[ppi] [ppiindia] Dunia Sastra : Sastra, Seks dan Pembusukan Budaya
- From: Mario Gagho <gagho@xxxxxxxxx>
- To: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
- Date: Fri, 24 Dec 2004 22:34:50 -0800 (PST)
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Seks dan seni sering dipertautkan tanpa jelas
definisinya. Tubuh (wanita) telanjang di mata Ibu Dewi
'madame geisha' Sukarno adalah seni. Sementara di mata
orang lain dianggap a moral (=pornografi).
Tulisan di bawah menyinggung seputar sastra dan seks
dalam budaya sastra Arab pra-Islam. Ditulis oleh rekan
saya waktu di SMA dulu yg kini lagi kuliah di Kairo,
Mesir, Aguk Irawan Mn.
Weekend begini kayaknya cocok bahas2 yg ginian bagi
peminat sastra.
Happy weekend, and merry X-mas bagi umat Kristiani.
salam winter dari taj mahal (MG)
---------------------------------------
Seks, Sastra dan Pembusukan Budaya
Oleh AGUK IRAWAN Mn.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/24/0804.htm
FENOMENA terakhir, setelah dunia sastra kita dipenuhi
dengan maraknya tren sastra Islami (akrab disebut
syi'ar Islami), yang memilik genre sastra tersendiri.
Secara mengejutkan tiba-tiba saja sastra berbau seks
begitu melimpah dan menghampar persis di depan wajah
kita. Bahkan kehadirannya seakan telah berani
menantang model sastra sebelumnya yang dengan
sembunyi-sembunyi bagaimana ia harus mengungkapkan
bahasa kelamin yang tabu itu. Tentu saja keberanian
menyusupkan adegan-adegan seks secara liar dalam karya
sastra, kiranya patut mendapatkan respons yang serius.
Kalau tidak mau kita dikatakan "membiarkan" proses
pembusukan budaya. Terlebih penulis sastra seks
kebanyakan muncul dari kalangan perempuan.
Menghasilkan karya sastra seks liar, berarti
menyaksikan diri kita sendiri bermain di dalamnya.
Inilah teori kebudayaan. Sebab sastra merupakan
tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai
semacam cermin yang memantulkan kehidupan kita
sehari-hari. Dan seks adalah bagian yang sangat indah
dari manusia karena menyangkut penyatuan jiwa.
Seks yang selama ini tabu (kecuali jika dibahas secara
ilmiah, seperti ulasan dr. Boyke) dan hanya bermukim
di wilayah ranjang mengemuka dalam bentuk buku sastra
dan menjadi perdebatan pelik di masyarakat.
Pergunjingan pun bukan hanya soal "etis" tidaknya
membincangkan seks di depan umum, tapi bergeser ke
arah pelanggaran asusila di masyarakat. Agaknya ketika
kita persoalkan, siapa penyulut sastra tabu itu? Maka
sepintas yang terbesit dalam hati kita; siapa lagi
kalau bukan Ayu Utami, meski barangkali sebelumnya
sudah diperkenalkan oleh Oka Rusmini. Kemudian jejak
tabu itu dikuti Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dinar
Rahayu lalu Nova Riyanti dan Herlinatiens. Dalam
sebuah wawancara, pemenang sayembara penulisan novel
Dewan Kesenian Jakarta 2004, Dewi Sartika pun
menuturkan keterusterangannya telah terpikat dengan
gaya penulisan Ayu Utami. Barangkali kelahiran sastra
tersebut dilatari dengan kilah dan dalil "bukan hanya
laki-laki saja yang berani bicara soal seks" dan
kenyataannya kini penulis perempuan justru lebih
berani tanpa harus risih, dan malu lagi.
Belakangan, gairah perempuan penulis sastra adalah
fakta yang tak bisa ditolak. Dengan memunculkan karya
sastra seks, sebagai upaya perjuangan sastra perempuan
yang selama ini terpinggirkan, yang kehadirannya ingin
mencerminkan sikap sebagai sastra pemberontak sebagai
wujud pembebasan sastra, perempuan ingin unjuk gigi
bahwa mereka juga merupakan bagian sah, yang tak bisa
diremehkan dalam khazanah sastra dan kebudayaan.
Ternyata upaya pembebasan ini justru memperpuruk moral
dan menenggelamkan budaya Timur kita yang santun dan
bermartabat tinggi, dan tentu saja mengakibatkan
pembusukan budaya. Kenapa?
Barangkali, sebagai jawaban yang tak bisa disangkal,
bahwa ketika mempersoalkan kerusakan moral dan budaya,
banyak sekali variabel yang berkaitan. Dan media massa
jelas menjadi aktor utama dalam hal ini. Buku sebagai
bagian dari media massa jika terus-menerus memunculkan
karya sastra yang telanjang dan fulgar, jelas
berpengaruh meliarkan syahwat masyarakat dan tentu
saja ini berdampak negatif, karena keterkaitannya
dengan rekayasa sosial. Dengan demikian, masyarakat
yang masih menganut budaya Timur yang santun dan
bermartabat tinggi dibuat penasaran dan rapuh oleh
karya-karya telanjang yang menggelikan itu.
