[ppi] [ppiindia] Jusuf Kalla: Koalisi Bisa Saja Tidak Diperlukan
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Mon, 20 Dec 2004 23:43:04 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/21/utama/1453926.htm
Selasa, 21 Desember 2004
Jusuf Kalla: Koalisi Bisa Saja Tidak Diperlukan
Jakarta, Kompas - Wakil Presiden yang juga Ketua Umum Partai Golkar Jusuf
Kalla menegaskan, politik adalah sesuatu yang dinamis. Oleh sebab itu,
koalisi-koalisi yang sebelumnya dibentuk bisa saja kini tidak diperlukan
lagi.
"Kalaupun ada, pandangan- pandangannya itu harus tetap sesuai dengan apa
yang akan kita kembangkan," kata Kalla seusai membuka acara Keluarga Alumni
Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Jakarta, Senin (20/12).
Kalla hanya menyebut koalisi-koalisi tanpa menyebut nama Koalisi Kebangsaan
yang dipimpin mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung. Koalisi
Kebangsaan yang ditopang Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai
Damai Sejahtera (PDS), dan Partai Bintang Reformasi (PBR) mengusulkan
Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi sebagai pasangan calon presiden-wakil
presiden pada pemilihan presiden beberapa waktu lalu.
Setelah kalah, PPP meninggalkan Koalisi Kebangsaan karena terjadi perbedaan
pandangan di dalam koalisi soal pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Koalisi Kebangsaan berhasil mengegolkan Agung Laksono sebagai Ketua DPR yang
kemudian bergabung dengan Jusuf Kalla dan mendapat pos Wakil Ketua Umum
Partai Golkar. Koalisi Kebangsaan menempatkan diri sebagai kekuatan
penyeimbang di DPR.
Secara terpisah, Wakil Ketua DPR Zainal Ma'arif dari PBR mengatakan,
terpilihnya Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar pasti akan mengubah
peta perpolitikan nasional. Dengan penguasaan 128 kursi di parlemen, Partai
Golkar akan berubah menjadi partai pemerintah. Namun, untuk menjadi partai
pemerintah, tentunya kader Partai Golkar akan menuntut sejumlah kadernya
duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu yang saat ini hanya diwakili Fahmi
Idris.
Zainal memperkirakan terjadi realiansi baru ketika Partai Golkar kembali
menjadi the rulling party. "Kita akan melihat reaksi dari (apakah) Partai
Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa
atas perkembangan politik baru itu," kata Zainal seraya menambahkan, isu
reshuffle (perubahan) kabinet sudah mulai terdengar dan menjadi perbincangan
sejumlah politikus.
Bukan hal baru
Kalla juga menjawab kritik dari berbagai kalangan tentang perangkapan
jabatan dirinya sebagai wakil presiden (wapres) dan Ketua Umum Partai
Golkar. Menurut Kalla, perangkapan jabatan sebenarnya bukan sesuatu yang
baru dan sudah lama berjalan dalam politik di Indonesia.
"Sejak zaman Ibu Mega (Ketua Umum DPP PDI-P), Pak Hamzah (Ketua Umum DPP
PPP), dan wapres dijabat Pak Dharmono (Ketua Umum DPP Partai Golkar
Sudharmono) juga sudah demikian. Itu bukan sesuatu yang baru," kata Kalla
yang dalam kampanyenya bersama-saat itu calon presiden- Susilo Bambang
Yudhoyono menggunakan isu perubahan sebagai tema sentral kampanye.
Tak berubah
Ditanya pers, apakah dengan dirinya menjadi Ketua Umum DPP Partai Golkar
sistem politik bisa berubah kembali seperti di era Orde Baru dulu, Kalla
menyatakan tidak.
"Saya kira tidak. Orde Baru itu kan sesuatu sifat yang kadang otoriter dan
tidak demokratis. Sekarang ini sudah demokratis dan otonom. Yang berbeda
mungkin pandangan politiknya saja. Tentunya, sekarang ini yang diharapkan
adalah sikap yang konstruktif. Saya harapkan partai tetap mengkritisi
pemerintah dan kebijakannya yang obyektif," katanya.
Kalla juga mengatakan, kalau memang kebijakan pemerintah merugikan rakyat,
tentunya partai harus menyikapinya secara kritis.
"Sebaliknya, kalau kebijakan itu baik dan berpihak kepada rakyat, partai
harus bisa menerimanya, termasuk Partai Golkar," tutur Kalla.
Tahu konsekuensinya
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan mantan Presiden Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid berharap Wapres Jusuf Kalla, yang
kini menjadi Ketua Umum Partai Golkar, telah mengetahui konsekuensi dari
rangkap jabatan yang dipilihnya. Hidayat berharap rangkap jabatan tersebut
dijadikan sarana untuk mewujudkan janji perubahan yang diserukan ketika masa
kampanye.
"Konsekuensi dari rangkap jabatan yang saat ini disandang semestinya sudah
diketahui oleh Pak JK (Jusuf Kalla). Kita berharap rangkap jabatan tersebut
menjadi sarana efektif bagi pembuktian dan perwujudan janji perubahan.
Rangkap jabatan itu jangan sampai menumbuhkan makin besarnya apatisme
publik, apalagi menambah kekhawatiran akan kembalinya Orde Baru," ujar
Hidayat.
Sejauh ini, lanjut Hidayat, secara prinsip tidak ada perubahan sikap
dukungan PKS kepada kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Mengenai terpilihnya Kalla sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Sekretaris
Kabinet Sudi Silalahi mengemukakan bahwa hasil proses politik yang panjang
itu merupakan hasil terbaik. Terpilihnya Kalla tidak hanya menguntungkan
pemerintah, tetapi juga Partai Golkar dan juga seluruh rakyat.
"Bagaimanapun itu (terpilihnya Kalla) adalah hasil terbaik yang harus kita
sambut dengan gembira. Terpilihnya Pak Kalla menguntungkan rakyat semuanya.
Bukan hanya pemerintah, tetapi ya pemerintah, ya rakyat, ya Golkar itu
sendiri," ujarnya.
Riskan
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin
Haris, berpendapat, posisi Wapres Jusuf Kalla yang kini juga Ketua Umum
Partai Golkar menjadikan kondisi pemerintahan riskan ketika terjadi friksi
internal. Perbedaan pandangan antara Yudhoyono dan Kalla bisa saja kemudian
terepresentasikan di dalam parlemen.
Ia menyebutkan, posisi Kalla saat ini memungkinkannya untuk "bermain dua
kaki", yaitu di pemerintahan dan lewat kader Partai Golkar yang duduk di
parlemen. Perbedaan yang terjadi di pemerintahan, antara Yudhoyono dan Kalla
bisa saja kemudian dipindah ke parlemen. Ketika Kalla dalam posisi "kalah"
atas sebuah kebijakan, bisa saja parlemen di-back up untuk bisa bersikap
amat kritis terhadap kebijakan tersebut.
Posisi Yudhoyono yang hanya mendapat dukungan loyal dari Partai Demokrat
tidak menguntungkan dibandingkan dengan posisi Kalla dengan dukungan Partai
Golkar yang lebih dominan di parlemen.
"Ini kesalahan Yudhoyono, yang lambat mengantisipasi ancaman dari dalam
dengan naiknya Kalla di Golkar," ucapnya.
Namun, Syamsuddin menyebutkan, posisi Partai Golkar di bawah kepemimpinan
Kalla tidak serta-merta menjadikan parlemen didominasi kelompok pendukung
pemerintah. Meskipun Koalisi Kebangsaan melemah dengan kemungkinan keluarnya
Partai Golkar, Koalisi Kerakyatan yang semula merupakan pendukung pemerintah
pun bisa goyah. PKS dan Partai Amanat Nasional (PAN) diperkirakan tidak akan
penuh mendukung pemerintah, tetapi mereka akan lebih berorientasi pada tiap
kebijakan. Dengan demikian, pertarungan di parlemen tidak bisa
dihitamputihkan antara Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan.
(dik/inu/har/bdm)
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Jusuf Kalla: Koalisi Bisa Saja Tidak Diperlukan