[ppi] [ppiindia] Howard: Jangan Ke Indonesia!

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/bpost/042006/1/depan/utama1.htm

Howard: Jangan Ke Indonesia!

  a.. AS peringatkan teroris beraksi 2 April 
  b.. Al Chaidar: AS paranoid 


Jakarta, BPos
Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Jakarta mengeluarkan peringatan keras bagi 
warganya yang tinggal di kota manapun di Indonesia, agar tidak keluyuran di 
tempat-tempat umum pada Minggu (2/4), besok. Sementara Pemerintah Australia 
(Aussie) di bawah pemerintahan Perdana Menteri John Howard mengeluarkan travel 
warning, menyerukan agar warganya tidak melakukan perjalanan ke Indonesia, 
termasuk ke Bali.

Peringatan dan seruan itu dikeluarkan menyusul adanya informasi kemungkinan 
terjadinya serangan teroris di Indonesia, terutama ditujukan pada sejumlah 
kepentingan dan fasilitas Barat. Informasi dari jajaran intelijen AS 
menyebutkan, kelompok teroris itu telah menyiapkan aksinya Minggu besok.

Pemerintah AS mencemaskan warganya menjadi target serangan utama teroris, 
selain simbol-simbol kebesaran AS seperti gedung Markas Kedubes AS, kantor 
konsulat jenderal AS di berbagai kota maupun sekolah-sekolah bertaraf 
internasional yang didirikan AS di berbagai kota di Indonesia. 

Agar para warga AS tidak menjadi sasaran serangan, mereka diminta untuk 
menunjukkan sikap santun dan tidak memancing-mancing emosi kelompok garis keras 
manapun yang eksis di Indonesia.

"Kedubes Amerika mengingatkan seluruh warganya (di Indonesia) agar menghindari 
tempat-tempat keramaian, bersikap rendah hati dan selalu mewaspadai keamanan 
dirinya setiap saat," demikian peringatan keras dari Kedubes AS lewat situs 
internat resmi yang beralamat di www. usembassyjakarta.org tertanggal 31 Maret.

Pihak Kedubes AS juga mengingatkan, selain membidik warga asing khususnya dari 
AS, teroris juga mengincar sasaran serangan terhadap tempat-tempat yang biasa 
dipakai buat 'dugem', dan kongkow-kongkow para turis AS di hotel-hotel, pub, 
restoran, pusat perbelanjaan, perumahan elit warga asing Barat, bahkan sampai 
tempat peribadatan orang asing. 

Situs tersebut mencantumkan peringatan bahwa berbagai demonstrasi antiAS di 
Jakarta dan kota-kota besar di belahan dunia lain akhir-akhir ini sudah menelan 
banyak korban, tidak hanya kerusakan fisik bangunan, korban luka-luka sampai 
tewas.

"Kedubes Amerika mengingatkan Anda semua (warga AS) bahwa serangkaian protes 
dan demonstrasi dapat meledak di seluruh Indonesia tanpa ada prakondisi maupun 
peringatan awal," demikian pernyataan Kedubes AS. 

Sementara itu, pemerintah Australia juga 'menebar kecemasan' yang sama atas 
kemungkinan teror 2 April 2006. Peringatan itu tercantum dalam travel advisory 
(peringatan bepergian) yang disusun Departemen Luar Negeri Australia di 
Canberra. Warganya, untuk sementara diimbau tidak bepergian ke melakukan 
perjalanan ke Indonesia, termasuk ke Bali. 

"Kami terus menerima laporan yang menyebutkan bahwa ada indikasi kelompok 
teroris akan melancarkan serangan di Indonesia yang membidik sejumlah sasaran, 
termasuk tempat-tempat yang sering dikunjungi warga asing, tulis laporan itu 
seperti dikutip kantor berita AFP. 

Sebelumnya, Australia pernah mengeluarkan travel warning yang memperingatkan 
warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia sejak serangan di Bali pada Oktober 
2002, yang menewaskan 202 orang, termasuk 88 warga Australia.

Apalagi setelah itu, markas Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan 
Jakarta menjadi sasaran serangan bom pada September 2004.

April Mop

Pengamat masalah terorisme, Al Chaidar menilai, peringatan keras akan 
terjadinya serangan teroris di Indonesia yang dilontarkan Kedutaan Besar 
Amerika Serikat (AS) dan Australia, dinilai sebagai sikap paranaoid (ketakutan 
berlebihan).

Menurut Al Chaidar, bulan April bukanlah momentum yang lumrah bagi kelompok 
teroris di belahan dunia manapun, termasuk di Indonesia, untuk melakukan 
serangkaian aksi teror. Adapun momentum yang dianggap pas bagi teroris biasanya 
adalah pada bulan Juni, Juli, Agustus, September dan Desember.

"Kalau Kedubes AS mengingatkan potensi aksi teroris pada 2 April, itu paranaoid 
banget," kata Al Chaidar kepada BPost, Jumat.

Menurut Al Chaidar, orang-orang dari negara Barat biasanya memang paranoid di 
bulan April, sampai-sampai muncul istilah 'April Mop' (kejutan April).

Meski kemungkinan teror 2 April itu tipis, namun Al Chaidar tidak menampik 
kemungkinan kecemasan itu bakal terjadi. "Ya biasanya, teroris beraksinya juga 
pada saat aparat lengah. Tidak beraksi pada saat high alert (aparat siaga 
penuh)," kata Al Chaidar.

Kalau pun kecemasan AS dan Australia itu terjadi, dia mengaitkan kemungkinan 
itu dengan momentum kunjungan Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair ke 
Jakarta, belum lama ini. 

Seperti diketahui, Inggris adalah salah satu sekutu utama AS dalam persoalan 
negara-negara Islam di Timur-Tengah. Karena itu, simbol-simbol kebesaran 
pemerintahan Inggris di Indonesia masuk dalam daftar ancaman, seperti halnya 
simbol kebesaran pemerintahan AS dan Australia. 

Al Chaidar mengingatkan kemungkinan modus serangan baru selain pengeboman. 
Modus yang kemungkinan muncul dan jauh lebih membahayakan bagi orang banyak 
adalah sabotase jaringan listrik, sarana transportasi, jalur perdagangan, jalan 
tol, dll. 

Adapun sasaran secara individual adalah tokoh-tokoh polisi khusus Detasemen 
Khusus 88 Polri, para politisi yang melawan paham gerakan mereka. "Mereka juga 
mengincar tokoh aliran Sawabi karena dianggap mirip-mirip syiah. Kelompok 
teroris juga kecewa karena kalangan Sawabi bersikap antipati terhadap buku Imam 
Samudera (terpidana Bom Bali II)," kata Al Chaidar. 

Uniknya, meski Densus 88 Mabes Polri menjadi incaran, namun kalangan militer 
tidak masuk dalam target operasi. "Sebab TNI tidak masuk dalam program 
pemberantasan terorisme," kata Al Chaidar. 

Sementara pengamat intelijen Dinno Chressbon mengatakan, momentum serangan 
teroris di bulan April nyaris tidak ada. Yang ada adalah momentum serangan di 
bulan Juni 2006 mendatang. Saat itu, kelompok teroris menunggu-nunggu kepastian 
nasib bebas tidaknya Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abu Bakar 
Ba'asyir. 

Kalau MA sampai menolak pengajuan Peninjauan Kembali (PK) Abu Bakar Ba'asyir 
yang divonis 2,5 tahun penjara, kemungkinan hal itu dijadikan momentum bagi 
kelompok Noordin M Top untuk membuat onar teror. "Sejauh ini saya belum melihat 
momentum aksi teror di tahun 2006, kecuali di bulan Juni 2006," kata Dinno.

Tetap Ke Nias

Sementara itu, kantor berita Australia, ABC menduga serangan teroris di 
Indonesia itu, terkait rencana upacara peringatan satu tahun jatuhnya 
helikopter 'Sea King' di Nias. Namun, Menlu Australia, Alexander Downer, 
mengatakan acara tersebut tetap berlangsung, dan dia yakin tidak ada indikasi 
akan adanya serangan teroris di Nias.

"Kita tidak punya informasi apa pun mengenai lokasi manakah yang akan menjadi 
sasaran para teroris itu," kata Downer.

Dikonfirmasi semalam, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Yuri O 
Thamrin mengatakan, travel warning yang dikeluarkan Australia sepertinya tidak 
akan mumpuni melarang warga Negeri Kanguru itu datang ke Indonesia. "Travel 
warning itu rutin (dikeluarkan). Saking rutinnya maka tidak ada nilainya lagi. 
Biarkan aja. Biasanya selalu begitu. Bahkan orang Australia tidak menggubris 
lagi (trabel warning)," katanya, Jumat malam.

Soal ancaman serangan teroris, Yuri mengatakan tanpa peringatan dari Australia 
pihak keamanan di Indonesia juga selalu rutin memburu pelaku teroris yang masih 
berkeliaran, Noordin M Top.

Terpisah, Juru Bicara Mabes Polri, Brigjen Anton Bachrul Alam, melalui pesan 
singkat (SMS) yang dikirim ke koran ini mengatakan, polisi tetap sigap dengan 
setiap laporan yang diterima. "Semua info tetap ditindaklanjuti kita dalami dan 
kewaspadaan tetap dijaga," kata Anton yang juga Wakadiv Humas Mabes Polri, 
kemarin. JBP/abs/aco


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: