[ppi] [ppiindia] Demokrasi Butuh Orang Berpendidikan

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
** Situs resmi: http://www.ppi-india.org **
** Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia **
** Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com **
<br><br><a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br><br>
REFLEKSI: Rakyat pintar negeri maju, rakyat dibodohi, negeri terkebelakang  
rakyat miskin melarat.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/27/Politikhukum/2682252.htm


 
Sosok dan Pemikiran
Demokrasi Butuh Orang Berpendidikan 



Imam Prihadiyoko



Maraknya partai politik pada era reformasi tidak otomatis berbanding dengan 
tingkat kepuasan rakyat pada partai politik. Baru sekitar 48 persen dari 
pemilih yang merasakan bahwa partai politik memperjuangkan kepentingan pemilih. 
Partai politik di Indonesia lebih banyak terasing dari para pemilihnya. 

Hasil survei nasional Lembaga Survei Indonesia yang dirilis pada Maret 2006, 
meskipun tidak terlalu mengejutkan, seharusnya membuat kita harus berpikir 
serius tentang kehidupan sistem kepartaian, dan pada akhirnya tentang jalannya 
konsolidasi demokrasi setelah delapan tahun pascareformasi. "Hanya 26 persen 
rakyat yang punya perasaan terikat dengan parpol," ujar Dr Saiful Mujani, 
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, dalam percakapan dengan Kompas 
pekan ini. 

Berdasarkan hasil surveinya, Saiful menuturkan, setelah dua tahun memilih 
parpol, publik secara umum menilai bahwa fungsi intermediasi dan akuntabilitas 
partai rendah. Kedekatan publik dengan parpol pun semakin jauh. 

Menurut peneliti ini, hubungan yang kurang baik antara pemilih dan partai akan 
berdampak negatif pada stabilitas sistem kepartaian sehingga peta kekuatan 
parpol menjadi cair, mudah berubah, dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa 
sistem kepartaian semakin terfragmentasi. 

Ia mengkhawatirkan karena fungsi intermediasi, akuntabilitas, dan loyalitas 
rendah, kemungkinan masyarakat semakin apatis dengan partai, dan ini mendorong 
pada semakin rendahnya tingkat partisipasi pada Pemilu 2009. Berikut petikan 
perbincangan wawancara Saiful Mujani yang ditemui di kantornya beberapa waktu 
lalu. 

Apa ukuran yang Anda pakai untuk melihat kinerja parpol? 

Bagi saya, ukuran yang penting adalah sejauh mana partai peduli pada pemilih 
dan sejauh mana pemilih merasa punya ikatan dengan parpol. Ada kecenderungan 
bahwa hubungan partai dengan masa pemilih hanya pada masa pemilu. Dan itu pun 
tidak optimal karena hanya separuh dari masyarakat yang terlibat, bahkan hanya 
48 persen. Ini indikator umum untuk mengetahui bahwa parpol itu positif bagi 
masyarakat, bahwa parpol peduli dan sebaliknya pemilih punya ikatan dengan 
partai. Hasil survei yang kami lakukan ternyata memperlihatkan persentase yang 
sangat rendah. Hanya 26 persen masyarakat yang punya perasaan terikat dan 
kedekatan dengan parpol. 

Siapa saja mereka itu? 

Yang menarik, mereka yang terikat ini merupakan massa yang relatif kurang 
terpelajar, kelas menengah ke bawah, mereka yang bergerak dengan fanatisme 
saja. Masyarakat demikian tidak bisa menilai secara kritis. Ini sebenarnya 
justru berbahaya. Dalam teorinya, setidaknya dalam negara demokrasi, orang yang 
punya ikatan itu merupakan orang terpelajar dan bisa kritis. Kalau ini yang 
terjadi, baru bisa dikatakan demokrasi akan berprospek. 

Biasanya, kelas menengahlah yang punya kedekatan dan kepentingan dengan parpol. 
Di kita malah terbalik. Mungkin karena partai dianggap sebagai sarana mobilitas 
vertikal. Tetapi itu perlu kita lihat lebih jauh. Cuma Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) yang agak beda karena pemilihnya relatif terpelajar dibanding 
dengan partai lain. 

