[ppi] [ppiindia] Demokrasi Para Malaikat?
- From: "Ambon" <sea@xxxxxxxxxx>
- To: <"Undisclosed-Recipient:;"@freelists.org>
- Date: Wed, 31 Mar 2004 23:08:38 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/01/opini/946553.htm
Kamis, 01 April 2004
Demokrasi Para Malaikat?
Oleh Makmur Keliat
If men were angels, no government would be necessary. (James Madison)
HARUSKAH memberikan suara dalam pesta demokrasi 5 April nanti? Bukankah
sebagian calon anggota legislatif telah dikategorikan sebagai "politisi busuk"?
Bukankah wajar jika menjadi pesimis lalu tidak memberikan suara pada hari
pemilihan?
Rangkaian pertanyaan berupa gugatan ini kerap diungkapkan kelompok
pemilih kritis yang terdidik dan umumnya ada di perkotaan.
ADA tiga argumentasi untuk menyatakan kekecewaan pemilih kritis, jangan
diterjemahkan dalam perilaku tidak memilih, mengecam demokrasi, atau memimpikan
masa lalu kembali.
Pertama, demokrasi tidak mengasumsikan calon anggota legislatif (caleg)
atau politisi sebagai malaikat. Justru demokrasi berangkat dari asumsi hakikat
manusia adalah haus kekuasaan serta mementingkan diri sendiri dan kelompoknya.
Adalah dengan asumsi semacam ini, demokrasi yang dijalankan, salah satunya
melalui instrumen pemilu, bukan ditujukan untuk memilih para malaikat, tetapi
memilih manusia biasa dengan seluruh ketidaksempurnaannya. Karena itu,
kontribusi terbesar dari demokrasi adalah memberikan kemerdekaan (liberty) bagi
manusia untuk berbeda pendapat, menyatakan kepentingannya, membentuk
kelompoknya, mengaspirasikan hasrat kekuasaannya dengan tujuan mencegah
terjadinya dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain.
Dalam rumusan berbeda, demokrasi justru amat dibutuhkan untuk
mengendalikan hasrat haus kekuasaan. Sebaliknya, bentuk pemerintahan di luar
demokrasi, seperti autokrasi dan monarki, justru menciptakan ruang yang hampir
tidak terbatas untuk memenuhi hasrat kekuasaan itu. Tepat apa yang dikatakan EM
Foster, penulis Inggris, demokrasi disebutkan membawa dua kegembiraan bagi
manusia karena dua alasan. Alasan pertama karena demokrasi mengakui keragaman.
Alasan kedua karena demokrasi mengizinkan adanya kecaman.
Kedua, mengingat demokrasi bukan untuk para malaikat, demokrasi sebagai
hasil karya manusia tentu memiliki kelemahan. Satu di antara kelemahan utama
muncul dari kemerdekaan untuk melakukan pengelompokan (factions), misalnya,
terlihat dari banyaknya partai. Kehadiran berbagai fraksi menciptakan suasana
permusuhan yang pada akhirnya membuat proses pembuatan keputusan menjadi amat
lambat. Namun, meminjam pemikiran Madison, seorang pemikir politik Amerika
Serikat, dalam Federalist Papers, kelemahan semacam ini jangan diatasi dengan
menghilangkan sebab-musababnya (removing its causes).
Alasan yang dikemukakan Madison sederhana. Menghilangkan sebab-musabab
sama dengan memberi saran membunuh kemerdekaan sendiri atau pilihan lain
mengharuskan semua orang untuk memiliki pendapat, hasrat, dan kepentingan yang
sama. Membunuh kemerdekaan berarti membunuh demokrasi, sementara pilihan lain
sama sekali tidak dapat diterapkan karena mengingkari hakikat keragaman
manusia. Karena itu, pilihan realistis yang dilakukan adalah dengan
mengendalikan akibatnya (controlling its effect). Banyak cara dapat dilakukan
untuk mengendalikan akibatnya itu, misalnya, dengan membuat garis pemisah yang
jelas antara ketiga cabang kekuasaan pemerintah, yaitu legislatif, eksekutif,
dan yudikatif. Tujuannya agar tak ada satu pun cabang kekuasaan menjadi amat
dominan terhadap yang lainnya, yang dikenal dengan istilah menerapkan mekanisme
checks and balances.
Ketiga, kekecewaan terhadap kualitas politisi dalam pemerintahan
demokrasi adalah sesuatu yang wajar, bukan khas Indonesia. Anthony Giddens
dalam Runaway World (1999) menyebutkan semakin sedikit para pemilih di negara
maju memberikan suaranya dalam pemilu sebagai refleksi kekecewaan mereka
terhadap politisi. Namun, ini tidak berarti mereka kehilangan kepercayaan
terhadap proses demokrasi. Juga sebaiknya jangan diartikan politisi masa lalu
lebih baik daripada politisi sekarang.
Yang terjadi sebenarnya, menurut Giddens, arus informasi yang lebih besar
dan terbuka mengakibatkan skandal dan korupsi para politisi kini menjadi lebih
sukar ditutupi daripada periode waktu lima puluhan. Dengan logika semacam ini,
ada satu catatan menarik yang pantas digarisbawahi sehubungan informasi tentang
"politisi busuk". Terlalu gegabah dan terburu menafsirkan, politisi sebelum
masa reformasi menjadi lebih baik daripada politisi sekarang. Atau dalam
kalimat yang amat sarkastis, "politisi antek Orde Baru" menjadi lebih baik.
Justru yang harus disimpulkan adalah informasi tentang "politisi busuk" itu
dimungkinkan keluar karena proses demokrasi yang sedang dikembangkan. Informasi
semacam ini pasti tak dapat dipaparkan secara luas kepada publik dalam masa
Orde Baru. Ringkasnya, gagasan untuk tidak memilih karena informasi "politisi
busuk" menjadi gagasan yang tidak tepat.
DENGAN tiga argumentasi itu, proses politik demokratis yang dilakukan
melalui pemilu sebaiknya tidak melulu dipahami dalam kerangka normatif, tetapi
juga dalam kerangka realistis. Harapan pemilu dapat menyelesaikan seluruh
persoalan negeri ini mungkin berangkat dari pemikiran normatif, yang jika tidak
hati-hati akan membawa kita ke dalam jebakan pemikiran utopis.
Seperti kalimat James Madison yang dikutip di awal tulisan, kita
membutuhkan pemerintahan justru karena kita sebagai manusia, bukan malaikat.
Dalam tataran amat praktis, ini berarti ada keharusan untuk melakukan proses
deskaralisasi atas seluruh caleg partai.
Tidak berlebihan untuk menyatakan, siapa pun tokoh pemimpin partai,
mereka adalah manusia biasa. Apakah itu Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono,
Amien Rais, Abdurrahman Wahid, Yusril Ihza Mahendra, mereka pasti memiliki
ketidaksempurnaan seperti layaknya manusia. Mereka pasti dan akan pernah
melakukan kekeliruan dalam satu momen kehidupannya. Mereka juga pasti memiliki
hasrat terhadap kekuasaan, yang setelah diperoleh selalu ada bujukan untuk
menyalahgunakannya.
Dengan pemikiran semacam ini, yang perlu menjadi agenda utama para
pemilih kritis bukan pada isu memilih atau tidak memilih, tetapi bagaimana
membuat demokrasi yang sedang kita jalani menjadi lebih relevan bagi kehidupan
publik.
Untuk itu, mungkin saran Giddens menarik direnungkan. Ia menyarankan
kebutuhan untuk mendemokrasikan demokrasi (democratizing democracy). Hal ini,
misalnya, dapat dilakukan dengan melanjutkan devolusi kekuasaan dari tataran
nasional ke tataran lokal sehingga kekuasaan menjadi lebih dengan masyarakat.
Cara lain dengan melanjutkan tindakan antikorupsi pada seluruh lapisan dan
terus mendorong transparansi yang lebih besar dalam isu-isu politik yang
mempengaruhi publik.
Makmur Keliat Pengajar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] Demokrasi Para Malaikat?