[ppi] [ppiindia] Fw: CATATAN BELAJAR SEORANG AWAM: MEMBACA "THE AUSTRALIAN POEMS 2003"
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 29 Apr 2004 04:04:55 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
CATATAN BELAJAR SEORANG AWAM:
MEMBACA "THE BEST AUSTRALIAN POEMS 2003"
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada El
Camino di Melbourne yang telah mengirimkan buku-buku sangat berharga ke alamat
saya di Paris. Kiriman ini tidak lain dari ujud rasa persahabatan tulus dan
dalam, sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan dan dalam pertarungan
memenangi hidup yang tidak ramah ini.Persahabatan tulus tidak bisa dinilai
dengan apapun, apalagi dalam kehidupan ini, ia sering terasa sebagai sesuatu
yang langka. Buku-buku terbaru yang dikirimkan oleh El Camino adalah "Granta",
The Magazine of New Writing/62 dan "The Best Australian Poems 2003"[Black Inc,
Melbourne Victoria, 2003, 369 hlm.].
Majalah Granta/1962 umumnya berisikan tulisan-tulisan tentang Indonesia, muatan
yang memperlihatkan betapa dekatnya Australia dan Indonesia, lepas dari
rupa-rupa masalah yang dihadapi oleh kedua bangsa dan negeri. Dilihat dari
kepentingan kedua bangsa dan negeri, maka sebenarnya kerjasama antara mereka
berdua merupakan suatu kemutlakan untuk kepentingan rejional yang kemudian
tentu berpengaruh untuk kawasan geografis lebih luas. Apalagi jika Australia
sebagai nasion lebih memperhatikan Asia sesuai dengan letak geografisnya dan
merasakan dirinya bagian dari kawasan di mana ia terletak secara geografis.
Saya kira, dari pihak Indonesia pun, sudah selayaknya memberi perhatian khusus
terhadap Australia sebagai negara dan bangsa penting, salah satu tetangga
terdekat yang berpengaruh di Oceania. Untuk ini, kiranya sudah pantas jika
Indonesia mempunyai politik Australia yang ilmiah dan tidak emosional dan
kira-kira. Karena pilihan politik sebenarnya bukan soal kira-kira tanpa dasar p
engetahuan. Bahwa Australia dalam referandum yang mereka selenggarakan
beberapa tahun lalu masih memilih sebagai bagian dari Kerajaan Britania Raya
[Great Britain], hal ini adalah masalah dalam negeri dan pilihan mayoritas
rakyatnya. Yang terpenting bagi Indonesia, bahwa Australia itu ada, dan
eksistensinya merupakan kenyataan yang tak terpungkirkan, sama tak terbantahkan
bahwa ia merupakan kekuatan di Pasifik serta merupakan salahsatu negeri
terdekat kita. Jika menggunakan istilah teman-teman di Flinders University,
Adeleide, untuk melukiskan kedekatan ini "Indonesia adalah pintu gerbang
Australia". Dalam studi Indonesia, Australia telah memunculkan nama-nama
bertaraf dunia seperti alm. Herb. Feith, Robert Cribb atau tokoh seperti Keith
Foulcher, David T Hill, Krisna Sen dalam bidang sastra-seni. Karena itu
bukanlah kebetulan jika studi Indonesia sangat berkembang di negeri jiran
selatan ini. Dan di Indonesia, adakah studi Australia yang serius? Tidak adakah
yang bisa dipe
lajari dari negeri ini?
