[ppi] [ppiindia] Indonesia dan Suaka Politik Papua
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Sat, 1 Apr 2006 04:30:46 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
Refleksi: Wah! Hebat juga usulan penganalisa ini agar suapya alur laut
kepulauan Indonesia ditutup untuk kapal-kapal Australia. Timbul pertanyaan:
(a) Bagaimana dengan politik ekonomi, sosial dan kebudayaan terhadap rakyat
Papua selama ini? (b) Apakah Indonesia mampu dari segi kemiliteran dan hukum
dan konvensi internasional?
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0604/01/opini/2547740.htm
Indonesia dan Suaka Politik Papua
Reni Winata
Sebagian besar protes yang dilontarkan terhadap kebijakan Pemerintah Australia
yang memberi suaka politik kepada 42 orang Papua dinyatakan sebagai bentuk
inkonsistensi atau pengkhianatan Australia terhadap Indonesia yang memberi
dukungan untuk diterima dalam Komunitas Asia Timur.
Langkah Australia ini sebenarnya merupakan bagian (geo) strategi yang selama
ini diterapkan. Memanfaatkan proksimitas geografis dengan Asia untuk menambah
posisi tawar dan melayani kepentingan AS. Sebaliknya, memanfaatkan "kedekatan"
dengan AS sebagai premi untuk mengangkat profil di kawasan Asia. Zigzag-ing
dijalankan untuk memelihara kepentingan ekonomi Australia di Asia sekaligus
jaminan "keamanan" dari AS.
Diplomasi dua muka
Memang, tidak banyak pilihan bagi Australia sebagai negara "kekuatan menengah"
yang terisolasi di selatan bumi dan dikelilingi samudra luas. Isolasi dari
dinamika kawasan regional maupun global merupakan skenario terburuk Australia.
Memainkan diplomasi "dua muka merupakan strategi yang dapat menaikkan posisi
tawar Australia". Setidaknya, demikianlah menurut Buku Putih Hubungan Luar
Negeri dan Perdagangan Australia 2003.
Keberhasilan demi keberhasilan Howard dalam memanfaatkan strategi ini bisa
membuatnya terlena. Memanfaatkan "dukungan" AS untuk terlibat kasus Timor Leste
berhasil membuahkan miliaran dollar dari ladang minyak Laut Timor. Menggunakan
unilateralisme AS, Australia berhasil memperkuat hegemoni atas Pasifik Selatan.
Keterlibatan dalam aksi global antiterorisme AS juga berhasil meningkatkan
Australia menjadi "pemain global". Kontribusi dalam aksi antiteror ini nyaris
tanpa risiko, tanpa korban dari serdadu Australia.
Secara bersamaan, Australia memanfaatkan kedekatan dengan Indonesia dan negara
ASEAN untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi Asia Timur. Rangkaian
cerita sukses ini merupakan keberhasilan strategi zigzag-ing. Howard berulang
kali menegaskan, Australia tidak harus memilih antara "sejarah dan geografis".
Tetapi, menyimak terjadinya reciprocal hedging antardua kekuatan yang dapat
memengaruhi stabilitas kawasan, Australia wajib berhati-hati jika tidak ingin
dikucilkan dari pergaulan kawasan.
Australia perlu berpikir dua kali jika ingin memanfaatkan "koalisi dengan AS"
untuk menekan Pemerintah Indonesia mengikuti agenda yang dimainkan- apakah itu
hanya melayani kepentingan Australia atau melayani kepentingan bersama AS dan
Australia-karena langkah ini berisiko bagi Australia. Indonesia dapat
memanfaatkan pengaruh lewat Forum ASEAN guna memblokade inisiatif-inisiatif
Australia dalam Forum Asia Timur.
Secara geopolitis, Indonesia lebih strategis daripada Australia bagi AS dalam
mengembangkan kemitraan strategis di kawasan Asia. Indonesia, yang menempati
bagian hulu alur komunikasi laut (SLOC) Asia Tenggara serta memiliki jalur
pelayaran alternatif lewat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), memiliki
posisi tawar di mata AS dalam menghadapi perdagangan global.
Jalur laut
Peningkatan perdagangan global akan mendorong kapal-kapal AS menuntut "akses
untuk melintasi di kawasan SLOC dan ALKI". Karena itu, menguasai "akses ke
Selat Malaka maupun ALKI" merupakan strategi untuk menguasai perdagangan global
dan transportasi energi jika terjadi konflik di kawasan Laut China Selatan yang
merupakan kawasan pengaruh China.
Seperti AS, perdagangan Australia bergantung pada seaborne trade dengan
negara-negara mitra di Asia. Secara geografis terisolasi di selatan, 80 persen
komoditas perdagangan internasional Australia diangkut lewat laut. Akibatnya,
Australia bergantung pada "akses ke jalur pelayaran SLOC dan ke tiga ALKI".
Australia, misalnya, bergantung pada Selat Lombok untuk mengangkut biji besi ke
China. Dapat dikatakan, sebagian besar pelayaran antarkawasan yang melintasi
Selat Lombok adalah kapal-kapal niaga Australia. Karena itu, "akses untuk
melintasi ALKI dan SLOC" merupakan faktor penentu kesuksesan perdagangan
Australia.
Ketergantungan terhadap "akses" ini cenderung meningkat seiring bertambahnya
volume perdagangan Australia dengan mitra dagang di Asia. Dengan kata lain,
menutup "akses" kapal niaga Australia ke Asia sama dengan memblokade ekonomi
Australia.
Dalam kondisi ini, pemberian suaka politik terhadap 42 orang Papua merupakan
langkah berisiko bagi Australia. Pemberian suaka ini telah berkembang menjadi
masalah "pelanggaran terhadap kedaulatan" Indonesia, terutama setelah
dikeluarkannya pernyataan resmi Pemerintah Indonesia, orang-orang itu tidak
termasuk daftar tangkal dan tidak dilibatkannya KBRI Canberra dalam proses
pemberian suaka, padahal 42 warga Papua itu adalah warga negara Indonesia.
Pemberian suaka politik ini perlu ditinjau kembali oleh Pemerintah Australia
karena dapat memicu Pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah tidak
populer dan merugikan kepentingan Australia yang luas.
Jika Australia tidak membatalkan pemberian suaka politik itu, maka menerapkan
strategi "anti-akses" dengan menutup Alur Laut Kepulauan Indonesia bagi kapal
niaga dan militer Australia merupakan langkah strategis yang perlu diambil
Pemerintah Indonesia. Langkah ini akan berdampak lebih cepat dan lebih luas
ketimbang menutup KBRI atau memulangkan Dubes Indonesia di Canberra.
Reni Winata
Analis Politik Keamanan Pusat Kajian Australia Universitas Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Indonesia dan Suaka Politik Papua