[ppi] [ppiindia] Islam sebagai Perekat Kaum Beriman
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Fri, 27 Feb 2004 01:12:04 +0100
** ppi-india **
Media Indonesia
Jum'at, 27 Februari 2004
OPINI
Islam sebagai Perekat Kaum Beriman
Mun'im A Sirry, Fulbrighter di University of California Los Angeles,
AS
AGAMA kerap kali dipahami sebagai identitas pengakuan keimanan
(confessional identity) yang berbeda bukan hanya dengan ideologi dunia, tapi
juga entitas agama lain. Akibatnya, perkembangan suatu agama juga
dihubungkan dengan wataknya yang distingtif dari agama-agama yang muncul
sebelumnya. Keberhasilan suatu agama dalam menarik perhatian umat manusia
dan merekrutnya sebagai pengikut lebih banyak disebabkan propaganda yang
membesar-besarkan keunggulan dan keserbasempurnaannya.
Kenyataan ini menyebabkan sulitnya membangun basis teologi
persaudaraan antariman yang diharapkan menjadi landasan koeksistensi lintas
agama secara damai. Berbagai upaya yang dilakukan eksponen Islam pluralis
sering kali berhadapan dengan penolakan keras. Bahkan tak jarang justru
dituduh menafsirkan teks-teks keagamaan menurut hawa nafsu. Hal ini, antara
lain, karena teks-teks otentik seperti Alquran tidak sepenuhnya mendukung
pemahaman kalangan pluralis.
Dalam konteks ini, diperlukan penelitian yang lebih sungguh-sungguh
untuk menguak bagaimana Islam dipahami dan dipraktikkan pada masa
kemunculannya; suatu masa yang diakui sebagai periode paling otentik.
Hipotesis yang hendak dibuktikan dalam tulisan ini, bahwa pada masa Nabi
Islam belum menjadi confessional identity secara terpisah. Nabi dan para
pengikutnya pertama menganggap diri mereka sebagai komunitas kaum beriman
(al-mu'minun), terdiri dari mereka yang punya keyakinan sama dengan Nabi
menyangkut keesaan Tuhan, hari akhir, dan tugas untuk menegakkan kesalehan
di atas bumi.
Beberapa pendekatan
Apakah islam (dengan 'i' kecil) sejak awal kemunculannya tampil
sebagai agama baru? Secara umum, ada dua pendekatan. Ulama Muslim
tradisionalis cenderung berpendapat, sejak awal Islam merupakan agama yang
berbeda dengan agama-agama sebelumnya. Islam sebagai agama terakhir
menyempurnakan (mutammim) dan meluruskan ajaran ketauhidan yang telah
terdeviasi (tahrif). Mereka menekankan kekhasan primordial Islam bukan saja
dari kaum musyrik tapi juga dari agama-agama monoteis lain, seperti Yahudi
dan Kristen.
Kalangan orientalis tradisional memandang persamaan yang tampak antara
Islam dan agama-agama monoteis lain mengisyaratkan bahwa Islam tidak membawa
ajaran baru. Mereka cenderung berpendapat, Islam 'meminjam' konsep-konsep
ketuhanannya dari agama-agama monoteis sebelumnya. Menarik dicatat, mereka
berlomba-lomba hendak membuktikan mana yang paling memengaruhi Islam, Yahudi
atau Kristen? Charles Cutler Torrey, dalam The Jewish Foundation of Islam
(1933), merasa yakin betul bahwa Islam meminjam ajarannya dari Yahudi.
Sementara itu, Richard Bell, dalam The Origin of Islam in its Christian
Environment (1926), menegaskan pengaruh Kristen terhadap Islam.
Pengamatan yang cermat atas bukti-bukti otentik memungkinkan kita
mengusulkan pendekatan berbeda. Islam pada periode awal belumlah sebagai
agama terpisah, melainkan sebagai perekat kaum beriman yang meliputi para
pengikut agama-agama terdahulu yang masih berpegang teguh pada ajaran
monoteistik. Baru dalam perkembangan berikutnya --sekitar paruh kedua abad
pertama Hijrah-- keanggotaan dalam komunitas kaum beriman itu menjadi
eksklusif sebagai confessional identity tersendiri. Dengan kata lain, Islam
menjadi entitas keagamaan yang distingtif baru muncul ketika menjadi Mukmin
atau Muslim, seseorang pada saat yang sama tidak boleh sebagai Yahudi atau
Kristen.
Tampaknya perhatian utama kaum beriman kala itu adalah menyangkut
datangnya Hari Kiamat. Alquran mengisyaratkan, terutama ayat-ayat Mekah,
Nabi Muhammad dan para pengikutnya meyakini bahwa Hari Kiamat akan segera
datang. Keyakinan seperti ini memang tersebar pada masa Nabi, sehingga
mendorong kaum beriman untuk menciptakan komunitas (ummah) yang hidup dalam
kesalehan. Untuk memperoleh keselamatan di akhirat kelak, komunitas kaum
beriman ini (Muslim, Yahudi, Kristen, dan monoteis lain) cukup percaya pada
(1) Keesaan Allah, (2) Hari Akhir, dan (3) melakukan amal saleh (QS 2:69).
Percaya pada tiga kategori tadi dianggap cukup untuk mentransendenkan
distingsi-distingsi komunal antara Yahudi, Kristen, dan monoteis lain.
Implikasinya jelas bahwa sebagian Yahudi dan sebagian Kristen adalah
termasuk kaum beriman, karena mereka memang tidak perlu mengimani kenabian
Muhammad. Di sini kita dapat memahami sikap Alquran yang tidak seragam
terhadap Ahli Kitab. Sebagian orientalis menganggap Alquran ambivalen, namun
kita hendak menegaskan bahwa perbedaan sikap Alquran itu lebih dikarenakan
perbedaan objek sasarannya. Manakala merujuk pada Ahli Kitab secara umum,
pesannya positif, dan Alquran bersikap negatif terhadap sebagian Ahli Kitab
yang tidak lagi menjalankan ajaran monoteistik.
Argumen tekstual dan historis
Ada dua bentuk argumentasi untuk mendukung hipotesis yang kita ajukan,
yakni argumen tekstual dan historis. Mengenai argumen tekstual, kita bisa
susun daftar panjang penjelasan Alquran. Namun, yang paling penting adalah
penegasan Alquran yang menyebut para nabi terdahulu sebagai muslim. Dengan
demikian, terma muslim merujuk kepada seseorang yang tunduk kepada hukum
Allah. Dan, karena hukum Allah diturunkan pada banyak waktu dan tempat yang
berbeda, maka tidak mengherankan bila Alquran menggunakan terma muslim
kepada mereka yang bukan hanya mengikuti hukum Alquran, tapi juga
hukum-hukum yang diwahyukan sebelumnya, seperti Taurat dan Injil.
Jika para nabi terdahulu disebut Alquran sebagai muslim, maka sudah
barang pasti para pengikut mereka pun dapat disebut muslim. Perlu segera
ditambahkan, muslim yang dimaksud di sini bukan dalam pengertian teologis
seperti yang berkembang belakangan, melainkan dalam pengertian historis
sebagaimana dipakai pada masa Nabi.
Penjelasan Alquran di atas juga mendukung argumen historis berikut
ini. Beberapa riwayat menyebutkan, Nabi memberlakukan hukum-hukum yang
termaktub dalam Taurat bagi orang-orang Yahudi. Dalam Sirah (sejarah Nabi)
Ibn Ishaq disebutkan, ketika seorang Yahudi bernama Yahuda melakukan zina,
para pemuka Yahudi datang berkonsultasi kepada Nabi mengenai hukuman bagi
pelaku zina. Abdullah ibn Suriyah, ahli Taurat yang turut hadir saat itu,
ditanya Nabi mengenai hukum zina dalam Taurat. Ibn Suriyah membenarkan bahwa
Taurat mengajarkan hukum rajam (dilempari batu hingga mati) bagi penzina.
Kisah ini mengajarkan dua hal penting. Pertama, rajam bukan hukum
Alquran, karena Alquran sama sekali tidak menyebut hukum rajam! Kedua,
posisi Nabi di kalangan komunitas kaum beriman saat itu tak lebih dari
arbriter (hakam) yang memutus perkara sesuai keyakinan yang dianut para
anggota komunitas tersebut. Ajaran monoteis yang dibawa Nabi betul-betul
difungsikan sebagai perekat kaum beriman, sehingga melahirkan suatu konsep
keumatan inklusif sebagaimana tergambar dalam Piagam Madinah yang menyebut
kelompok-kelompok agama lain sebagai bagian integral ummah wahidah.
Persoalannya sekarang, bagaimana merekonstruksi jejak inklusivisme Islam ke
dalam sejarah realitas masa kini? Inilah tugas berat yang menghadang
kita.***
C
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Islam sebagai Perekat Kaum Beriman