Sebagai bangsa dan negara, Australia makin hari makin memperlihatkan potensinya
di jajaran dunia dalam berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, olahraga dan juga
sastra-seni. Barangkali dalam banyak bidang Indonesia sudah jauh ketinggalan
seperti halnya kita sudah tertinggal dari Malaysia dan Singapura. Potensi ini
misalnya diperlihatkan melalui kepercayaan dunia kepada Australia untuk
menyelenggarakan Olympiade.Sedangkan di bidang sastra, potensinya ditunjukkan
oleh perolehan Nobel Sastra yang diserahkan pada kepada penulis roman Patrick
White. Apakah Indonesia sudah mencapai taraf Australia dalam berbagai bidang,
misal di bidang sastra? Hadiah Nobel sastra, barangkali merupakan salah satu
ukuran untuk melihat perkembangan kehidupan sastra suatu negeri dari segi
internasional. Apakah Indonesia sudah ada yang mendapatkan hadiah Nobel sastra?
Berangkat dari keadaan ini maka dalam diri saya muncul pertanyaan yang
menggelitik: Apa rahasia kemajuan ini kalau saya mempercayai bahwa s
ecara kemampuan, orang Indonesia sebenarnya tidak kalah dari bangsa manapun?
Sebagai contoh: Untuk mengirimkan sputnik ke ruangangkasa, di dalam usaha ini
terdapat seorang tenaga ahli cahaya Indonesia. Dalam masalah penanganan
penyakit kanker, di tingkat dunia, paling tidak tercatat dua nama dokter asal
Indonesia yang kedua-duanya lulusan Jerman. Sayangnya tenaga-tenaga ini
kemudian tidak dimanfaatkan oleh Indonesia dan dimanfaatkan oleh negara-negara
lain sehingga terkesan pada saya telah terjadi semacam brain drain. Lalu,
tidakkah jawaban pertanyaan ini akan berguna bagi Indonesia, jawaban yang
semestinya patut diperoleh dalam rangka mewujudkan kecintaan kita kepada
tanahair dan bangsa sebagai bagian dari umat manusia di "desa kecil" planet
bumi kita? Terhadap pertanyaan ini, saya melihat kepada kemampuan kita
membangun masyarakat sipil di Indonesia, dalam masyarakat mana dijamin
kebebasan akademi, keleluasan bertanya dan mencari jawab, dan mengungkapkan
diri. Apakah dalam
hal ini selama sekian dasawarsa kita tidak terkungkung? Adanya keleluasaan
bertanya dan mencari jawab, adanya kebebasan mimbar alias kebebasan akademi dan
mengungkapkan diri, memungkinkan kita mencari sumber kebenaran lain di luar
wahyu. Otoritarianisme dalam segala ujud dan namanya, demikian pula feodalisme
lama dan baru, apalagi militerisme, tidak memungkinkan adanya hal-hal dasar
yang diperlukan untuk kemajuan serta pengembangan potensi diri baik secara
individual maupun secara kolektif.
Membandingkan keadaan kita dan Australia, barangkali di sinilah terletak
kelebihan Australia. Dengan adanya syarat-syarat sebagai masyarakat sipil,
Australia mampu mengembangkan segala potensi yang dia miliki, baik secara
individual maupun sebagai suatu kolektif masyarakat. Individu dan kolektif
tidak terjaring jala kekangan dan batasan. Di dalam dunia sastra-seni hal ini
merupakan syarat utama yang yang tidak bisa dilakukan tawar-menawar. Tapi
justru di bidang sastra-seni inilah di negeri kita terjadi banyak sekali
pemasungan bahkan berlangsung ketika karya itu masih dalam rencana seperti
halnya yang terjadi dengan rencana membuat filem tentang seorang ibu yang
mencuri ayam karena didesak kemiskinan lantas dihukum penjara selama tiga
bulan. Belum lagi pelarangan demi pelarangan yang ditimpakan kepada terutama
terhadap para penulis dari Lembaga Kebudayaan Lekra [Lekra] yang secara
organisasi dinyatakan masih terlarang sejak tahun 1965. Pelarangan terhadap
karya-karya Pramoedy
a A. Toer pun sampai sekarang masih saja belum dicabut. Di samping adanya
pelarangan formal, negeri kita masih mengenal batasan prasangka dan ketidak
toleranan terhadap perbedaan dan keragaman yang bisa dipandang sebagai tekanan
dan pagar psikhologis.
Faktor lain yang berperan dalam perkembangan sastra Australia, barangkali bisa
diperoleh pada kedekatannya dengan sastra Inggris dan Amerika. Kedekatan yang
gampang dipahami karena tiga negeri tersebut sama-sama menggunakan bahasa
Inggris sebagai sarana pengungkapan. Kedekatan ini selain memperlihatkan
akrabnya karya-karya penulis kedua negeri tersebut seperti Walt Whitman, T.S.
Eliot, untuk menyebut dua nama saja, dengan para penulis Australia, ia pun
nampak pada keadaan seperti yang ditunjukkan oleh Peter Craven dalam Kata
Pengantar-nya bahwa sesudah membangun nama di Australia, tidak sedikit dari
para penulis Australia yang lalu menetap atau tinggal di Inggris dalam rangka
pengembangan diri lebih lanjut. Hal ini misalnya dilakukan oleh Peter Porter
yang kemudian tinggal di London. Tingkat pendidikan penulis dan pembaca
Australia pun saya kira turut memainkan peranan. Peter Craven bahkan sampai
pada kesimpulan bahwa sastra Inggris "telah menyulut api kehidupan dari semak-s
emak hingga ke pantai-pantai Australia dan mendorong usaha perenungan diri".
Hasil dari hidup berkembangnya masyarakat sipil dan kondisi demikian, tercermin
juga melalui buku "The Best Australian Poems 2003" yang disunting oleh Peter
Craven. Antologi ini merupakan antologi pertama yang diterbitkan di Australia
yang menghimpun karya-karya penyair kekinian Australia. Seluruhnya terdiri dari
38 orang penyair mencakup para penyair terkemuka seperti Les Murray, David
Malouf, Bruce Dave, Clive James, Robert Adamson, dan lain-lain... sampai kepada
yang belum bernama atau sedang memulai karir sebagai penyair.
Untuk menyusun bungarampai pertama ini, Peter Craven tidak melepaskan perhatian
terhadap para penulis yang baru memasuki dunia kepenyairan atau yang sedang
membangun karir kepenyairan atau bahkan yang belum bernama sekalipun.
Penyair-penyair jenis ini dipandang oleh Peter Craven sebagai the "'coming'
voices" ["suara hari depan"] atau "the newer voices" [suara terbaru] Australia.
Jika dalam antologi pertama puisi terbaik ini karya-karya mereka kurang
terwakili, Peter Craven menjanjikan dalam edisi mendatang akan memberikan
tempat kepada mereka. Melalui antologi ini yang direncanakan bersifat serial,
Peter Craven ingin mencerminkan dunia puisi kekinian Australia yang dinilainya
sebagai "very high level" [sangat tinggi tarafnya"] dan "sangat kaya".
Pendapat Craven ini nampaknya bersambungan dengan pendapat kritikus sastra
Frank Kermode yang mengatakan bahwa "setelah Perang Dunia II, nasib mujur telah
jatuh ke tangan para penyair Australia. Pada saat tersebut, perpuisian
Australia berada dalam keadaan jauh lebih baik dari dunia perpuisian Inggris".
Craven selanjutnya berkata bahwa "tanpa usah bersepakat dengan pendapat Frank
Kermode, tapi adalah kenyataan bahwa puisi Australia memang sangat indah"
sebagaimana diperlihatkan oleh para penyair Australia angkatan pertama seperti
James McAuley dan A.D. Hope yang menjadi klasik serta menurun ke
angkatan-angkatan berikutnya. Barangkali para pengamat sastra, editor dan
kritisi sastra negeri kita patut merenungkan sikap dan politik edukatif Peter
Craven ini untuk pengembangan sastra di negeri kita.
Sekalipun tanpa penjelasan yang rinci dan tanpa mengetengahkan dasar alasan,
dalam Kata Pengantar-nya atas antologi ini, Peter Craven sepintas menggambarkan
periodisasi perkembangan puisi Australia. Peter Craven memilah-milah
pertumbuhan puisi Australia atas dasar dasawarsa. Misalnya ia menyebut Periode
"bush balladeers" [yang barangkali setara dengan puisi rakyat di berbagai pulau
di Indonesia] sebagai periode awal, kemudian adanya periode sesudah Perang
Dunia II, di susul oleh periode 1950-'60, periode 1960-'70 yang melahirkan
"raksasa-raksasa penyair" seperti Gwen Harwood dan Vincent Buckley. Pada
periode 1960-'70, secara sepintas juga menyebut adanya Angkatan Penyair '68
dengan tokoh utamanya penyair John Konsella.Seperti kita ketahui, pada periode
ini di dunia telah terjadi tiga peristiwa besar yang mempunyai dampak dunia
yaitu Tragedi Nasional September 1965 di Indonesia, Revolusi Besar Kebudayaan
Proletar di Republik Rakyat Tiongkok [1967] dan Revolusi Mei 1968 di Per
ancis. Agaknya tiga kejadian besar ini sampai juga ke Australia. Penyair
Angkatan '68 ini sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran pemikir William Carlos
Williams.
Di samping itu Peter Craven juga menyebut adanya periode 1970-'80 dan angkatan
penyair kekinian dan generasi pertama dengan tokoh seperti James McAuley dan
A.D. Hope. Yang luput dari perhatian Peter Craven adalah sasta Aborigin
Australia. Boleh jadi hal ini terjadi karena kekurangan-cermatan belaka.
Tema-tema yang diangkat oleh 38 penyair dalam bunga rampai ini pun sangat
beragam. Kensella, tokoh utama Angkatan '68 misalnya sangat banyak mengangkat
masalah masyarakat dan sekitarnya yang ia anggap sebagai "museum imajinasi yang
diimpikan", sedangkan penyair Bruce Beaver menulis sanjak-sanjak pribadi dan
otobiografis dengan tekhnik yang matang. Penyair Geoffrey Lehman melukiskan
masalah keluarga. Tema matafisik didapat pada sanjak-sanjak Maiden, sementara
penyair Robert Adamson menggunakan lambang-lambang alam untuk melakukan
renungan-renungan. Soal politik, perang, terorisme dan bahkan soal
fundamentalisme dan Peristiwa 11 September merupakan tema-tema yang banyak pula
diangkat oleh para penyair Australia seperti Bruce Dave, Jennifer Maiden,
Cronin, Geoff Page, Bruce Beaver. Dilihat dari masalah tema-tema yang diolah
oleh para penyair, sangat beralasan jika Peter Craven menyebut bahwa
karya-karya para penyair Australia memang merupakan salah satu cermin dari
masyarakat Au
stralia, dan akan lebih tercermin lengkap jika soal Aborigin ikut terangkat.
Tema-tema ini tentu saja dituangkan dalam berbagai gaya dan cara yang sekaligus
memperlihatkan keragaman bentuk ekspresi dunia perpuisian Australia.
Antologi "The Best Australian Poems 2003" merupakan introduksi yang
menggerakkan rasa ingin kenal dan ingin tahu lebih lanjut akan sastra,
khususnya dunia perpuisian Australia dan segala permasalahan yang dihadapinya
serta bagaimana mereka menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Bunga
rampai ini juga, terutama dari penyunting, kita bisa belajar bagaimana
selayaknya bersikap dan bertindak untuk mendorong dan mengembangkan kekayaan
yang dimiliki, terutama terhadap the "coming voices" dan "the newer voices" .
Rasa ingin kenal dan ingin tahu ini akan lebih terangsang jika dalam Kata
Pengantarnya, Peter Craven berbicara lebih rinci dan sistematik. Barangkali
hal ini kita dapatkan pada penerbitan serie berikutnya.
Paris, April 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Fw: CATATAN BELAJAR SEORANG AWAM: MEMBACA "THE AUSTRALIAN POEMS 2003"