seragam putih-putih, lalu kopiah
haji hijau. Ini agak berbeda dengan suasana masa dulu.
JIL: Apakah Anda mencermati proses puritanisasi di pesantren-pesantren sekarang
ini?
Ya, saya kira arahnya ke sana. Karena persoalan yang dulu dianggap sepele,
sekarang tiba-tiba menjadi sangat penting dan diwajibkan pesantren-pesantren
tertentu. Misalnya soal laki-laki harus berpakaian tertentu, sementara
perempuan berpakaian tertentu pula. Mungkin ini erat juga kaitannya dengan soal
bisnis. Mungkin saja ada perusahaan konveksi yang ingin kerja sama dengan
pesantren, mereka lalu menawarkan produk-produknya berupa baju takwa, kopiah,
dan lain-lain.
JIL: Kang Acep, apa nilai penting pesantren yang masih membekas dalam jiwa Anda
sampai sekarang?
Soal ketulusan. Dalam mengerjakan sesuatu, atau menjadi siapa pun, kita sebagai
manusia harus menjalankannya dengan ketulusan, keihlasan, dan kesabaran. Itu
nilai-nilai keagamaan yang memang saya serap sejak dulu, sehingga ketika
bergulat dengan dunia seni, ia sangat membantu. Bergulat dengan seni otomatis
mesti bergulat dengan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan. Tanpa itu, kita
mungkin tidak akan bisa bertahan.
JIL: Apakah pesantren membantu Anda menjadi penyair atau kecelakaan saja?
Secara formal, tidak ada media atau sarana yang memungkinkan seorang santri
menjadi seniman. Itu sama sekali tidak terbayangkan. Tapi bahwa di pesantren
ada suasana yang memungkinkan santri menjadi seniman, yaitu suasana
kontemplasi. Saya tidak tahu apakah di pesantren-pesantren sekarang suasana itu
masih ada atau tidak. Tapi di masa lalu, paling tidak sebelum tahun 1970-an, di
pesantren selalu ada suasana seperti itu. Dari suasana itu, seseorang bukan
hanya dapat belajar, tapi juga merenung; merenungkan diri, lingkungan, dan juga
alam.
Dari situ sebenarnya ada potensi-potensi kepenyairan di kalangan santri.
Potensi itu bisa dipupuk dengan menuliskan renungan-renungan. Itu yang saya
maksud pesantren tidak menyediakan sarana apa pun untuk menjadi seniman, tapi
ada nuansa pesantren yang bisa membuat orang menjadi apa saja.
JIL: Bagaimana perkembangan wawasan keagamaan Anda setelah kuliah di Seni Rupa
ITB, Bandung?
Sebagai orang pesantren yang masuk perguruan tinggi seperti ITB, sebenarnya
saya juga agak kaget dan agak minder juga. Kagetnya, karena di situ saya
melihat orang-orang yang terlalu bersemangat dalam beragama. Waktu itu,
aktivitas Masjid Salman memang sangat padat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan.
Saya kaget melihat gairah keagamaan yang formalistik itu, karena saya memang
sejak kecil di pesantren. Waktu itu saya bertanya-tanya, ada apa gerangan,
karena tidak sesuai dengan kebiasaan kecil saya yang tidak terlalu formal dalam
berpakaian, sudah berambut gondrong sejak di pesantren, tidak berpakaian yang
berlagak-lagak santri. Ketika melihat teman-teman yang bukan berlatar belakang
santri, tapi cara beragamanya sedikit beda dengan saya, saya mulai
bertanya-tanya.
JIL: Artinya, pola keberagamaan Anda di pesantren dulu natural saja, tapi pola
keberagamaan di perguruan tinggi itu sudah membentuk identitas tertentu?
Ya, seperti itu, dan lebih banyak sebagai identitas pembeda. Ketika di
pesantren, cara beragamanya natural dan mengalir saja, tapi ketika di kampus
seakan-akan sedang ada pertarungan besar, lebih formal, jadi sangat fanatis,
dan sangat senang membeda-bedakan antara "saya" dengan "mereka". Sementara saya
yang berangkat dari pesantren tidak terlalu fanatis, tetap bergaul dengan
macam-macam suku dan agama dengan santai saja. Tapi beberapa teman yang aktif
di masjid-masjid kampus memang punya sikap yang agak berbeda.
JIL: Kalau Anda refleksi ulang masa lampau Anda di ITB itu, apa tafsiran Anda?
Mungkin waktu itu saya agak nyeleneh dalam berpikir tentang gejala itu, dan
karena itu saya melihat teman-teman itu sedang puber beragama. Mereka baru
mengenal Islamnya waktu itu, ketika mau masuk kampus, sehingga ketika diberi
hal-hal yang agak keras, ideologis, dan lain sebagainya, penerimaannya begitu
bersemangat. Sementara, saya sejak kecil sudah melihat agama dijalani dengan
santai. Dan itu yang membuat saya tidak tertarik untuk masuk ke dalam
organisasi-organisasi keagamaan intra kampus.
JIL: Adakah situasi sosial-politik yang memungkinkan organisasi-organisasi
keagamaan intra kampus itu begitu mengental dan mengeras?
Nampaknya ada juga pengaruh kondisi sosial-politik, karena di antara
aktivis-aktivis organisasi mahasiswa Islam dan aktivis kampus sendiri, begitu
terkagum-kagum dengan Islam. Mereka begitu bersemangat, karena di ITB sendiri
ada proses-proses penjaringan menjadi aktivis masjid. Di sana ada
pelatihan-pelatihan. Dan bisanya, mereka akan mengeras setelah melewati masa
pelatihan. Dulu ada istilah Latihan Mujahid Dakwah. Setelah dua minggu dilatih
di sana, mereka betul-betul akan menjadi lain.
JIL: Kang Acep, bagaimana Anda melihat pluralisme?
Saya melihat pluralisme sebagai keragamaan tentunya. Sebagai penyair, setelah
tahu makna pluralisme, saya tidak lagi terlalu fanatik dengan agama, adat, dan
tradisi, tapi lebih santai. Saya melihat semuanya jadi lebih santai. Jadi
pluralisme itu dirayakan dan saya memaklumi banyak hal.
JIL: Apakah keragaman itu menginspirasi Anda dalam penulisan syair misalnya?
Ya. Misalnya, ketika menulis puisi, saya tetap membutuhkan simbol-simbol
tertentu. Dan itu adalah hasil perjumpaan dengan banyak hal, banyak orang,
banyak tempat, dan juga banyak keyakinan. Sebagai orang Islam, saya lalu tidak
risih lagi mengambil simbol-simbol Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya.
Seperti itulah. Sebab pada hakikatnya, ketika sebuah puisi diungkapkan, ia
memang tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat agama. Puisi bisa berlaku
universal, dibaca siapa pun, dan bisa menjadi pengalaman siapa pun. Pengalaman
saya sebagai orang Islam saya harapkan bisa dirasakan juga oleh teman-teman
yang berlainan agama dengan saya.
JIL: Apakah seni bisa diharapkan dapat mengubah corak keberagamaan seseorang,
misalnya yang sangat keras dapat berubah jadi lebih lembut?
Seni itu kan rasa, intuisi. Dalam tradisi Islam, ada sastra sufi di mana para
sufi menuliskan puisi-puisinya. Tradisi itu sangat berbeda sekali dengan
tradisi ahli fikih yang juga menuliskan gagasan-gagasannya. Bermain di dunia
kepenyairan atau sastra itu selalu harus ada intuisi. Jadi tidak kaku. Dan pada
tradisi sufistik, mereka kelihatan begitu akrab dengan Tuhan. Tuhan bukan
sesuatu yang menakutkan, tapi bisa menjadi sangat akrab. Mungkin lewat seni
kita bisa punya pandangan-pandangan semacam itu. Beragama juga bisa dilakukan
dengan keakraban semacam itu, sehingga kita menjadi biasa saja ketika
berhadapan dengan Tuhan atau siapa pun.
JIL: Mengapa khazanah sufi itu banyak juga yang digambarkan dalam bentuk syair
atau puisi?
