[ppi] [ppiindia] FW: ANANDA FAIZ TERCINTA; CATATAN KECIL DARI ORANGTUA BIASA
- From: "Listy" <listy@xxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "[ppiindia] (E-mail)" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 28 Jan 2004 09:56:53 +0700
** ppi-india **
ANANDA FAIZ TERCINTA; CATATAN KECIL DARI ORANGTUA BIASA
(Disampaikan pada peluncuran buku kumpulan puisi Untuk Bunda dan Dunia, karya
Abdurahman Faiz, 27 januari 2004)
Belum lama ini, melalui sebuah mailing list, seseorang mengirimkan 'puisi'
untuk Faiz. Isinya kurang lebih meminta Faiz untuk menulis sebagaimana anak
lainnya. Ia menyarankan Faiz menulis tentang gunung, awan serta pemandangan
lainnya, tentang nenek, kakek, tentang es krim, pesawat, mobil, dan semacamnya.
Itu saja. Menurut si pengirim, 'biarlah urusan politik diurus oleh Pak De
Hamzah Haz, Pak De Amin Rais, Bu De Megawati dan Om Kwik Kian Gie". Lebih jauh
ia meminta Faiz untuk tidak berpuisi, melainkan bermain sepuas-puasnya
sebagaimana anak lain seusia Faiz.
Apakah komentar Faiz tentang hal ini? Dia tersenyum. "Lagi-lagi orang dewasa
yang tidak demokratis," ujarnya sambil ngeloyor pergi bermain bersama
teman-temannya. "Yang nulis seperti itu kan sudah banyak. Aku juga sering
menulis hal itu, juga tentang kucingku waktu aku kecil."
Kami sendiri terbahak manakala membaca tulisan tersebut. Tanpa disuruhpun Faiz
dengan senang hati bermain sepeda, basket, sepak bola, gundu, berenang, bahkan
kadang-kadang computer games. Dan di luar puisinya yang beredar di internet,
sebenarnya Faiz memiliki banyak puisi lain-tentang dunia anak bawah 10 tahun
yang disebut-sebut itu.
Sejumlah orang menduga Faiz kutu buku dan sangat serius. Tidak. Sejauh ini, ia
bahkan lebih suka bermain ketimbang membaca atau menonton televisi. Ia juga
humoris dan sangat menikmati masa kanak-kanaknya.
Tapi Faiz gemar bertanya. Rasa ingin tahunya besar. Pada usia empat tahun, ia
bertanya tentang bagaimana bentuk angin, mengapa Allah tidak terlihat, mengapa
mata kita berkedip dan banyak lagi. Ia pun suka bermain peran dan bercerita.
Entah mengapa, hampir semua peran dan ceritanya mengenai orang-orang 'kecil' di
negeri ini.
"Bunda, sekarang pura-puranya aku jadi tukang koran ya!" Atau: "Bunda, sekarang
aku jadi anak tukang jual kue ya!" Dan: "Aku sedang jadi supir angkot yang
kecapekan!"
Ia sering bercerita tentang temannya. Kadang teman yang sebenarnya, dan kadang
tentang teman imajinernya. Ketika kami bertanya tentang Mimis-- anak seumurnya
yang diceritakannnya sebagai korban kerusuhan 1998-- Faiz tertawa "Bunda,
bunda. Itu kan cuma teman khayalanku saja!"
Ia juga mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak terduga. "Aku mencintai Bunda
seperti aku mencintai surga." Lalu: "Aku ingin Allah mencium ayah bunda dalam
tamanNya terindah nanti." Atau: "Bunda, apakah cinta selalu menyediakan
airmata?" Kami sering menyediakan waktu panjang untuk sekadar ngobrol dan
merekam apa yang diucapkan Faiz sejak ia kecil. Kelak, setelah Faiz duduk di
TK, kami menyemangatinya bahwa apa yang ia ucapkan sangat puitis dan bila
ditulis akan menjelma puisi yang sangat indah.
Pada usia enam tahun, Faiz menjadi montir kecil yang menolong Bundanya
mengembalikan file yang tak sengaja terhapus di komputer kami. Ia juga yang
mengajari Oma-nya menggunakan fasilitas sms. Ia mengajari om dan tantenya
menggunakan kamera digital, PDA dan handycam. Dia masih sering bicara soal
cinta dan gemar meledek ayahnya. "Cintaku pada Bunda sebesar Amerika Serikat,"
katanya suatu ketika. "Kalau cinta Faiz pada ayah?" tanya kami. "Sebesar
Timor-timur," jawabnya sambil tergelak-gelak. Pada tahun 2001 itu, Timor-timur
sedang jadi berita karena dalam proses lepas dari Indonesia.
Saya jadi ingat kecemasan John Naisbitt dalam bukunya 'High Tech, High Touch'
tentang orang-orang tua yang kehilangan kendali atas anak-anaknya karena
anak-anak mereka lebih fasih dalam teknologi. Saya bersyukur Faiz sejauh ini
masih terkendali.
Ketika Faiz memenangkan lomba menulis surat pada presiden, mulai muncul
pertanyaan, "Bagaimana caranya mendidik anak supaya menjadi seperti Faiz? Apa
yang diajarkan pada Faiz?" Pertanyaan seperti ini belakangan semakin sering
kami terima, seiring dengan beredarnya puisi-puisi Faiz di berbagai mailing
list di internet. Puisi-puisi ini beredar tidak sengaja karena semula kami
edarkan guna kalangan terbatas untuk memperoleh umpan balik dan endorsement
dalam rangka penerbitan buku Faiz oleh Mizan.
Sesungguhnya kamilah yang banyak belajar dari Faiz. Anak ini punya empati besar
pada sekitar. Suatu hari ketika kami mengajaknya pergi naik angkutan kota 02
jurusan Cililitan, angkot tersebut berhenti di lampu merah Garuda-Taman Mini.
Di sana banyak anak jalanan mengemis dan mengamen. Faiz mencolek bundanya
dengan mata basah dan berkata, "Bunda, alasan apa yang menyebabkan kita tidak
menaruh mereka semua di rumah kita?" Dan: "Kalau jadi presiden, aku sih akan
sering datang melihat mereka."
Begitu juga bila ada tukang nasi goreng lewat di tengah malam---dan kebetulan
Faiz belum tidur-Faiz akan bertanya, "Bunda, alasan apa yang menyebabkan kita
tidak membeli nasi goreng malam ini?" Ketika bundanya berkata, "Nak, ini sudah
malam, kita sudah mau tidur. Kita pun sudah makan." Mendengar jawaban itu, Faiz
membalikkan badan dan menitikkan airmata. "Apa salahnya sih menolong orang?"
Tanpa kami ingatkan, sepertiga uangnya dari hasil lomba atau dari manapun,
selalu disumbangkan bagi mereka yang tak mampu. Ketika kami ajak untuk syukuran
HUT-nya di Panti Balita, Cipayung, Faiz berkata: "Tidak usah deh. Aku usul
kirim makanan enak aja buat mereka. Kan kasihan mereka ulangtahunnya nggak
pernah dirayakan, masak aku merayakan di sana?"
Kami mendidik Faiz dengan cara yang biasa, sebagaimana cara jutaan orang tua
lainnya di Indonesia. Kami membiasakan diri berdialog dengan Faiz, menyajikan
pilihan-pilihan yang tersedia baginya, berdiskusi tentang bagaimana ia dapat
memilih, menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan seterusnya. Sahabat kami, Santi
Soekanto, pernah menasihati kami, jauh sebelum Faiz lahir, agar tidak
memperlakukan anak dengan cara yang kekanak-kanakan.
Kami bersyukur karena Faiz mudah diajak dialog. Tapi kami lebih bersyukur
karena Faiz bukan tipe 'pak turut.' Ia selalu bertanya mengapa begini, mengapa
begitu sebelum melakukan sesuatu. Kadang kala memang melelahkan-sampai-sampai
sering kami harus mencari referensi tentang hal yang ia tanyakan. Tapi Faiz
terlatih untuk melakukan segala sesuatu dengan alasan.
Kami mendidik Faiz dengan cara biasa. Karena itu kami miris manakala gelombang
pujian berdatangan dari mana-mana, "Faiz anak luar biasa." Kami khawatir pujian
berlebihan ini mengecilkan room for error (ruang kesalahan) bagi Faiz. Dalam
batas-batas tertentu, Faiz masih butuh belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia
lakukan.
Kami juga khawatir pujian berlebihan ini membuat orang-orang tua lainnya
terhalang untuk memberi kesempatan yang sebesar-besarnya bagi anak mereka
masing-masing. Padahal kami yakin jika anak-anak punya kesempatan yang besar
untuk mengembangkan dirinya sendiri, niscaya kita akan menyaksikan lebih banyak
harapan yang tumbuh bagi Indonesia yang lebih baik.
Dan Faiz? Justru karena ia memiliki kepolosan kanak-kanak dan jiwa yang bersih,
kami yakin suara dalam puisinya adalah perasaan dan harapan yang sesungguhnya.
Bukan dusta sebagaimana yang dikira oleh seseorang di bawah ini:
From: <mailto:ikra@xxxxxxxxxxxxx> ikra@xxxxxxxxxxxxx
Sent: 11 Januari 2004 20:40
To: <mailto:islamliberal@xxxxxxxxxxxxxxx> islamliberal@xxxxxxxxxxxxxxx
Subject: Re: ~JIL~ Sajak Anak 8 Tahun Menjelang Pemilu
Karena ini ditulis oleh penyair kanak-kanak, maka komentar saya: Yah... bual
macem apa pulalah ini! Puisi itu bukan tempat untuk membual, Nak Faiz
===
Kami tak akan pernah memaksa Faiz untuk melakukan sesuatu, namun akan terus
mendorong Faiz untuk berkarya dalam lapangan apapun yang ia suka. Kami tak
ingin meremehkan kemampuan anak kami atau jutaan anak Indonesia lainnya. Mereka
cerdas dan mempunyai potensi yang luar biasa. Tinggal apakah kita mau
memperhatikan, mendorong dan memberikan ruang bagi mereka.
Kami bangga pada Faiz. Kami sayang padanya dan akan terus bekerja keras
mendidik serta mengembangkannya agar ia dapat tumbuh sebagaimana yang Allah
Ta'ala kehendaki baginya.
Silakan memberikan saran, kritik atau masukan bagi karya Faiz, Faiz atau bagi
kami.
Salam
Tomi Satryatomo ( <mailto:wisat@xxxxxxxxxx> wisat@xxxxxxxxxx)
Helvy Tiana Rosa ( <mailto:helvytr@xxxxxxxxxx> helvytr@xxxxxxxxxx)
sumber:
<http://www.groups.yahoo.com/group/Islam-Bersatu/>
http://www.groups.yahoo.com/group/Islam-Bersatu/
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] FW: ANANDA FAIZ TERCINTA; CATATAN KECIL DARI ORANGTUA BIASA