[ppi] [ppiindia] Fw: Kontributor Pantau Zainal Afif Meninggal Dunia
- From: "Rondang Marpaung" <rondang@xxxxxxxxxxxx>
- To: <nasional-list@xxxxxxxxxxxxxxx>, <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>, <proletar@xxxxxxxxxxxxxxx>, <sastra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sat, 13 Nov 2004 16:22:39 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
----- Original Message -----
From: "Andreas Harsono" <aharsono@xxxxxxxxxx>
To: "Rondang Erlina Marpaung" <rondang@xxxxxxxxxxxx>
Cc: "pantau-kontributor" <pantau-kontributor@xxxxxxxxxxxxxxx>;
<pantau-komunitas@xxxxxxxxxxxxxxx>; <pantau-sponsor@xxxxxxxxxxxxxxx>
Sent: Saturday, November 13, 2004 2:06 AM
Subject: Kontributor Pantau Zainal Afif Meninggal Dunia
> Rondang di Stockholm,
>
> Saya sedih sekali membaca kabar bahwa suami Rondang, Zainal Afif, telah
> meninggal dunia, 28 Oktober lalu, dalam usia 68 tahun, karena kanker
> paru-paru. Saya atas nama keluarga besar Pantau menyatakan duka yang dalam
> dan berharap Rondang dan Nyala Baceh tetap kuat menghadapi kehilangan
suami
> dan ayah tercinta. Afif salah satu kontributor majalah Pantau.
>
> Saya baru membaca obituari A. Kohar Ibrahim tentang kematian Afif Sabtu
pagi
> di Jakarta. Saya menangis terisak sendirian. Saya keluar sebentar dari
flat
> kecil saya, karena tak mau mengganggu anak saya, Norman, yang masih tidur
> lelap. Sedih. Sedih sekali. Saya merasa salah satu harapan masa depan Aceh
> yang damai ikut pergi bersama kepergian Afif.
>
> Ingat dulu ketika kita pertama kali bertemu di Hotel Esplanade di
Stockholm?
> Saya menunjukkan pada Rondang dan Afif dummy majalah Pantau. Afif sempat
> tanya siapa yang menggambar kulit muka edisi Maret 2001?
>
> "Agus Suwage," saya jawab.
>
> "Boleh juga." Afif kagum pada lukisan Suwage.
>
> Kami bertemu lagi di kantor Free Aceh Movement in Europe dimana saya
> mewawancarai Husaini Hasan serta Yusuf Daud. Afif menemani mereka. Kami
> ketawa-ketiwi ketika cerita bagaimana ruang pertemuan di Fittja Centrum
itu
> dipakai untuk pertemuan, sholat, rapat maupun belajar bahasa Aceh. Saya
> terharu ketika tahu di sudut Stockholm itu ada seorang guru bahasa Aceh
> bernama Zainal Afif.
>
> Afif cerita apa beda antara cakap Aceh dan cakap Melayu. Ketika kami naik
> metro sama-sama, Afif cerita lebih banyak lagi soal bagaimana kalian
bekerja
> di Beijing dan Hanoi. Namun Afif tak pernah bisa menyembunyikan cintanya
> pada puisi dan syair. Ia cerita tentang masa depan orang Aceh. Ada
harapan,
> namun juga skeptisme. Afif bekerja terutama untuk bahasa Aceh. Pertemuan
> singkat, hanya empat hari, namun meninggalkan kesan mendalam.
>
> Saya tentu senang sekali ketika Afif belakangan ikut menulis untuk Pantau.
> Ia juga terlibat aktif dalam mailing list pantau-kontributor maupun
> pantau-komunitas. Kami semua sering membaca puisi-puisinya. Sayang,
majalah
> ini ditutup, dan menurut Afif, kita kehilangan sebuah eksperimen menarik
> dalam jurnalisme di Indonesia.
>
> Saya akan senantiasa mengenang Afif sebagai seorang penyair Aceh, yang
> santun, yang baik hati, yang senantiasa bergumul dengan keacehan sekaligus
> keindonesiaannya.
>
> Selamat jalan Bung Afif!
>
>
> Andreas Harsono
> Pantau Foundation
> Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
> Jakarta 12220
> Indonesia
> Tel. 62 21 7221031 Mobile 62 815 9509000
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Rondang Erlina Marpaung" <rondang@xxxxxxxxxxxx>
> To: <aharsono@xxxxxxxxxx>
> Sent: Friday, November 12, 2004 12:07 PM
> Subject: A.Kohar Ibrahim : PENYAIR ACEH ZAINAL AFIF
>
>
> PENYAIR ACEH ZAINAL AFIF
>
> Oleh : A.Kohar Ibrahim
>
> Seorang penyair asal Medan, Chalik Hamid, yang bermukim di negeri
> Kincir Angin menyampaikan berita duka kepada saya. Berita yang cukup
> mengejutkan sekaligus mengusik kenangan yang selama ini terpendam.
> Tentang seorang penyair yang saya kenal sejak lama : Z. Afif. Penyair
> Indonesia yang mengidap kecintaan luarbiasa pada daerah tanah tumpah-
> darahnya : Aceh. Sedemikian rupa, sehingga untuk puterinya pun diberi
> nama yang kental makna kesayangan : Nyala Baceh. Nyala dari paduan
> cinta Batak-Aceh.
>
> Barusan, pagi subuh jam 03.30 tanggal 28 Oktober 2004 waktu
> Belanda, » demikian kata Chalik Hamid mengawali surat
> elektronikanya, « saya menerima telepon dari Rondang Erlina Marpaung
> (isteri Z. Afif) yang bertempat tinggal di Sweden. Dalam pembicaraan
> di telepon, Rondang mengatakan bahwa :
>
> « Pagi subuh jam : 02.30 waktu Sweden, tanggal 28 Oktober 2004,
> bertempat di salah satu rumah sakit di kota Stockholm, Z. Afif telah
> meninggal dunia dengan tenang. Z. Afif menderita sakit kangker di
> paru-paru. Di samping seorang isteri, Afif juga meninggalkan seorang
> puteri Nyala Baceh.
>
> Tanggal 2 November 2004 saya terima pemberitahuan resmi dari isteri
> dan puteri almarhum bahwa, Zainal Afif kelahiran Lhok Sukon, Aceh
> Utara, 25 April 1936 dengan tenang telah mengakhiri perjalanan
> hidupnya di rumah sakit Huddinge, Swedia, pada tanggal 28 Oktober
> 2004. Pemakaman akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 19
> November 2004 di S :t Botvids Kyrkogard, Huddinge.
>
> Oktober dan November sungguh merupakan bulan yang sarat beragam kisah
> bermakna lagi bersejarah. Apakah yang menyangkut diri orang
> perseorangan atau rakyat dan bangsa Indonesia. Kisah kisah dengan
> saling kaitannya satu sama lain. Termasuk kisah kisah sementara orang
> Indonesia yang terpaksa menjadi pengelana buana atau menurut istilah
> Gus Dur sebagai « orang orang yang kelayaban » di mancanegara.
>
> Kenapa? Tak lain tak bukan lantaran pada 1 Oktober 1965 telah
> terjadi perubahan sikon drastis di Indonesia. Yakni terjadinya kudeta
> militer yang menumbangkan rezim orla Bung Karno demi tegaknya rezim
> orba Suharto. Sejak itu, banyak orang Indonesia yang kebetulan berada
> di mancanegara karena satu atau lain macam urusan dalam aneka ragam
> bidang kehidupan, terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia.
> Dari sekian banyaknya itu adalah kami, delegasi pengarang indonesia
> yang diundang oleh Himpunan Pengarang Tiongkok untuk menghadiri
> perayaan nasional berdirinya RRT : 1 Oktober 1949-1965. Rencana
> kunjungan kebudayaan yang hanya untuk sebulan itu akhirnya
> berkepanjangan. !
>
> Delegasi Pengarang Indonesia itu terdiri dari 5 orang yang terpilih
> dari beberapa asal daerah yang ketuanya adalah Aziz Akbar, « orang
> Padang » ; sekretarisnya Z. Afif, « orang Aceh ». Sedangkan anggota-
> anggotanya adalah Kusni Sulang, « orang Dayak » ; Sukaris, « orang
> Madura » ; dan saya sendiri, « orang Betawi ».
>
> Sudah bisa diperkirakan dengan mudah, bahwasanya bagi sebagian besar
> generasi muda, kelima pengarang itu tidak dikenalnya. Meski apapun
> terjadi, dengan segala suka-duka hidup di tanah rantau yang
> berkepanjangan, mereka tetap eksis. Eksis sebagai insan biasa maupun
> sebagai seniman. Dan terutama sekali hasil kreasi mereka takkan bisa
> dipisah apalagi dihapuskan dari lembaran sejarah kesusastraan
> Indonesia. Mereka adalah bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia,
> yang diperkokoh dengan hasil kreativitas sastra mereka pula. Hasil
> sastra pertanda kongkret pengayoman bahasa Indonesia. Apalagi orang
> macam Afif yang memang ahli bahasa Indonesia.
>
> Seperti diketahui, Z. Afif selain sebagai penulis yang menyiarkan
> tulisannya di beberapa media massa cetak, juga sebagai penyiar dan
> tenaga pengajar bahasa Indonesia. Sebagai penyiar, dia pernah
> menangani siaran sastra di Radio Republik Indonesia Jakarta. Di luar
> negeri, pernah bertugas di pemancar radio Korea Utara dan Vietnam
> Utara. Sedangkan sebagai ahli bahasa, dia pernah menjadi tenaga
> pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Guangzhou Institut of Foreign
> Languages di Kanton, China. Dalam kesempatan itu pulalah dia
> menerbitkan bukunya berjudul « Sastra Indonesia, Angkatan dan
> Periodisasi ». Sebagai salah satu judul dari beberapa buku-bukunya
> yang belum kesempatan diterbitkan. Seperti « Sastra Indonesia Klasik,
> Apa dan Bagaimana Akronim dan Singkatan Indonesia » ; « Berkelana di
> Bumi Zhongguo » dan « Arus dan Darah », sebuah kumpulan sajak.
>
> Selama tinggal di Eropa, seberkas tulisan Afif kami siarkan di
> majalah seni & sastra « Kreasi ». Diantaranya mengisi buku kumpulan
> puisi berjudul « Di Negeri Orang » yang diterbitkan bersama oleh YSBI
> Amsterdam dan Amanah Lontar Jakarta tahun 2002. Saya manfaatkan
> kesempatan ini untuk menurunkan beberapa sajak-sajaknya sebagai
> berikut :
>
>
> Musim Dingin
>
> angin musim dingin
> kering dan beku
> sepiala arak maotai
> belum apa-apa
> mendekat ke nyala tungku
> dalam luar
> hangat menjalar
>
> Kuil
>
> merentang dawai-dawai mentari binar berbinar
> juntai willow - lenggok pucuk cemara
> menari-nari di bening telaga
> gending bergending lonceng alit dipetik angin
> iringi gaung suara berkisah zaman
> nasib mereka para pereka dan pencipta
>
> Rindu
> sibayak sinabung
> ale baya kunandung
> bila rindu terkurung
> kabar saja tiba ke kampung
>
> (Dipetik dari kupuisi « Di Negeri Orang », AKI).
>
> Seketika saya pun merindu. Kita merindu - seperti kerinduan Bang
> Afif. Seberkas kenangan membekas yang layak ditimang-timbang sayang.
> Semasa di Nusantara. Semasa di Mancanegara. Seperti harimau mati
> meninggalkan belang, nama Zainal Afif kan tergores abadi dalam
> lembaran sejarah kesusastraan Indonesia.
>
> (AKI)
>
>
>
>
>
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Fw: Kontributor Pantau Zainal Afif Meninggal Dunia