[ppi] [ppiindia] Dr. Amina Wadud dan Stigmatisasi Islam

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

Lampung Post

      Jum'at, 8 April 2005 
     
      OPINI 
     
     
     
Dr. Amina Wadud dan Stigmatisasi Islam 

      * Reslawati, Peneliti Pusat Informasi Studi Indonesia (PISI) Jakarta


      Dr. Amina Wadud, intelektual Islam di Amerika Serikat, akhir-akhir ini 
menjadi kontroversial di kalangan umat muslim dunia. Tidak sedikit yang 
menuduhnya sebagai "senjata baru" Amerika Serikat, yang didesain mempertajam 
stigmatisasi (pencitraburukan) Islam di mata dunia setelah berbagai 
stigmatisasi pasca-Black September 2001 justru membuat George W. Bush banyak 
mendulang kecaman dunia internasional.

      Banyak juga yang menilai tak ada yang salah dari gebrakan revolusioner 
pengajar studi Islam di Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat itu 
karena secara fikih tidak ada larangan dalam Alquran bagi seorang perempuan 
menjadi imam dalam salat.

      Salat jumat bersejarah yang dipimpin Dr. Amina Wadud (sebagai imam 
sekaligus khatib) di Gereja Anglikan, Manhattan, New York, Amerika Serikat, 18 
Maret 2005, memang mengemparkan dunia muslim. Dari foto yang disiarkan secara 
luas oleh Associated Press, terlihat Dr. Amina Wadud berdiri sebagai imam dari 
makmum perempuan dan laki-laki yang berdiri tanpa penyekat. Bahkan, makmum 
perempuan ikut salat berjemaah itu tanpa mukenah atau penutup aurat yang biasa 
dikenakan kaum perempuan dalam menjalankan salat.

      Foto yang disiarkan ke seluruh dunia itu tertangkap Dr. Yusuf Qardhawi, 
yang bukunya banyak diterjemahkan di Indonesia. Intelektual muslim ini mengecam 
Dr. Amina Wadud menyimpang dari tradisi Islam yang berjalan 14 abad. Mufti 
Agung Arab Saudi, Abdul Aziz al-Shaikh, tak kalah berang. Dia menganggap Dr. 
Amina Wadud sebagai musuh Islam yang menentang hukum Tuhan (Associated Press, 
edisi 19 Maret 2005).

      Bahkan, beberapa koran di Mesir dan Arab Saudi menempatkan berita itu di 
halaman utama, dan menganggap Dr. Amina Wadud sebagai wanita sakit jiwa yang 
berkolaborasi dengan Barat kafir untuk menghancurkan Islam (Associated Press, 
edisi 19 Maret 2005). Tidak cuma itu, perempuan ini malah disejajarkan dengan 
Salman Rusdhi, penulis novel Ayat-Ayat Setan, yang divonis mati Imam Besar 
Iran, Ayatollah Khomeni. Sepotong berita di Daily Times edisi 23 Maret 2005 
menyebutkan Dr. Amina Wadud pantas dibunuh karena dianggap merusak Islam.

      Stigmatisasi Islam

      Di Indonesia kontroversi Dr. Amina Wadud lebih banyak dilihat dari 
kacamata kaum feminisme, yang menilai masalah imam perempuan adalah masalah 
konstruksi sosial-budaya semata. Imam perempuan dipandang sebagai risiko 
kehidupan demokrasi, di mana setiap orang punya hak yang sama dalam kehidupan 
berbangsa dan bernegara. Tentu saja hal ini bisa diterima jika konsep imam 
dipahami sebagai konsep budaya politik di Indonesia, yang melahirkan Presiden 
Megawati Soekarnoputri dan para enterpreneur perempuan yang sukses memimpin 
dunia bisnis.

      Tetapi persoalan menjadi lain ketika kontroversi Dr. Aminan Wadud itu 
dikaitkan politik stigmatisasi dunia Barat terhadap ummat Islam yang 
berlangsung beradab-abad. Artinya, Dr. Aminah Wadud, sebagai intelektual muslim 
yang tinggal di Amerika Serikat, tidak berbeda jauh dengan para intelektual 
pendahulunya.

      Gebrakan revolusionernya cuma menegaskan umat muslim sulit menerima 
perbedaan sekaligus tidak demokratis. Artinya, gebrakan ini dilakukan dengan 
asumsi, umat muslim di dunia pasti bereaksi keras serta sibuk berdebat tentang 
fikih. Perdebatan itulah yang menjadi tujuan karena dengan perdebatan itu makin 
jelas kebenaran stigmatisasi. Kontroversi ini mempertegas dunia Islam adalah 
dunianya umat manusia yang kaku, sulit menerima perbedaan pemikiran, gampang 
diadu domba antara satu dan lainnya, serta fanatisme membabi buta.

      Stigmatisasi Islam terjadi sejak lama. Banyak intelektual Barat yang 
menyimpan kebencian tidak beralasan terhadap Islam, dan menulis ratusan buku 
yang kemudian disebarluaskan ke negara-negara Islam di dunia, termasuk 
Indonesia. Francis Fukuyama, intelektual yang bukunya banyak diterjemahkan ke 
bahasa Indonesia, di Newsweek menyatakan musuh bersama umat manusia adalah 
"Islam Radikal". Ia menyatakan, "Radical Islamist, intolerant of all diversity 
and dissent, have become the fascists of our day. That is we are fighting 
againts."

      Pernyataan ini mempertegas kesimpulan sejarawan Inggris, Albert Hourani, 
yang mengatakan, "Islam adalah agama palsu, Allah bukanlah Tuhan, Muhammad 
bukan seorang nabi, Islam dikarang orang-orang yang berniat dan berwatak buruk, 
serta didukung kekuatan pedang." Seorang crusader pada abad ke-13 menyatakan, 
"Islam diawali dengan pedang, dipertahankan dengan pedang dan dengan pedanglah 
akan diakhiri." Sedangkan cendekiawan Prancis Maxime Rodinson menyatakan, "Umat 
Kristen di Barat mempersepsi dunia muslim sebagai bahaya, jauh sebelum Islam 
dilihat sebagai masalah nyata."

      Beberapa intelektual Barat juga mempropagandakan Islam itu kaku, 
totaliter, dan tidak demokratis. Samuel P. Huntington, misalnya, menyimpulkan 
Islam secara intrinsik adalah nondemokratis. Fawaz A. Gerges, profesor di Sarah 
Lawrence College AS, mengungkap ilmuwan AS lainnya yang masuk "intelektual 
konfrontasionis" (terhadap Islam) adalah Charles Krauthamer.

      Kaum intelek konfrontasionis ini menganggap pertarungan antara Islam 
dengan Barat tidak hanya pada kepentingan politik dan materi, tetapi merupakan 
benturan kebudayaan dan peradaban. Islam dinyatakan akan menggantikan komunisme 
sebagai ancaman utama pasca perang dingin. "The new threat is as evil as the 
Old Evil Empire," kata Krauthammer.

      Di Amerika Serikat, kebencian terhadap Islam dilembagakan secara formal. 
Kebijakan Pemerintah AS yang "paranoid" terhadap kaum Islamis dipengaruhi 
sebagian pandangan warga negaranya (apalagi setelah kasus WTC). Pada 1990, 
sebuah polling yang ditujukan ke warga Amerika yang plural, menghasilkan 
pandangan terhadap Islam yang "negatif". Polling itu menyimpulkan, "Muslim 
cenderung fanatik dan agama Islam adalah agama yang antidemokrasi." Polling ini 
dilaksanakan Survei Roper (Juli 1993), Koran Los Angeles Times (1993), survei 
bersama antara American Muslim Council dan Zogby Group (1993), Gallup (Oktober 
1994), dan survei American Arab Institute (1995).

      Dari polling terungkap, bagi rakyat Amerika (non-Islam), Islam dilihat 
sebagai sebuah kebudayaan yang antagonis dan sebagai sebuah ancaman bagi 
kepentingan dan nilai-nilai kebudayaan mereka. Tentu saja pandangan rakyat 
Amerika Serikat ini berkorelasi dengan pendapat intelektual anti-Islam. Penulis 
Israel Haim Baram dalam tulisannya di The Guardian, mengatakan sejak hancurnya 
Uni Soviet dan komunisme, pemimpin-pemimpin Israel mengusulkan kepada Amerika 
Serikat dan Eropa untuk berperang melawan Islam fundamentalis.

      Awal 1992, Presiden Israel Herzog di depan parlemennya menyatakan, 
"Penyakit (Islam fundamentalis) sedang menyebar secara cepat dan merupakan 
sebuah bahaya tidak hanya untuk masyarakat Yahudi, tapi juga bagi kemanusiaan 
secara umum." (The Guardian, 19 Juni 1992).

