[ppi] [ppiindia] Iklim Investasi di Indonesia Kurang Aman
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 27 Jul 2005 23:41:49 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Situs Beasiswa: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/28/b1.htm
Warung Global
Iklim Investasi di Indonesia Kurang Aman
Bank dunia memberi warning (peringatan) kepada Indonesia terkait dengan
penurunan investasi yang terjadi dan juga karena gagal mempertahankan
investasi, demikian kata Ketua Komisi VI DPR-RI Khofifah Indar Parawansa di
Padang, Selasa (26/7). Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun memberi bantuan
kepada Indonesia dan di dalamnya duduk orang-orang profesional, tetapi kenapa
tidak tahu watak Indonesia. Bank Dunia kelihatannya terlalu hati-hati untuk
menyinggung korupsi di Indonesia, mungkin ini dianggap urusan pribadi.
Banyaknya biaya siluman dan keamanan yang tidak terjamin mungkin menjadi poin
utama yang mereka perhitungkan. Demikian pernyataan yang terungkap Rabu (27/7)
kemarin dalam acara Warung Global di Radio Global FM 96,5 yang direlai Radio
Singaraja FM dan Radio Genta Bali. Berikut rangkuman selengkapnya.
==========================================================
Alit di Kapal mengatakan kalau bicara iklim investasi dan iklim ekonomi maka
jangan sampai melupakan apa yang sudah terjadi dalam kurun waktu 30 tahun
terakhir ini. Siapa yang mengajarkan kepada bangsa kita untuk belajar KKN. Bank
Dunia tentu sudah tahu situasi ini.
Alit juga bertanya, ada apa dengan Bank Dunia pascareformasi ini. Dan, dirinya
yakin pasti Bank Dunia sudah mengagendakan untuk 30 tahun yang akan datang.
Penjarahan terhadap Indonesia ini sebenarnya sangat besar-besaran. Jika diminta
iklim investasi yang kondusif maka harus dikembalikan pertumbuhan negara dan
produktivitas masyarakat.
Selama ini yang menyebabkan tingkat produktivitas dan lemahnya pertumbuhan
ekonomi Indonesia ini siapa yang membuat dan siapa yang memanjakannya, tentu
dari utang-utang Indonesia yang terdahulu. Social cost akibat yang terjadi
setelah terjadi dalam kurun 30 tahun berutang itu banyak sekali. Dan,
sepertinya Indonesia ini sengaja dibuat supaya berutang.
Alit juga mengatakan yang terjadi sekarang tingkat prduktivitas masyarakat
rendah, konsumerisme tinggi, daya saing rendah. Contoh ketika pemberantasan
judi seperti sekarang apa yang terjadi di masyarakat ternyata masyarakat tidak
siap. Masyarakat sekarang surplus waktunya berlebihan sehingga senang ngerumpi.
Sikap Indonesia ketika di-warning Bank Dunia tentu adalah mengevaluasi kembali
iklim investasi yang akan dibuka kepada negara maju. Kemudian proteksi pada
dunia pertanian harus digiatkan kembali. Apakah sekarang elit pemerintah punya
komitmen untuk berdikari atau kita harus mensyukuri rasa lapar dahulu baru
kemudian negosiasi dengan Bank Dunia.
UUD PMA
Sementara itu, Antonius di Tabanan mengatakan minimnya penanaman modal asing di
Indonesia. Sudah banyak Indonesia ditinggal oleh investor asing seperti Sony
mundur dari Indonesia dan lain-lain. Sebenarnya sejak zaman rezim Megawati
disinyalir sudah banyak yang akan hengkang dari Indonesia. Oleh karena itu,
banyak yang harus dilakukan oleh negara Indonesia dalam melibatkan investor
asing antara lain perangkat undang-undang. Semasa rezim Soeharto begitu beliau
berkuasa langsung ada UU PMA No. 1 tahun 1967 yang membuka pintu Indonesia
selebarnya bagi para investor dari luar negeri.
Apakah UU PMA itu sudah dicabut, ini yang menjadi pertanyaan Antonius
sehubungan dengan pernyataan Kofifah yang menyatakan harus ada undang-undang
penanaman modal asing. Kalau nantinya ada undang-undang baru PMA tentu semua
tergantung dari insan-insan penegak hukum. Kalau tidak ada kemauan dan tekad
insan penegak hukum bagaiaman pun baiknya peraturan/undang-undang akan menjadi
mubazir saja. Contoh bila masalah korupsi tidak ada tekad kuat untuk
benar-benar membasmi adalah tindakan yang percuma. Tentu perangkat hukumnya
harus berperan. Bank Dunia kelihatannya terlalu hati-hati untuk menyinggung
korupsi di Indonesia, mungkin ini dianggap urusan pribadi Indonesia. Banyaknya
biaya siluman dan keamanan yang tidak terjamin mungkin menjadi poin utama yang
mereka perhitungkan.
Nang Tualen di Tabanan mengatakan Bank Dunia benar-benar membuat ulah di
Indonesia. Indonesia menjadi keblinger. Sebagai orang awam seandainya dirinya
jadi Bank Dunia aturan di Indonesia yang begitu banyak ini akan membuat
bingung. Ia menyarankan agar kita tidak terlalu emosi menyikapi warning mereka.
Dikatakan Namg Tualen, harus ada kearifan di dalam berpikir. Bank Dunia harus
diberi kepastian oleh pemerintah tentang peraturan di Indonesia dalam menangani
berbagai jenis korupsi. Dan, dirinya menyambut baik kalau sistem penegakan
hukum dan penanganan koruspi sedang dicari dan dipelajari yaitu dengan
keberangkatan SBY ke Cina. Semoga SBY berhasil.
Jero Wijaya di Kintamani mengatakan bukan hanya Bank Dunia saja yang me-warning
Indonesia, termasuk IMF, ADB dan yang lainnya harus memberi warning kepada
Indonesia. Mengapa demikian? Dirinya melihat di Jawa Tengah ada bupati didemo
oleh masyarakat karena terlalu banyak memotong dana proyek. Banyak jenis
kasus-kasus korupsi seperti itu. Di Bangli juga ada proyek yang sudah dua tahun
belum terselesaikan. Dana proyek itu sudah habis tetapi proyek tidak
diselesaikan. Di Indonesia ini paling banyak adalah koruptor yang notabene
orang nomor 1 dan 2 di masing-masing daerahnya.
Ditinggal Investor
Natri Udiani di Denpasar mengatakan Indonesia ini sudah nyata sekali
ditinggalkan investor. Lihat saja Mitsubishi, Sony, hengkang dari Indonesia,
siapa lagi yang menyusul tentu ini memprihatinkan. Artinya, pemerintah
benar-benar tidak bisa memberikan iklim yang sejuk di Indonesia. Apalagi
Indonesia sudah dicap sarangnya teroris. Kalau SBY bisa menghilangkan kesan itu
tentu investasi akan tumbuh lagi dan akan seperti jamur di musim hujan.
Dengan hengkangnya Sony, Mitsubishi, tentu berdampak pada jumlah pengangguran.
Mohon SBY jangan sering-sering ke luar negeri dan legislatif juga jangan ikut
ke luar negeri. Jangan jor-joran semua ingin menikmati devisa, tetapi tidak
bisa mendatangkan devisa. Ekspor juga sedang jeblok, tidak ada yang meningkat.
Suardana di Gubug mengatakan lebih baik kita berhenti saja berhubungan dengan
Bank Dunia. Indonesia, menurut Suardana, sudah kebanyakan duit, buktinya para
pejabatnya keluyuran ke luar negeri. Indonesia sudah mendapatkan bantuan
uangnya sudah dibawa ke luar negeri malah ada proyek pekerjaannya nungkak.
Contoh di daerahnya ada proyek bantuan Jepang untuk pemotongan hewan juga
nungkak tidak tahu kapan selesai. Apa sih gunanya sekaranng kita meminjam lagi
ke Bank Dunia. Apalagi sekarang pejabat dan DPR kita banyak diberikan bonus
perumahan, mobil, padahal itu uang pinjaman juga. Putuskan saja hubungan kita
dengan Bank Dunia.
Nuarta di Denpasar mengatakan dirinya setuju memutuskan hubungan dengan Bank
Dunia. Tetapi, apakah Indonesia mampu berdikari? Kalau mampu itu sah-saha saja.
Namun, perlu diingat kita adalah negara yang baru berkembang dan Indonesia
kelihatannya masih membutuhkan negara lain, wajar Bank Dunia memberikan
warning. Solusinya, tegakkan peraturan hukum, baru kita berani putus dengan
bantuan negara lain. Apalagi uang kita banyak dikorup.
Gudes di Tabanan mengatakan investasi selalu saja berhubungan dengan situasi
aman. Masalah KKN Indonesia selalu kecenderungan pada birokrasi yaitu pada cost
yang mahal. Kebocoran investasi 30 persen inilah yang menimbulkan masalah bagi
investor. Jadi Indonesia ini belum terwujud sebagai kawasan yang aman untuk
investasi. Negara lain seperti Thailand sudah punya daerah yang aman. Dan, ia
melihat gerak masyarakat Indonesia masih labil dan gampang dipengaruhi
unsur-unsur tertentu, sehingga sering menimbulkan kerugian bagi fasilitas
investasi. Ini jelas mengundang keraguan. Padahal investasi justru akan
berhubungan dengan peningkatan ekonomi, misalnya menangani pengangguran dan
daya beli masyarakat. Tetapi, Gudes menilai saat ini sudah mulai ada komitmen
yang jelas yaitu gencarnya pemberantasan korupsi dari SBY.
Lain lagi dengan Made Sura di Tegallalang. Ia mengatakan pemberian warning ini
juga bentuk kegagalan dari Bank Dunia. Bank Dunia itu sudah bertahun-tahun
memberi bantuan kepada Indonesia dan di dalamnya duduk orang-orang profesional,
tetapi kenapa tidak tahu watak Indonesia. Bank kecil seperti BPR saja akan
bertindak bila satu dua kali gagal, kenapa Bank Dunia tidak seperti itu. Ini
benar-benar sangat lucu.
* bram
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Situs beasiswa/scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Iklim Investasi di Indonesia Kurang Aman