[ppi] [ppiindia] IMF dan Pertumbuhan Ekonomi 2006
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 7 Mar 2006 01:05:23 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/07/0902.htm
IMF dan Pertumbuhan Ekonomi 2006
Oleh H. EDDY JUSUF
PENILAIAN pesimis dari IMF (International Monetary Fund) tentang perekonomian
Indonesia pada 2006 merupakan sinyelemen penting. IMF memperkirakan pertumbuhan
ekonomi 2006 hanya sekira 4,5 hingga 5 persen. Sedangkan Bappenas memperkirakan
antara 5,9 sampai 6,2 persen. Konsumsi masyarakat hanya 2,5 persen, padahal
diproyeksikan sekira 3 hingga 4 persen. IMF juga menyinggung bahwa defisit
akibat adanya luncuran carry over pada 2005 mencapai Rp. 12 triliun atau sekira
4,2 persen. Kemudian soal investasi, IMF memperkirakan 6,2 persen, sedangkan
Bappenas 10,9 persen.
Apa pun alasannya, rekomendasi IMF tersebut memiliki dasar yang kuat. Ada
potensi besar bahwa bank sentral AS, -The Fed- akan menaikkan lagi suku bunga.
Hingga pertengahan tahun ini suku bunga utama Fed akan naik 50 basis poin atau
naik 5 persen dari sebelumnya 4,5 persen. Bank Indonesia (BI) tak harus
mengikuti rekomendasi IMF untuk menaikkan suku bunga menghadapi tekanan inflasi
yang diperkirakan makin besar beberapa waktu mendatang. Yang perlu
digarisbawahi BI adalah kemampuan rupiah untuk menahan guncangan dari suku
bunga Fed.
Melihat kondisi rupiah yang masih stabil pada angka Rp. 9.300,00 per dolar AS,
BI tidak perlu untuk menaikkan suku bunga. Sebaliknya, jika keadaan berbalik di
mana dana-dana masuk baik dari investasi langsung (foreign direct investment)
ataupun dana-dana jangka pendek (hot money) itu berbalik karena berinvestasi di
dolar lebih menarik, maka BI harus berani segera menaikkan suku bunganya.
Masalah lain yang tak kalah penting yakni akan naiknya tarif dasar listrik,
yang oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) diakui bahwa industri tak punya
lagi ruang untuk menghadapi tekanan termasuk dari kenaikan tarif dasar listrik
(TDL). Dan dipastikan akan ada multiplier effect yang signifikan bagi industri.
Sektor perbankan juga tak luput dari perhatian IMF. Lembaga yang pernah mengaku
salah memberi resep kepada Indonesia ini merekomendasikan tidak ada pemberian
pemotongan utang (haircut) untuk kredit macet di bank-bank BUMN.
Patut diakui bahwa perekonomian pada kuartal terakhir pada 2005 menggambarkan
pelemahan ekonomi nasional yang cukup besar. Ini berlanjut pada kuartal pertama
pada 2006 juga cenderung lemah. Terutama, pada sektor-sektor yang selama ini
menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Melihat kondisi tersebut, pemerintah harus
bisa membuat iklim investasi yang nyaman dan stabilitas keamanan yang terjamin,
sehingga investor asing aktif melakukan investasi baru di Indonesia untuk
mendorong pertumbuhan.
Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi ini pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp
708 triliun. Namun dana yang tersedia dari APBN hanya Rp 136 triliun dan dari
perbankan Rp 130 triliun. Selain itu, pemerintah pun harus bisa memanfaatkan
dan menggunakan baik itu dana asing maupun dana dalam negeri, sehingga
pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen hingga 5,9 persen dapat dicapai.
Investor sering dipusingkan dengan rumitnya kebijakan birokrasi. Muncul keluhan
pelayanan pengurusan izin usaha di loket one stop service mulai dari proses
yang terkesan lambat hingga pungutan liar. Sebenarnya, permasalahan itu sudah
disikapi pemerintahan terdahulu melalui Keppres No 29/2004 tentang pelayanan
satu atap dalam hal perizinan untuk memudahkan investor. Ironisnya, meski
pemerintah sudah menetapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai
institusi yang memberikan pelayanan satu pintu, aturan tersebut tidak dapat
direalisasikan secara sama di seluruh daerah. Pasalnya, masih ada perbedaan
pandangan di daerah dalam menyikapi kewenangan tersebut.
Akibatnya kontribusi investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini
masih dalam kisaran 19 persen, padahal sebelum krisis moneter sudah mencapai 30
persen. Ketidakjelasan mengenai level kewenangan mana yang menjadi kewenangan
pusat, provinsi dan daerah dalam hal perizinan usaha ini menggambarkan masih
buruknya regulasi, sekaligus mencerminkan rusaknya "suasana birokrasi" di
Indonesia.
Ketidaknyamanan tersebut menjadi bertambah kompleks dengan adanya pungutan liar
serta perda yang terkesan dipaksakan, seperti Perda Ketenagakerjaan yang
mengharuskan perusahaan menyerap tenaga lokal yang kerap kali mengabaikan sisi
profesionalisme.
Pemerintah mengakui prosedur perizinan investasi di Indonesia terlalu panjang
dan lama. Dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN, perizinan
untuk memulai suatu usaha di Indonesia membutuhkan 12 prosedur yang harus
dilalui, yang memakan waktu 151 hari (sekira 5 bulan), dan biaya sebesar 131
persen dari pendapatan per kapita (sekitar 1.163 dolar AS).
Di Malaysia, proses perizinan investasi hanya melalui sembilan prosedur, waktu
30 hari, dan biaya sekira 25 persen dari pendapatan per kapita (sekitar 945
dolar AS). Sedangkan Filipina dan Thailand hanya membutuhkan waktu
masing-masing 50 hari dan 33 hari dengan biaya masing-masing 20 persen (sekira
216 dolar AS) dan 7 persen (sekira 160 dolar AS) dari pendapatan per kapita.
Memperbaiki iklim investasi Indonesia tentunya dengan melakukan deregulasi
ekonomi, perdagangan dan investasi serta menyederhanakan pembenahan aparat
pemerintah, hentikan suap, berantas calo, tangkap koruptor dan dalangnya serta
jadikan segala sesuatunya transparan di era reformasi dan demokrasi ini. Dan
menempatkan kembali secara proporsional BKPM sebagai lembaga pemerintah yang
bertanggung jawab dalam memformulasikan, merencanakan, mempromosikan,
menyetujui, mengontrol dan mengevaluasi kebijakan-kebijakan investasi nasional.
Tantangan ekonomi nasional pada 2006 ini cukup berat dan sulit untuk
diperkirakan. Sebab terlalu banyak masalah yang akan dihadapi pada tahun depan.
Akurasi proyeksi sangat tergantung pada seberapa tepat dalam memperhitungkan
beberapa variabel kunci, baik eksternal maupun internal, yang secara signifikan
akan mempengaruhi kinerja perekonomian nasional.
Variabel itu adalah harga minyak dunia, suku bunga The Fed, laju pertumbuhan
ekonomi dunia, format kebijakan anggaran, nilai tukar, dan kebijakan moneter.
Bila diproyeksikan variabel tersebut dari sudut nilai tukar, inflasi, suku
bunga, pertumbuhan ekonomi, dan pengangguran, sebagai berikut : Pertama, nilai
tukar selama setahun terakhir ini hampir sulit dikendalikan. Bank Indonesia
selalu lamban dalam melakukan penyesuaian suku bunga, sehingga berbagai
instrumen rupiah kehilangan daya tariknya. Selain itu, terlalu banyak statement
para menteri justru memperburuk kondisi.
Kedua inflasi pada 2006 akan kembali menembus single digit. Mungkin perkiraan
tersebut benar. Namun, ada beberapa hal yang dapat mengakibatkan inflasi
kembali menembus double digit yakni naiknya harga gas (LPG) yang mengikuti
naiknya harga minyak mentah dunia. TDL juga mungkin terpaksa akan dinaikkan,
menyusul kenaikan harga BBM domestik.
Faktor yang paling krusial dalam menentukan inflasi adalah upah buruh dan harga
BBM. Di awal tahun depan, upah buruh akan naik, menyusul kenaikan inflasi 2005.
Hal ini tentu akan mendorong terjadinya cost push inflation. Walau pemerintah
sempat menyangkal akan menaikkan harga BBM pada 2006, kenyataannya mungkin akan
lain. Sebab, asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2006 hanya 57 dolar per
barel. Padahal, kecenderungan naiknya harga minyak mentah belum ada tanda-tanda
akan berhenti.
Ketiga suku bunga domestik yang pergerakannya sangat tergantung pada dua hal,
yakni suku bunga The Fed dan expected inflation differential. Beberapa lembaga
riset internasional memperkirakan suku bunga The Fed akan meningkat sebesar 150
sampai 200 basis poin selama setahun mendatang, sehingga tampaknya agak sulit
untuk mengharapkan suku bunga SBI akan turun. Selain itu, tekanan inflasi masih
akan berlanjut.
Di sini, BI akan dihadapkan pada sebuah dilema. Kalau suku bunga SBI tidak
dinaikkan, nilai tukar akan sangat sulit dikendalikan, sehingga, pada
gilirannya, akan menciptakan instabilitas moneter. Kalau suku bunga dinaikkan,
sektor riil akan terpukul, sehingga non-performing loan (NPL) akan membengkak.
Dua hal tersebut, terlepas mana yang dipilih, akan berdampak negatif terhadap
pertumbuhan ekonomi. Pada prinsipnya, BI akan dengan terpaksa menaikkan suku
bunga. Tahun depan, suku bunga SBI akan berkisar 14%-15,5%.
Keempat, perlambatan pertumbuhan ekonomi tampaknya akan terjadi dalam semester
I 2006. Hal tersebut merupakan akibat dari kenaikan harga BBM pada Oktober
lalu. Pelaku bisnis masih akan menunda keputusan untuk investasi sampai
semester II guna melihat apakah berbagai tantangan dan masalah akan mampu
diatasi oleh tim ekonomi baru. Kelima, masalah pengangguran merupakan hal yang
tidak terpecahkan selama empat tahun terakhir ini. Masalahnya, kebijakan
pemerintah masih bertumpu pada upaya stabilisasi makro. Paradigma ini
diperkirakan tidak akan ditinggalkan, sehingga, akibatnya, angka pengangguran
mungkin akan terus bertambah mencapai 12,5 juta orang pada 2006. ***
Penulis, Pembantu Rektor I Unpas Bandung, Ketua Bidang Ekonomi Paguyuban
Pasundan, dan Wakil Ketua LP3E Kadin Jabar
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] IMF dan Pertumbuhan Ekonomi 2006