Kalangan sufi banyak menulis puisi, atau sesuatu yang bersifat puitis, karena
mereka orang-orang yang giat mengolah perasaan dan batinnya. Sehingga, selalu
ada momen-momen keindahan yang kemudian melahirkan karya sastra. Mereka menjadi
sufi dulu, baru puisi lahir, dan bukan sebaliknya. Bagi saya, seorang penyair
yang bukan sufi, tidak mesti harus menjadi sufi. Seorang penyair, ya penyair
saja; keduanya persoalan yang berbeda. Bahwa sufi menulis puisi, itu wajar
sekali, karena mereka memang menggali keindahan batiniahnya. Tapi, seorang
penyair belum tentu sufi. Dan banyak sekali penyair yang tidak sufi. Hanya
saja, banyak penyair yang mengapresiasi karya-karya yang dihasilkan kaum sufi.
Seorang sufi, mungkin tidak pernah berpikir akan menulis puisi. Tapi puisi
keluar begitu saja sebagai ekspresi dari keindahan perenungan Ilahi yang ia
jalankan.
JIL: Anda bisa ceritakan lebih lanjut bagaimana dinamika keislaman di kampus
ITB waktu itu?
Saya kebetulan kuliah di ITB, dan di sana sangat sedikit orang dari pesantren
yang bisa masuk. Jadi pada tahun 1980-an itu, saya agak jarang menemukan santri
yang kuliah di ITB. Kebanyakan mahasiswa yang di sana adalah mahasiswa umum
baik yang Islam atau non-Islam. Waktu itu di ITB banyak yang aktif di kampus,
dan di masjid-masjid kampus. Mereka giat mengikuti pelatihan-pelatihan, dan
setelah pelatihan itu memang terjadi sesuatu yang agak mengagetkan. Misalnya
perdebatan tentang agama yang sangat fanatik. Lalu, beberapa orang sangat
ekstrim dalam aktivitasnya, sehingga kuliahnya terbelangkalai. Ada juga yang
ikut sebuah jaringan di Bogor waktu itu. Yang terakhir ini lama tidak bertemu
saya. Setelah ketemu lagi, dia sudah berjubah dan berjenggot, dan ngomong soal
halal-haram. Ada juga teman-teman lain yang tiba-tiba memutuskan nikah tanpa
izin orang tua mereka, karena dinikahkan di kampus oleh mentornya. Karena konon
katanya, dalam Islam tidak ada konsep pacaran. Itu terjadi p
ada teman-teman dekat saya.
Tapi ada juga yang ikut tarekat dan dengan sangat atraktif melakukan
zikir-zikir tarekat di masjid Salman, sehingga menjadi tontonan banyak orang.
Mungkin juga karena di masjid itu tidak ada tradisi wiridan atau salawatan.
Nah, teman saya yang ikuti tarekat ini, setiap selesai sembahyang selalu
berzikir dengan sangat keras. Jadi, banyak sekali hal-hal aneh yang saya jumpai
di kampus ketika itu. Tiba-tiba ada teman yang begitu saja memutuskan untuk
kawin, karena dia menolak pacaran. Bagi dia, tak ada konsep pacaran dalam
Islam; yang ada hanya kawin. Itu jumlahnya banyak sekali. Namun yang ke
arah-arah fundamentalis juga ada beberapa orang, yang kemudian terlibat dalam
jaringan yang saya tidak tahu apa itu.
JIL: Apa yang beda dengan cara pemahaman Anda di pesantren tentang agama?
Ketika kita belajar agama di pesantren, kita pertama-tama tidak disodori
langsung isi agama, tapi tradisinya dulu; tradisi mengaji, bersalawat, dan
berjamaah. Dengan begitu, tidak terasa tiba-tiba Islam menjadi bagian dari diri
kita. Nah, pengajaran agama di kampus tidak seperti itu. Mereka yang sebelumnya
tidak tahu Islam, kemudian masuk ke kelompok pengajian atau datang ke mentor,
lalu diberi suntikan agama dengan dosis tinggi. Akibatnya jadi aneh-aneh.
Saya banyak didatangi orang yang memang sudah pernah kenal waktu masih di
kampus. Dia rupanya sedang mencari kader yang katanya, dalam dua minggu, bisa
berubah menjadi orang yang siap berjihad. Jadi ada sebuah metode dalam
indoktrinasinya, dan itu hanya akan mengena orang-orang yang memang belajar
agama secara instan, langsung, tidak lewat proses budaya. Jadi, mereka tidak
beranjak dari tradisi, tapi langsung ke inti. Akibatnya, terjadi
benturan-benturan yang dahsyat dalam kepala, dan akhirnya menghasilkan
karakter-karakter yang keras dan fundamentalis.
Makanya, setelah reformasi, tiba-tiba banyak gerakan Islam yang aneh-aneh.
Banyak daerah yang tiba-tiba ingin menerapkan syariat Islam, banyak kerusuhan
yang mengatasnamakan agama, dan bom yang juga diledakkan atas nama agama. Saya
tidak terlalu kaget, dan tidak juga sedang menuduh pihak tertentu yang
bertanggung jawab. Tapi, memang ada proses cara beragama yang mungkin berbeda
dari sebelumnya; beragama yang pelan-pelan, tanpa terasa, menimbulkan masalah
dalam masyarakat. Jadi memang ada metode yang saya sebut "suntik anjing" dengan
dosis tinggi sehingga membuat orang beringas dan siap untuk apa pun. Mungkin
karena itulah kerusuhan-kerusuhan terjadi, ledakan-ledakan bom bersahutan di
Indonesia.
JIL: Kenapa itu bisa terjadi saat ini?
Hal-hal seperti itu bisa terjadi ketika kondisi negara memang sedang kacau.
Kondisi ekonomi yang kacau dan tatanan sosial-politik tidak stabil, mungkin
penyebab utamanya. Dengan begitu muncul orang-orang yang frustrasi. Saya tidak
melihat bom bunuh diri misalnya murni berlandaskan ideologi. Ada unsur ekonnomi
dan lain-lainnya. Saya pernah didatangi seseorang yang mengaku dari jaringan
tertentu. Dia sedang mencari kader-kader untuk diubah dalam dua minggu menjadi
seorang militan yang siap syahid, berjihad. Nah, yang direkrut memang bukan
orang-orang yang paham agama, atau mereka yang bukan mengalami proses yang
natural dalam beragama. Tapi mereka juga orang-orang yang terdesak secara
ekonomi, frustrasi, lalu ditarik dan digenjot dengan metode tertentu sehingga
siap untuk melakukan apa pun.
JIL: Tapi proses membujuk orang untuk mati demi sesuatu yang absurd itu kan
tidak gampang?
Ya, tidak gampang, memang. Mungkin mereka punya metodenya. Kalau merekrut dari
orang-orang pesantren, mungkin juga agak susah. Makanya saya punya istilah
"suntik anjing" itu tadi. Artinya, orang yang tidak tahu apa-apa, tapi
disuntik, diprovokasi, sehingga menjadi orang yang lain sama sekali. Itu
mungkin-mungkin saja, karena situasi sosial-politik yang tidak menentu dan
banyak orang kehilangan arah dan tak tahu harus berbuat apa. Dengan masuk
kelompok tertentu itu, mereka seolah-olah mendapat tempat untuk mengekspresikan
diri.
JIL: Tapi kan faktor pengaruh luar juga kuat, seperti contoh-contoh bom bunuh
diri di luar?
O, ya. Kalau saya lihat, sebetulnya sejak tahun 1980-an proses radikalisasi
sudah mulai. Sejak itu, banyak orang-orang yang dikirim ke Afganistan untuk
perang, termasuk dari Tasikmalaya. Imam Samudra itu muncul belakangan itu
adalah kader dari orang-orang yang sudah sejak tahun 1980-an berproses.
Metodenya dalam memengaruhi orang bisa hebat sekali. Jadi ini bukan ujug-ujug,
bukan tiba-tiba muncul setelah reformasi. Ada proses yang sangat panjang. Pada
awal 1980 atau 1970-an, kita mengenal nama Imron. Kemudian ada beberapa nama
lain.
JIL: Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi keagamaan di pesantren, apakah
Anda merasa fanatik dalam beragama?
Fanatik bisa berbeda-beda makna. Dia bisa dimaknai suka menyerang orang, atau
suka mengajak berdebat tentang soals-soal yang diyakini. Kalau fanatik pada
agama untuk kita rasakan sendiri, tidak menyalahkan orang, itu tidak apa-apa.
Tapi akan menjadi ekstrim ketika kita juga menyalahkan, menyerang,
mempengaruhi, dan memprovokasi dan mengganggu orang lain. Bahwa kita meyakini
agama kita, lalu menjalankannya dengn baik, itu tidak masalah. Tapi ketika
mengatakan "hanya ini yang paling benar; itu salah", itu akan bermasalah.
Apalagi kalau suka membikin vonis dan fatwa dengan gampangan.
JIL: Apa yang pernah Anda lakukan untuk meminimalisasi radikalisasi beragama di
Tasikmalaya?
Di Tasik, saya tinggal di pesantren, tapi kegiatan saya tidak melulu di
pesantren, karena pesantren sudah banyak yang menggarap. Saya justru keluar,
bertemu dengan teman-teman luar pesantren, tapi banyak juga yang santri, di
Sanggar Sastra Tasik. Di situ kita belajar berpuisi. Karena dengan berpuisi,
kita menjadi peka terhadap lingkungan, peka terhadap ketidakadilan, dan kritis
terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan orang banyak.
Jadi, kami membuat puisi untuk melawan bom, he-he. Pada awalnya kita belajar
membuat puisi, membuat orang senang puisi, lalu berapresiasi. Kita membaca
puisi di tempat-tempat yang tidak disebut gedung kesenian atau tempat-tempat
tertentu. Kita membacanya langsung di desa, kampung, halaman rumah, atau di
mana saja. Itu sebenarnya salah satu kegiatan yang kami lakukan; apresiasi
puisi. Tapi sebenarnya harapan saya jauh dari sekadar apresiasi puisi. Yang
penting, kita mengasah kepekaan batin kita yang mungkin selama ini kurang kita
perhatikan. Itu salah satu harapan saya.
JIL: Apakah di Tasikmalaya juga terjadi isu formalisasi syariat?
Di Tasikmalaya, mungkin baru sekarang ada isunya syariat Islam akan diterapkan
secara formal oleh Pemda. Tapi ternyata itu tidak jadi. Yang terjadi sekadar
visi Tasikmalaya sebagai kota religius-islami, dan itu juga sudah lewat
perdebatan yang sangat panjang. Tapi apa yang disebut religius-islami itu tidak
jelas. Kan yang merumuskan DPRD. Kita sering diskusi dengan mereka soal itu,
dan mereka juga tidak bisa menjelaskan dengan baik.
Nah, saya bukannya tidak setuju syariat Islam diterapkan di Tasikmalaya. Tapi
saya curiga kalau maksudnya memang bukan untuk memajukan Islam, atau bukan
untuk menerapkan syariat Islam sebagaimana retorikanya. Itu hanya jualan
politik yang dilakukan orang-orang politik. Saya melihat itu tidak serius, dan
cenderung memperlakukan agama sebagai barang dagangan. Makanya harus saya
lawan. Bersama teman-teman, saya berusaha membongkar apa yang sebenarnya ada di
balik kepala mereka. Apa yang mereka maksud dengan penerapan. Ternyata, isu itu
hanya ramai menjelang pemilu. Begitu pemilu selesai, tidak ada apa-apa lagi.
Yang terjadi, beberapa pejabat asik berpoligami. Itu saja. Ternyata, perjuangan
penerapan syariat Islam di Tasikmalaya itu intinya memperjuangkan poligami.
Yang lain-lain tidak.
JIL: Apakah banyak berkesenian dapat diharap untuk membendung ekstremisasi
beragama?
Kalau saya selalu lewat kesenian, karena ia salah satunya juga mendidik kita
untuk berpikir terbuka; berpikir bahwa kita bukan yang paling benar, tapi
selalu ada kebenaran-kebenaran lain. Dengan begitu, kita tidak memandang agama
sebagai sesuatu yang kaku atau menakutkan, tapi bisa lebih santai. Saya dan
teman-teman di Tasikmalaya mewacanakan Islam santai; berislam lebih gembira.
Karena beragama itu juga harus gembira. Ketika tegang dalam beragama, kita akan
bertemu perbedaan-perbedaan, dan ini akan menjadi musuh-musuh yang membuat kita
lelah. Sementara yang kita butuhkan adalah kegembiraan. []
^ Kembali ke atas
Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=906
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Kami Membuat Puisi Untuk Melawan Bom