[ppi] Re: [ppiindia] Fw: [daarut-tauhiid] Tirani Dibalik Seni

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
Tirani dibalik seni?

http://www.arabnews.com/?page=9&section=0&article=80039&d=31&m=3&y=2006

            Friday, 31, March, 2006 (01, Rabi` al-Awwal, 1427)

                  Saudi Women Show Their Art at Bahrain Exhibition
                  Mazen Mahdi, Arab News 
                    
                        

                        Saudi Princess Nouf bint Bandar Al-Saud speaks during a 
press conference in Manama, Bahrain, on Wednesday. (EPA)    
                        
                  MANAMA, 31 March 2006 - An ambitious plan to bring Saudi and 
Gulf women artists to the world by giving them wider exposure has been launched 
by a Saudi princess.

                  Princess Nouf bint Bandar Al-Saud said Wednesday during a 
press conference here that she hopes the art exhibitions for Saudi women she 
has been endorsing evolve into a venue to promote Gulf women artists globally.

                  "I am hoping that an exchange between the different Gulf and 
Arab cultures in the field of the arts would take place during these events, 
helping us to reach the same standing with the global arts movement," she said. 
"My dream is to have art pieces from the Gulf that have a global touch 
displayed in museums and private galleries worldwide." 

                  Princess Nouf is in Bahrain to promote a five-day art 
exhibition for 25 Saudi women artists that will open on Sunday.

                  She added that Saudi women had been taking more of an active 
role in all aspects of society, which is reflected by their contributions to 
the fine arts movement there. "Fine arts does not play a big part in the life 
of people here as does poetry and writing. It is a relatively new phenomena in 
the Gulf," she said. "We are hoping to change that as more and more people take 
notice of this cultural reflection of society."

                  Princess Nouf, who is the director of the Riyadh-based Lahd 
Gallery of Fine Arts that opened in December 2005, pointed out that she found 
being a woman director of the gallery has made it easier for other Saudi women 
to approach her to promote their work.

                  "We are a large country with a conservative society. That is 
why women find it easier to deal with women to promote their works," she said.

                  The five-day exhibition "Eye on Jeddah" will feature more 
than 50 pieces by Saudi women artists from Jeddah and the Eastern Province.

                  "We have a mixture of known and unknown names at the gallery 
because the aim is to encourage the fine arts movement and give exposure to 
those who are lesser known," she said.

                  The pieces in the upcoming exhibition had already gone on 
show in Riyadh and Kuwait.

                  Princess Nouf said that she was pleased that Bahrain's Deputy 
Secretary for Culture and National Heritage Sheikha Mai bint Mohammed 
Al-Khalifa, who has been the driving force behind promoting Bahrain as a 
cultural hub, will be opening the exhibition.

                  "She is someone who has a deep appreciation for culture and 
arts that is why I happy that she would be the one opening it," she said.

                  Princess Nouf - who studied genetics at Kings College in 
London and currently works as a doctor - is an artist herself. 
                 
           
     


----- Original Message ----- 
From: "Samsul Bachri" <samsul@xxxxxxxxxx>
To: "Ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
Sent: Friday, March 31, 2006 12:47 PM
Subject: [ppiindia] Fw: [daarut-tauhiid] Tirani Dibalik Seni


> http://www.hidayatullah.com/index.php?option==com_content&task==view&id=)13&
> Itemid==1
> 
> Tirani Dibalik Seni
> Oleh: Syamsuddin Arif*
> 
> Musim panas 1978, seorang guru besar fotografi dan seni di Universitas
> Cornell, Jacqueline Livingston, dipecat dari jabatannya. Keputusan itu
> dikeluarkan tidak lama setelah Jacqueline memamerkan foto-foto aurat suami,
> mertua dan anak lelakinya. Bagi Jacqueline, hasil jepretan kameranya itu
> adalah karya seni yang bermaksud menjelajahi batas-batas kebebasan dan
> kesusilaan, kebiadaban dan kesopanan. Namun tidak demikian halnya bagi pihak
> universitas, dinas sosial dan masyarakat pelindung anak-anak Amerika.
> Jacqueline dinilai telah 'bertualang terlalu jauh' dan telah melakukan
> pelecehan seksual. Di tengah hangatnya kontroversi Rancangan Undang-Undang
> Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) saat ini, kisah profesor seni
> tersebut bisa menjadi pelajaran, betapa seni tidak boleh buta nurani,
> estetika jangan mengabaikan etika.
> 
> Berbagai macam alasan penolakan terhadap draf undang-undang anti pornografi
> dan pornoaksi itu memang menarik untuk dicermati. Misalnya kekhawatiran jika
> disahkan undang-undang tersebut bakal memasung kaum perempuan, mematikan
> kreativitas seni, merampas hak privasi dan kebebasan anggota masyarakat.
> Juga kecemasan apabila ia menjadi pintu masuk pemberlakuan Syariat Islam di
> Indonesia. Namun semua alasan ini hanya prima facie masuk akal, jika tidak
> terkesan berlebihan. Seolah-olah Indonesia adalah negara pertama dan
> satu-satunya yang hendak membuat aturan tersebut.
> 
> Kalau kita menengok ke negeri-negeri lain, undang-undang serupa berkaitan
> 'industri seks' (istilah ini menunjuk segala kegiatan produksi, promosi,
> exhibisi, sirkulasi, distribusi, komersialisasi dan konsumsi apa saja yang
> dikategorikan sebagai pornografi maupun pornoaksi (adegan erotis, pentas
> cabul, perzinaan, pelacuran, penyimpangan seksual, dan sebagainya) telah
> lama dibuat.
> 
> Di Amerika Serikat, ada Comstock Act yang berlaku sejak 1873, meskipun
> belakangan diamandemen atas dasar hak pribadi dan kebebasan individu yang
> diakui oleh konstitusi negara itu - seperti tercermin dalam putusan Supreme
> Court untuk kasus Stanley v. Georgia (1969) dan Lawrence v. Texas (2003).
> Selain itu juga ada undang-undang khusus untuk melindungi anak bangsa dari
> pornografi (Child Pornography Prevention Act 1996).
> 
> Demikian pula Inggris mempunyai undang-undang anti cabul (Obscene
> Publications Act) sejak 1857 dan anti pelanggaran seksual (Sexual Offences
> Act 2003). Perancis mengaturnya dalam undang-undang hukum pidana (pasal
> 222-32 du code pénal 1994) yang merupakan revisi dari pasal 330
> undang-undang sama yang diterbitkan pada 13 Mei 1863.
> 
> Kreativitas seni tidak semestinya muncul dari, karena dan untuk seksualitas
> belaka. Kalau mau jujur, ekploitasi aurat dalam bentuk tulisan, gambar,
> patung, nyanyian dan adegan cabul sebenarnya lebih sering bermotif ekonomi
> ketimbang seni. Industri hiburan dan jasa berbau seks memang salah satu
> ladang bisnis yang keuntungannya terbukti paling menggiurkan. Laporan CBS
> News (edisi September 5, 2004, "Porn In The U.S.A.") menemukan, masyarakat
> Amerika membelanjakan tidak kurang dari 10 milyar dolar per tahun untuk
> konsumsi pornografi saja. Wajarlah jika pengusaha-pengusaha besar
> berduyun-duyun menanamkan modalnya di sektor ini.
> 
> "I was rather shocked to find that these are pretty bright business people
> who are in it to make a profit. And that is what it's about," ungkap Bill
> Lyon yang mewakili 900 serikat bisnis porno di negeri itu. Mereka menjadi
> besar dan mempunyai daya tawar karena di California saja industri aurat ini
> tiap tahun menyetor sebanyak 36 juta dolar pajak kepada Pemerintah. Tidak
> seberapa, dibanding jumlah ratusan juta dolar yang rutin diperoleh DirecTV
> dari apa yang diistilahkan sebagai 'hiburan orang dewasa' itu. Sementara
> para pelakonnya berlindung di balik ekspresi seni.
> 
> "The way I look at it is, this is kind of an art to me. I'm performing. I'm
> doing it because this is my job and I'm entertaining the masses," ujar
> seorang penari erotis remaja, Jenna Jameson, berkilah seraya mengaku telah
> meraup lebih dari 1 juta dolar dalam setahun dari pentas dan jasa yang
> dilakoninya. Mereka yang panen uang dari sektor ini jelas tidak peduli sama
> sekali terhadap dampak buruk yang terjadi: runtuhnya moralitas, meningkatnya
> kriminalitas, dan maraknya hedonisme.
> 
> Pemberantasan pornografi dan pornoaksi sesungguhnya senafas dan sejiwa
> dengan sila kedua dasar negara kita: menjunjung tinggi dan berupaya
> mewujudkan nilai-nilai "kemanusiaan yang adil dan beradab", bukan
> nilai-nilai kebinatangan yang tidak mengenal tata susila. Manusia beradab
> tidak akan mempertontonkan auratnya di muka umum, apalagi
> memperdagangkannya. Manusia beradab memiliki bukan hanya kemaluan, tapi juga
> rasa malu.
> 
> Dari perspektif ini, anggapan sementara orang bahwa RUU APP itu bertentangan
> dengan semangat Pancasila adalah keliru. Rancangan undang-undang itu dengan
> jelas memberikan pengecualian bagi kepentingan pendidikan dan atau
> pengembangan ilmu pengetahuan sebatas yang diperlukan, serta pengobatan
> gangguan kesehatan. Juga tidak dianggap pornoaksi cara-cara berbusana
> dan/atau tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut adat-istiadat dan/atau
> budaya kesukuan (seperti di Papua), sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan
> ritus keagamaan atau kepercayaan, termasuk kegiatan seni adat istiadat
> (seperti di Bali) serta kegiatan olahraga (gimnastik) yang dilakukan di
> tempat peruntukkannya dengan serta mendapat izin dari pihak yang berwenang.
> Demikian dinyatakan dalam Bab III, pasal 34 RUU APP itu.
> 
> Yang sangat mengherankan adalah kenyataan bahwa di antara penolak RUU APP
> itu ternyata banyak yang nota bene Muslim. Padahal jelas menurut ajaran
> Islam, aurat laki-laki maupun perempuan haram dipamerkan. Kaum beriman
> laki-laki maupun perempuan disuruh menahan pandangan mereka. Jadi, yang
> dilarang bukan cuma obyek yang akan dilihat atau terlihat, tapi juga subyek
> yang terpancing ingin melihatnya (QS an-Nur 30-31). Mereka disuruh menjauhi
> hal-hal yang mengarah pada perbuatan zina (QS al-Isra' 32). Boleh dikata
> dalam hal ini status pornografi dan pornoaksi mirip minuman keras (khamr),
> dimana Rasulullah SAW melaknat tidak hanya produsen dan konsumennya, tapi
> juga orang yang memintanya (pemesan), menyuguhkannya (pelayan), memasoknya
> (distributor, supplier), menadahnya (stocker), menjajakannya (retailer),
> membelinya, menghadiahkannya, dan menikmati hasil penjualan serta
> keuntungannya (HR Imam at-Tirmidzi no. 1295 dan Abu Dawud no. 3674).
> 
> Dalam Islam juga dikenal konsep hisbah, yakni penegakan hukum dan akhlak
> atas dasar perintah mempromosikan hal-hal yang baik (ma'ruf) dan mencegah
> hal-hal buruk (munkar). Termasuk dalam kebijakan preemptif ini larangan
> melakukan khalwat, tindakan atau ekspresi cabul (al-fahsy wa t-tafahhusy),
> dan segala yang berpotensi merusak moral umat (Lihat: M. Hashim Kamali,
> Freedom of Expression in Islam, Kuala Lumpur: Ilmiah Publishers, 1998, hlm.
> 209-211). Memperbaiki keadaan (ishlah) dan membendung kerusakan adalah
> tindakan yang wajib dan mulia. Karena itu amatlah disesalkan pernyataan
> seorang tokoh nasional baru-baru ini bahwa penentang pornografi itu 'sok
> merasa suci'. Ungkapan ini mengingatkan kita pada kata-kata kaum Sodom:
> innahum unasun yatat,ahharun (QS an-Naml 56) yang mengandung cibiran kepada
> kaum beriman pengikut Nabi Luth a.s.
> 
> Tak kalah anehnya reaksi kaum feminis Indonesia dalam kontroversi ini. Aneh,
> karena mereka ikut-ikutan menolak draf undang-undang tersebut dengan dalih
> membela kaum perempuan. Sementara kita ketahui aktivis perempuan di banyak
> negara justru sangat anti dan mengecam habis-habisan segala bentuk
> pornografi karena dianggap menghina perempuan. Sebutlah misalnya Andrea
> Dworkin, Susan Brownmiller, Diana Russell, Catherine MacKinnon, Dorchen
> Leidholdt dan lain-lain yang tergabung dalam Women Against Pornography (WAP)
> dan National Organization for Women (NOW) di Amerika, atau Alice Schwarzer,
> Lore Maria Peschel, dan Sabine Leutheusser dari Bonner Frauenb?Ednis,
> Jerman.
> 
> Akhirnya mari kita kembalikan masalah pornografi-pornoaksi ini kepada hati
> nurani dan rasa tanggung-jawab kita terhadap masa depan bangsa. Tanpa
> disadari bangsa yang tunduk kepada tirani hawa nafsu sebenarnya tengah
> melakukan proses bunuh diri.
> Seperti kata pujangga Mesir, jatuh-bangunnya suatu bangsa disebabkan oleh
> moralnya. Jikalau runtuh akhlaknya, maka hancurlah bangsa itu (innama
> l-umamu al-akhlaqu ma baqiyat, fa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu).
> 
> *Penulis adalah peneliti pada Institute for the Studi of Islamic Thought and
> Civilization (INSISTS). Kini menempuh program doktor keduanya di Universitas
> Frankfurt, Jerman.
> 
> 
> ---
> 
> 
> 
> 
> 
> ===================================================================
>        Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
> ===================================================================
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi 
> 4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
> 5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
> 6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
>

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: