[ppi] [ppiindia] Ekonomi 2004: Bergerak Dalam Lumpur
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Tue, 6 Jan 2004 20:39:39 +0100
** ppi-india **
Republika
Selasa, 06 Januari 2004
Ekonomi 2004: Bergerak Dalam Lumpur
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Oleh : Khudori
Khudori
Peminat masalah sosial-ekonomi dan agribisnis
Tahun 2003 sudah berlalu. Suka-duka, sedih-gembira sama-sama kita rasakan. Ada
banyak peristiwa yang mewarnai perjalanan ekonomi bangsa ini. Salah satu
"prestasi" yang patut dicatat dan diacungi jempol dari kinerja Kabinet Gotong
Royong adalah keberhasilannya menjaga stabilitas ekonomi makro sepanjang tahun
2003. Hingga menjelang akhir triwulan keempat tahun 2003, kinerja stabilitas
makroekonomi tampak semakin menjanjikan. Hingga pertengahan September 2003,
rupiah menguat 5 persen, sementara sepanjang tahun 2002 menguat sekitar 20
persen. Penguatan ini antara lain disebabkan oleh pelemahan dolar AS. Tingkat
inflasi sampai September tercatat sebesar 6,20 persen. Diperkirakan, inflasi
sepanjang tahun 2003 tidak akan melebihi nilai 8 persen, lebih kecil dari
inflasi tahun 2002 (10 persen) dan tahun 2001 (12,55 persen).
Hingga September 2003, uang primer naik hanya 8,6 persen atau kurang dari dua
persen secara riil. Bersama disinflasi, tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia
(SBI) turun ke 8,7 persen dalam minggu ketiga September 2003 dari 13,5 persen
tahun sebelumnya. Dilihat dari tingkat bunga riil, ini membuat Indonesia bisa
bergabung dengan kelompok negara berbunga rendah. Gabungan surplus transaksi
berjalan dan meredanya badai ekspor modal, cadangan devisa dalam tempo yang
sama naik 11 persen jadi 33,6 miliar dolar AS atau hampir mencukupi untuk 13
kali impor 2003. Ekspor dan impor total selama tujuh bulan pertama 2003 naik
masing-masing 10 persen dan 12 persen, walaupun Agustus (dibandingkan Juli)
ekspor turun 5,35 persen dan impor naik 6,93 persen.
Inilah yang antara lain membuat tim kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri
mengampanyekan keberhasilannya dalam memperbaiki kondisi ekonomi. Menko
Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti misalnya, menyatakan bahwa perekonomian
Indonesia telah mengalami pemulihan. Tanda-tanda awal pulihnya kepercayaan
terhadap perekonomian Indonesia ini antara lain ditunjukkan dengan tingginya
investasi jangka pendek yang masuk ke portofolio, seperti yang pernah
dibeberkan oleh BPS.
Sejumlah tanya
Tidak ada yang menyangkal semua "prestasi" itu. Semua indikator makro tersebut
memang benar adanya. Keberhasilan itu pula yang mendasari pemerintah mematok
asumsi-asumsi dalam APBN 2004. Tapi menilai perbaikan ekonomi hanya dari
indikator makro sangat menyesatkan. Dengan mudah kita bisa mematahkan semua
"prestasi" itu dengan fakta-fakta konkret. Jika memang ekonomi mengalami
perbaikan, mengapa mencari kerja semakin susah, mengapa biaya sekolah kian
tidak terjangkau kantong orang kebanyakan, mengapa harga-harga kebutuhan pokok
melambung tinggi, dan sejuta pertanyaan lain. Bukti lain, jika memang hidup
tidak semakin susah, mengapa 4 orang perempuan harus rela antre bahkan
terinjak-injak sampai meninggal hanya untuk berebut sedekah sarung dan uang Rp
20 ribu (Republika, 8/11/2003). Jika memang hidup makin makmur, mengapa
Heriyanto sampai nekat gantung diri gara-gara tidak punya duit Rp 2.500?
Mengapa pula orang kini terjangkit sindrom SARS (sindrom amat rindu Soeharto)?
Situasi yang paradoksal itu menunjukkan terjadinya kesenjangan struktural dalam
perekonomian Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, manfaat penciptaan
stabilitas moneter secara makro hanya akan menguntungkan mereka yang berada di
lapisan atas. Sebaliknya, rakyat banyak yang berada di lapisan bawah justru
semakin berat beban hidupnya. Bahkan, pengorbanan rakyat banyak inilah
sesungguhnya yang memungkinkan tercapainya stabilitas moneter secara makro itu.
Keberhasilan pengelolaan perekonomian secara makro tidak dapat hanya dilihat
berdasarkan kinerja sektor moneter. Keberhasilan secara makro harus dilihat
pula pada kemampuan menciptakan peluang kerja, menanggulangi kemiskinan, dan
memperbaiki distribusi pendapatan. Tanpa melihat ketiga hal itu, berarti
kebijakan pengelolaan ekonomi memang telah secara sengaja diarahkan hanya untuk
keuntungan mereka yang berada di puncak piramida lapisan atas.
Adalah terlalu pagi menyimpulkan perekonomian telah mengalami pemulihan.
Indikator-indikator di sektor riil justru sangat merisaukan, seperti tingginya
tingkat pengangguran dan warga miskin, melorotnya kapasitas industri dan
semakin banyak perusahaan yang bangkrut, dan tingkat kesejahteraan para pelaku
ekonomi yang semakin jatuh. Betapa gentingnya situasi ketenagakerjaan bisa
disimak dari membludaknya animo peminat pada Pameran Bursa Kerja Career 2003 di
Hotel Kartika Chandra tempo hari hingga banyak peserta yang jatuh pingsan.
Menurut estimasi Bappenas, jumlah angkatan kerja baru pada 2003 mencapai 2,3
juta orang. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 4 persen, jumlah angkatan kerja
baru yang tertampung oleh lapangan kerja cuma 1,4 juta orang. Sisanya (700
ribu) jadi penganggur. Tambahan ini membuat angka pengangguran terbuka pada
2003 menjadi 9,66 juta jiwa (9,38 persen), lebih tinggi dibandingkan dengan
2002 (8,96 juta atau 8,88 persen). Di negara maju, angka ini sudah masuk lampu
merah.
Rentang tahun 1970-1996, proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan
turun dari 60 persen menjadi 11 persen, yaitu berkurang sekitar 28 juta jiwa.
Ketika krisis (1999), tingkat kemiskinan mencapai 27 persen. Saat ini, tingkat
kemiskinan memang sudah menurun dibandingkan saat krisis, yaitu 16 persen (36
juta jiwa). Bahkan jika kita menggunakan tingkat kemiskinan dengan indikator
mereka yang berpendapatan di bahwa 2 dolar AS per hari, maka tingkat kemiskinan
mencapai sekitar 53 persen. Jadi, tingkat kemiskinan kita masih jauh, bahkan
lebih besar, dibandingkan sebelum krisis.
Anomali ekonomi Indonesia juga tampak dari merosotnya indeks kapasitas industri
terpakai (IKIT). Pada Oktober 2002, IKIT masih sebesar 51 persen, namun Januari
2003 tinggal 41 persen. Indeks jumlah produksi industri besar dan sedang pun
gawat karena merosot dari 109,2 tahun 2000 menjadi 100,3 di tahun 2002. Ini
gejala aneh karena konsumsi terus meningkat. Tapi ini indikator paling jelas
bahwa pasar domestik telah diserbu produk impor. Ditambah barisan industri
tekstil dan produk tekstil yang bangkrut serta terpuruknya kesejahteraan jutaan
rumah tangga petani, ini menandakan ekonomi Indonesia masih bergerak dalam
lumpur. Bahkan, di Tahun Investasi 2003 telah terjadi gejala deindustrialisasi,
dan stagnasi penanaman modal (asing dan dalam negeri).
Tak berubah
Dari kacamata distribusi pendapatan, sesungguhnya sepanjang enam tahun krisis,
bangun piramida ekonomi Indonesia tidak berubah. Di puncak piramida yang
menguasai mayoritas kue ekonomi nasional dihuni segelintir manusia. Sebaliknya,
di dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan jutaan orang. Bangun
piramida yang njomplang selama tiga dekade era Orde Baru itu kini justru
semakin dalam. Pada tahun 1998 jumlah seluruh perusahaan di Indonesia mencapai
36.816.409 buah. Yang berskala besar berjumlah 1.831 atau 0,01 persen. Tetapi
andilnya dalam pembentukkan PDB sebesar 40 persen. Sementara yang 99,99 persen
memberi andil PDB hanya sebesar 60 persen.
Ketimpangan serupa juga mewujud dalam andil keduanya dalam memberikan lapangan
kerja. Perusahaan kecil menengah itu menyerap sebanyak 99,44 persen dari
seluruh jumlah orang yang bekerja. Artinya, andil perusahaan besar dalam
penyerapan tenaga kerja nyaris tidak berarti. Padahal, setiap perusahaan besar
menyumbang Rp 238 miliar PDB setiap tahunnya. Perusahaan kecil menengah
rata-rata menyumbang sebesar Rp 17 juta per tahunnya. Dengan kata lain,
sumbangan rata-rata dari setiap perusahaan besar terhadap PDB sebesar 14.000
kali lipat dari sumbangan rata-rata perusahaan kecil menengah. Karena
pembentukkan PDB kurang lebih juga mencerminkan peran atau pendapatan
rata-rata, maka ketimpangan pendapatan rata-rata antara perusahaan besar dan
perusahaan skala kecil menengah kira-kira seperti itu (Kwik Kian Gie, 2003).
Indikator lain juga mendukung ketimpangan distribusi pendapatan itu. Saat ini,
volume deposito dengan nilai terkecil Rp 5 miliar meliputi 95 persen dari total
deposito yang tersimpan di sektor perbankan di Indonesia. Artinya, jika nilai
terkecil deposito diturunkan menjadi Rp 1 miliar, maka volumenya secara
keseluruhan bisa mencapai 99 persen dari total deposito (Baswir, 2003).
Pertanyaannya, berapa banyak rakyat Indonesia yang punya deposito di atas Rp 5
miliar atau Rp 1 miliar. Jangankan di atas Rp 5 miliar atau Rp 1 miliar,
mayoritas rakyat Indonesia rasanya kesulitan sekadar untuk memiliki tabungan.
Secara agregat, ketimpangan juga terjadi antarwilayah, antara pusat dan daerah.
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi
sentralisasi ekonomi dan pemerintahan praktis tidak mengubah sedikit pun
perimbangan distribusi penerimaan negara di Indonesia. Pusat tetap memungut 95
persen. Sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia tetap hanya 5 persen. Otonomi
hanya mengubah sedikit wajah sisi belanja. Sebelum otonomi, pusat membelanjakan
78 persen, kini pusat mebelanjakan 70 persen. Jakarta baru berganti nama,
kelakuannya masih seperti Batavia.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Ekonomi 2004: Bergerak Dalam Lumpur