[ppi] [ppiindia] Hasil Hutan Rakyat Yang Spektakuler

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/bpost/072006/31/opini/opini1.htm

Hasil Hutan Rakyat Yang Spektakuler

Oleh : Udiansyah
DosenFakultas Kehutanan Unlam 



Usaha masyarakat menanam dan atau memelihara hutan telah terbukti menghasilkan 
nilai finansial sangat tinggi.

Pengelolaan hutan seperti yang selama ini dilaksanakan ternyata menghasilkan 
dua hal negatif sekaligus, yaitu deforestasi dan dehumanisasi masyarakat lokal. 
Deforestasi, terjadi kerusakan hutan mencapai 2,83 juta hektare per tahun. 
Sementara dehumanisasi, masyarakat di sekitar dan di dalam hutan masih banyak 
yang miskin dan cenderung terus bertambah jumlahnya. Padahal, pengelolaan hutan 
dengan manajemen yang benar diyakini dapat membuat masyarakat sejahtera.

Sesungguhnya, sebagian masyarakat lokal telah mampu menjadi teladan bagaimana 
seharusnya membangun hutan. Masyarakat yang dengan serba keterbatasan 
pengetahuan dan modal telah berhasil membangun hutan. Misalnya, salah seorang 
peladang berpindah di Desa Sakadoyan, Kecamatan Pamukan Selatan, Kabupaten 
Kotabaru sukses menanam jati di areal bekas ladangnya. 

Usaha masyarakat menanam dan atau memelihara hutan telah terbukti menghasilkan 
nilai finansial sangat tinggi. Misalnya, penelitian Nuripto (1994) menunjukkan, 
hutan yang dikelola rakyat dengan produk rotan, madu, lilin, dan kedaung di 
Bentian (Kaltim) menghasilkan nilai finansial sebesar 25,2 kali dibandingkan 
dengan sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Menyadari kearifan tradisional 
masyarakat lebih unggul daripada sistem pengelolaan hutan yang berlaku 
sekarang, kini pemerintah melirik masyarakat melalui program pembangunan hutan 
berbasis masyarakat. Misalnya, program social forestry dan Gerakan Nasional 
Rehabilitasi Hutan dan Lahan. 

Perlu Manajemen

Sebagaimana sering diberitakan, produksi hutan alam di Kalsel dapat mencapai 
800 ribu meter kubik per tahun di era 1980-an. Tetapi sekarang, untuk mencapai 
angka 50 ribu meter kubik saja sangat sulit terealisasi. Padahal, kebutuhan 
bahan baku kayu untuk keperluan industri berkisar 4,3 - 4,5 juta meter kubik. 
Oleh karena itu, pihak industri berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan bahan 
baku agar industri mereka tetap beroperasi.

Salah satu usaha adalah memanfaatkan hutan rakyat. Pemanfaatan hutan rakyat ini 
didukung kebijakan dengan diterbitkannya Izin Pemanfaatan Kayu Rakyat (IPKR) 
dan Izin Pemanfaatan Kayu Tanah Milik (IPKTM). Hasilnya sangat spektakuler. 
Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, kayu yang berasal dari 
IPKR dan IPKTM pada 2005 melebihi angka 300 ribu meter kubik. Hampir 10 kali 
lipat dari produksi hutan alam sekarang. 

Namun perlu diketahui, masyarakat yang berhasil membangun hutan umumnya tidak 
eksploitatif. Mereka lebih cenderung membangun agro-ecosystem saja dengan 
pemanfaatan hasil hutan nonkayu seperti madu, getah, damar, rotan, lilin, dan 
lain-lain. Karena, dengan menebang pohon untuk mengambil kayunya maka hasil 
hutan nonkayu akan berkurang drastis, jika tidak habis sama sekali. Dengan 
demikian, adanya produksi kayu yang sangat besar dari hasil IPKR perlu 
dicermati secara serius.

Di satu pihak, jika masyarakat menanam pohon dengan tujuan memproduksi kayu 
maka prosedur perizinannya sangat rumit. Sudah jelas hal ini merupakan 
disinsentif bagi masyarakat lokal. Akibatnya, kegiatan menanam pohon yang 
merupakan kearifan tradisional mereka kurang bergairah mereka laksanakan. 
Padahal masih ada disinsentif lain berupa retribusi dan biaya ceking cacah 
pohon ke areal pertanaman oleh instansi berwenang.

Oleh karena itu, faktanya masyarakat lebih senang menebang pohon buah-buahan 
mereka atau jenis liar lainnya daripada menanam pohon untuk tujuan memproduksi 
kayu. Produk kayu IPKR dan IPKTM ini ukurannya pun berasal dari pohon yang 
masih sangat produktif dan lokasinya tersebar tidak menentu. Di belakang, 
samping atau depan rumah, pinggir jalan atau sungai, atau mungkin di kawasan 
hutan produksi bahkan kawasan hutan lindung. Kayu seperti itu yang menyuplai 
salah satu industri veneer yang kebetulan belum mempunyai Rencana Karya Lima 
Tahunan.

Bahkan ditengarai, IPKR ini merupakan kedok untuk mengeksploitasi hutan secara 
ilegal (BPost, 21/07). Tengarai ini hampir dapat dibuktikan kebenarannya, 
karena ada potensi IPKR tidak diketahui jelas oleh yang berwenang mengeluarkan 
izin. Ketika yang berwenang melakukan cek ke lapangan, ternyata jumlah 
batangnya hanya sedikit tidak sesuai izin yang diberikan. Kenapa ini bisa 
terjadi, bukankah sebelum IPKR diterbitkan ada ceking dan IPKR seharusnya 
sesuai potensi yang ada.

Fakta ini menunjukkan, dalam mengelola hutan rakyat tidak ada manajemen yang 
diterapkan. Suatu kegiatan yang tidak mempunyai manajemen dapat dipastikan 
kehancuran yang diperoleh. Kehancuran dalam kasus ini adalah mulai tidak 
lestarinya ketersedian bahan baku dari hutan rakyat hingga bencana alam.

Hutan rakyat yang ditanam masyarakat ini juga mempunyai fungsi yang sama dengan 
hutan alam. Ia juga dapat mengatur tataair, mempengaruhi iklim mikro, mencegah 
erosi, menyuplai bahan mineral tanah, memproduksi kayu, dan lainnya. Sementara 
masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan, jumlahnya cukup besar dan 
mereka sangat familiar dengan tanam menanam pohon. Hal ini merupakan potensi 
yang sangat besar jika ingin menjadikan hutan rakyat primadona kehutanan.

Namun sayang, masyarakat yang benar-benar menanam pohon dan ketika ingin 
menebangnya banyak disinsentif yang harus diterima. Sebaliknya, pihak berwenang 
bisa saja memberikan IPKR walaupun ternyata belakangan diketahui bahwa potensi 
hutan tidak bersesuaian dengan volume IPKR yang diberikan. Padahal, sebelumnya 
ada pengecekan dari mereka.

Dijelaskan, hutan rakyat juga berfungsi sebagaimana hutan alam. Maka, mungkin 
saja bencana banjir besar tidak terjadi karena masih ada hutan rakyat yang 
dapat berperan menggantikan hutan alam yang rusak. Namun, ketika ada penebangan 
pohon di hutan rakyat (baik IPKR maupun IPKTM) yang begitu besar maka fungsi 
tataair hutan menjadi sirna. Oleh karena itu, hutan rakyat perlu juga dikelola 
dengan manajemen dan insentif yang benar. Bukan asal mengeluarkan IPKR atau 
IPKTM.

e-mail: udiansyah@xxxxxxxxx


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: