[ppi] [ppiindia] JURNAL KEMBANG KEMUNING: REVITALISASI PANTUN
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sun, 30 Jan 2005 11:08:39 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
JURNAL KEMBANG KEMUNING:
REVITALISASI PANTUN
Prakarsa milis apresiasi-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx untuk melangsungkan perlombaan
menulis pantun dalam rangka solidaritas dengan korban tsunami,dari segi sastra,
saya kira merupakan inisiatif yang sangat baik.
Pantun merupakan genre sastra yang sangat hidup di kalangan masyarakat dan ia
merupakan salah satu alat pengungkap diri yang paling populer pada masa
tertentu dan bahkan sampai sekarang. Pantun sebagai genre sastra, sangat
berakar dalam masyarakat berbagai pulau nusantara, termasuk semanjung Malaya.
Pantun bukan hanya terdapat dan hidup di kalangan etnik Melayu seperti yang
sering diduga bahkan dipastikan oleh sementara pakar dan penulis dalam negeri.
Hanya saja genre sastra ini di berbagai pulau disebut dengan nama-nama yang
berbeda, tapi berhakekat sama. Misalnya "karungut", "deder" yang sangat hidup
sampai sekarang ini di kalangan komunitas Dayak di Kalimantan Tengah [Kalteng].
Karungut dan deder adalah puisi yang dinyanyikan dengan berbagai iringan
instrumen seperti kecapi atau katambung [sejenis gendang kecil] atau rebana
untuk mengiringi mamanda di Kalimantan Selatan.Hanya saja seperti yang pernah
saya kemukakan dalam pertemuan Ikatan Sastrawan Indonesia [ISASI] Kalteng,
sekali pun karungut dan deder demikian hidup di kalangan masyarakat Dayak
Kalteng, tapi terus terang, saya merasa genre sastra yang tadinya lisan
sekarang bergeser menjadi sastra tulisan ini, tetap amat monoton dan gampang
membosankan. Deder menjadi lebih memikat selain karena dialog antar orang-orang
yang sedang berdeder, juga karena kita dihadapkan pada pertandingan ketangkasan
bersastra.
Bertolak dari kesan ini, paling tidak apa yang saya rasakan saban mendengar
terutama karungut, timbul pertanyaan: Tidak bisakah karungut direvitalisasi?
Yang saya maksudkan dengan revitalisasi adalah bagaimana menciptakan karungut
tipe baru dengan menggunakan unsur-unsur khas karungut? Pertanyaan ini
sebenarnya pertanyaan lama. Muncul ketika saya masih berada di Yogyakarta dan
turut bersama-sama dengan teman-teman se Jawa Tengah melakukan penelitian
tentang sastra-seni di daerah ini. Riset berawal dari pertanyaan bagaimana
merevitalisasi bentuk-bentuk sastra-seni yang paling hidup dalam masyarakat
Jawa Tengah agar lebih tanggap zaman. Dasar alasan pertanyaan adalah karena
bentuk yang sudah ada sebenarnya sudah mencapai puncak. Sedangkan sesuatu yang
sudah berada di puncak akan tidak lagi bisa berkembang lebih jauh, kecuali
menurun atau statis. Revitalisasi tidak bermaksud menggangugugat hal yang sudah
berada di puncak, tapi bagaimana dengan menggunakan unsur-unsur genre sastr
a yang sudah mencapai puncak itu menciptakan sesuatu yang baru atas dasar
unsur-unsur puncak itu.Untuk mewujudkan tujuan ini maka Saptoprio mengaransir
kroncong seperti kroncong Kemayoran, Jali-jali, Bandar Jakarta, Suwi Ora Jamu,
Bengawan Solo, Tembok Besar [karya Gesang], dan lain-lain dalam bentuk paduan
suara serta solis, sedangkan Jony Trisno, seniman yang serba bisa, menciptakan
lagu-lagu seperti "Holopis Kuntul Baris", "Pabrik" dan lain-lain... Sayangnya
percobaan-percobaan ini terputus oleh meletusnya Tragedi Nasional September
1965.
Pantun, saya kira, adalah bentuk sastra lama yang sudah mencapai puncaknya.
Masalah pantun pun barangkali sama dengan masalah yang dihadapi karungut, atau
tembang Jawa dan bentuk-bentuk sastra-seni lainya yang sudah mencapai puncak.
Karena itu agar pantun bisa lebih tanggap zaman, barangkali ia pun perlu
direvitalisasi. Untuk bisa melakukan revitalisasi pertama-tama dari penulis,
ditagih penguasaan tekhnik atas bentuk pantun itu sendiri terlebih dahulu.
Dalam usaha meningkatkan taraf tekhnik kepenyairannya, waktu masih tinggal di
Jalan Sukun [sekarang Jalan Mangunsarkoro] Yogyakarta, Rendra banyak sekali
menulis sanjak-sanjak latihan dengan menggunakan berbagai bentuk sastra lama
seperti gurindam, seloka, syair dan juga pantun. Penguasaan tekhnik atas
bentuk-bentuk lama, merupakan syarat untuk merevitalisasi bentuk-bentuk sastra
lama tersebut.
Apabila mengamati sanjak-sanjak Agam Wispi, penyair asal Aceh, nampak ia pun
sangat dekat dengan pantun. Sebagai orang asal Aceh agaknya tekhnik pantun
sudah menyatu dengan diri Wispi. Sebagai contoh saya ambil baris-baris yang
ditulisnya pada tahun 1957 ini:
"kain ini kain sutra
kalau mandi disesah jangan
main ini main berdua
kalau mati disesal jangan"
Atau bait berikut:
"kecitak kecitung jakarta-bandung
terasa jauh, terasa jauh
jika kau gubuk di kaki gunung
singgahku tidak untuk berteduh"
Baris lain lagi:
"mengembarai bukit-bukit dab hutanrimbamu
gemuruh nafasmu curahan airterjun seluruh cinta
detik ini hanya deta-detak jantung kita berburu
sudah tenggelam amsterdam, sudah lenyap jakarta
[dari: "Pulang, 1996].
Warna pantun dan syair pun menandai sanjak Wispi ini:
"kupancing kau masuk hutan, kekasih sayang
dan kau ikuti aku seperti bayangan
tinggal pantai hilang lautan
bertimbun bangkai di kota rebutan
pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati"
[Dari: "Revolusi", 1957].
Sedangkan penyair anonim lain seangkatan Wispi menulis:
"berdebur ombak berdebur
berdebur di pasir basah
hancur hatiku hancur
karena petani tak bertanah"
Wispi merevitalisasi pantun melalui pilihan kata, perbandingan-perbandingan
baru dan tema olahannya sehingga sanjak-sanjaknya menjadi sejenis pantun yang
tanggap zaman serta menggelitik jiwa dan pikiran. Pantun kekinian Wispi serta
sanjak-sanjaknya yang dipengaruhi oleh pantun dan atau bentuk-bentuk sastra
lama, telah membuat puisi Wispi menjadi hidup dan tidak boyak. Percobaan ini
dilakukan dengan berhasil pula oleh Emha dalam karya dramanya "Si Nandang" yang
kental dengan tanda-tanda pantun atau syair yang merdu.
Revitalisasi pantun adalah revitalisasi khazanah budaya yang kita miliki,
masalah berpijak pada akar budaya kita sendiri sehingga karya-karya mempunyai
corak lokal, masalah penguasaan dan peningkatan tekhnik bersastra. Dari segi
inilah saya menghargai perlombaan menulis pantun yang sekarang
diselenggarakan oleh milis apresiasi-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx . Barangkali di
sinilah letak inti permasalahan. Pelestarian merupakan taraf awal usaha kita
mengenal apa-apa yang kita miliki, apa-apa yang secara tidak sadar merasuki
jiwa kita. Sedangkan taraf berikutnya adalah revitalisasi.
Paris, Januari 2005.
-------------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] JURNAL KEMBANG KEMUNING: REVITALISASI PANTUN