      Dalam kunjungan-kunjungannya ke Amerika Serikat, Perdana Meneteri Yitzak 
Rabin sering menggunakan istilah "bahaya Islam" (Islamic peril) untuk 
menyakinkan warga Amerika Serikat bahwa Iran adalah sama bahayanya dengan 
Moskwa di waktu lalu. Begitu juga mantan PM Shimon Peres menyatakan, "Setelah 
tumbangnya komunisme, fundamentalisme menjadi bahaya paling besar bagi kita." 
Peres juga menyebut ancaman fundamentalisme Islam itu seperti perang melawan 
setan Nazisme dan komunisme.

      Tradisi Pemikiran

      Stigmatisasi umat Islam oleh Dunia Barat berlangsung berabad-abad. 
Pandangan seperti itu melanda peradaban manusia di belahan bumi mana pun, 
termasuk di Indonesia, dan makin parah pada akhir abad ke-20 hingga hari ini. 
Padahal, pandangan seperti itu bukan cuma merugikan Islam, tetapi seluruh ummat 
manusia di dunia karena Islam bukan peradaban seperti label yang diberikan 
Samuel P. Huntington.

      Islam adalah agama dan agama berkaitan erat dengan perasaan-perasaan 
kejiwaan di mana Alquran menyebut, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka 
menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat 
Allah-lah hati menjadi tenteram." (Q.S. 13: 28).

      Jadi, terhadap kontroversi Dr. Amina Wadud, umat Islam tidak perlu 
mengait-ngaitkannya dengan persoalan fikih. Dalam dunia Islam, ada banyak 
mazhab dan tidak perlu dicari mazhab siapa yang paling benar. Kontroversi soal 
boleh atau tidak bukan hal yang pantas diperdebatkan karena yang terpenting 
dalam kehidupan beragama adalah beribadah.

      Islam adalah agama, bukan kebudayaan. Fenomena Dr. Amina Wadud lebih 
sebagai bagian tradisi pemikiran karena setiap generasi selalu melahirkan 
kontroversi. Namun, kontroversi itu biasanya tidak akan bertahan lama karena 
tradisi pemikiran selalu melahirkan orang-orang berseberangan.

      Jika intelektual dunia Barat mendesain stigmatisasi Islam, ada juga 
intelektual seperti John L. Esposito, Karen Amstrong, dan lain-lain, yang 
berpikiran berseberangan dengan arus yang ada. John L. Esposito, misalnya, 
menilai Islam militan lebih sebagai tantangan daripada ancaman dan menyarankan 
Amerika Serikat jangan main hantam kromo terhadap Islam militan. Mantan 
Presiden Middle East Study Association (MESA) ini menyayangkan standar ganda 
Pemerintah AS. "Pemerintah Amerika (seperti medianya) tidak menyamakan 
aksi-aksi pemimpin atau kelompok ekstremis Yahudi dan Kristen dengan Yudaisme 
dan Kristianitas secara keseluruhan, apakah itu pengeboman atas klinik aborsi, 
pembantaian atas kaum muslim yang sedang salat di Masjid Hebron atau kebijakan 
pembantaian etnis Serbia (Kristen) di Bosnia. Pemerintah Amerika juga tidak 
mengutuk perpaduan agama dan politik di Israel, Polandia, Eropa Timur atau 
Amerika Latin. Jika berkenaan dengan Islam, Amerika segera saja mengutuk."

      Terhadap masyarakat yang menginginkan penerapan hukum Islam, Esposito 
menyarankan, "Amerika Serikat pada prinsipnya tidak boleh keberatan kalau hukum 
Islam diterapkan atau aktivis Islam terlibat pemerintah. Pelaku dan kelompok 
politik yang berorientasi Islam supaya dinilai sama dengan pemimpin potensial 
atau partai oposisi lainnya."

      Bagi Esposito, menyamakan begitu saja Islam dan fundamentalisme Islam 
dengan ekstremisme berarti menilai Islam hanya berdasarkan mereka yang 
melakukan kerusakan, suatu standar yang tidak diberlakukan pada Yudaisme dan 
Kristianitas. Ketakutan akan fundamentalisme menciptakan iklim di mana kaum 
muslim dan organisasi Islam dianggap bersalah sampai terbukti mereka tidak 
bersalah.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts:

  • » [ppi] [ppiindia] Dr. Amina Wadud dan Stigmatisasi Islam