Stigmatisasi masyarakat yang selama ini masih memegang
kuat aturan normativitas, bergeser menuju arah
kebebasan tanpa terkendali dan keterbukaan yang
sebebas-bebasnya. Itulah potret masyarakat kita,
ketika karya-karya yang berkisar di wilayah pusaran
seks begitu deras, masyarakat pun ternyata sangat
antusias dan responsif terhadap fenomena ini, terlebih
ketika tema seksualitas mendominasi segala ruang
gerak-gerik kita.
Keberanian memunculkan adegan-adegan seks, yang ingin
menjadikan sastra sebagai wahana pembebasan, tapi yang
terjadi malah sebaliknya, menjadikan sastra perempuan
sangatlah rendah nilai estetikanya, jumud, elitis, dan
eksklusif. Semangat pembebasan karya sastra yang
diharapkan, tapi justru membenamkan mereka dalam
kubangan wilayah selangkangan yang menjemukan. Seakan,
tak ada tema lain yang layak dan lebih berharga untuk
terus digali dan dikembangkan sebagai pencerahan
kebudayaan demi keberlangsungan hidup kita yang lebih
ramah dan santun.
**
SEJARAH sastra dunia telah mencatat bahwa
penulis-penulis sastra besar seperti Dante di Italia,
Shakespeare di Inggris, Cervantes di Spanyol, Goethe
dan Schiller di Jerman, Balzac di Prancis, Dostowjeski
dan Tolstoi di Rusia, Pablo Neruda dan Allende di
Cile, Marquez di Kolombia, Paulo Coelho di Brasil,
Muhamad Iqbal di Pakistan, Mutanabi di Mesir, Kahlil
Gibran di Libanon, dan sebagainya telah berhasil
menjadikan individu-individu yang memberikan dirinya
sebagai garda depan identitas bangsanya karena
persentuhan-persentuhan yang secara frekuentif
dilakukan secara terus-menerus dalam berbagai jaringan
peristiwa yang mampu menembus kepentingan agama,
politik, ekonomi, dan budaya sebagai tujuan tunggal
kemanusian dengan ciri menampakkan kepribadiannya yang
bermoral dan etika yang "bersih" dari bangsanya. Dan
tentu karya-karya yang berharga tersebut "sepi" dari
urusan "rendahan" seputar selangkangan.
Bahkan sastra Jahiliyah yang ditulis ribuan tahun yang
lalu oleh penyair seperti Imru Al-Qays, Amru bin
Kultsum, Al-Harits, Hatim Al-Tha'i, Qays bin Mulawwih,
Labid bin Rabi'ah, Tharfa bin 'Abd, dan Zuhair bin
Salma, jauh dari permasalahan selangkangan. Padahal
tradisi sosial lingkungan sangat memungkinkan untuk
itu. Kalaupun ada sebagaimana yang ditulis Amru bin
Kultsum di Mualaqat tentu pilihan bahasanya begitu
halus dan selalu dikaitkan dengan pesona alam,
pengalaman itulah yang masuk ke dalam keindahan yang
disalurkan lewat bahasa. Tidak sebagaimana Djaenar
Maesa Ayu dengan cerpen Memek-nya. Sehingga karya
sastra demikian menurut Thaha Husan dalam bukunya Fi
Syiir Al Jahily sedikit pun tak mengganggu kekuatan
estetika. Bahkan lebih jauh Penyair Syauqi Dlaif dalam
muqaddimah buku Al Asar Al Jahily mengatakan bahwa
karya sastra Jahily telah mampu menembus kegelapan
zamannya dan melampaui peradabannya yang busuk. Ia
justru bisa sebagai kontrol terhadap nilai-nilai, dan
kaidah-kaidah yang sedang berlaku dalam masyarakat
yang demikian telah rusak. Dan kehadiran sastra pada
zaman Jahily adalah usaha untuk menciptakan kembali
dunia sosial itu: hubungan-hubungan keluarga, suku,
ras, politik, agama, dan sebagainya. Ia juga
menggarisbawahi peranannya dalam keluarga dan
lembaga-lembaga lain, berusaha mencairkan konflik dan
ketegangan antarkelompok dan antargolongan.
Tetapi apa yang sedang berlangsung dengan satra kita
dan masyarakat kita? Sekali pun dianggap "jorok" dan
tabu dalam sajian bahasanya, ternyata buku yang
mengusung realitas seks sebagai bahan eksploitasi ini
mampu membius pembaca masyarakat kita dengan gegap
gempita dengan tujuan untuk membuat heboh masyarakat
atau alasan logis lainnya: komersialisasi. Dengan
demikian, jangan berharap seksualitas fiksi perempuan
memiliki peluang untuk hadir sebagai karya sastra
besar (magnum opus) yang tak lekang dimakan zaman.***
*) Penulis Anggota Lembaga Kajian Islam dan Sosial
(LKiS) Yogyakarta, kini sedang Studi Filsafat Islam di
Kairo Mesir.*
=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India
__________________________________
Do you Yahoo!?
Dress up your holiday email, Hollywood style. Learn more.
http://celebrity.mail.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: