[ppi] [ppiindia] Hukum bagi Semua, kecuali Dirinya

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0604/25/opi01.html

Hukum bagi Semua, kecuali Dirinya
Oleh
Benny Susetyo



Masalah mendasar dalam kasus Tibo cs bukanlah soal kontroversi hukuman mati 
belaka. Ada juga pertanyaan mengapa Tibo dkk yang dihukum mati. Pertanyaan 
tersebut dikedepankan karena kesalahan mengambil langkah hari ini berdampak 
sangat fatal bagi masa bangsa/negara. Dituntut kehati-hatian agar bukan saja 
hukum yang ditegakkan, tetapi juga keadilan sejati dapat diraih.


Penegakan hukum harus melahirkan keadilan. Bila tidak, penegakan hukum hanya 
akan melahirkan golongan-golongan belaka. Golongan "kita", "aku", "kamu", atau 
"mereka". Menghukum "kita" akan berbeda dengan saat menghukum "mereka". Kalau 
ada tokoh-tokoh terpandang bangsa ini yang mempertanyakan keputusan ini, tentu 
ada sesuatu yang janggal yang tidak terungkap. Dan realitas kini mengalami 
kebimbangan, bahkan mulai menghadapi pilihan yang sempit.


Sebagian pendapat menyatakan menghukum mati Tibo dkk selamanya tidak akan 
pernah menjadi solusi. Arief Budiman dalam opininya berjudul "Hukuman Mati, 
Masih Perlukah?" (Kompas, 17/2/2003) menyatakan keberatan atas alasan hukuman 
mati akan melahirkan efek jera. Alasan ini tidak bisa dipertahankan karena 
meski sudah banyak penjahat dihukum mati, angka kriminalitas masih terus 
tinggi. 


Dalam kasus Tibo, alih-alih justru melahirkan masalah di kemudian hari. 
Bukankah dalam setiap kerusuhan selalu ada dalang, dan mengapa justru wayang 
yang dihukum?

Kambing Hitam
Menjadi percuma menghukum Tibo karena pada saatnya akan lahir kembali tibo-tibo 
lain yang menjadi korban "politik kambing hitam". Kita mengkhawatirkan bangsa 
ini yang tak pernah mau belajar dari pengalaman. Hukum kita bahkan tak jarang 
luput menghukum orang. Pencuri sandal dihukum penjara tapi koruptor kakap 
dibebaskan. Atau guru SD yang dihukum seperti pelacur malam, dan diharuskan 
membayar denda. Di mana gerangan keadilan? Keadilan sulit ditegakkan karena 
belum ada kemauan.


Siapa membunuh Munir? Siapa membunuh Udin Bernas? Siapa membunuh Marsinah? Kita 
tidak belajar dari kasus-kasus tersebut yang membuat hukum kita hingga kini 
masih mandul. Kalaupun tajam, ia hanya seperti pisau dapur karatan, yang hanya 
bisa mengiris ke bawah dan tumpul mengiris ke atas. Mentalitas bangsa akan 
dikerdilkan begitu rupa dengan cara menghadirkan tibo-tibo sebagai kambing 
hitam.


Soal rasanya menjadi kambing hitam, tanyakan saja kepada Budiman Sudjatmiko. 
Dan ingat tidak ada rahasia abadi. Semua pasti akan terbuka pada saatnya nanti 
- serapat apapun rahasia tersimpan. Kini semua orang tahu Budiman adalah 
kambing hitam dari sebuah pergolakan politik kekuasaan. Munir mati karena 
rekayasa, Udin dan Marsinah juga mati karena sebuah kezaliman.


Memori bangsa ini sampai kapanpun tidak akan melalaikan peristiwa-peristiwa 
bersejarah tersebut. Peristiwa itu menyangkut bagaimana rakyat kecil berjuang 
menegakkan keadilan tetapi hasilnya justru maut cepat yang menjemput.

Kita dan Mereka
Banyak kasus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya. Tiba-tiba saja hukuman 
dijatuhkan. Hukum masih jauh dari keadilan dan tidak melindungi yang lemah. 
Keadilan yang tercipta masihlah normatif, bukan substansial. Keadilan seperti 
ini hanya melahirkan kambing hitam. Keputusan pengadilan selalu dianggap adil.


Aparat negara ini belum memiliki nyali kuat untuk menegakkan keadilan. Dan 
menegakkan demokrasi tanpa keadilan omong kosong. Demokrasi hukum membutuhkan 
ruang bagi setiap orang untuk menerima keadilan. Siapa yang layak dihukum berat 
dan ringan, harus jelas dan tegas. Ketimpangan menegakkan keadilan hanya akan 
melahirkan keadilan untuk "kita", tapi tidak untuk "mereka". 


Kita pernah mendengar cerita kepenguasaan Paus Gregorius VII (1073-1085). Tahun 
1075, Paus Gregorius VII mengeluarkan maklumat penting Reformatio Totius Orbis. 
Tujuannya? Menata ulang tertib semesta yang mengikat siapapun, kecuali dirinya.


Di masa kini, hukum tampaknya masih berlaku demikian. Ia berlaku untuk "kita" 
tapi belum untuk "mereka". Dan untuk menggolongkan diri menjadi "kita" atau 
"mereka" pun tidak sulit. Kita bisa menjadi "kita" dan suatu saat menjadi 
"mereka", tergantung seberapa dekat hukum bisa kita atur dengan kekuatan, 
kekuasaan dan terutama uang.


Akhirnya, di saat jeda penangguhan eksekusi untuk Tibo dkk adalah saat tepat 
bagi "kita" dan "mereka" untuk mawas diri dan berefleksi mendalam. Hukum harus 
diterapkan setara, sebab dalam hukum tidak pernah ada "kita" dan "mereka". 
Semua sama saja. 

Penulis adalah pendiri Setara Institute


-- 
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 439 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try www.SPAMfighter.com for free now!


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: