[ppi] [ppiindia] Indonesia yang Semakin Miskin
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 27 Sep 2005 04:57:20 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=122277
Indonesia yang Semakin Miskin
Oleh Aknolt Kristian Pakpahan
Sabtu, 24 September 2005
Membicarakan Indonesia masa kini dan dulu memang bagaikan langit
dan bumi. Masih terbayang dalam ingatan kita ketika bangsa kita dikenal dunia
karena mampu melakukan swasembada beras pada era 1980-an: Rakyat Indonesia pun
boleh berbangga karena kita masuk dan menjadi anggota OPEC (negara-negara
produsen minyak). Tetapi jika kita terus terbuai dengan masa lalu, kita tidak
akan pernah sadar bahwa bangsa kita sudah menjadi bangsa yang miskin. Miskin
dalam artian harafiah dan miskin dalam tanda kutip.
Negara Konsumen
Era tahun 1982-1984 dikenal dengan sebutan era keemasan bangsa kita
untuk produksi beras. Daerah-daerah produksi beras tumbuh dan berkembang di
mana-mana seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera
Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur dan
Nusa Tenggara Barat. Program swasembada beras yang diusung dan diprioritaskan
oleh pemerintah memang menjadi kunci sukses perekonomian Indonesia pada era
tersebut.
Era ini dikenal dengan adanya perpindahan dari era scarcity ke era
plenty produksi beras sehingga pada tahun 1984 Indonesia sukses melakukan
swasembada beras. Sementara itu, sejak menjadi anggota OPEC, Indonesia mencapai
puncak kejayaan dalam sektor migas pada tahun 1970 sampai dengan 1980-an awal.
Apalagi dengan adanya kenaikan harga minyak pada era 1973-1974 dan 1978-1979.
Praktis, bangsa kita mendapatkan masukan devisa yang cukup besar dari sektor
ini.
Sayangnya, masa-masa keemasan Indonesia telah lewat. Sejak 1984,
praktis bangsa kita sudah tidak bisa lagi melakukan swasembada beras. Gencarnya
arus liberalisasi dan industrialisasi memaksa Indonesia perlahan-lahan
"mengurangi" lahan pertanian yang kemudian dijadikan pabrik-pabrik industri,
daerah perumahan, dan kepentingan globalisasi lainnya. Perlahan tapi pasti,
bangsa kita mulai berubah dari yang dulunya negara produsen beras ke negara
pengimpor beras. Hal ini ditandai dengan dibukanya keran liberalisasi impor
beras pada tahun 1998 oleh Bulog.
Dalam sektor migas pun, pemerintah Indonesia malah berencana keluar
dari keanggotaan OPEC, dikarenakan kita sudah tidak lagi menjadi negara
produsen minyak tetapi sudah berubah menjadi negara pengimpor minyak. Data
terakhir yang didapat menyebutkan bahwa produksi minyak kita saat ini lebih
kurang sekitar 1 juta barel per hari dengan konsumsi minyak dalam negeri
sekitar 1,35 juta barel per hari. Produksi minyak 1 juta barel per hari pun
tidak sepenuhnya masuk untuk memenuhi kebutuhan domestik karena ada konsesi
perjanjian dengan investor asing yang ikut menanamkan modal untuk proses
eksplorasi minyak mentah. Sehingga wajar saja kalau kita terus-terusan
mengimpor minyak untuk menutupi kebutuhan dalam negeri.
Miskin Moral
Sejak krisis melanda bangsa kita pada tahun 1997, kita belumlah
benar-benar lepas dari krisis. Krisis tahun 1997 yang benar-benar membuat kita
terpuruk tampaknya akan terulang kembali jika tidak ada tindakan serius dari
pemerintah.
Di masa pemerintahan yang baru, ada harapan dari masyarakat bahwa
perbaikan ekonomi yang telah dijalankan oleh pemerintahan yang lama -- era
Presiden Megawati Soekarnoputri -- bisa dilanjutkan, tentu saja dengan
perbaikan di sana sini. Tetapi harapan masyarakat tadi tidak diimbangi dengan
kenyataan yang ada di lapangan.
Kita semua tahu betapa sulitnya pemerintahan saat ini ketika Aceh
di penghujung tahun 2004 dilanda bencana tsunami yang mau tidak mau terpaksa
menggembosi anggaran belanja negara.
Ketika bulan Juni 2005 kenaikan harga minyak mentah dunia melonjak
secara drastis, ujung-ujungnya membuat anggaran pemerintah untuk subsidi BBM
(bahan bakar minyak) nasional meningkat tajam. Efek domino yang dirasakan
adalah jatuhnya nilai tukar rupiah pada akhir Agustus 2005 dan naiknya tingkat
inflasi dikarenakan kenaikan BBM. Berbagai hal yang terjadi membuat rakyat
menjadi miskin dan kehilangan daya beli serta konsumsi. Berkurangnya daya beli
dan konsumsi pasti akan berdampak terhadap proses pertumbuhan ekonomi nasional.
Terlebih lagi, menyusul rencana pemerintah menaikkan kembali harga
BBM, awal Oktober nanti. Beban warga masyarakat, khususnya kalangan bawah,
dapat dipastikan akan semakin berat. Apalagi, kalau dana bantuan sebagai
kompensasi untuk masyarakat miskin tak sampai ke sasaran. Rakyat miskin semakin
miskin.
Ternyata bangsa kita tidak hanya miskin dari sisi kekayaan. Bangsa
kita juga miskin dalam masalah moral. Di tengah krisis yang melanda bangsa
kita, masih ada saja tindakan-tindakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi
yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Sebut saja, pembabatan hutan yang
melibatkan banyak oknum aparat, penyelundupan BBM yang dilakukan oleh oknum
Pertamina, kebijakan hemat energi yang ternyata tidak berlaku untuk para
pejabat kita, penggunaan air semena-mena yang makin merusak tata air kita dan
lain sebagainya. Berbagai contoh tadi hanya menunjukkan betapa lemahnya sense
of crisis bangsa kita.
Yang diperlukan saat ini adalah kesadaran bersama untuk membangun
bangsa ini agar keluar dari krisis. Perhatian pemerintah dalam sektor pangan
harus benar-benar diarahkan agar ketahanan pangan kita terjaga dan investasi
untuk meningkatkan produksi minyak nasional haruslah dilakukan demi
mengembalikan masa kejayaan bangsa kita. Selain itu, perbaikan moral aparat
pemerintah dan masyarakat untuk menunjukkan sense of crisis jangan diabaikan.
Niscaya dengan segala itikad baik kita semua, kita akan benar-benar lepas dari
krisis. ***
Penulis dosen Ilmu Hubungan Internasional Fisip
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Indonesia yang Semakin Miskin