Kemudian disusul Partai Amanat Nasional (PAN) dan pada tataran tertentu Partai 
Demokrat. Tetapi ini tidak cukup untuk mendukung konsolidasi demokrasi. 
Pasalnya, partai yang bersuara besar, seperti Partai Golkar, PDI-P, PPP, dan 
PKB, pemilih yang punya ikatan kuat itu justru berasal dari kelas menengah ke 
bawah, mereka yang penuh dengan fanatisme saja. Begitu juga dengan orang-orang 
yang taat datang ke TPS merupakan orang lapisan menengah ke bawah, orang yang 
berpendidikan rendah. Apa yang bisa kita harapkan dari pendukung partai dengan 
karakteristik seperti ini. 

Ini bahaya karena dalam negara demokrasi saluran politik, aspirasi, dan 
keinginan melalui lembaga-lembaga politik, salah satunya parpol. Kalau sebagian 
besar masyarakat tidak memandang parpol sebagai lembaga yang penting untuk 
mengartikulasikan kepentingan mereka, ini jelas mengkhawatirkan. 

Artinya, akan membuat konsolidasi lembaga demokrasi terutama parpol menjadi 
lemah. Karena konsolidasi demokrasi mengharapkan hampir semua komponen bangsa 
menerjemahkan demokrasi sebagai satu-satunya aturan main. Dan untuk 
mengartikulasikan kepentingan itu digunakan parpol sebagai wadah untuk mencapai 
tujuan. 

Apa ukuran untuk melihat konsolidasi demokrasi? 

Seberapa jauh masyarakat semakin yakin bahwa demokrasi memang yang paling pas 
untuk negeri kita. Keyakinan semacam ini merupakan indikator penting untuk 
mengukur seberapa jauh konsolidasi demokrasi. Keyakinan ini terutama 
dipengaruhi pelaksanaan demokrasi itu sendiri. Ukurannya, seberapa puas 
masyarakat terhadap jalannya demokrasi. Kepuasan umum itu di dalamnya 
tergantung pada kinerja lembaga demokrasi, di antaranya parpol. Jadi, suka atau 
tidak, kita harus perkuat parpol jika ingin selamatkan demokrasi. Karena parpol 
berfungsi memediasi keputusan yang dibuat elite dalam kebijakan, dengan 
kepentingan masyarakat yang paling bawah sekalipun. 

Terlepas dari kepentingan bahwa parpol berfungsi untuk memperjuangkan 
pemilihnya, tujuan memperkuat partai karena sistem kepartaian ini harus 
diselamatkan demi konsolidasi demokrasi. Tidak ada jalan lain, karena kita 
tidak bisa mengandalkan demonstrasi tiap hari, bagaimana nantinya UU dan 
kebijakan akan dirumuskan. Kita tidak bisa mengandalkan demonstrasi untuk 
mengartikulasikan kepentingan masyarakat. 

Kita membutuhkan lembaga yang rutin. Kita akan repot kalau mengandalkan 
demokrasi jalanan, terlalu mahal dan tidak akan ada stabilitas. Dalam 
konsolidasi demokrasi, kita ingin ada stabilitas dan efektif. Sebagai kelompok 
penekan, demonstrasi bisa saja. 

Untuk mempercepat konsolidasi demokrasi? 

Dalam konteks demokrasi, terutama kalau mengharapkan adanya konsolidasi dan 
percepatan, maka tidak mungkin berharap pada massa pemilih. Bagaimanapun, ya 
harus dikerjakan elite politik, elite partai. Kalau mengharapkan demokrasi 
berjalan dari bawah, sementara karakteristik masyarakat pendukungnya seperti 
sekarang, kapan demokrasi akan matang. 

Apalagi, sentimen kelas menengah ke bawah tidak bermuatan substansi yang kuat, 
hanya fanatisme, patron klien, karismatik, yang masuk dalam lembaga politik. 
Apa yang bisa kita harapkan dari pendukung partai dengan karakteristik yang 
seperti ini. Lihat saja sumber daya manusia yang dimiliki parpol. Bagaimanapun, 
demokrasi membutuhkan orang-orang berpendidikan. Kita berharap pada parpol 
sendiri untuk melakukan introspeksi dan reposisi apa yang mereka kerjakan 
selama ini. 

Tapi partai kan sudah mengklaim peduli pada pemilihnya? 

Boleh saja klaim, tetapi kita membuktikannya tidak berlaku di masyarakat. 
Terbukti, masyarakat menganggap partai belum melakukan apa yang diklaimnya. Apa 
ukuran yang dipakai parpol untuk melakukan klaim itu. Bahwa mereka bisa 
melakukan mobilisasi pada masa pemilu, itu baru satu sisi aspek pragmatis 
parpol. Tetapi, aspek lainnya, untuk kepentingan yang lebih demokratis, untuk 
menyerap aspirasi masyarakat, tidak dilakukan. 

Konsolidasi demokrasi 

Peneliti yang aktif di sejumlah lembaga penelitian dalam dan luar negeri, 
penulis yang produktif pada jurnal ilmiah, pernah menjadi Pengurus Besar 
Himpunan Mahasiswa Islam (1986-1987), dan sedang mempersiapkan penerbitan lima 
bukunya ini berharap konsolidasi demokrasi dapat dilakukan elite partai, 
intelektual dan kelas menengah. 

Berharap pada elite, sementara elite tidak merasa yang mereka lakukan tidak 
bermanfaat bagi masyarakat, lantas apa? 

Harus kita kasih tahu, parpol harus punya ukuran yang jelas. Seperti kasus DPR 
yang terdiri dari wakil partai memutuskan kenaikan harga BBM dan mengimpor 
beras. Ini keputusan yang sangat penting. Tetapi, masyarakat tidak pernah tahu 
sebelumnya apa keputusan yang akan diambil partai. Bagaimana mereka mengatakan 
ada komunikasi dengan rakyat. Setidaknya kalaupun ada jarak, antara keputusan 
dan keinginan masyarakat, maka kewajiban partai untuk memberikan penjelasan. 
Ada akuntabilitas, bertanggung jawab dengan menjelaskan apa yang dilakukannya, 
agar masyarakat memahami. Ini indikator bagaimana ikatan partai dengan massa. 

Di satu sisi, partai butuh intelektual dan kelas menengah lainnya, tapi mereka 
ini kelihatannya enggan masuk partai? 

Inilah yang saya takutkan, kelas menengah ke atas semakin apatis, teralienasi, 
dari parpol dan lembaga demokrasi lainnya. Kalangan kampus dan intelektual 
jarang ada yang mau terjun ke politik. Di negara demokrasi maju, orang partai 
itu merupakan orang-orang terbaik dan berprestasi. 

Ini kritik pada kelas menengah yang enggan masuk partai. Kelas menengah harus 
lebih banyak inisiatifnya. Kalau tidak, demokrasi kita tidak akan maju-maju. 
Untuk kepentingan demokrasi yang lebih besar, orang-orang pinter ini jangan 
membuat kandang sendiri. 

Saya pikir perlu mobilitas intelektual masuk partai meski tetap perlu ada yang 
independen. Pasalnya, proses artikulasi kebijakan membutuhkan sumber daya 
manusia terbaik. Karena, pada ujungnya, orang yang ada di partai itulah yang 
sebenarnya berhak atas kekuasaan, apalagi jika didukung dengan kompetensi. 

Yang harus dilakukan sekarang? 

Minimal menjaga pemilu reguler yang demokratis. Bersamaan dengan itu, membenahi 
rekrutmen parpol. Intelektual jangan lagi berharap di jalan pintas untuk masuk 
kabinet dengan argumentasi teknokrasi dan independen. Karena hal ini tidak 
betul dalam demokrasi. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Protect your PC from spy ware with award winning anti spy technology. It's free.
http://us.click.yahoo.com/97bhrC/LGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



--------------------------------------------------------------------------
Situs resmi: http://www.ppi-india.org ; 
Situs milis: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia ; 
Informasi Beasiswa Scholarship: http://informasi-beasiswa.blogspot.com
--------------------------------------------------------------------------
<br>
<a href="http://informasi-beasiswa.blogspot.com";><img 
src="http://feeds.feedburner.com/Info_Beasiswa.gif"; height="67" width="200" 
style="border:0" alt="Info Beasiswa Scholarship "/></a><br>

Other related posts: