[ppi] [ppiindia] Ilusi
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Thu, 29 Dec 2005 00:46:16 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/29/opini/2324267.htm
Ilusi
Kartono Mohamad
Berkhayal adalah ciri manusia, dan khayalan ada yang dapat dicapai serta ada
pula yang tetap tinggal khayalan. Khayalan yang disusun secara sistematik dan
diikuti dengan program pragmatis untuk mencapainya, ia menjadi vision,
cita-cita yang dapat diraih. Kalau tidak sistematik dan tidak pula dikejar
melalui program yang nyata, ia akan tetap jadi khayalan.
Contohnya adalah slogan Indonesia Sehat di tahun 2010, karena tidak diikuti
program yang sistematik untuk mencapainya, ia tetap tinggal khayalan. Lebih
buruk lagi kalau khayalan itu tidak lagi dianggap sebagai khayalan, tetapi
sudah dianggap sebagai kenyataan, maka ia jadi ilusi. Orang yang hidup dalam
ilusi akan merasa bahwa khayalannya itu sudah menjadi kenyataan. Seperti Don
Quixote dari La Mancha.
Karena sudah dianggap sebagai kenyataan, maka yang dilakukan pengkhayal adalah
mempertahankan mati-matian khayalannya itu, atau ia tidak lagi merasa perlu
berbuat untuk mencapainya. Si pengkhayal akan menjadi inert dan bahkan
cenderung menolak kalau diingatkan bahwa semua itu hanya ilusi. Kalau
khayalannya baik, mungkin ia akan merasa berbahagia. Namun, kalau ia berkhayal
bahwa dunia sekitarnya itu jahat, ia akan berbuat destruktif karena mengira ia
memerangi kejahatan.
Para teroris yang mengebom Bali juga merasa telah berjihad melawan kejahatan
meskipun mereka yang mati tidak pernah mengancamnya. Persis seperti Don
Quixote, yang merasa telah menjadi pahlawan karena memerangi kincir angin yang
dilihatnya sebagai gergasi yang mengancam.
Baru tahap impian
Bangsa kita penuh dengan cita- cita (khayalan), antara lain ingin membangun
bangsa yang maju, berdaya saing tinggi, berbudaya unggul, beriman, bertakwa,
adil makmur berdasarkan Pancasila. Tidak banyak yang sadar bahwa hal itu baru
di tahap impian atau khayalan. Masih perlu dikejar dengan program-program nyata
untuk mencapainya.
Banyak pemimpin bangsa yang mengira bahwa kita sudah mencapai cita-cita itu,
lalu hidup dalam ilusi. Tidak mau diingatkan bahwa semua itu baru sebatas
khayalan. Maka, ketika di tahun 1986 dilaporkan ada AIDS di Indonesia, para
pemimpin mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena kita adalah
bangsa yang beragama dan ber- Pancasila. Akibatnya, ketika itu tidak ada upaya
untuk melakukan pencegahan sejak awal. Buat apa mencegah, toh tidak mungkin
kita terserang wabah HIV/AIDS? Ilusi itu kini telah buyar ditelan kenyataan.
Kita juga hidup dalam ilusi sebagai bangsa yang kaya raya sehingga para pejabat
tanpa malu-malu mengeruk kekayaan negara untuk dirinya sendiri, dengan anggapan
kekayaan negara ini tidak akan habis meski ia keruk sebanyak-banyaknya. Negara
kita kan gemah ripah loh jinawi, subur kang sarwo tinandur. Lebih menyedihkan
lagi karena mereka yang mengeruk kekayaan itu merasa telah berjasa terhadap
negara ini sehingga merasa layak untuk mengambil imbal jasa untuk diri dan
keluarganya. Seolah-olah tanpa dirinya bangsa dan negara ini sudah tidak ada
lagi sejak dulu. Mereka berilusi bahwa mereka adalah pahlawan yang sudah susah
payah berjuang untuk rakyat. Mereka itu adalah orang-orang yang sebenarnya
sakit jiwa yang hidup dalam ilusi kegagahan dirinya, bak Don Quixote dari La
Mancha.
Ilusi yang lain adalah bahwa bangsa kita bangsa yang beragama, beriman, dan
bermoral yang terlihat dari banyaknya orang yang melakukan ritus agamanya.
Dikatakan ilusi karena dalam kehidupan mereka sehari-hari agama itu nyaris
tidak ada jejaknya. Perilaku sehari-hari kita tidak mencerminkan sebagai orang
yang beragama. Untuk mengelabui diri bahwa kita benar-benar beragama, maka
hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan moral agama tidak boleh tampak dari
luar. Boleh dilakukan, tetapi secara diam-diam, seperti korupsi.
Dalam hal kepandaian melakukan korupsi, bangsa ini terkenal di dunia meskipun
menyatakan diri sebagai bangsa yang bermoral dan penganut agama yang amanah.
Korupsi bahkan dianggap sebagai hak dan dilakukan tanpa perasaan malu atau
bersalah. Mereka yang korupsi merasa tindakannya tidak bertentangan dengan
moral agama. Para pemimpin berilusi menjadi pemimpin yang amanah karena telah
membagikan uang, sembako, dan pengobatan gratis kepada rakyat miskin. Mereka
akan marah kalau dikatakan tidak memerhatikan rakyat. Soal busung lapar, wabah
penyakit, dan kemiskinan, mereka anggap sebagai kesalahan rakyat. Bukan
kesalahan pemimpin.
Bangsa yang bermoral
Pengertian moral pun kemudian dipersempit menjadi hal-hal yang berkaitan dengan
seks, syahwat, dan sekitar organ kelamin. Karena itu, tontonan yang dianggap
memancing berahi dianggap tak bermoral, sementara korupsi dan membohongi rakyat
tak dianggap berkaitan dengan moral dan karena itu tetap dilakukan. Untuk
mempertahankan mimpi sebagai bangsa yang bermoral, segala hal yang dapat
mengusik keasyikan mimpi itu harus dilarang. Lokalisasi pelacuran dilarang
karena itu mengganggu mimpi sebagai bangsa yang bermoral. Bahwa pelacuran tetap
berlangsung, sebagian ditutupi dengan â??nikah siriâ??, tidak menjadi soal.
Selama tak tampak dan tidak terdengar. Kita tetap mimpi sebagai bangsa yang
bermoral.
Kita mungkin baru terjaga dari ilusi ketika menyadari bahwa kita bukan
benar-benar bangsa yang besar. Kita adalah bangsa yang kerdil karena dalam
banyak hal ternyata terpuruk berperingkat di bawah Vietnam yang baru pulih dari
peperangan.
Kita mungkin juga baru akan bangun ketika sepertiga anak muda kita mati
termakan HIV dan narkoba, seperti yang terjadi di beberapa negara Afrika. Para
tokoh agama akan mengatakan bahwa kehancuran kita disebabkan kita kurang
beriman dan beragama. Ucapan yang justru membantah anggapan sendiri bahwa kita
adalah bangsa yang beragama.
Ketika itu kita baru menyadari bahwa selama ini anggapan bahwa kita bangsa yang
besar, bermoral, dan beragama ternyata hanya ilusi belaka. Don Quixote pun
kemudian mati dalam kemiskinan.
Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB
IDI)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Clean water saves lives. Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts: