[ppi] [ppiindia] Jangankan Barang Mewah, Rumah Pun Kami Tak Punya...
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 28 Feb 2006 00:55:31 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/28/daerah/2476341.htm
Jangankan Barang Mewah, Rumah Pun Kami Tak Punya...
Muhasyim (55) kelihatan galau. Dia sudah 29 tahun bekerja di PT Maspion dan
kini hampir pensiun. Tak ada barang apa pun yang bisa dikumpulkan dari puluhan
tahun bekerja. Rumah pun tak punya.
Selama 29 tahun mengabdi, dia hanya bisa kos di sebuah ruangan sempit berukuran
3 x 4 meter persegi di kawasan padat penduduk Sawotratap, Kabupaten
Sidoarjo-tak jauh dari tempatnya bekerja. Di tempat kos itu pun tak ada barang
mewah apa pun. Yang ada cuma peralatan memasak dan makan seadanya.
"Ya. beginilah hasil bekerja 29 tahun," ujar Muhasyim sambil tersenyum. Pahit.
Sebagai wakil pengawas di PT Maspion, mungkin orang membayangkan gajinya
lumayan besar-mengingat masa kerja 29 tahun. Menurut Muhasyim, gajinya hanya Rp
24.000 sehari dengan jam kerja dari pukul 07.00 sampai 15.00 WIB. Ditambah uang
transpor dan uang makan Rp 1.900 per hari, dalam sebulan gajinya tak sampai Rp
750.000.
Uang gaji itu untuk sewa kos Rp 130.000 per bulan, belum termasuk listrik dan
air bersih. Sisanya, untuk kehidupan sehari-hari bersama dua anaknya.
Kini satu-satunya harapan yang dia andalkan hanya uang pensiun yang tahun depan
bakal diterimanya. Diperkirakan dia bakal menerima Rp 5 juta dari uang Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) serta uang pesangon dan bonus masa kerja
sekitar Rp 19 juta.
"Uang Rp 24 juta itu mudah- mudahan bisa dipakai untuk membeli tanah dan
membangun rumah. Gubuk pun tak apa-apa, yang penting milik sendiri," ujarnya
penuh harap.
Hanya Rp 200.000
Nasib serupa dialami Parno (33). Dia mengontrak ruangan pengap 3 x 4 meter
persegi-juga di Sawotratap. Tujuh tahun bekerja di Unit Teflon PT Maspion I,
gaji pokoknya kini Rp 25.000 per hari-memaksanya untuk betul-betul berhemat.
Bersama temannya, Yanto (32), dia menyewa satu ruangan sehingga sewa kamar Rp
80.000 bisa dibagi dua.
Sisa gajinya hanya cukup untuk makan sangat sederhana setiap hari. "Jangankan
makan mewah, untuk memberi istri saja hanya Rp 200.000 sebulan," kata Parno.
Istri dan anaknya di Boyolali, Jawa Tengah. Begitupun Yanto. Dia harus
menghidupi istri dan dua anaknya di Sragen, Jawa Tengah.
"Beginilah nasib buruh. Puluhan tahun bekerja, menyumbangkan tenaga, tetapi
tidak mendapat apa-apa.," ujarnya.
Ketika Gubernur Jawa Timur memutuskan menaikkan upah minimum kabupaten dari Rp
650.500 per bulan menjadi Rp 685.000 per bulan, buruh menyambut dengan sangat
antusias. Kenaikan upah Rp 30.000 per bulan sangat besar artinya bagi mereka.
Ketika PT Maspion keberatan memenuhi SK tersebut, buruh pun berang.
"Kami tidak meminta macam- macam. Kami hanya meminta hak normatif kami," kata
Ahmad Pamungkas, Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Logam Elektronika
dan Mesin (SP LEM), Maspion II.
Lain pandangan buruh lain pula pandangan pengusaha. Kenaikan upah Rp 30.000
sangat besar artinya bagi PT Maspion yang jumlah buruhnya 18.000 orang dan
tersebar di 51 pabrik.
Naiknya harga bahan bakar minyak dan membanjirnya produk murah dari China dan
Vietnam dapat dikatakan sangat memukul perusahaan yang berdiri tahun 1962 itu.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim pun menuntut SK Gubernur Jatim itu
dibatalkan.
"Kondisi keuangan perusahaan betul-betul tidak memungkinkan. Kami minta
pengertian karyawan," kata Direktur Sumber Daya Manusia PT Maspion Group Andy
Tjandra.
Begitulah ironi di Indonesia. Iklim usaha yang tidak kondusif, banyaknya
pungutan, ekonomi biaya tinggi, dan kebijakan yang berubah-ubah menyebabkan
semua sengsara. (LIA)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Jangankan Barang Mewah, Rumah Pun Kami Tak Punya...