[ppi] [ppiindia] Indonesia dalam angka
- From: "andi_wahyudi2000" <andi_wahyudi2000@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Thu, 30 Sep 2004 16:25:03 -0000
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dear temans,
berikut ada artikel menarik dari SP (thanks berat buat SP). Kalau
Anda menonton CNN hari ini, diberitakan bahwa PM Thailand, Thaksin,
akan menganggarkan "extra money" untuk pemberantasan korupsi,
tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan investor. Pertumubuhan India
udah 7.4% ya?
Salam manis,
Andi
SUARA PEMBARUAN DAILY
Diplomasi
Cina, Indonesia dan Presiden Baru
Nanang Pamuji M
ESKIPUN secara resmi belum ditetapkan siapa yang akan menjadi
presiden Indonesia 2004-2009, namun dari penghitungan sementara
hampir pasti bahwa untuk lima tahun kedepan, Indonesia akan dipimpin
oleh presiden baru.
Salah satu isyarat penting yang disuarakan rakyat dari hasil pilpres
kedua adalah perlunya Indonesia berubah. Termasuk di dalamnya, tentu
saja perubahan dalam ranah kebijakan internasional kita.
Perubahan semacam ini menjadi hal yang sangat penting, karena saat
ini posisi internasional Indonesia yang cenderung merosot hampir di
semua bidang. Diperlukan terobosan untuk membawa Indonesia menjadi
bangsa yang dihormati dalam percaturan Indonesia. Ini merupakan
prioritas yang sangat penting.
Agenda apa yang harus kita benahi di dunia internasional? Apa
tantangan internasional yang dihadapi oleh presiden baru mendatang?
Jika ditilik dari berbagai indikator, patut rasanya bahwa kita masih
harus prihatin dengan prestasi internasional kita. Ranking daya saing
internasional kita tahun lalu berada di urutan ke-67. Sementara itu
peringkat prestasi kebijakan makro ekonomi kita juga belum
menggembirakan, yaitu di posisi 53 dengan peringkat country credit
rating di posisi 74. Sementara itu, indeks kemajuan teknologi kita
hanya mencapai urutan ke-65.
Peringkat untuk kinerja perbankan kita juga masih di urutan ke-78.
Yang menyedihkan, Indonesia juga dianggap sebagai negara yang rawan
praktik pencucian uang melalui bank (di urutan 77). Indonesia juga
rawan terhadap praktik insider trading (di posisi 80).
Bahkan jika dibanding negara-negara lain, Indonesia juga bukan tempat
yang ideal untuk menjalankan bisnis karena peringkatnya lamanya
(hari) untuk memulai usaha bisnis masih berada di barisan ke-71.
Kurang kompetitifnya iklim invetasi di Indonesia juga semakin
diperparah oleh kualitas pemerintahannya. Tingkat kompetensi birokrat
hanya berada di ranking 67. Sementara itu, biaya bisnis yang
berhubungan dengan korupsi (business cost of corruption) menempati
urutan ke-77.
Dalam urusan membuat kebijakan ekonomi, pemerintah juga dinilai
masing kurang fair karena indeks favoritisme dalam kebijakan ekonomi
masih rendah, dengan peringkat ke-65.
Faktor-faktor tersebut masih harus ditambah dengan dukungan keamanan
yang kurang memadai. Ranking organized crime di Indonesia berada di
posisi 69. Sementara itu, realibilitas jasa kepolisian masih di
urutan ke 75. Ini artinya, secara umum persoalan keamanan masih
menghantui keputusan investasi ke Indonesia.
Prestasi internasional yang dicapai Indonesia tersebut jelas
memalukan.
Mari kita bandingkan dengan Malaysia, misalnya. Ranking daya saing
internasional negeri jiran itu berada di posisi 27. Lingkungan
ekonomi makro Malaysia jauh di atas Indonesia, yaitu di peringkat 20,
dengan indeks stabilitas makroekonomi di posisi 7. Di bidang
teknologi, Malaysia menempati barisan ke 26.
Peringkat untuk kinerja perbankan Malaysia berada di jajaran ke-44.
Negara itu juga tidak banyak dicap sebagai tempat pencucian uang.
Dibanding Indonesia, Malaysia lebih ideal sebagai tempat menjalankan
bisnis karena peringkatnya lamanya (hari) untuk memulai usaha bisnis
masih berada di barisan ke-14. Artinya, jumlah hari yang diperlukan
untuk memulai bisnis jauh lebih singkat, karena birokrasi yang tidak
bertele-tele.
Kurang kompetitifnya iklim invetasi di Indonesia juga semakin
diperparah oleh kualitas pemerintahannya. Malaysia dikenal
keefektifannya dalam urusan yang berhubungan dengan hukum (peringkat
9) serta memiliki kebijakan perpajakan yang baik (posisi 7).
Dalam urusan membuat kebijakan ekonomi, pemerintah Malaysia juga
lebih baik dari Indonesia karena indeks favoritisme dalam kebijakan
ekonomi di peringkat ke-38.
Bahkan dengan Filipina, yang kondisi ekonomi tak jauh berbeda dengan
Indonesia, kita masih ketinggalan. Peringkat daya saing negara
tersebut berada di atas kita, yaitu posisi 61. Dalam hal kemajuan
teknologi, posisi Manila juga lebih baik yaitu di urutan ke-52.
Peringkat lingkungan makro ekonominya ada di urutan ke-32 dengan
stabilitas makro ekonomi di peringkat ke-50. Ini artinya, Filipina
masih lebih kompetitif dari Indonesia.
Selain urusan peringkat tersebut, ada hal lain yang cukup menantang.
Dalam beberapa bulan setelah presiden baru menduduki kursinya,
pemerintah baru akan menghadapi "bom" ekonomi internasional, dengan
dihapuskannya sistem kuota untuk ekspor TPT pada akhir tahun ini.
Menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan, sekitar 3.000
pengusaha yang bergerak di industri TPT Indonesia akan kolaps pada
tahun 2005, menyusul liberalisasi perdagangan itu.
Penghapusan kuota itu akan membuat kompetisi yang semakin sengit
antarnegara produsen TPT di dunia. Meskipun dengan liberalisasi itu
potensi pasar akan lebih luas, namun diperkirakan produsen TPT di
Indonesia belum siap menghadapi persaingan dengan negara-negara
produsen lain, terutama Cina.
Belajar dari Cina?
Sementara kita terengah-engah dalam bersaing secara internasional,
cukup menarik bahwa Cina kini semakin unjuk gigi sebagai pemain kunci
ekonomi dunia. Minggu ini, misalnya, Cina dirangkul G-7 untuk
berbicara dalam beberapa forum mereka. Hal ini jelas karena negara-
negara maju tersebut mulai kewalahan menghadapi persaingan dengan
Cina.
Cina masuk peringkat keempat dalam raksasa perdagangan dunia, di
bawah AS, Jerman dan Jepang. Selain karena aliran modal asing dan
teknologi tinggi, yang justru sangat menarik dari pengalaman Cina
adalah besarnya peran UKM dan bisnis kecil daerah -yang disebut
sebagai Township and Village Enterprises (TVEs)- dalam menopang
kekuatan ekspornya. Usaha kecil ini memegang andil besar dalam
menggenjot ekspor Cina.
TVEs merupakan perkembangan dari industri pedesaan yang digalakkan
pemerintah Cina sebelum reformasi tahun 1978. Pada tahun 1960-an,
terdapat 117.000 industri pedesaan di Cina. Sejak tahun 1978, jumlah
industri pedesaan meningkat menjadi 1,52 juta. Setelah reformasi
ekonomi Cina, pertumbuhan TVEs sangat spektakuler.
Output dari TVEs meningkat dengan rata-rata 22,9 persen pada periode
1978-94. Meskipun tingkat pertumbuhannya tidak sama di seluruh
wilayah namun pertumbuhan rata-ratanya cukup mengesankan.
Dihitung secara nasional, output TVEs pada tahun 1994 mencapai 42
persen produksi nasional. Sumbangan TVE terhadap nilai ekspor Cina
meningkat tajam dari hampir nol sebelum rreformasi, menjadi lebih
dari sepertiga pada tahun 1994.
TVEs menciptakan lapangan kerja sampai 95 juta sejak 1978, dan 130
juta pada tahun 1990-an. Tahun 1998, sumbangan TVEs terhadap GDP Cina
mencapai 28 persen. Pada tahun 1999, TVEs menghasilkan nilai output
sampai 240 miliar dolar AS.
Sumbangan TVEs terhadap penyediaan lapangan kerja secara nasional
meningkat dari 7 persen pada 1978 menjadi 20,5 persen pada 1993 dan
menyerap hampir separuh dari tenaga kerja pedesaan pada akhir tahun
1990-an!
Mengapa TVEs berhasil menjadi salah satu simbol keajaiban Asia yang
baru?
Kata kuncinya adalah peran Pemerintah Cina yang sangat berani dan
konstruktif. Salah satu kebijakan untuk mendukung TVEs adalah yang
disebut sebagai The Spark Plan. Rencana ini dimulai tahun 1986 untuk
memajukan pembangunan sains dan teknologi pedesaan.
Tujuan rencana ini ada tiga. Pertama, memberikan training jangka
pendek bagi 200.000 pemuda desa setiap tahun, dengan tujuan
mengajarkan mereka satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di
daerahnya.
Kedua, memobilisasi lembaga riset di tingkat pusat dan tingkat
provinsi guna membangun 100 jenis peralatan teknologi yang siap pakai
di pedesaan. Ketiga, membantu mendirikan 500 TVEs sebagai model
percontohan, dengan memberikan mereka teknologi, pengetahuan
manajemen, teknik processing dan kontrol kualitas.
Di bawah rencana The Spark Plan, pemerintah mengubah lebih dari 28
juta petani menjadi wiraswastawan berorientasi ekspor!
Belajar dari Cina, maka keseriusan, kerja keras dan konsistensi dari
pemerintah menjadi modal yang penting guna memperbaiki kualitas dan
prestasi suatu negara di panggung internasional. Apakah kita bisa
meniru Cina?
Inilah tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah kita yang akan
segera dibentuk ini. Potensi Indonesia bukanlah kecil. Dengan
penduduk lebih dari 212 juta orang, bisa dibayangkan apabila
pemerintah mampu memotivasi rakyat untuk berubah dan berjaya di dunia
internasional.
Dengan perubahan politik ini, sebenarnya rakyat sedang berharap
Indonesia kembali menjadi bangsa besar. Namun apakah harapan rakyat
itu bisa dicapai atau hanya jadi angan-angan belaka, akan tergantung
kepada pemerintah mendatang. Semoga kita segera pulih sebagai bangsa
yang dihormati oleh dunia internasional.
Penulis adalah dosen program pascasarja Ilmu Hubungan Internasional
UGM, Yogyakarta.
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Indonesia dalam angka