[ppi] [ppiindia] Dilema dan Peluang Penghematan Energi

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com 
**http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/9/28/o2.htm


Bercermin pada pengalaman negara lain, krisis energi dan krisis ekonomi 
dijadikan momentum awal yang kuat guna  memanfaatkan energi secara optimal. 
-------------------------------------
Dilema dan Peluang Penghematan Energi
Oleh Achmad Ali

INDONESIA yang sedang terengah-engah akibat kenaikan nilai dolar dan tingginya 
harga minyak dunia, belakangan ini hanya sanggup mengamankan supai untuk 15 - 
20 hari ke depan.        Karena itu, keluarnya Instruksi Presiden Nomor 10 
tahun 2005 tentang penghematan energi menjadi kian penting. Hal ini diperlukan 
sebagai upaya untuk mendorong lembaga pemerintah dan masyarakat pada umumnya 
mengurangi penggunaan energi, khususnya BBM dan listrik.

----------------------------------------

Andaikan gerakan penghematan energi itu mampu mengurangi 10 persen saja dari 
konsumsi BBM, maka akan ada pengurangan beban subsidi lebih dari Rp 12 trilyun. 
Sebaliknya, tanpa penghematan dengan harga minyak dunia 60 dolar AS per barel, 
jumlah subsidi dalam APBN akan membengkak menjadi sekitar Rp 150 trilyun. Bila 
hal ini terjadi sudah tentu akan membebani kondisi keuangan pemerintah. 
Ujung-ujungnya, harga BBM dinaikkan lagi bila tak mau subsidi terus bertambah.

Dalam suatu kesempatan, Menteri Keuangan Jusuf Anwar menyatakan, ketahanan APBN 
untuk membiayai subsidi BBM akan sangat tergantung pada jumlah produksi minyak 
(lifting) dalam negeri hingga akhir tahun 2005. Jika produksi minyak per hari 
lebih rendah dari produksi rata-rata saat ini 1,070 juta barel, beban subsidi 
BBM yang ditanggung pemerintah akan membengkak lebih dari Rp 126 trilyun. 
Akibatnya, defisit APBN 2005 akan lebih dari Rp 20 trilyun. Jumlah subsidi 
sebesar Rp 126 trilyun itu dapat terjadi jika konsumsi BBM dalam negeri menjadi 
65,56 juta kiloliter (10% dari kuota 59,6 juta kiloliter). Jumlah subsidi 
tersebut akan terjadi jika harga minyak mencapai 60 dolar AS per barel dan 
produksi minyak mencapai 1,070 juta barel per hari, dengan nilai tukar 
rata-rata sekitar Rp 9.556 per dolar AS.

Mengefisienkan penggunaan anggaran dan memperkecil tingkat kebocoran bisa 
dijadikan pilihan. Namun, siapa yang bisa menjamin semua itu akan ada pengaruh 
langsung dalam bentuk penghematan? Lihat saja, dalam tubuh Pertamina sendiri 
''inefisiensi'' masih kerap terjadi. Tak hanya itu, PLN yang menggunakan BBM 
sebagai bahan bakar unit pembangkitnya setiap tahun mengalami ''inefisiensi'' 
proses produksi sekitar 5 - 7 persen, di samping biaya produksi pembangkitan 
yang membengkak akibat penggunaan BBM. Angka 5 - 7 persen mungkin relatif 
kecil, namun jika dikalikan dengan jumlah unit pembangkit dan berapa ribu watt 
yang dihasilkan, maka akan menjadi angka yang fantastis untuk dihemat.



Pemanfaatan Optimal

Bercermin pada pengalaman negara lain, krisis energi dan krisis ekonomi 
dijadikan momentum awal yang kuat guna  memanfaatkan energi secara optimal. Di 
Jepang, misalnya, krisis minyak yang melanda negara itu pada era 1970-an dan 
1980-an telah menjadi langkah awal dari pelaksanaan konservasi dan 
diversifikasi energi. Konservasi energi yang diartikan sebagai penggunaan 
energi secara efisien tanpa mengurangi kualitas produk yang dihasilkan dan 
diversifikasi energi yang diartikan sebagai penggunaan jenis energi lain yang 
lebih murah dan bersih, telah berhasil dilaksanakan dengan sukses di negeri 
sakura tersebut. 

Untuk mendapatkan nilai tambah per 1.000 dolar AS, pada tahun 1970, Jepang 
membutuhkan energi primer setara 3 barel minyak. Pada tahun 2000 telah turun di 
bawah kisaran satu barel minyak. Pada periode yang sama Indonesia membutuhkan 
energi primer setara 1,8 barel minyak untuk mendapatkan nilai tambah per 1.000 
dolar AS. Pada tahun 2000 meningkat pada kisaran 4,8 barel minyak. Artinya, 
pada rentang waktu yang sama penggunaan energi per satuan produk (intensitas 
energi) yang dipakai oleh Jepang jauh lebih mengalami penghematan dibandingkan 
Indonesia (Ismail Fahmi, 2004).

Dengan keluarnya Inpres Nomor 10/2005 hendaknya kita jadikan momentum awal bagi 
kebangkitan Indonesia dalam pelaksanaan optimalisasi penghematan energi. Sebab, 
dari pengalaman dan hasil audit yang telah dilakukan PT Koneba (Persero) -- 
sebuah BUMN yang bergerak di bidang manajemen energi -- peluang untuk melakukan 
penghematan (efisiensi) energi di berbagai sektor pengguna masih besar. Sektor 
industri memiliki peluang penghematan energi 15 - 20 persen; transportasi 10 - 
25 persen; bangunan komersial 10 - 30 persen dan sektor rumah tangga 15 - 30 
persen dari total keseluruhan penggunaan energi.

Menurut Dirut PT Koneba (Persero) Gannet Pontjowinoto, salah satu kunci bagi 
suksesnya program konservasi dan diversifikasi energi adalah pelaksanaannya 
harus secara terintegrasi di seluruh bidang. Pada skala makro, menurutnya, 
pelaksanaan program tersebut harus didukung oleh pemerintah, difasilitasi 
pembiayaannya oleh institusi keuangan, diimplementasikan oleh seluruh sektor 
serta didukung SDM yang andal dan profesional. 

Sementara itu, untuk skala mikro, di pabrik atau perusahaan, konservasi dan 
diversifikasi energi harus didukung pucuk pimpinan, dilakukan seluruh karyawan 
dan difasilitasi tenaga profesional. Beberapa peluang diversifikasi energi yang 
telah diimplementasikan pelaku industri nasional, antara lain, menggantikan BBM 
dengan jenis energi yang lebih bersih atau murah seperti gas dan batu bara.

Namun sayangnya, sebagian besar pelaku ekonomi dan bisnis belum menyadari 
pentingnya konservasi dan diversifikasi energi. Kenaikan harga energi yang 
langsung berpengaruh pada biaya produksi, biasanya langsung diantisipasi dengan 
menaikkan harga produk jadi atau lebih drastis dalam bentuk pengurangan 
karyawan (baca: PHK). Padahal dengan melakukan upaya konservasi dan 
diversifikasi, kenaikan harga energi dapat diantisipasi dari waktu ke waktu. 
Artinya, perusahaan juga akan lebih kompetitif karena biaya energi dapat lebih 
rendah. Tanpa harus mengurangi aktivitas ekonomi, pemakaian yang sifatnya 
konsumtif atau sekadar untuk kenyamanan dan kemewahan sudah saatnya untuk 
dikurangi.

Bangsa ini harus belajar hemat dan efisien di segala bidang. Justru karena itu, 
pemerintah perlu terus memikirkan langkah-langkah yang lebih efektif dengan 
suatu kebijakan yang mengena langsung kepada upaya penghematan energi. Sebab, 
peluang untuk itu tetap ada dan masih terbuka lebar. 

Penulis, analis Statistik Lintas Sektor, Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi 
Bali




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: