[ppi] [ppiindia] Jagat Anak Pasca Gempa
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 26 Jul 2006 03:46:29 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://222.124.164.132/article.php?sid=62358
Jagat Anak Pasca Gempa ===>
Oleh : Bakdi Soemanto
TATKALA anak-anak Indonesia merayakan hari Anak Nasional yang kebetulan
jatuh pada Hari Minggu, 23 Juli 2006, pagi itu, saya meminjam buku tentang
jagat anak dari seorang ahli ilmu jiwa anak, Detty Aryanti. Buku itu berjudul
The Secret of Childhood karangan Maria Montessori (1974). Buku itu sudah kuna
tetapi judulnya menggetarkan, terutama karena menyebut jagat masa kanak adalah
the secret, Sang Rahasia.
Buku itu mengingatkan saya kepada sebuah sajak karangan penyair Kahlil
Gibran tentang Anak. Baris pertama sajak itu tertulis: "Anakmu bukan anakmu".
Jika anak yang jelas-jelas dilahirkan oleh seorang ibu dan ternyata ibu itu
tidak "berhak" mengatakan bahwa si orok adalah anaknya, apalagi orang lain:
guru, tetangga, institusi atau negara sekalipun. Dalam sajak yang pernah
dilarang pada era Soeharto, karena mempunyai pesan kebebasan bocah, Gibran
menandaskan bahwa anak ibaratnya sebuah anak panah. Orangtua adalah busurnya.
Jika anak panah lepas dari busur, ia akan melesat jauh ke muka. Orang tuanya
tidak akan bisa mengunjungi anak di masa depannya sendiri, betapa pun lewat
mimpi.
Di sini tampak, orangtua, apalagi institusi, negara, tidak bisa memiliki
anak. Orang Jawa mengatakan bahwa anak adalah titipan Gusti Allah. George
Norton menandaskan: "God makes beautiful kids, we just take care of them".
Tuhan menciptakan anak-anak yang manis dan lucu-lucu; kita hanya bertugas
menjaganya.
Pada era pasca gempa, tampak bahwa anak-anak juga menjadi korban. Sebagai
korban, mereka bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga penderitaan
mental. Mereka mengalami traumatik yang sangat, syok berat, lebih-lebih yang
ditinggal orangtua mereka. Bahkan, banyak yang menjadi sebatang kara: kedua
orangtua dan saudara-saudaranya menjadi korban.
Pada masa recovery dan kebangkitan, banyak orang memberikan perhatian.
Pada saat perhatian itu mulai diwujudkan, mulai tampak jati diri dari yang
memberi perhatian itu. Dengan kata lain, tujuan tersembunyi di balik empati
yang menyejukkan tampak jelas. Ada pamrih yang ngendon dalam hati mereka.
Adapun tujuan yang tidak tampak alias the hidden objectives sangat
bermacam-macam. Ada yang menanamkan sejak dini kecintaan kepada parpol
tertentu. Ada pula yang melihat anak-anak yang sedang sangat menderita sebagai
lahan tak bertuan untuk dibajak dan dibujuk masuk ke dalam keyakinan mereka.
Mereka diberi iming-iming bermacam-macam. Iming-iming itu ibarat jala yang bisa
menjerat anak-anak itu.
Tentu saja, ini adalah kisah pasca gempa yang paling menyedihkan. Jika
yang menjadi sasaran adalah orang dewasa, ya sudahlah. Tinggal berapa tahun
lagi usia mereka. Biarlah kebutuhan mereka dipenuhi tetapi dengan imbalan bahwa
mereka masuk ke dalam jaringan parpol atau keyakinan orang-orang yang membagi
sepotong roti, selembar sarung atau segelar tikar. Orang-orang dewasa itu,
kelak, setelah suasana lebih temata, akan bisa menilai kembali apa yang telah
terjadi pada diri mereka. Mereka akan mulai berdialog dengan batin sendiri,
pada malam hari yang sunyi, disaksikan sejuta bintang di langit, tentang
hal-hal yang mungkin tak sesuai dengan nuraninya.
Akan tetapi, bagaimana jika sasarannya anak-anak? Apalagi, anak-anak yang
sedang menderita, ya fisik, ya mental. Mereka memerlukan kesegaran suasana
bukan pemaksaan-pemaksaan dengan dalih mendisiplinkan atau apa pun.
Anak yang sedang syok dan trauma, sama dengan orang dewasa, kehilangan
orientasi. Ini persis seperti ditunjukkan oleh lakon-lakon absurd yang ditulis
pada saat Hitler ngobrak-abrik Eropa. Dalam situasi seperti itu, ketika
anak-anak sedang 'linglung', pasukan rahasia Nazi Jerman, merekrut anak-anak
itu, dengan dalih menyelamatkan mereka dari syok, untuk dijadikan mata-mata.
Dengan diberi pakaian pathfinder atau pramuka, anak-anak memata-matai tetangga
bahkan orang tuanya sendiri. Mereka dibawa masuk bahkan disekap di dalam kamar
dan diindoktrinasi, bahkan lengkap dengan ancaman-ancaman. Anak-anak itu
mengalami trauma dua kali. Yang mengerikan, trauma yang datang kedua kali ini
lebih menekan sebab si anak tidak berani mengatakan kepada orang tuanya
sendiri. Demikian, tamatlah jagad anak di Eropa dan Perang Dunia Kedua itu.
Seorang anak, demikian Maria Mantessori menulis dalam buku itu adalah:
"sepenuhnya orang asing di dalam masyarakat orang dewasa" (192). "Kerajaan
anak-anak bukan dari dunia ini" (193). Oleh karena itu, jika anak diminta
melukis, akan sangat mungkin anak menggambar langit dengan warna merah, laut
ungu, daunan pohonan hitam... Mengapa terjadi demikian? Sebab, itulah jagatnya.
Ia memang orang asing bagi logika linier orang dewasa yang terstruktur.
Kemurnian pikiran anak yang demikian ini harus dijaga, jika kita
mengharapkan masa depan bangsa ini lebih sehat. Kalau orangtua
mengindoktrinasikan wawasannya sendiri kepada anak tanpa memahami jagat mereka,
sama saja kita menyiapkan jagat yang bobrok seperti jagat yang kita tempati
sekarang.
Maria Mantessori, selanjutnya menulis bahwa seorang anak datang ke dunia
sebagai seorang manusia yang asosial. Maksudnya, tidak memperdulikan
sekelilingnya. Kita bisa melihat sendiri, di tengah-tengah kekhusukan ibadat,
seorang anak tiba-tiba melepaskan jengkelnya dengan menangis kuat-kuat tatkala
merasakan haus dan butuh ASI ibunya. Ia memang belum mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Oleh karena itu, seorang anak dikatakan sebagai "a
disturber of the accepted order", yang maksudnya, pengganggu tatanan yang mapan.
Mengapa hal itu terjadi? Sebab, dibandingkan dengan orang dewasa, seorang
anak jauh lebih aktif. Orang bisa menyaksikan tatkala dalam penerbangan jarak
jauh: London-Jakarta, beberapa orang anak lari-lari dalam kabin pesawat.
Orang-orang ngeri melihatnya bahkan jengkel dengan orangtua mereka mengapa
membiarkannya saja. Akan tetapi, William Wordsworth menulis: "The Child is
Father of The Man", yang terjemahan bebasnya: Anak adalah Guru setelah kita
dewasa. Apanya yang akan diajarkan kepada kita yang hebat-hebat ini? Kejujuran
dan kemurniannya. Pada pasca gempa, ketakjujuran bermunculan sangat jelas.
Sementara itu, dengan dalih menyelamatkan anak dari trauma, orang-orang politik
dan kaum moralis, mengajari anak mengikuti mau mereka. Dengan cara seperti ini,
benarkah mereka menyelamatkan dan mengobati anak dari trauma. Ataukah mereka
menciptakan tekanan batin baru bagi anak-anak yang sangat menderita. Mungkin,
yang paling tepat apabila proses penyembuhan itu ditempuh dengan
lebih sederhana dengan cara membiarkan anak-anak bermain-main dan bergembira.
Dari sana, anak akan bangkit kedirian dan kemandiriannya dan kelak akan melesat
sendiri ke masa depannya.
Anak, kata Gibran, adalah Putra Sang Masa Depan. ****
(Penulis, Guru Besar FIB-UGM)-n.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Jagat Anak Pasca Gempa