[ppi] [ppiindia] Kacang Lupa Kulit

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **REPUBLIKA

Minggu, 28 Agustus 2005

Kacang Lupa Kulit 

Oleh : Haedar Nashir 


Mumpung bulan Agustus, cobalah bertanya sedikit serius. Apa yang paling 
dipikiran dan diperjuangkan para elite di negeri ini. Rakyatkah atau mobilitas 
dirinya? Bagaimana para tokoh agama meletakkan hajat hidup rakyat dalam alam 
pikir dan kesadaran keagamaannya? Lebih-lebih para wakil rakyat di pusat dan 
daerah, di mana rakyat memberikan mandat kepadanya. Sungguh, meraba bawah sadar 
para elite dan tokoh-tokoh wibawa yang pada umumnya pintar sangatlah tak 
gampang.

Wallahu 'alam bi al-shawwab. Kata pepatah, dalamnya laut dapat diduga, hati 
manusia siapa tahu. Bagaikan memandang fatamorgana, dari kejauhan seolah air, 
tetapi yang nyata adalah bayangan, serba maya. Atau seperti menatap gunung di 
kejauhan, serba indah, tetapi sesungguhnya banyak area yang terjal. Bahkan 
sarat absurditas. Maklum, para pemimpin dan elite itu manusia-manusia super, 
yang piawai memakai banyak masker. Hari ini bilang alpa, besok lupa dan lain 
lagi. Suatu kali berpose dalam satu posisi, di kali lain berperan dalam baju 
yang lain lagi. Wajah para elite dan tokoh wibawa dapat dipajang sesuai 
kepentingan dan situasi yang melingkupi dirinya. 

Ketika kita merayakan kemerdekaan 60 tahun, ternyata masih banyak ironi di 
negeri tercinta ini. Di beberapa daerah di negeri ini banyak warga antre hanya 
untuk memperoleh satu liter minyak tanah dengan saling berebut, bahkan 
anak-anak harus libur sekolah dan ada yang pingsan karena kelelahan. Kelangkaan 
minyak tanah di beberapa daerah bahkan ada yang telah berlangsung beberapa 
bulan. Hidup rakyat seolah berada di era sebelum merdeka.

Rakyat yang masih dililit kemiskinan itu gizinya juga buruk, pendidikannya 
rendah, mobilitas sosialnya terbatas, dan daya tawar politik pun lemah. Tak 
berlebihan mereka disebut dhu'afa (lemah segalanya) dan mustadf'afin 
(tertindas, marjinal). Mereka jadi proletar, jadi Marhaen kata Soekarno. Mereka 
akan selalu kalah dalam perjuangan hidup. Proses kelemahan dan pelemahan kaum 
ini kemudian mengalami reproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya. 
Lalu lahirlah lingkaran dhu'afa dan mustadh'afin yang tak berkesudahan. 
Kemiskinan melahirkan kemiskinan. Wong cilik melahirkan proletar, melahirkan 
generasi marhaen. Dan nasib mereka selalu menyedihkan dan sering terlupakan.

Maka betapa tragis hidup wong cilik yang dhu'afa dan mustadh'afin itu. Tapi, 
para elite dan pemimpin biasanya bukan hanya sering lupa akan nasib mereka, tak 
jarang menjadikannya sebagai komoditi. Lihatlah bagaimana pada Pemilu, Pilkada, 
dan berbagai kongres atau perhelatan massal kaum papa itu sering dijadikan sapi 
perah politik para elite dan pemimpinnya. Ketika diburuhkan suaranya sangatlah 
diperhatikan, meski lebih dijadikan ajang untuk bagi-bagi kembang gula semata. 
Tapi, setelah pesta usai, massa rakyat itu kemudian diabaikan, dilupakan, 
bahkan tak jarang dicampakkan.

Hanya untuk menutup kelangkaan minyak tanah di beberapa daerah, tak mampukah 
para pemimpin dan pejabat pemerintah setempat menyelesaikannya dengan sigap? 
Lebih-lebih untuk memecahkan kemiskinan, yang kian meningkat. Juga untuk 
menyelesaikan berbagai masalah bangsa yang lainnya, yang berat-berat. Ini bukan 
soal pesimisme atau optimisme, tapi soal sensitivitas dan kesigapan dalam 
menghadapi masalah yang menyangkut hajat hidup rakyat. Soal sense of belonging 
dan pertanggungjawaban para elite dan pemimpin negeri terhadap nasib rakyat.

Kita tak tahu persis posisi nurani dan kesadaran rasional para elite dan 
pemimpin yang terhormat itu dalam memperhatikan dan memperjuangkan nasib 
rakyat, nasib umat. Setelah pesta usai ternyata abai terhadap derita rakyat 
yang memilihnya. Kelihatannya normal-normal saja jika menemukan kisah sedih 
rakyat. Seolah tak ada kesan prihatin yang mendalam. Mereka malah masih terus 
mengumbar senyum dan canda, seolah tak ada masalah yang serius dan mengancam 
masa depan bangsa ini. Sebagian raut wajah mereka malah tampak bahagia, ceria, 
dan kian kenes. Sehat walafiat dan sangat segar-bugar, laiknya di negeri yang 
sudah makmur dan tak ada masalah gawat. Bahkan masih sempat menyanyikan lagu 
favoritnya. Mungkin, itulah kehebatan para elite dan tokoh wibawa di negeri ini.

Bukan hanya tak peduli, bahkan sering menunjukkan tingkah yang tak menenggang 
hati rakyat, apalagi memihak dan memperjuangkannya. Tengoklah bagaimana 
panorama telanjang perilaku para anggota DPR/DPRD. Para wakil rakyat terhormat 
itu malah tak malu hati untuk minta naik gaji, meski rakyat yang diwakilinya 
jangankan ingat gaji bahkan untuk makan hari itu pun masih belum pasti. Lebih 
sepektakuler lagi, para wakil rakyat yang terhormat itu masih tetap gairah 
melancong ke luar negeri dengan dalih studi banding. Yang di daerah selain ke 
mancanegara, juga studi banding ke daerah lain. Rupanya para wakil rakyat kita 
memang haus ilmu, ya alhamdulillah.

Para pejabat dan pegawai pemerintahan tampaknya juga tak berubah perangainya 
dalam mengurusi hajat hidup rakyat. Meski gaji mereka selalu naik, bahkan untuk 
gaji ke-13. Kinerja dan sikap melayani urusan publik juga tetap tak berubah 
drastis, masih gaya pamong praja di zaman feodal dan orde baru. Kalau ada 
kejadian, tak cepat bertindak karena belum dapat laporan. Setelah dapat 
laporan, masih menunggu atasan dan berkoordinasi dengan instansi terkait. 
Setelah berliku-liku menempuh jalur birokrasi, masalah terlanjur besar dan tak 
dapat diselesaikan. Begitulah perilaku birokratisme, tak berubah jauh kecuali 
hal-hal permukaan. 

Sedang para tokoh agama sibuk berfatwa dan bertengkar soal fatwa. Perbedaan 
paham malah meningkat menjadi perseteruan kelompok tokoh, yang mewakili kubu 
yang saling berseberangan. Masing-masing saling menegasikan, malah saling 
sesat-menyesatkan. Ajaran hikmah, al-maudhith al-hasanah, dan berjadal dengan 
ahsan, tak lagi jadi acuan kendati selalu dilapalkan dengan fasih. Lalu ruang 
publik jadi dijejali oleh argumentasi-argumentasi silang-sengketa yang mengarah 
ke apologia. Umat lantas dibuat bingung dan susah, siapa yang harus mengurus 
mereka? Jangan-jangn umat jadi sibuk mengurus pemimpinnya, bukan sebaliknya. 
Anak sapi akhirnya melahirkan induknya.

Di mana fungsi pencerahan dan kerisalahan agama? Sulit menjawabnya, karena para 
tokoh agama itu melakukan apa pun justru karena atas nama pesan agama, bahkn 
atas nama Tuhan. Jadi tak ada yang salah, apalagi sesat jalan. Bahkan untuk 
bertengkar satu sama lain pun memakai dalil agama dan nama Tuhan. Dan seperti 
biasanya, pertengkaran atas nama agama dan Tuhan, jauh lebih dahsyat karena 
masing-masing merasa membawa misi suci. 

Malah muncul ironi lain dalam dunia komunitas keagamaan. Ketika pikiran dengan 
mudah disesatkan, namun manakala melakukan kekerasan atas nama agama nyaris 
luput dari penilaian apalagi fatwa. Kekerasan bahkan terhadap kaum sendiri 
seolah absah jika bernuansa dan bersentuhan dengan agama. Berbeda pikiran jadi 
subversif, tetapi kekerasan berjalan tanpa kecemasan agama. Lalu, kata Buya 
Syafii Maarif, para preman berjubah pun menguasai jagat keagamaan dan ruang 
publik. Dan kita seolah tak cemas, apalagi resah. Itu bukan bentuk kesesatan 
dan kekerasan perilaku keagamaan, malah bisa dianggap jihad.

Lantas, di mana nurani para pemimpin, kaum wibawa, pejabat, politisi, ulama, 
dan elite agama dalam neraca nasib umat dan bangsa? Kita percaya masih banyak 
mereka yang berhati nurani jernih dalam memahami dan memenuhi amanat rakyat, 
meski boleh jadi tak sedikit yang lalai dan tak peduli. Tapi godaan elite atau 
pemimpin memang berat dan dahsyat. Ibarat pepatah, pohon besar akan diterpa 
angin kencang. Godaan itu datang dari dalam dirinya sendiri, bukan semata dari 
luar. Merasa diri sukses, popularitas, perasaan kuat dan hebat, puja-puji, dan 
pesona diri malah bisa menjadi musuh dalam selimut yang laten bagi para 
pemimpin. 

Kebesaran diri itulah yang tidak jarang menjadi penjara abadi para elite dan 
pemimpin di mana pun. Lalu, yang menjadi pusat perhatian siang-malam ialah 
mobilitas dan nasib dirinya, yang membuat lupa nasib umat dan urusan khalayak 
yang dipimpin dan memberi mandat. Pemimpin sibuk mengurus dirinya. Elite 
asyik-masyuk dengan urusannya. Akibatnya, urusan umat dan rakyat terabaikan 
bahkan terlupakan. Kalaupun sibuk mengurusnya sekadar jadi batu loncatan bagi 
eksperimen lanjutan mobilitas dirinya. Sebelum dipilih penuh gairah mengurus 
publik, setelah bertahta lupa daratan dan dan lautan. Jabatan dan kepemimpinan 
sekadar jadi ornamen dan kendaraan diri yang meninabobokan. Memabukkan, kata 
para sufi. Akhirnya, kacang lupa kulit.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: