[ppi] [ppiindia] Fw: Mengapa begitu sulit memberikan pujian? ? ? ?.
- From: "BUD'S" <bsugih@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@cbn.net.id>
- Date: Fri, 12 Nov 2004 09:44:32 +0700
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
SEMOGA BERMANFAAT.......
salam,
bud's
Sumber: Indonesia Business Online
Oleh: Arvan Pradiansyah
Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis
besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba
mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat
sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa
uang."
Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak
apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini
pemberian yang sangat besar bagi saya."
Setiap manusia, apapun latar belakang nya, memiliki kesamaan yang mendasar:
ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.
Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih
beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya
bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan
teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan
dalam bekerja.
Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang
membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan
pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau
mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.
Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah.
Jauh lebih mudah mengritik orang lain.
Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi
saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk."
"Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena
Anda sama sekali tak pernah memujinya!"
Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?
Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita
memandang orang lain.
Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional
love, tetapi cinta bersyarat. Kita menci ntai pasangan kita karena ia mengikuti
kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di
sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan
yang telah ditetapkan.
Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat
tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti
pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre.
Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang
tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.
Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya ta
npa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda
mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah
bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa
saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi
manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positiforang lain. Ini bisa
memudahkan Anda memberi pujian.
Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai
seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan
pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!"
Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak,
burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata,
"Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah
saya sendiri!"
Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering
menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain.
Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan
berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian,
kita akan mudah sekali memberi pujian.
Kesalahan ketiga? disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang
lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat
sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan
orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label:orang ini membosankan, orang
itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah
persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan
baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah
mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar
setiap saat.
Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun
berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita
sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada
lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah
kehilangan daya tariknya.
Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan
bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum
menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini,
tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.
Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya te lah
mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada
orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap
pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam,
penjaga toko maupun petugas di jalan tol.
Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya
dengan doa, "Hati-hati di jalan Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga
senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas
dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.
Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat
orang bahagia dan bersyu kur. Yang lebih penting, membuat orang merasa
dimanusiakan.
Penulis adalah dosen FISIP Universitas Indonesia dan konsultan di
Dunamis-Franklincovey Indonesia.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Fw: Mengapa begitu sulit memberikan pujian? ? ? ?.