[ppi] [ppiindia] Hukum bagi Semua, kecuali Dirinya
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 25 Apr 2006 13:14:27 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/25/opi01.html
Hukum bagi Semua, kecuali Dirinya
Oleh
Benny Susetyo
Masalah mendasar dalam kasus Tibo cs bukanlah soal kontroversi hukuman mati
belaka. Ada juga pertanyaan mengapa Tibo dkk yang dihukum mati. Pertanyaan
tersebut dikedepankan karena kesalahan mengambil langkah hari ini berdampak
sangat fatal bagi masa bangsa/negara. Dituntut kehati-hatian agar bukan saja
hukum yang ditegakkan, tetapi juga keadilan sejati dapat diraih.
Penegakan hukum harus melahirkan keadilan. Bila tidak, penegakan hukum hanya
akan melahirkan golongan-golongan belaka. Golongan "kita", "aku", "kamu", atau
"mereka". Menghukum "kita" akan berbeda dengan saat menghukum "mereka". Kalau
ada tokoh-tokoh terpandang bangsa ini yang mempertanyakan keputusan ini, tentu
ada sesuatu yang janggal yang tidak terungkap. Dan realitas kini mengalami
kebimbangan, bahkan mulai menghadapi pilihan yang sempit.
Sebagian pendapat menyatakan menghukum mati Tibo dkk selamanya tidak akan
pernah menjadi solusi. Arief Budiman dalam opininya berjudul "Hukuman Mati,
Masih Perlukah?" (Kompas, 17/2/2003) menyatakan keberatan atas alasan hukuman
mati akan melahirkan efek jera. Alasan ini tidak bisa dipertahankan karena
meski sudah banyak penjahat dihukum mati, angka kriminalitas masih terus
tinggi.
Dalam kasus Tibo, alih-alih justru melahirkan masalah di kemudian hari.
Bukankah dalam setiap kerusuhan selalu ada dalang, dan mengapa justru wayang
yang dihukum?
Kambing Hitam
Menjadi percuma menghukum Tibo karena pada saatnya akan lahir kembali tibo-tibo
lain yang menjadi korban "politik kambing hitam". Kita mengkhawatirkan bangsa
ini yang tak pernah mau belajar dari pengalaman. Hukum kita bahkan tak jarang
luput menghukum orang. Pencuri sandal dihukum penjara tapi koruptor kakap
dibebaskan. Atau guru SD yang dihukum seperti pelacur malam, dan diharuskan
membayar denda. Di mana gerangan keadilan? Keadilan sulit ditegakkan karena
belum ada kemauan.
Siapa membunuh Munir? Siapa membunuh Udin Bernas? Siapa membunuh Marsinah? Kita
tidak belajar dari kasus-kasus tersebut yang membuat hukum kita hingga kini
masih mandul. Kalaupun tajam, ia hanya seperti pisau dapur karatan, yang hanya
bisa mengiris ke bawah dan tumpul mengiris ke atas. Mentalitas bangsa akan
dikerdilkan begitu rupa dengan cara menghadirkan tibo-tibo sebagai kambing
hitam.
Soal rasanya menjadi kambing hitam, tanyakan saja kepada Budiman Sudjatmiko.
Dan ingat tidak ada rahasia abadi. Semua pasti akan terbuka pada saatnya nanti
- serapat apapun rahasia tersimpan. Kini semua orang tahu Budiman adalah
kambing hitam dari sebuah pergolakan politik kekuasaan. Munir mati karena
rekayasa, Udin dan Marsinah juga mati karena sebuah kezaliman.
Memori bangsa ini sampai kapanpun tidak akan melalaikan peristiwa-peristiwa
bersejarah tersebut. Peristiwa itu menyangkut bagaimana rakyat kecil berjuang
menegakkan keadilan tetapi hasilnya justru maut cepat yang menjemput.
Kita dan Mereka
Banyak kasus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya. Tiba-tiba saja hukuman
dijatuhkan. Hukum masih jauh dari keadilan dan tidak melindungi yang lemah.
Keadilan yang tercipta masihlah normatif, bukan substansial. Keadilan seperti
ini hanya melahirkan kambing hitam. Keputusan pengadilan selalu dianggap adil.
Aparat negara ini belum memiliki nyali kuat untuk menegakkan keadilan. Dan
menegakkan demokrasi tanpa keadilan omong kosong. Demokrasi hukum membutuhkan
ruang bagi setiap orang untuk menerima keadilan. Siapa yang layak dihukum berat
dan ringan, harus jelas dan tegas. Ketimpangan menegakkan keadilan hanya akan
melahirkan keadilan untuk "kita", tapi tidak untuk "mereka".
Kita pernah mendengar cerita kepenguasaan Paus Gregorius VII (1073-1085). Tahun
1075, Paus Gregorius VII mengeluarkan maklumat penting Reformatio Totius Orbis.
Tujuannya? Menata ulang tertib semesta yang mengikat siapapun, kecuali dirinya.
Di masa kini, hukum tampaknya masih berlaku demikian. Ia berlaku untuk "kita"
tapi belum untuk "mereka". Dan untuk menggolongkan diri menjadi "kita" atau
"mereka" pun tidak sulit. Kita bisa menjadi "kita" dan suatu saat menjadi
"mereka", tergantung seberapa dekat hukum bisa kita atur dengan kekuatan,
kekuasaan dan terutama uang.
Akhirnya, di saat jeda penangguhan eksekusi untuk Tibo dkk adalah saat tepat
bagi "kita" dan "mereka" untuk mawas diri dan berefleksi mendalam. Hukum harus
diterapkan setara, sebab dalam hukum tidak pernah ada "kita" dan "mereka".
Semua sama saja.
Penulis adalah pendiri Setara Institute
--
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 439 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Hukum bagi Semua, kecuali Dirinya