[ppi] Re: [ppiindia] Dibutuhkan Relawan Kampanye & Advokasi Hak-Hak Perempuan

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **


mudah2an ini satu langkah awal yg sangat bagus.. untuk perempuan2 indonesia.. 
yang dapat kita ketahui melalui media masa.. masih banyak yang 
mengalami/menjadi korban kekerasan.. ataupun ketidak adilan.. apakah itu 
menimpanya di luar rumah bahkan mungkin terjadi di dalam rumah dan dilakukan 
oleh orang terdekat.. saya melihatnya bersifat universal.. tidak terbatas oleh 
agama.. atau oleh warna kulit.. ataupun oleh warna mata.. mudah2an saya tidak 
salah dalam hal ini..

saya jadi tertarik untuk mem-posting tulisan di bawah ini.. semoga dapat 
dijadikan sebagai renungan di hari rabu.. (loh kok bisa nyambung ke hari nich?)

setelah membaca tulisan ini.. keluar tanya di hati.. dimanakah peran lelaki.. 
khususnya "mereka" yg membanggakan diri dengan pernyataan, "lelaki adalah 
pemimpin/penjaga wanita" .. dimanakah "mereka" di saat perempuan2 ini 
meratap...? 

salam..



http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/23/utama/1104986.htm

Rabu, 23 Juni 2004 


Perempuan-perempuan Pantai Selatan 


"NGAMAR, Mas?" ucap Triyani (43) berbisik sambil menarik tangan seorang lelaki. 
Tak digubris. Dia terus merayu sampai ada seorang lelaki kurus menyambutnya. 
Tawar-menawar sebentar, cocok, kemudian keduanya bergegas menuju gubuk-gubuk 
bambu di pinggir pantai.

Lelaki dan perempuan itu pun melepaskan hasrat dalam kamar sempit yang disekat 
anyaman bambu yang ditempeli koran-koran tua. Lampu neon lima watt di kamar itu 
terlihat temaram di tengah gelap malam. 

Selesai melayani satu tamu, Triyani segera merapikan dandanannya untuk kembali 
mencari lelaki lain yang berziarah di Kompleks Cepuri Parangkusumo, Desa 
Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 
Perempuan asal Jepara, Jawa Tengah (Jateng), itu seperti tidak peduli dengan 
dinginnya angin Pantai Selatan, pada pertengahan Mei 2004 itu.

"Perempuan seumur saya ini harus lebih gesit. Kalau tidak, nanti kalah bersaing 
dengan yang muda. Apalagi sekarang banyak muncul anak-anak baru," kata Triyani 
berterus terang sambil mengikat rambut ikalnya yang tergerai.

Ada sekitar 500 pekerja seks komersial (PSK) yang menjajakan diri di Pantai 
Selatan, Bantul. Jumlah mereka melonjak pada malam-malam ziarah yang 
dikeramatkan, seperti malam Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, atau malam Satu Suro. 
Pada saat-saat yang disakralkan itu, ribuan orang dari berbagai daerah 
berziarah untuk nyekar, berdoa, atau mencari "berkah" di Watu Gilang, petilasan 
pertemuan antara Raja Mataram pertama, Panembahan Senopati, dan Ratu Kidul. 
Suasana mistis dan mitos percintaan dua makhluk itu banyak dimanfaatkan sebagai 
ritual untuk bersenang-senang.

Selain di Parangkusumo, praktik prostitusi juga bertebaran di pesisir selatan 
sepanjang 13,8 kilometer itu. Di kawasan timur, lokalisasi terpusat di Dusun 
Mbolong, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek. Di kawasan tengah, terkumpul di 
Dusun Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden. Sedangkan di kawasan barat, 
banyak terdapat di Dusun Pandansimo, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan.

Pemandangan sehari-hari di lokasi-lokasi tersebut sangat khas. Ada rumah-rumah 
berteras terbuka yang berdiri berderet-deret di pinggir pantai. Di depannya, 
perempuan-perempuan berusia 20-an sampai 40-an tahun berdandan menor, duduk 
menggoda, sambil menjajakan makanan dan minuman. Siang hingga malam puluhan 
mobil dan motor diparkir di kawasan itu dan para lelaki dewasa berseliweran di 
sekitarnya.

Sejarah prostitusi di Pantai Selatan itu setua sejarah perkembangan wisata di 
pantai yang indah tersebut. Jumlah PSK semakin banyak ketika Jembatan Kretek 
yang menghubungkan Yogyakarta dan Pantai Parangtritis selesai dibangun pada 
tahun 1989. Krisis ekonomi yang menjadi-jadi sejak tahun 1997 juga turut memicu 
maraknya prostitusi di situ. Apa boleh buat, memang ada korelasi antara 
prostitusi dan kemiskinan.

Dinas Sosial DIY mencatat, jumlah PSK di Bantul merupakan yang tertinggi 
dibandingkan dengan jumlah PSK yang ada di empat kabupaten lain di DIY. Pada 
tahun 2000, jumlah PSK di Bantul mencapai 376 orang atau 28 persen dari total 
PSK di DIY. Persentase itu meningkat menjadi 32 persen pada tahun 2002. Pada 
tahun yang sama, jumlah wanita rawan sosial di Bantul mencapai 2.182 orang atau 
20 persen dari jumlah total di lima kabupaten di DIY.

KENAPA perempuan-perempuan itu melacurkan diri? Umumnya, alasan mereka terpaksa 
memasuki dunia remang-remang itu adalah gara-gara terdesak masalah ekonomi. 
Sebagian lagi ditambah tekanan perceraian yang menyakitkan dan beban mengurus 
anak-anak sendirian.

"Daripada bengong di rumah, saya ikut teman ke sini. Ternyata banyak yang 
senasib. Akhirnya, keterusan sampai sekarang," kata Rina (27), PSK asal Kudus 
yang beroperasi di Dusun Mbolong, Parangtritis, sejak tiga tahun lalu.

Perempuan manis berkulit bersih itu memasang tarif sekali kencan Rp 50.000. 
Jika sedang ramai, dia bisa mendapat empat tamu sehingga bisa mengantongi Rp 
200.000 semalam. Setelah berbagi dengan germonya, sebagian uang itu digunakan 
untuk membeli make-up dan pakaian, sebagian lagi disisihkan untuk merawat 
anaknya di rumah. Sisanya ditabung untuk biaya sekolah si kecil.

Narti (42), PSK asal Solo, Jateng, yang tinggal di rumah bambu di Pantai 
Pandansimo, memasang tarif lebih murah, Rp 30.000. Namun, tidak banyak lelaki 
yang berkunjung karena menganggapnya sudah mulai tua. Sering dia terpaksa 
berutang sana-sini untuk menutupi kebutuhannya.

Yang lebih menyiksa, begitu pengakuannya, adalah tekanan batin akibat 
tarik-menarik antara terdesak kebutuhan ekonomi, rasa bersalah, dan dihinakan. 
"Tiga bulan pertama saya selalu menangis tersedu-sedu setiap melayani tamu. 
Perih rasanya. Kok nasib saya begini? Kenapa semua orang bebas menjamah tubuh 
saya?" keluh Narti.

Selanjutnya, kehidupan perempuan berhidung mancung itu seperti merangkaki nasib 
yang terpecah, penuh dilema. Persis digambarkan lagu Kupu-kupu Malam-nya Titik 
Puspa: Ini hidup wanita si kupu-kupu malam/Bekerja bertarung seluruh jiwa 
raga/... Dosakah yang dia kerjakan/Sucikah mereka yang datang... Yang dia tahu 
hanyalah menyambung nyawa.

Hingga sekarang, Narti rela terus mengorbankan diri demi membiayai sekolah 
kedua anaknya. Dia acap berdoa, semoga pengorbanannya tidak sia-sia sehingga 
anak-anaknya cepat lulus dan dapat pekerjaan mapan. "Cukuplah saya saja yang 
menderita. Saya selalu pergi diam-diam agar anak-anak tidak tahu ibunya kerja 
kotor begini. Orang-orang kampung tahunya saya jadi pelayan restoran," katanya 
lirih.

Rata-rata PSK adalah migran dari berbagai daerah luar yang mengadu nasib di 
kawasan Pantai Selatan, Bantul. Ketika tak punya banyak pilihan dan tertekan di 
daerahnya, mereka lari demi menemukan eksistensi dan ranah ekonomi. Bagi 
beberapa PSK, pelarian itu masih menyisakan paradoks yang menyiksa.

Triyani, misalnya. Dia menyambangi Parangkusumo hanya pada malam-malam keramat, 
sedangkan hari-hari biasa diisi dengan menjahit sambil mengasuh putri 
satu-satunya di rumah. Untuk menjaga hubungan sosial, dia mau mengerjakan 
shalat, kadang ikut pengajian bersama tetangga. Namun, sehabis shalat, dia acap 
kali menangis sampai habis suara. "Berat rasanya terus berpura-pura. Sering 
saya membenci diri sendiri. Ingin cepat berhenti, tapi kok selalu enggak bisa?" 
kata Triyani berkeluh kesah.

Kebimbangan serupa mendera Sumiati (30), PSK asal Semarang yang mangkal di 
Pantai Samas. Sudah berkali-kali dia menggebu mengumpulkan modal untuk pulang 
kampung. Tetapi, niatnya selalu kandas karena alasan yang tidak jelas. "Kadang 
saya merasa tidak bisa hidup normal lagi. Kalaulah bisa, apakah orang-orang di 
kampung mau menerima saya?" katanya.

Barangkali prostitusi sama dengan sabu. Sisinya yang paling berbahaya ialah 
penjara ketergantungan. Bisa melenakan secara ekonomi untuk sementara waktu. 
Namun, di sisi lain menjangkitkan rasa bersalah yang aneh dan sulit dienyahkan.

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Bantul sudah mencoba menangani masalah ini dengan 
program pembinaan, pelatihan seni, operasi yustisi, atau pengadilan pidana 
ringan. Pada tahun 2001, sebanyak 24 PSK pernah dibina dan diberi bantuan 
peralatan usaha dan modal, masing-masing Rp 500.000, untuk berdagang, membuka 
warung makan, atau beternak ayam. Namun, hingga sekarang hasilnya nyaris nihil.

Kepala Bagian Sosial Pemkab Bantul Drs Sri Hadi B belum berani memberikan angka 
pasti, berapa PSK yang sadar setelah mengikuti program-program pemerintah. "Itu 
sulit dan tidak ada jaminan. Yang jelas, ada satu mantan PSK yang sedang 
belajar mandiri di panti pembinaan kami," katanya.

Peneliti pada Pusat Studi Perencanaan Pembangunan Regional (PSPPR) Universitas 
Gadjah Mada (UGM), Dr Sudaryono, mengatakan, berbagai program pengentasan yang 
bernuansa proyek, insidental, dan struktural tidak akan pernah efektif untuk 
menyelesaikan masalah laten itu. "Pemerintah cenderung tidak sungguh-sungguh 
dan kurang konsisten mengembangkan program sosial," katanya.

PERLU DISADARI JUGA, PEREMPUAN-PEREMPUAN ITU LARI MEMINGGIRKAN DIRI DI PANTAI 
SELATAN SEBAGAI KORBAN DARI SISTEM SOSIAL, BUDAYA, EKONOMI, DAN POLITIK YANG 
KERAP MENELANTARKANNYA. SELAMA SISTEM-SISTEM YANG ADA TIDAK MEMBERIKAN RUANG 
GERAK DAN PILIHAN, MEREKA SULIT UNTUK MENINGGALKAN DUNIA PROSTITUSI.

Masalahnya menjadi semakin rumit ketika perempuan-perempuan itu masuk dalam 
jaringan sosial ekonomi yang menciptakan simbiosis mutualisme di antara 
kelompok-kelompok masyarakat di sekelilingnya. Mereka terdiri atas para 
pedagang, preman, tukang parkir, hingga penduduk setempat yang menangguk 
keuntungan dari bisnis "esek-esek" itu. Jaringan itu saling melindungi dan 
menguatkan sehingga para PSK merasa betah dan aman bekerja di dalamnya.

Menurut pengamat psikologi sosial dari UGM, Dr Koentjoro, tidak ada solusi 
tunggal dalam mengurai masalah prostitusi yang demikian kompleks. Karena itu, 
program pengentasan mesti dilakukan dengan menerapkan berbagai pendekatan yang 
komprehensif, mengakar, berkesinambungan, dan manusiawi. "Siapa pun yang 
menangani prostitusi harus menyelami kehidupan PSK sehingga dapat mencari 
solusinya. Mereka dituntut menjadi pekerja sosial yang memberikan penyadaran 
tanpa batas waktu," katanya.

Semburat merah Matahari pagi mulai membayang di ufuk timur Pantai Parangkusumo. 
Triyani kelelahan dan terkantuk-kantuk setelah melayani tujuh tamunya 
semalaman. Rambut ikalnya kusut, beberapa helai tergerai menutupi bedak yang 
belepotan di pipinya. Dengan gontai dia naik bus di Terminal Bus Parangkusumo 
untuk pulang ke Jepara.

Bus bergerak pelan. Bayangan wajah ceria putrinya yang masih SMP semakin dekat. 
Seplastik jeruk yang baru dibeli dipeluknya erat-erat. Triyani pun tersenyum. 
Senyum itu, seperti dilantunkan Titik Puspa, masih sulit diterka: Kadang dia 
tersenyum dalam tangis/Kadang dia menangis di dalam senyuman. (K07)



-----Original Message-----
From: Christine Susanna Tjhin [mailto:xtine@xxxxxxxxxx]
Dibutuhkan: RELAWAN/VOLUNTEERS Kampanye & Advokasi Hak-hak Perempuan

http://relawan.net/wmview.php?ArtID=490

Yayasan INSTITUT PEREMPUAN, sebuah lembaga yang bekerja untuk penegakan hak-hak 
perempuan dan memberikan layanan bagi perempuan korban kekerasan,

 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: