[ppi] [ppiindia] JURNAL KEMBANG KEMUNING: REVITALISASI PANTUN

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

JURNAL KEMBANG KEMUNING:

REVITALISASI PANTUN

Prakarsa milis apresiasi-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx untuk melangsungkan perlombaan 
menulis pantun dalam rangka solidaritas dengan korban tsunami,dari segi sastra, 
saya kira merupakan inisiatif yang sangat baik. 


Pantun merupakan genre sastra yang sangat hidup di kalangan masyarakat dan ia 
merupakan salah satu alat pengungkap diri yang paling populer pada masa 
tertentu dan bahkan sampai sekarang. Pantun sebagai genre sastra, sangat 
berakar dalam masyarakat berbagai pulau nusantara, termasuk semanjung Malaya. 
Pantun bukan hanya terdapat dan hidup di kalangan etnik Melayu seperti yang 
sering diduga bahkan dipastikan oleh sementara pakar dan penulis dalam negeri. 
Hanya saja genre sastra ini di berbagai pulau disebut dengan nama-nama yang 
berbeda, tapi berhakekat sama. Misalnya "karungut", "deder" yang sangat hidup 
sampai sekarang ini di kalangan komunitas Dayak di Kalimantan Tengah [Kalteng].


Karungut dan deder adalah puisi yang dinyanyikan dengan berbagai  iringan 
instrumen seperti kecapi atau katambung [sejenis gendang kecil] atau rebana 
untuk mengiringi mamanda di Kalimantan Selatan.Hanya saja seperti yang pernah 
saya kemukakan dalam pertemuan Ikatan Sastrawan Indonesia [ISASI] Kalteng, 
sekali pun karungut dan deder demikian hidup di kalangan masyarakat Dayak 
Kalteng, tapi terus terang, saya merasa genre sastra yang tadinya lisan 
sekarang bergeser menjadi sastra tulisan ini, tetap amat monoton dan gampang 
membosankan. Deder menjadi lebih memikat selain karena dialog antar orang-orang 
yang sedang berdeder, juga karena kita dihadapkan pada pertandingan ketangkasan 
bersastra. 


Bertolak dari kesan ini, paling tidak apa yang saya rasakan saban mendengar 
terutama karungut, timbul pertanyaan: Tidak bisakah karungut direvitalisasi? 
Yang saya maksudkan dengan revitalisasi adalah bagaimana menciptakan karungut 
tipe baru dengan menggunakan unsur-unsur khas karungut? Pertanyaan ini 
sebenarnya pertanyaan lama. Muncul ketika saya masih berada di Yogyakarta dan 
turut bersama-sama dengan teman-teman se Jawa Tengah melakukan penelitian 
tentang sastra-seni di daerah ini. Riset berawal dari pertanyaan bagaimana 
merevitalisasi bentuk-bentuk sastra-seni yang paling hidup dalam masyarakat 
Jawa Tengah agar lebih tanggap zaman. Dasar alasan pertanyaan adalah karena 
bentuk yang sudah ada sebenarnya sudah mencapai puncak. Sedangkan sesuatu yang 
sudah berada di puncak akan tidak lagi bisa berkembang lebih jauh, kecuali 
menurun atau statis. Revitalisasi tidak bermaksud menggangugugat hal yang sudah 
berada di puncak, tapi bagaimana dengan menggunakan unsur-unsur genre sastr
 a yang sudah mencapai puncak itu menciptakan sesuatu yang baru atas dasar 
unsur-unsur puncak itu.Untuk mewujudkan tujuan ini maka Saptoprio mengaransir 
kroncong seperti kroncong Kemayoran, Jali-jali, Bandar Jakarta, Suwi Ora Jamu, 
Bengawan Solo, Tembok Besar [karya Gesang],   dan lain-lain dalam bentuk paduan 
suara serta solis, sedangkan Jony Trisno,  seniman yang serba bisa, menciptakan 
lagu-lagu seperti "Holopis Kuntul Baris", "Pabrik" dan lain-lain... Sayangnya 
percobaan-percobaan ini terputus oleh meletusnya Tragedi Nasional September 
1965.


Pantun, saya kira, adalah bentuk sastra lama yang sudah mencapai puncaknya.  
Masalah pantun pun barangkali sama dengan masalah yang dihadapi karungut, atau 
tembang Jawa dan bentuk-bentuk sastra-seni lainya yang sudah mencapai puncak. 
Karena itu agar pantun bisa lebih tanggap zaman, barangkali ia pun perlu 
direvitalisasi. Untuk bisa melakukan revitalisasi pertama-tama dari penulis, 
ditagih penguasaan tekhnik atas bentuk pantun itu sendiri terlebih dahulu. 
Dalam usaha meningkatkan taraf tekhnik kepenyairannya, waktu masih tinggal di 
Jalan Sukun [sekarang Jalan Mangunsarkoro]  Yogyakarta, Rendra banyak sekali 
menulis sanjak-sanjak latihan dengan menggunakan berbagai bentuk sastra lama 
seperti gurindam, seloka, syair dan juga pantun. Penguasaan tekhnik atas 
bentuk-bentuk lama, merupakan syarat untuk merevitalisasi bentuk-bentuk sastra 
lama tersebut. 


Apabila mengamati sanjak-sanjak Agam Wispi, penyair asal Aceh, nampak ia pun 
sangat  dekat dengan pantun. Sebagai orang asal Aceh agaknya tekhnik pantun 
sudah menyatu dengan diri Wispi. Sebagai contoh saya ambil baris-baris yang 
ditulisnya pada tahun 1957 ini:


"kain ini kain sutra  
kalau mandi disesah jangan
main ini main berdua
kalau mati disesal jangan"


Atau bait berikut:


"kecitak kecitung jakarta-bandung
terasa jauh, terasa jauh
jika kau gubuk di kaki gunung
singgahku tidak untuk berteduh"


Baris lain lagi:

"mengembarai bukit-bukit dab hutanrimbamu
gemuruh nafasmu curahan airterjun seluruh cinta
detik ini hanya deta-detak jantung kita berburu
sudah tenggelam amsterdam, sudah lenyap jakarta

[dari: "Pulang, 1996]. 


Warna pantun dan syair pun menandai sanjak Wispi ini:


"kupancing kau masuk hutan, kekasih sayang
dan kau ikuti aku seperti bayangan
tinggal pantai hilang lautan
bertimbun bangkai di kota rebutan
pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati"

[Dari: "Revolusi", 1957].   


Sedangkan penyair anonim lain seangkatan Wispi menulis:


"berdebur ombak berdebur 
berdebur di pasir  basah
hancur hatiku hancur
karena petani tak bertanah"


Wispi merevitalisasi pantun melalui pilihan kata, perbandingan-perbandingan 
baru dan tema olahannya sehingga sanjak-sanjaknya menjadi sejenis pantun yang 
tanggap zaman serta menggelitik jiwa dan pikiran. Pantun kekinian Wispi serta 
sanjak-sanjaknya yang dipengaruhi oleh pantun dan atau bentuk-bentuk sastra 
lama, telah membuat puisi Wispi menjadi hidup dan tidak boyak. Percobaan ini 
dilakukan dengan berhasil pula oleh Emha dalam karya dramanya "Si Nandang" yang 
kental dengan tanda-tanda pantun atau syair yang merdu. 


Revitalisasi pantun adalah revitalisasi khazanah budaya yang kita miliki, 
masalah berpijak pada akar budaya kita sendiri sehingga karya-karya mempunyai 
corak lokal, masalah penguasaan dan peningkatan tekhnik bersastra. Dari segi 
inilah   saya menghargai perlombaan menulis pantun yang sekarang 
diselenggarakan  oleh milis apresiasi-sastra@xxxxxxxxxxxxxxx . Barangkali di 
sinilah letak inti permasalahan. Pelestarian merupakan taraf awal usaha kita 
mengenal apa-apa yang kita miliki, apa-apa yang secara tidak sadar merasuki 
jiwa kita. Sedangkan taraf berikutnya adalah revitalisasi.


Paris, Januari 2005.
-------------------
JJ.KUSNI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: