[ppi] [ppiindia] (Kabinet) Pelangi di Matamu - Surat Terbuka untuk SBY - Kalla
- From: "Rahadian P. Paramita" <prajnamu@xxxxxxxxxxxx>
- To: "PPIINDIA" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Tue, 28 Sep 2004 14:02:26 +0700
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Sebentar lagi, Anda berdua kemungkinan besar akan menduduki kursi pemerintahan
tertinggi di negeri ini, setelah melalui perjalanan panjang yang melelahkan dan
menguras pikiran. Andaipun tidak, maka tulisan ini tetap saya tujukan pada Anda
berdua, siapa tahu periode mendatang Anda berdua berminat lagi menjadi kandidat
Presiden/Wakil Presiden RI..
Jika Anda sudah resmi menjabat sebagai Presiden/Wakil Presiden RI periode
2004-2005, maka seyogyanya mengabdilah pada rakyat. Siapapun dia, baik yang
memilih Anda maupun bukan, bahkan mereka yang tidak memilih sekalipun. Karena
sebagai Presiden/Wakil Presiden, sudah seharusnya Anda berdua mengarahkan
orientasi pada rakyat di se-antero negeri ini, terutama mereka yang masih
terpinggirkan hingga detik ini.
Anda boleh berbangga hati dan bersyukur atas berkah ini, tapi jangan jumawa dan
tinggi hati. Tantangan sudah menunggu untuk dirintangi, dicarikan jalan
keluarnya, dan dipecahkan masalahnya.
SATU hal yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang adalah komposisi kabinet yang
akan Anda pimpin. Belakangan ini santer terdengar, bahwa pihak yang kalah tidak
mau organ-organnya duduk di kabinet yang akan Anda susun. Ada dua hal yang saya
tangkap. Pertama, mereka menolak menjadi anggota kabinet Anda karena merasa
tidak mendukung Anda pada saat Pilpres yang lalu. Karena 'ketidaktertarikan'
itu, maka mereka merasa tidak layak untuk mendapat 'bagian' yang setimpal dari
Anda berdua. Dalam hal ini, banyak opini berkembang bahwa sudah seharusnya jika
Yudhoyono-Kalla memilih anggota kabinet dari mereka yang mendukungnya saja.
Kita akan bicara lagi mengenai hal ini nanti.
Kedua, dengan dalih paradigma baru tata pemerintahan di republik ini, mereka
yang kalah itu memandang bahwa posisi yang kuat di legislatif sudah cukup
sebagai lahan pengabdian mereka pada rakyat. Artinya, menguasai legislatif saja
tidak apa-apalah, karena cukup strategis dalam mengontrol jalannya
pemerintahan. Istilah oposisi sempat terdengar, tapi lalu ditepis oleh salah
satu petinggi partai yang kalah 'perang' dengan menyebutkan istilah
"menyeimbangkan".
Menerima kekalahan dengan lapang dada sudah sepantasnya mereka praktikkan.
Tetapi lalu tidak mau dipilih (bahkan melarang anggota-anggotanya) menjadi
anggota kabinet, menunjukkan bahwa orientasi cara berpikir mereka masih sempit.
Kenapa harus selalu siapa dukung siapa, lantas siapa dapat imbalan apa?
Terlintaskah pengabdian pada rakyat yang sebenarnya-benarnya di benak mereka?
Bahwa bekerja untuk rakyat itu tidak memandang SARA?
SETELAH resmi menjadi presiden/wakil presiden, maka Anda bukanlah milik partai
lagi. Anda sekalian telah dinobatkan sebagai pemimpin bangsa, kepala
pemerintahan yang akan mengatur terselenggaranya hajat hidup orang banyak.
Persoalan siapa dukung siapa, lantas siapa dapat apa, bukanlah perilaku politik
yang patut dikedepankan.
Ibarat kereta api, gerbong yang akan Anda sekalian tarik sekarang ini adalah
sebuah gerbong besar yang bernama Indonesia. Banyak sekali jenisnya, warnanya,
baunya, dan beragam pula penumpangnya. Kabinet yang akan datang, seharusnya
tidak sekedar merepresentasikan warna atau bau gerbong yang berbeda-beda itu.
Tapi kabinet baru nanti merepresentasikan jalan keluar dari permasalahan yang
sekarang dihadapi bangsa ini. Siapa yang duduk disana, adalah orang-orang yang
seharusnya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang selama ini terbengkalai
lantaran sebagian sibuk mengurusi dirinya atau golongannya sendiri. Etos mereka
seharusnya adalah bekerja untuk rakyat, bukan mengambil keuntungan dari rakyat.
Penyusunan kabinet dengan semangat rekonsiliasi juga perlu ditengok kembali.
Selama ini, semangat rekonsiliasi sudah tak jelas maknanya. Alih-alih
rekonsiliasi, kita malah terjerembab ke dalam semangat barter kekuasaan dengan
pembenaran yang tak masuk akal. Aturan perundang-undangan dilabrak, kalau perlu
dibikin aturan lagi yang lebih masuk akal bagi kepentingan sepihak.
Semangat rekonsiliasi, seharusnya dimaknai sebagai semangat untuk menghukum dan
kemudian memaafkan. Artinya, siapa saja di masa lalu yang bersalah, wajib
hukumnya untuk dijatuhi sanksi. Jika setelah itu kita mau memaafkannya, itu
lain soal. Semangat rekonsiliasi bukan semangat dagang sapi, bagi-bagi rejeki,
atau sekedar klangenan belaka.
KEBHINEKAAN bangsa ini masih patut menjadi cara pandang dalam penyelenggaraan
pemerintahan. Kabinet tidak harus berisi orang-orang partai saja, begitu pula
jabatan-jabatan politis lainnya dalam pemerintahan. Kabinet sebaiknya
mengakomodir banyak kepentingan, tidak hanya sekedar menjadi ajang balas budi,
siapa dukung siapa, siapa dapat apa.
Istilah 'kabinet pelangi' yang kini dimaknai sebagai kabinet multi partai,
sudah saatnya didekonstruksi. Penyusunan kabinet yang merupakan hak prerogratif
presiden terpilih, bukan berarti bagi-bagi kue kekuasaan belaka sebagai imbal
jasa. Penyusunan kabinet dalam pemerintahan ini adalah bagi-bagi pekerjaan dan
tanggung-jawab, demi kesejahteraan rakyat. Sekali lagi, demi dan untuk rakyat.
Orientasi cara berpikir yang selama ini disesaki dengan politik dagang
sapi, dan politik balas budi, sudah seharusnya tak dipakai lagi. Orientasinya
harus dikembalikan pada rakyat. Semua dilakukan hanya demi rakyat. Karena,
apa-apa yang dilakukan pemerintahan negeri ini, semata-mata hanyalah demi
rakyat. Bahwa Anda terpilih sebagai presiden/wakil presiden, saham terbesarnya
ada di tangan rakyat.
Maka, ungkapan "(Kabinet) Pelangi di Matamu" yang saya maksud adalah susunan
kabinet yang disusun berdasarkan kriteria tertentu, dimana kriteria ini bisa
dipahami oleh rakyat. Dengan kriteria yang 'direstui' oleh rakyat ini, Anda
sekalian bisa mempertahankan argumentasi penyusunan kabinet, tanpa khawatir
ditinggalkan rakyat. Percayalah, ditinggalkan rakyat pemilih Anda akan sangat
menyakitkan.
Sayangnya, usulan banyak ahli untuk mengumumkan susunan kabinet jauh hari
sebelum Pilpres berlangsung, ternyata tak terwujud. Sebagai alternatif, saya
berpendapat perlunya diumumkan kriteria yang pantas untuk menyaring anggota
kabinet masa depan.
Rakyat pantas dan 'berhak' untuk diberitahu, karena rakyat tidak mau
dikecewakan lagi. Kriteria ini yang akan menjamin, bahwa orang-orang terpilih
dalam kabinet adalah orang-orang berorientasi kerakyatan. Orientasi yang tidak
hanya manis di bibir, atau hanya retorika dalam kampanye belaka. Tapi orientasi
cara berpikir yang terwujud dalam perilaku berpolitiknya. Hingga di masa depan,
harapannya kebijakan yang dilahirkan memang berorientasi pada rakyat.
Rakyat menggantungkan harapan sangat besar pada Anda sekalian di masa datang
sebagai Presiden/Wakil Presiden RI periode 2004-2009. Kepercayaan ini layak
menjadi dasar pemikiran, hingga suatu saat nanti Anda sekalian bisa menyaksikan
'pelangi' melintas di mata rakyat jelata yang memilih Anda.
______________________________________
rahadian p. paramita at http://prajnas.blogspot.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] (Kabinet) Pelangi di Matamu - Surat Terbuka untuk SBY - Kalla