[ppi] [ppiindia] Guru, Perjuangan Dan Musuh Bersama

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indomedia.com/bpost/122005/14/opini/opini1.htm

Guru, Perjuangan Dan Musuh Bersama

Oleh: Erdeny M Yunus



Di negeri ini Republik Indonesia, profesi guru masih kerap digamkan dengan 
sosok seorang pekerja yang naik sepeda kumbang butut. Ini bukan karena seorang 
guru adalah sosok yang peduli terhadap tercemarnya lingkungan akibat polusi 
kendaraan bermotor. Atau, bukan karena guru adalah sosok teladan yang ikut 
menggalakkan program mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga. 
Sekali lagi bukan. Tapi ini lebih dikarenakan, jumlah guru yang diasumsikan 
sekitar 1,6 juta, sebagian besar mereka dari sisi ekonomi kehidupannya jauh 
dari kata sejahtera.

Banyaknya guru yang tidak sejahtera, bukan satu-satunya persoalan pendidikan 
nasional yang tengah dihadapi negeri ini. Tidak sampainya dana pendidikan untuk 
memperbaiki gedung sekolah yang nyaris roboh. Minimnya alokasi dana pendidikan 
yang disediakan pemerintah untuk memperbaiki atap sekolah yang bocor ketika 
hujan turun. Atau juga ketidakmampuan orangtua untuk menyekolahkan anak mereka, 
karena mahalnya biaya pendidikan. Hal ini pun mewarnai persoalan pendidikan 
nasional, dan tentunya banyak lagi.

Oleh banyak kalangan, pemerintah dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab 
untuk menyelesaikan persoalan ini. Ya, pemerintah memang pihak yang paling 
bertanggungjawab, selain masyarakat, semua bangsa Indonesia. Karena suka atau 
tidak suka, pendidikan dan peran seorang guru menjadi salah faktor yang 
berperan bagi manusia mempelajari banyak hal dan mewujudkan cita-cita yang 
diinginkannya kelak.

Kalau saja, pemerintah sekarang mau sedikit menengok sejarah negeri ini. Tentu 
sebagai seorang yang memiliki pendidikan cukup, pemimpin bangsa Indonesia 
sekarang bukan orang yang buta sejarah. Hanya, entah sengaja atau tidak, mereka 
seakan kurang memahami makna peristiwa sejarah yang dilakukan tokoh pendiri 
bangsa ini dalam merebut kemerdekaan. 

Misalnya, yang dilakukan Bung Hatta 'pascaperpecahan' Partai Nasional Indonesia 
yang didirikan Bung Karno pada 4 Juli 1927 yang awalnya bernama Perserikatan 
Nasional Indonesia. Bung Hatta memerintahkan Sutan Sjahrir, temannya sesama 
mahasiswa Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, pulang ke Indonesia untuk 
membentuk dan memimpin Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru, sekitar 
1930-an. 

Didirikannya PNI Baru dengan maksud membantu golongan merdeka eks PNI yang tak 
mau masuk Partai Indonesia (Partindo), dalam merumuskan asas perjuangan dan 
program politik PNI Baru yang didirikan sebagai organisasi pendidikan kader 
politik untuk perjuangan kemerdekaan, kedaulatan rakyat dan martabat manusia.

Bung Hatta yang kemudian menggantikan Bung Sjahrir memimpin PNI Baru usai studi 
di negeri Belanda, harus rela berurusan dengan pemerintah kolonial dan bahkan 
diasingkan ketika itu.

Ketika itu banyak wadah perjuangan lain yang menjadikan pendidikan sebagai 
bagian dari garis perjuangan mereka. Tentunya adalah pendidikan politik, karena 
sesuai dengan kondisi saat itu. Muncul keinginan besar untuk menjadi bangsa 
yang merdeka bebas dari kekangan penjajah. Dengan berbagai garis perjuangan itu 
pula, salah satunya pendidikan, pemimpin ketika itu berhasil mengantarkan 
bangsa ini ke depan pintu gerbang kemerdekaan. 

Untuk itu, sudah sepantasnya generasi sekarang mengisi kemerdekaan seperti yang 
dicita-citakan pemimpin terdahulu. Salah satunya dengan menciptakan pendidikan 
yang lebih baik guna mencapai kesejahteraan rakyat. 

Susah, kalau hanya berharap kepada pemerintah. Lihat saja beberapa kali 
pergantian tampuk kepemimpinan, kesejahteraan guru hanya sampai pada janji 
kampanye, tidak lebih. Setiap kali musim pemilu dan pilkada yang baru pertama 
kali dilaksanakan di negeri ini, semua pasangan calon menjanjikan memperhatikan 
nasib guru, memperbaiki pendidikan bahkan ada yang menjanjikan sekolah gratis. 
Hasilnya, kesejahteraan guru tak kunjung terwujud, pendidikan nasional juga tak 
beranjak dari segala carut marutnya.

Di berbagai kesempatan, guru terus menuntut pemerintah agar lebih peduli 
terhadap nasib mereka. Tampaknya perjuangan menuntut perbaikan kesejahteraan, 
menjadi tekad guru sekarang. Selain tugas utama mereka sebagai seorang 
pendidik. Tapi bukannya mendapat tanggapan positif, malah mendapatkan jawaban 
dari seorang pemimpin bahwa guru itu tak seharusnya mengeluh.

Disahkannya UU tentang Guru dan Dosen, dinilai banyak kalangan mengecewakan, 
karena sangat jauh dari semangat naskah awal RUU (Kompas, Rabu, 7/12). 
Disebutkan, gaji guru ditetapkan sebesar dua kali gaji pokok PNS plus tunjangan 
fungsional sebesar 50 persen dari gaji pokok PNS. Setelah disahkan menjadi UU, 
disebutkan pemerintah hanya akan memberikan subsidi tunjangan profesi kepada 
guru swasta. Berapa besar tunjangan itu, tidak disebutkan.

Belakangan, ada tingkah oknum guru yang menciptakan sikap kurang simpatik 
masyarakat terhadap profesi guru. Di tengah mahalnya biaya sekolah, ada saja 
guru yang memaksa siswa untuk membeli buku pelajaran, hanya karena si guru 
ingin mendapatkan keuntungan (fee) dari penerbit. Atau yang lebih menyedihkan, 
adanya oknum guru yang mengajak siswinya berpesta gituan. Tapi suka atau tidak 
suka, pada prinsipnya guru adalah satu faktor yang cukup mempengaruhi 
pembangunan sumber daya manusia bangsa ini kelak. 

Ada baiknya kalau guru tidak mudah percaya terhadap janji pada masa kampanye 
baik pemilu maupun pilkada, dan tidak terlalu berharap kepada pemerintah. Sudah 
saatnya organisasi profesi ini melalukan program yang dapat menyejahterakan 
anggotanya. Berharap kepada pemerintahan hanya sebuah mimpi.

Melalui organisasi profesinya, misalnya, guru menyusun barisan dan menciptakan 
'musuh bersama'. Biasanya, dengan menciptakan 'musuh bersama', sebuah 
perjuangan akan berjalan lebih efektif. 'Musuh bersama' itu adalah mereka yang 
selama ini dianggap kurang peduli dan tidak memperhatikan nasib guru, bahkan 
terkadang melecehkan.

Tidak perlu jauh-jauh dalam menciptakan 'musuh bersama' ini, karena mereka yang 
dianggap layak untuk dijadikan 'musuh bersama' itu tak lain ada di negeri ini, 
bagian dari bangsa ini. 'Musuh bersama' itu adalah mereka yang mengatasnamakan 
kepentingan dan kesejahteraan rakyat dengan iming-iming Bantuan Langsung Tunai 
(BLT), yang sebelumnya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Dengan dalih, 
subsidi BBM hanya menguntungkan orang kaya. Kemudian mengalihkan subsidi itu ke 
bidang pendidikan dan kesehatan yang hingga kini masih terus bermasalah.

Atau mereka yang dengan dalih menekan inflasi, mengeluarkan kebijakan impor 
beras. Sementara petani kalang kabut karena harga beras mereka bakal anjlok di 
pasar. Merekalah 'musuh bersama' yang harus dilawan guru, buruh, petani dan 
rakyat miskin lainnya.

* Alumnus Fisip Unlam Banjarmasin
tinggal di Banjarmasin
e-mail: deny_yunus@xxxxxxxxx

 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/YNG3nB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: