[ppi] [ppiindia] Harga Minyak, Inflasi, Dan Suku Bunga

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **


http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=96653

Harga Minyak, Inflasi, Dan Suku Bunga
Oleh Anthony Zeidra Abidin

Dulu kita eksportir minyak. Kini kita mengimpor minyak. Celakanya, dengan 
kenaikan harga minyak dunia yang relatif sangat tinggi, beban kita jadi amat 
berat. Justru itu, ke depan, manajemen pengelolaan minyak harus diperbaiki.
Selama ini, impor minyak dilakukan oleh anak perusahaan Pertamina di 
Singapura. Perusahaan itu pun menyubkontrakkan lagi kepada perusahaan lain. 
Di sana tentu ada fee dan macam-macam. Cara demikian jelas tidak efisien. 
Banyak biaya yang sebenarnya tidak perlu harus dikeluarkan.
Sebagai produsen minyak lebih dari 1 juta barel perhari, mestinya kita tidak 
perlu melakukan ekspor minyak. Semua kebutuhan minyak dalam negeri kita 
penuhi sendiri, dan sisanya baru kita ekspor. Selama ini kita menjual 
minyak, tapi kita beli lagi. Kita pun cenderung membeli minyak lebih banyak 
daripada kebutuhan. Kita membelinya dengan harga mahal, lalu dijual di dalam 
negeri dengan subsidi. Sisanya dijual secara ilegal ke Singapura atau entah 
ke mana. Penyelundupan ini selalu terjadi.
Menjual kemudian membeli lagi ini ada ongkosnya dan ada komisi yang harus 
dikeluarkan. Proses ini sarat korupsi, dan karena itu kini saatnya kita 
akhiri. Kita harus bisa memroses atau mengolah sendiri minyak. Bahwa kilang 
minyak di Cilacap hanya bisa mengolah minyak impor, itu harus diatasi. Soal 
tersebut tak terlalu sulit. Dalam waktu lima tahun saya kira kita bisa 
melakukan itu. Ini dalam rangka penghematan agar subsidi minyak bisa 
dikurangi.
Efisiensi bisa dilakukan melalui pendekatan produksi. Dalam konteks ini, 
saya setuju dengan gagasan Kwik Kian Gie yang berpatokan pada produksi dan 
margin. Margin yang didapat Pertamina untuk memroduksi minyak sekitar Rp 500 
per liter, sehingga harga jual tak lebih dari Rp 3.000 per liter. Dengan 
demikian, tak perlu ada subsidi.
Jadi, strategi perminyakan nasional harus bertumpu pada pengelolaan yang 
semakin efisien, berorientasi pada kebutuhan dalam negeri. Bahwa secara 
teknis ada masalah, tentu diperlukan kebijakan baru. Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) yang menjanjikan perubahan hendaknya mau memberesi soal 
minyak ini, terutama menyangkut manajemennya yang sangat tidak efisien. 
Dalam program seratus hari pertama, pemerintahan SBY hendaknya sudah 
menunjukkan niat memerbaiki manajemen perminyakan nasional ini.
Kita sebagai produsen besar - produksi minyak kita mencapai 1,3 juta barel 
per hari- - mestinya tidak perlu impor. Produksi minyak kita mestinya 
mencukupi untuk kebutuhan di dalam negeri sendiri. Kalau manajemen minyak 
bisa diperbaiki, maka pengaruhnya sangat signifikan terhadap anggaran 
terkait dengan subsidi besar selama ini. Perbaikan manajemen minyak juga 
berpengaruh positif terhadap ekonomi nasional.
Dengan langkah-langkah perubahan itu kita harapkan pertumbuhan ekonomi 7 
persen bisa dicapai. Lalu inflasi yang kini mencapai 6,2 persen bisa ditekan 
menjadi 5 persen. Inflasi hendaknya tidak lebih besar dibanding di 
negara-negara tetangga. Thailand, misalnya, hanya mencatat inflasi sebesar 
3,6 persen. India 4,6 persen, atau Cina 5,3 persen.
Dalam seratus hari pertama, pemerintahan SBY hendaknya sudah membuat semacam 
kepastian bahwa inflasi tidak lebih dari 5 persen. Dengan tingkat inflasi 
demikian kita bisa mendorong sektor riil melalui suku bunga pinjaman yang 
lebih rendah. Sekarang saja, kalau suku bunga kredit di bawah 10 persen, 
saya yakin sektor riil akan lebih bergairah. Selain itu, tentu, kebijakan 
moneter harus konsisten.
Tapi kalau inflasi 5 persen, idealnya suku bunga SBI di bawah itu, 
Persoalannya, di Indonesia ada semacam mitos bahwa suku bunga harus di atas 
inflasi. Kalau ekspor kita mau bersaing dengan negara-negara lain, dan dalam 
rangka mendorong sektor riil, maka mitos ini harus kita bongkar. Suku bunga 
hendaknya di bawah inflasi.
Di Thailand - dengan inflasi 3,6 persen - suku bunga cuma 1,75 persen. 
Sementara Korsel mencatat inflasi 3,9 persen dan suku bunga 3,43 persen. Di 
AS, inflasi hanya 2 persen, suku bunga 1,75 persen. Suku bunga kita bisa 
saja lebih tinggi dari Singapura. Selama keamanan dan politik nasional 
stabil, saya kira tak akan ada masalah. Artinya, orang tak akan menyimpan 
uang di luar negeri. Mampukah pemerintahan SBY melakukan pekerjaan besar 
tersebut?***
Anthony Zeidra Abidin adalah mantan
Ketua Subkomisi Perbankan DPR-RI 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: