[ppi] [ppiindia] Jangan Eksploitasi Agama dan Suku

** ppi-india **
Jawa Pos
Selasa, 24 Feb 2004,

Jangan Eksploitasi Agama dan Suku
Oleh Retno Susilowatie *

Salah satu tahapan penting menuju Pemilu 2004 ialah kampanye yang segera
digelar 11 Maret - 1 April mendatang. Memaknai tahapan kampanye pada Pemilu
2004 sesungguhnya merupakan ajang bagi masing-masing partai guna menjual
program dan calon legislatifnya.

Memasuki suasana kampanye pemilu nanti, tampaknya relevan kiranya memaparkan
pesan William Chang dan Ralph L. Holloway (1976) yang mengatakan sejarah
mengingatkan kita, kekerasan dan konflik selalu berdampingan dengan
eksistensi manusia. Kekerasan termasuk dari bagian integral sejarah umat
manusia. Pada kenyataannya setiap tahapan pemilu, khususnya kampanye pemilu
di Indonesia, selalu dekat dengan suasana kekerasan dan anarkisme.

Kekerasan politik mulai pelemparan batu di jalan, perkelahian massa,
terorisme (dalam arti luas), revolusi hingga perang sipil, lazim digunakan
dalam mencapai cita-cita politik golongan tertentu. Gejala ini muncul antara
lain karena unsur instingtif dan agresivitas masih mendominasi hidup
manusia. Selain itu, rentetan frustrasi bisa menggiring manusia ke dalam
konflik dan kekerasan. Pertanyaannya, apakah konflik dan kekerasan harus
menjadi solusi dan citra demokratisasi dalam kampanye Pemilu 2004?

Seorang filosofi terkemuka, Donald O' Mahony, mengatakan, masih tersedia
200-an jalan alternatif damai sebagai pengganti tindak kekerasan. Betapapun,
kekerasan pada dasarnya tidak akan sanggup mengalahkan keputusan hati nurani
yang tulus, suci, dan sungguh-sungguh diyakini, meskipun kekerasan dalam
ruang lingkup yang amat terbatas dan dengan syarat yang ketat bisa
diterapkan dalam menghadapi kekerasan yang tak adil. Jika harus menjadi
alternatif yang terakhir, kekerasan tersebut tidak bisa dilaksanakan dengan
mengangkangi nilai-nilai demokrasi yang ada. Itulah sebabnya, lewat tulisan
ini penulis ingin menggagas tampilan kampanye partai politik dalam suatu
wajah yang damai dan mencerdaskan.

Para elite partai politik dapat mengemas dan mengubah strategi kampanye
sehingga tampilannya lebih lembut dan damai. Menarik simpati massa dengan
hasutan dan provokasi harus diubah menjadi kampanye yang santun dan
menyejukkan.

Harus dipahami, makna sebuah partai politik adalah bagian bangsa sehingga
satu sama lain saling mengisi, bukan saling membenci. Partai-partai saling
membutuhkan dalam membangun bangsa (baca: daerahnya), bukan malah saling
menegasikan. Pada hakikatnya kampanye tidak perlu saling menyentil sentimen
massa, perbedaan suku, ideologi, dan agama. Apalagi menjelek-jelekkan suatu
partai yang secara kebetulan sedang dipercaya memimpin sebuah daerah dengan
tujuan menarik simpati massa pemilih.

Para elite partai perlu sadar, rakyat sudah jenuh dengan aneka bentuk
konflik dan kekerasan. Konflik kepentingan elite politik selalu berimbas
kepada tindak kekerasan terhadap publik. Yang menjadi korbannya adalah massa
di tingkat grassroot. Rakyat saling baku hantam, elite yang memetik
keuntungan.

Dalam sudut pandang demikian itu, hendaknya rakyat juga perlu disadarkan
akan adanya upaya sekelompok elite untuk memburukkan person/partai yang
sedang memegang kendali pemerintahan di suatu daerah, dengan melempar
isu-isu yang sering tidak kondusif dan tidak memunculkan solusi perbaikan.

Tujuannya semata-mata hanya menarik simpati masyarakat tanpa mampu
menawarkan program-program konkret yang nyata dan dibarengi
perhitungan-perhitungan politis yang konkret. Sampai-sampai mewacanakan
satu-satunya solusi adalah masyarakat tidak memilih partai. Harus ditegaskan
bahwa kampanye adalah sarana menjual program-program partai untuk dapat
diapresiasi oleh masyarakat.

Secara psikologi dan sosiologis, harus diingatkan bahwa upaya-upaya semacam
itu hanya menambah kebingungan masyarakat dalam menggunakan hak pilih, di
samping telah membunuh karakter suatu partai. Hal yang secara tidak langsung
hanya menegaskan bahwa partai yang melakukannya tidak siap bersaing dalam
koridor yang telah diatur oleh undang-undang.

Salah satu agenda menarik dalam tahapan kampanye adalah munculnya fenomena
influential figure buying (pembelian tokoh masyarakat), yang digunakan
sebagai alat kampanye atau alat peraih suara. Mengingat struktur masyarakat
yang paternalistik, di satu sisi realitas semacam ini sebenarnya sah-sah
saja. Juga tidak satu pasal pun dalam UU No 12 Tahun 2003 atau Keputusan KPU
No 701/2003 yang mengatur pelaksanaan hal di atas.

Karena itu, yang diharapkan, dalam sebuah masyarakat yang juga masih
menganut ketertundukan pada tokoh-tokoh karismatis, jangan sampai ketokohan
seseorang dikorbankan hanya demi kepentingan politik. Catatan itu patut
digarisbawahi karena dalam Pemilu 2004, tradisi untuk merekrut ulama/kiai
ataupun tokoh masyarakat masih terjadi. Akibatnya, partai politik sering
mencoba mengais keuntungan politik dengan membeli tokoh-tokoh tersebut. Bila
dibiarkan, ketokohan atau karisma seseorang hanya akan dijadikan alat
manipulasi bagi kepentingan politik. Ini jelas menimbulkan ongkos sosial
politik yang besar.

Bagaimanapun, kita tidak ingin melihat seorang tokoh yang pada kodratnya
menjadi aset masyarakat luas, justru menjadi alat propaganda suatu partai
politik. Untuk itu, kesempatan yang sama dan berimbang harus diberikan
kepada seluruh partai politik dalam merekrut dan membuka pintu bagi siapa
pun untuk menjadi konstituen atau bahkan menjadi maskot partai tersebut.


* Retno Susilowatie, mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: