[ppi] [ppiindia] Ekonomi Rakyat Makin Terpojok

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=6114

Sabtu, 31 Des 2005,



Ekonomi Rakyat Makin Terpojok 
Revrisond Baswir

Tahun 2005 pantas disebut sebagai tahun gelap ekonomi Indonesia. Hal itu bisa 
disimak pada penurunan cadangan devisa dari 36 miliar dolar AS pada akhir 2004 
menjadi 34 miliar dolar AS saat ini. Hal tersebut juga tampak sangat mencolok 
dengan kenaikan harga BBM rata-rata 140 persen dan melambungnya angka inflasi 
dari di bawah 10 persen menjadi sekitar 18 persen sepanjang tahun ini.

Lebih dari itu, akibat kenaikan harga BBM dan lonjakan inflasi, 2005 juga 
ditandai dengan peningkatan jumlah pengangguran terbuka dan penduduk miskin. 
Jumlah pengangguran terbuka meningkat dari 10,2 juta jiwa pada akhir 2004 
menjadi 12 juta jiwa saat ini. Sementara itu, jumlah penduduk miskin meningkat 
dari 36,3 juta jiwa (16,6 persen) pada akhir 2004 menjadi 70 juta jiwa (33 
persen) saat ini.

Puncaknya adalah berlangsungnya perombakan Tim Ekuin Kabinet Indonesia Bersatu 
(KIB). Reaksi para pelaku pasar uang dan pasar modal terhadap Tim Ekuin 
pimpinan Budiono sejauh ini memang positif. Namun, dengan latar belakang 
masalah yang membelit ekonomi Indonesia serta arah kebijakan yang akan ditempuh 
Budiono, prospek ekonomi Indonesia 2006 patut diwaspadai.

Salah satu implikasi serius dari lonjakan angka inflasi sebesar 8 persen pada 
Oktober lalu adalah adanya kebutuhan untuk mengendalikan inflasi pada tingkat 
yang sangat rendah sepanjang 2006. Secara teoritis, hal itu bisa dilakukan 
pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dengan membatasi jumlah uang beredar dan 
membanjiri pasar dengan berbagai bahan kebutuhan pokok masyarakat.

Pada sisi pemerintah, upaya pembatasan jumlah uang beredar, antara lain, dapat 
dilakukan dengan menyelenggarakan kebijakan anggaran ketat. Artinya, seperti 
selama ini, APBN 2006 sulit dapat berperan sebagai stimulus untuk menggerakkan 
sektor riil. Bahkan, melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pajak, 
APBN 2006 dapat menjadi disinsentif bagi pergerakan sektor riil.

Pada sisi BI, hal itu, antara lain, dapat dilakukan dengan menaikkan tingkat 
suku bunga. Langkah peningkatan suku bunga itu sebenarnya sudah dilakukan 
secara bertahap oleh BI sejak beberapa waktu lalu. Pada September 2005, 
misalnya, BI menaikkan suku bunga SBI dari 9,5 persen menjadi 10 persen. 
Belakangan, menyusul kenaikan harga BBM, BI kembali menaikkan suku bunga SBI 
menjadi 12,25 persen.

Kombinasi kedua kebijakan itu, ditambah dengan dibukanya keran impor untuk 
menyediakan berbagai barang kebutuhan pokok masyarakat, biasanya efektif dalam 
mengendalikan inflasi. Meski demikian, tidak berarti kebijakan yang sangat 
prostabilitas makroekonomi tersebut sama sekali bebas dari biaya.

Salah satu harga yang harus dibayar kebijakan yang sesuai dengan amanat IMF itu 
adalah macetnya perkembangan sektor riil. Artinya, akibat kesulitan likuiditas, 
tidak sedikit perusahaan yang dipaksa untuk menghentikan kegiatannya. Itu tentu 
tidak hanya berdampak pada semakin meningkatnya pengangguran, tapi juga 
meningkatnya volume kredit macet sektor perbankan. 

Bahkan, sebagaimana terjadi pada 2004, ketika Budiono menjabat sebagai menteri 
keuangan, kebijakan yang terlalu mementingkan stabilitas makroekonomi itu 
sempat bermuara pada gejala deindustrialisasi. Kini, dengan duduknya Budiono 
sebagai Menko Perekonomian dan Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan, 
berlanjutnya gejala deindustrialisasi itu sangat mungkin akan terulang.

Selain bermuara pada mencuatnya gejala deindustrialisasi, harga lain yang harus 
dibayar oleh kebijakan yang lebih mengutamakan penciptaan stabilitas 
makroekonomi adalah semakin terpojoknya perkembangan ekonomi rakyat. 

Artinya, selain ditandai semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan 
yang disebabkan proses deindustrialisasi, kondisi ekonomi rakyat akan didera 
meningkatnya pengadaan berbagai barang kebutuhan pokok masyarakat, terutama 
berbagai komoditas pertanian, dengan cara mengimpor.

Gejala awal upaya pengadaan barang kebutuhan pokok masyarakat dengan cara 
mengimpor itu dapat disimak pada mencuatnya kontroversi mengenai beras impor. 
Di tengah-tengah impitan kenaikkan harga BBM dan lonjakan inflasi, arus masuk 
beras impor jelas merupakan pukulan telak bagi para petani. 

Karena itu, di tengah-tengah kondisi perekonomian rakyat yang semakin gawat, 
2006 patut diwaspadai sebagai tahun kemarahan rakyat. Wallahua'lam bissawab. 

*) Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM, Jogjakarta



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/SBefZD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: