[ppi] [ppiindia] "Frans Magnis Menolak Pluralisme Agama"
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 2 Mar 2005 22:43:57 +0100
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Hidayatullah.com, Sabtu, 26 Pebruari 2005
"Frans Magnis Menolak Pluralisme Agama"
Tokoh Katolik Indonesia yang banyak dikenal, Prof. Dr. Frans Magnis Suseno
menolak "Pluralisme Agama". Jika Katolik saja menolak Pluralisme Agama,
apalagi Islam!. Baca CAP, Adian Husaini ke-91
Pada tanggal 2 Februari 2005 lalu saya ke Jakarta dan menemui Prof. Dr.
Frans Magnis Suseno, seorang tokoh Katolik terkenal di Indonesia dan
Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Cukup lama kami
berdiskusi tentang berbagai hal seputar masalah agama dan khususnya masalah
Gereja Katolik dan Konsili Vatikan II. Di akhir pertemuan, Frans Magnis
memberi saya sebuah hadiah berupa buku karyanya yang berjudul "Menjadi Saksi
Kristus di Tengah Masyarakat Majemuk¨.
Di antara yang menarik untuk kita bahas pada catatan kali ini adalah
pembahasan Frans Magnis Suseno tentang pluralisme agama. Secara tegas, dalam
bukunya, Frans Magnis menolak paham tersebut. Bagi saya, pendapat Frans
Magnis itu menarik, sebab selama ini saya menyangka, dia seorang pendukung
pluralisme agama, mengingat ada sejumlah muridnya dari kalangan orang Muslim
yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan kini rajin
menyebarkan paham tersebut.
Berikut ini kita kutipkan pendapat Frans Magnis tentang pluralisme agama.
Pluralisme agama, kata Magnis, sebagaimana diperjuangkan di kalangan Kristen
oleh teolog-teolog seperti John Hick, Paul F. Knitter (Protestan) dan
Raimundo Panikkar (Katolik), adalah paham yang menolak eksklusivisme
kebenaran. Bagi mereka, anggapan bahwa hanya agamanya sendiri yang benar
merupakan kesombongan. Agama-agama hendaknya pertama-pertama memperlihatkan
kerendahan hati, tidak menganggap lebih benar daripada yang lain-lain.
Teologi yang mendasari anggapan itu adalah, kurang lebih, dan dengan rincian
berbeda, anggapan bahwa agama-agama merupakan ekspresi religiositas umat
manusia. Para pendiri agama, seperti Buddha, Yesus, dan Muhammad merupakan
genius-genius religius, mereka menghayati dimensi religius secara mendalam.
Mereka, mirip dengan orang yang bisa menemukan air di tanah, berakar dalam
sungai keilahian mendalam yang mengalir di bawah permukaan dan dari padanya
segala ungkapan religiositas manusia hidup. Posisi ini bisa sekaligus
berarti melepaskan adanya Allah personal. Jadi, yang sebenarnya diakui
adalah dimensi transenden dan metafisik alam semesta manusia. Namun, bisa
juga dengan mempertahankan paham Allah personal.
Masih menurut penjelasan Frans Magnis Suseno, pluralisme agama itu sesuai
dengan "semangat zaman¨. Ia merupakan warisan filsafat Pencerahan 300 tahun
lalu dan pada hakikatnya kembali ke pandangan Kant tentang agama sebagai
lembaga moral, hanya dalam bahasa diperkaya oleh aliran-aliran New Age yang,
berlainan dengan Pencerahan, sangat terbuka terhadap segala macam dimensi
"metafisik¨, "kosmis¨, "holistik¨, "mistik¨, dsb. Pluralisme sangat sesuai
dengan anggapan yang sudah sangat meluas dalam masyarakat sekuler bahwa
agama adalah masalah selera, yang termasuk "budaya hati¨ individual, mirip
misalnya, dengan dimensi estetik. Dan bukan masalah kebenaran. Mengkliam
kebenaran hanya bagi diri sendiri dianggap tidak toleran. Kata "dogma¨
menjadi kata negatif. Masih berpegang pada dogma-dogma dianggap ketinggalan
zaman.
Paham 'Pluralisme Agama', menurut Frans Magnis, jelas-jelas ditolak oleh
Gereja Katolik. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan penjelasan "Dominus
Jesus." Penjelasan ini, selain menolak paham 'Pluralisme Agama', juga
menegaskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantaran
keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui
Yesus. Di kalangan Katolik sendiri, "Dominus Jesus" menimbulkan reaksi
keras. Frans Magnis sendiri mendukung "Dominus Jesus" itu, dan menyatakan,
bahwa "Dominus Jesus" itu sudah perlu dan tepat waktu.
Menurutnya pula, 'Pluralisme Agama' hanya di permukaan saja kelihatan lebih
rendah hati dan toleran dari pada sikap inklusif yang tetap meyakini
imannya. Bukan namanya toleransi apabila untuk mau saling menerima dituntut
agar masing-masing melepaskan apa yang mereka yakini. Ambil saja sebagai
contoh Islam dan kristianitas. Pluralisme mengusulkan agar masing-masing
saling menerima karena masing-masing tidak lebih dari ungkapan religiositas
manusia, dan kalau begitu, tentu saja mengklaim kepenuhan kebenaran tidak
masuk akal. Namun yang nyata-nyata dituntut kaum pluralis adalah agar Islam
melepaskan klaimnya bahwa Allah dalam al-Qur'an memberi petunjuk definitif,
akhir dan benar tentang bagaimana manusia harus hidup agar ia selamat,
dengan sekaligus membatalkan petunjuk-petunjuk sebelumnya.
Dari kaum Kristiani, kaum pluralis menuntut untuk mengesampingkan bahwa
Yesus itu "Sang Jalan", "Sang Kehidupan" dan "Sang Kebenaran", menjadi salah
satu jalan, salah satu sumber kehidupan dan salah satu kebenaran, jadi
melepaskan keyakinan lama yang mengatakan bahwa hanya melalui Putera manusia
bisa sampai ke Bapa.
Terhadap paham semacam itu, Frans Magnis menegaskan: "Menurut saya ini tidak
lucu dan tidak serius. Ini sikap menghina kalau pun bermaksud baik.
Toleransi tidak menuntut agar kita semua menjadi sama, bari kita bersedia
saling menerima. Toleransi yang sebenarnya berarti menerima orang lain,
kelompok lain, keberadaan agama lain, dengan baik, mengakui dan menghormati
keberadaan mereka dalam keberlainan mereka! Toleransi justru bukan
asimilasi, melainkan hormat penuh identitas masing-masing yang tidak sama.¨
Itulah sikap dan pandangan seorang tokoh Katolik terhadap paham Pluralisme
Agama. Jelas, bahwa Vatikan sendiri menolak paham tersebut. Karena itu,
kadang-kadang kita heran, bahwa diantara kaum Muslim sendiri ada yang
membuat kesan seolah-olah Vatikan V melalui Konsili Vatikan II , V sudah
mengubah menjadi pluralis. Padahal tidaklah demikian, sebagaimana ditegaskan
oleh Frans Magnis Suseno.
Tentulah kaum Muslim yang meyakini kebenaran aqidahnya juga sangat menolak
paham semacam ini. Bagi seorang Muslim, tentu hanya Islam, sebagai
satu-satunya institusi agama yang benar. Artinya, jika orang mau selamat di
dunia dan akhirat, Islam-lah jalannya. Bukan yang lain. Ini tidak berarti
setiap orang yang mengaku atau disebut Muslim pasti selamat, sebab itu
sangat tergantung kepada pribadinya. Bisa jadi, dia murtad atau membatalkan
imannya sendiri. Yang lucu, tentu adalah manusia-manusia yang tetap mengaku
sebagai Muslim tetapi pada saat yang sama juga rajin menyebarkan paham
'Pluralisme Agama'. Tambah lucunya lagi, orang-orang itu juga menjadi
pengurus organisasi Islam.
Paham 'pluralisme Agama' atau teologi pluralis itu sebenarnya adalah paham
untuk menghilangkan sifat ekslusif ummat Islam. Artinya dengan paham ini
ummat Islam diharapkan tidak lagi bersikap fanatik, merasa benar sendiri dan
menganggap agama lain salah. Menurut John Hick, tokoh pluralisme agama,
diantara prinsip pluralisme agama menyatakan bahwa agama lain adalah
sama-sama jalan yang benar menuju kebenaran yang sama (Other religions are
equally valid ways to the same Truth).
Di kalangan Kristen juga muncul keganjilan. Penyebaran paham ini diantaranya
juga dilakukan kalangan gereja melalui sekolah-sekolah teologi Kristen dan
Universitas Kristen. Bahkan ada kelompok-kelompok misionaris Kristen yang
juga rajin menyebarkan paham ini, disamping paham sekularisme.
Fenomena semacam itu bisa dilihat sebagai salah satu bentuk perang pemikiran
terhadap kaum Muslim, sebab mereka sadar, 'Pluralisme Agama' memang paham
yang membunuh dasar-dasar agama itu sendiri. Karena itu, sebagai seorang
rohaniwan Katolik, wajar jika Frans Magnis Suseno menolak keras-keras paham
tersebut. Jika Katolik saja menolak paham tersebut, maka adalah aneh dan
ajaib jika ada sebagian di kalangan kaum Muslim yang ikut-ikutan menyebarkan
paham ini.
Sekarang, banyak organisasi Islam yang terjebak atau menjebakkan diri turut
menyebarkan paham ini. Apalagi, ada LSM Asing yang rajin membiayai
program-program penyebaran 'Pluralisme Agama', seperti The The Asia
Foundation (TAF).
Dalam websitenya, TAF menyebutkan, bahwa karena menyadari akan pentingnya
nilai-nilai inklusif dan pluralis dalam masyarakat Muslim Indonesia yang
mayoritas, maka TAF telah memberikan bantuan kepada berbagai ormas Islam
sejak tahun 1970-an. Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia yang semakin
beragam, TAF kini membantu lebih dari 30 kelompok LSM dalam upaya mereka
mempromosikan konsep bahwa nilai-nilai Islam itu dapat menjadi asas bagi
sistim politik demokratis, anti-kekerasan dan toleransi beragama. Dalam
kaitannya dengan pendidikan sipil, HAM, penyatuan antar komunitas, persamaan
gender, dialog antar agama, T AF bekerjasama dengan LSM-LSM yang ormas-ormas
dalam usaha mereka menjadikan Islam sebagai media untuk demokratisasi di
Indonesia.
Program-programnya termasuk training tokoh-tokoh agama, kajian tentang isu
gender dan hak asasi manusia dalam Islam, pelajaran tentang pendidikan sipil
pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, pusat pembelaan terhadap wanita
Muslim dan memperkuat media Islam yang pluralis dan toleran.
(http://www.asiafoundation.org/Locations/indonesia.html
)
Jadi, dengan berselubung pada isu demokrasi, toleransi, dan sebagainya,
paham 'Pluralisme Agama' ini terus disebarkan di kalangan Muslim. Karena
Muslim ada mayoritas di Indonesia, maka dampak besar dari penyebaran paham
ini akan menimpa kaum Muslim. Karena itu, kita sungguh sedih dan prihatin
terhadap orang-orang dari kalangan Muslim yang rajin menyebarkan paham ini.
Apa pun motifnya. Paham 'Pluralisme Agama' inilah yang dijadikan sebagai
salah satu dasar pembuatan Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam, yang
salah satu isinya adalah membolehkan wanita Muslimah menikah dengan
laki-laki non-Muslim. Tentu saja, mereka berpikir, bahwa agama apa saja
adalah sama dan satu agama tidak boleh mengklaim sebagai yang "benar
sendiri¨. Paham ini juga berdampak pada munculnya pendapat bahwa tidak boleh
kaum Muslim mengklaim hanya al-Quran saja satu-satunya 'Kitab Suci' saat
ini. Seorang tokoh penyebar paham ini pernah menulis di media massa, bahwa
"all scriptures are miracles¨(Semua Kitab agama-agama adalah mukjizat).
Sebagai Muslim kita memiliki keyakinan yang berbeda dengan Frans Magnis
Suseno. Kita bisa menunjukkan banyak ayat al-Quran yang memberikan kritik
keras terhadap keyakinan kaum Kristen terhadap Yesus. Sejak awal mula,
Rasulullah saw sudah menunjukkan sikap kritis semacam itu. Namun, pada saat
yang sama, Islam juga mengakui eksistensi kaum Kristen, dan tidak
diperbolehkan menganiaya mereka karena perbedaan agama. Mereka, bahkan
disebut kafir 'Ahlul Kitab', dan begitu banyak ajaran Islam yang berkaitan
dengan mereka.
Disamping perbedaan yang mendasar, tentu ada beberapa persamaan sikap antara
Muslim dengan Katolik, seperti dalam hal 'Pluralisme Agama', sikap terhadap
homoseksual, dan sebagainya. Namun, adanya berbagai persamaan antar
agama-agama, tidak perlu menjadikan semua agama itu menjadi satu atau
membuat agama baru yang bernama 'Pluralisme Agama¨. Dan sebagai Muslim yang
meyakini kebenaran eksklusif aqidah Islam, kita bisa menjadikan pendapat
Frans Magnis tentang 'Pluralisme Agama' ini sebagai hikmah: "Jika Katolik
saja menolak Pluralisme Agama, apalagi Islam." Wallahu a'lam. (KL, 24
Februari 2005).
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: