[ppi] [ppiindia] Hari tanpa Tembakau
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 30 May 2006 21:22:58 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/052006/31/0901.htm
Hari tanpa Tembakau
Oleh J. TEGUH WIDJAJA
TANGGAL 31 Mei telah ditetapkan WHO sebagai hari tanpa tembakau sedunia.
Sebagaimana sudah sering disebutkan ada banyak penyakit baik yang ringan maupun
yang mematikan yang dapat dihubungkan secara langsung dengan kebiasaan merokok.
Di antara sekian banyak penyakit tersebut salah satu yang harus diwaspadai dan
dipahami masyarakat adalah Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) yang juga
dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Chronic Obstructive Pulmonary Disease
(COPD).
Tampaknya tidak banyak masyarakat yang mengetahui apa itu penyakit PPOK.
Pengalaman saya di praktik setiap kali menyebutkan diagnosis PPOK atau COPD,
seringkali pasien bertanya kembali, apa itu dok? Lain halnya kalau saya
sebutkan nama penyakit Asma atau TBC, umumnya banyak anggota masyarakat yang
lebih tahu. PPOK atau COPD definisinya adalah penyakit paru kronik yang
ditandai dengan hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya
reversibel. Hambatan aliran udara ini bersifat progresif dan berhubungan dengan
respons inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun/ berbahaya
(utamanya asap rokok).
Berdasarkan definisi ini disebutkan bahwa masalah utama PPOK adalah hambatan
aliran udara atau sesak napas yang tidak dapat lagi kembali normal sepenuhnya
dan bila tidak dikontrol dengan baik akan menjadi progresif semakin lama
semakin berat.
Pada saat ini WHO menyebutkan bahwa dari seluruh angka kematian karena berbagai
penyakit di dunia, PPOK menduduki peringkat ke-4 naik dari peringkat 6 sekira
lima tahun yang lalu dan memperkirakan akan menjadi peringkat 3 pada dekade
mendatang. Data ini menunjukkan bahwa tanpa disadari oleh masyarakat angka
kematian karena PPOK terus mengalami peningkatan.
Gejala klinis PPOK adalah batuk, produksi sputum, sesak napas dan keterbatasan
aktivitas, yang terjadi secara kronik (menahun) dan perlahan-lahan semakin lama
semakin bertambah berat. Gejala-gejala ini tidak khas dan sering dirancukan
atau tumpang tindih dengan penyakit lain dengan gejala serupa seperti asma,
gagal jantung, dan lain-lainnya. Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini perlu
dilakukan pemeriksaan yang saksama mulai dari faktor-faktor risikonya, gejala
dan perjalanan penyakitnya, pemeriksaan fisik yang teliti, dan pemeriksaan
penunjang seperti foto toraks (X-Ray) dan spirometri (sebagai pemeriksaan
standar).
Yang dimaksud dengan spirometri adalah suatu teknik pemeriksaan untuk
mengetahui fungsi/faal paru, di mana pasien diminta untuk meniup sekuat-kuatnya
melalui suatu alat yang dihubungkan dengan mesin spirometer yang secara
otomatis akan menghitung kekuatan, kecepatan dan volume udara yang dikeluarkan,
sehingga dengan demikian dapat diketahui kondisi faal paru pasien. Pada saat
ini hampir disemua rumah sakit dan praktik dokter paru di Bandung sudah
tersedia alat pemeriksaan ini.
Asap rokok merupakan satu-satunya penyebab terpenting, jauh lebih penting dari
faktor penyebab lainnya. Termasuk dalam faktor risiko adalah: (1) Asap rokok
(perokok aktif maupun perokok pasif), (2) Polusi udara, meliputi polusi di
dalam ruangan (asap rokok, asap kompor), polusi di luar ruangan (gas buang
kendaraan bermotor, debu jalanan), dan polusi tempat kerja (bahan kimia, zat
iritasi, gas beracun), serta (3) Infeksi saluran napas bawah berulang. Semakin
muda seseorang mulai merokok, semakin lama dia merokok dan semakin banyak
jumlah batang rokok per harinya, maka semakin besar risiko orang tersebut
terkena penyakit PPOK.
Pemeriksaan spirometri yang dilakukan pada orang di bawah usia 45 tahun belum
menunjukkan perbedaan bermakna antara yang merokok dan tidak merokok, tapi
perbedaan akan semakin nyata dengan bertambahnya usia. Pada orang yang masih
terus merokok setelah usia 45 tahun fungsi parunya akan menurun dengan cepat
dibandingkan yang tidak merokok dan pada usia di atas 60 tahun gejala-gejala
PPOK akan mulai muncul. Tentu saja masih banyak faktor-faktor lain yang
memengaruhinya.
Tidak jarang gejala-gejala ini muncul pada usia lebih dini, sebaliknya bisa
juga gejala tersebut tidak muncul sama sekali. Jadi memang benar bahwa tidak
semua orang yang merokok pasti terkena PPOK tetapi risiko untuk menjadi PPOK
jelas lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Data dari
berbagai penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota masyarakat yang merokok di
Indonesia terus mengalami peningkatan. Semakin banyak mereka yang masih duduk
di bangku sekolah dasar sudah mulai merokok dan semakin banyak juga perempuan
yang merokok.
Di masa mendatang jumlah penderita PPOK dapat diramalkan akan terus mengalami
peningkatan.
Faktor risiko lain yang harus diwaspadai adalah polusi udara baik yang terjadi
di dalam rumah (mis: penggunaan kayu bakar, lampu minyak, obat nyamuk bakar,
dll), maupun di luar rumah (seperti asap buangan kendaraan bermotor). Jangan
pula dilupakan bahwa di negara kita angka kejadian infeksi paru masih sangat
tinggi baik itu oleh Tuberkulosis maupun oleh penyebab lain. Infeksi paru yang
terus berulang-ulang diderita seseorang dalam jangka panjang juga akan
meningkatkan risiko terkena PPOK.
Penderita PPOK apabila tidak mendapat penatalaksanaan yang baik dapat mengalami
beberapa komplikasi seperti penyakit jantung paru kronik (Cor Pulmonale
Chronicum), gagal napas kronik, seringnya mengalami serangan akut yang
terkadang sangat berat sehingga berakibat fatal dengan kematian. Penyakit
jantung paru kronik adalah gangguan fungsi jantung yang terutama disebabkan
atau sebagai akibat kelainan paru. Sering kali penyakit ini disalahmengerti
atau disamaratakan dengan penyakit jantung pada umumnya, padahal kalau kelainan
parunya ditangani dengan baik maka dengan sendirinya fungsi jantung akan
kembali baik.
Pilihan penatalaksanaan atau terapi penderita PPOK dibedakan apakah penderita
dalam kondisi stabil atau sedang mengalami serangan akut. Umumnya penderita
PPOK sehari-harinya cenderung mengalami gejala-gejala sesak napas, batuk, dan
produksi dahak yang berlebihan, apabila suatu saat gejala-gejala tersebut
mengalami perburukan dan bertambah berat ditambah dahak menjadi semakin
kental dan berwarna kehijauan maka hal itu menunjukkan penderita sedang
mengalami serangan akut. Penyebab tersering serangan akut PPOK adalah infeksi
saluran napas di samping sebab-sebab lain. Tergantung pada berat ringannya
serangan akut, penderita dapat dirawat inap di rumah sakit atau rawat jalan di
klinik. Tetapi umumnya meliputi pemberian obat-obat pelega saluran napas
(bronkodilator) untuk mengatasi sesaknya, antibiotik bila ada indikasi infeksi,
kortikosteroid dan obat pengencer dahak.
Apabila serangan akut sangat berat penderita terpaksa haus dirawat di ruang
intensif (ICU) dan terkadang sampai harus menggunakan alat bantu mesin
pernapasan (ventilator). Pada kondisi stabil terapi terutama ditujukan untuk
mempertahankan fungsi paru sebak mungkin, meningkatkan kualitas hidup, dan
mencegah terjadinya serangan akut. Terapi umumnya meliputi edukasi (termasuk
dorongan untuk stop merokok), pemberian obat-obatan untuk terapi pemeliharaan,
rehabilitasi medik, dan penggunaan oksigen jangka panjang (bila ada indikasi).
Mengingat bahwa pada penderita PPOK ini kelainan yang sudah terjadi tidak dapat
lagi diperbaiki dan fungsi paru tidak dapat lagi kembali normal maka upaya
penatalaksanaan jangka panjangnya adalah untuk mempertahankan fungsi paru dan
kualitas hidup penderita sebaik mungkin.
Diet yang kaya protein rendah karbohidrat, cukup minum dan menghindari makanan
yang meningkatkan produksi gas lambung. Olah raga ringan dengan gerakan-gerakan
khusus untuk penderita PPOK sesuai dengan tingkat derajat penyakitnya. Apabila
memungkinkan dapat juga penderita PPOK mengikuti program fisioterapi yang
dirancang khusus untuk mereka. Dalam program tersebut akan diajarkan
teknik-teknik untuk bernapas dengan baik karena mereka memang perlu teknik
bernapas yang khusus untuk membantu mengeluarkan gas CO2 yang terperangkap di
paru-parunya. Umumnya penderita PPOK mempunyai kadar gas CO2 di atas rata-rata
nilai normal. Ada beberapa obat-obatan yang cukup aman untuk digunakan terus
menerus bila memang ada indikasinya (tergantung derajat penyakitnya).
Obat-obatan ini umumnya berbentuk aerosol, bergantung jenisnya dapat berupa
inhaler yang disemprotkan ke mulut atau serbuk yang diisap melalui mulut. Ada
bermacam-macam jenis dan nama obat golongan ini tetapi secara umum dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu golongan obat pelega yang hanya digunakan
apabila mengalami serangan sesak dan golongan obat pemeliharaan yang digunakan
secara rutin terus-menerus setiap hari. Dokter yang merawat penderita PPOK yang
akan menentukan jenis obat apa yang diperlukan bagi penderita tersebut. Salah
satu modalitas yang penting untuk terapi penderita PPOK adalah pemberian terapi
oksigen jangka panjang. Umumnya untuk penderita PPOK derajat III dan IV terapi
oksigen ini sangat membantu.
Sebagaimana pepatah lama di dunia kesehatan "mencegah lebih baik dari
mengobati" maka bagi masyarakat yang tidak mau menderita penyakit ini langkah
awal pencegahan terbaik adalah segera stop merokok. Lebih baik tdak pernah
mencoba merokok. Apabila telanjur punya kebiasaan merokok segera stop merokok,
semakin muda stop merokok semakin baik. Susahnya upaya edukasi untuk stop
merokok pada mereka yang masih muda adalah karena mereka hampir tidak merasakan
pengaruh buruk apa pun dari kebiasaan mereka. Gejala-gejala PPOK memang jarang
muncul pada usia muda, umumnya setelah usia 55 tahun ke atas. Pengalaman saya
dengan pasien-pasien PPOK umumnya mengaku menyesal karena punya kebiasaan
merokok waktu mudanya, tetapi penyesalan seringkali datangnya terlambat.
Akhirnya, segeralah matikan rokok Anda sebelum rokok itu mematikan Anda.***
Penulis, dokter spesialis paru-asma RS Immanuel Bandung.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
You can search right from your browser? It's easy and it's free. See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ;
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ;
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com"><img
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif" height="67" width="200"
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Hari tanpa Tembakau