[ppi] [ppiindia] Dampak Buruk Media Terhadap Remaja Perempuan

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=3Dperspektif%7C-11%7CX
Senin, 28 Juni 2004
Dampak Buruk Media Terhadap Remaja Perempuan=20


Oleh Adriana Venny


Protesnya 6 LSM atas penayangan sinetron =93Bunglon=94 sebenarnya merupakan=
 puncak kemuakan berbagai pihak atas atas carut marutnya regulasi penyiaran=
 maupun kode etik media secara keseluruhan di Indonesia. Tidak seperti di n=
egara-negara lain yang punya Undang-undang ataupun sanksi yang jelas, di In=
donesia sepertinya media dapat masih bisa bebas merdeka untuk mengabaikan p=
rotes dari masyarakat ataupun untuk tidak mengikuti prosedur penyiaran. Aki=
batnya masyarakat sendirilah yang harus menuai akibatnya, padahal dampak me=
dia terhadap masyarakat khususnya perempuan sangatlah luas.=20

Bagi remaja perempuan, tanpa mereka sadari media telah menyumbangkan sikap =
konsumerisme, terobsesi pada tubuh kurus, kulit putih dan rambut panjang lu=
rus. Persoalan remaja perempuan Indonesia, kini menjadi hal yang genting un=
tuk dipikirkan bersama. Di tengah maraknya kasus ekspolitasi seksual, pedof=
ilia, kasus kekerasan dan perdagangan perempuan dan anak (trafficking), hal=
-hal tersebut ditambah lagi dengan pendidikan seks yang kurang memadai, ser=
ta dampak negatif media yang membuat remaja perempuan tidak percaya diri te=
rhadap tubuhnya serta cenderung menjadi konsumtif. Upaya Perlindungan akan =
hak-hak remaja perempuan tersebut tidak akan bisa terlaksana begitu saja ta=
npa bantuan media massa baik cetak maupun elektronik. Sebab media terutama =
media visual kini adalah alat yang sangat starategis dalam menularkan gagas=
an-gagasan tersebut.=20

Namun kenyataannya media di Indonesia, berdasarkan pengamatan Yayasan Jurna=
l Perempuan (YJP) justru tidak memilah-milah pesan-pesan tersebut. Semuanya=
 demi kepentingan komersial dan akibatnya banyak remaja perempuan menjadi k=
orban dari iklan, sinetron, rubrik infoteinment dan sebagainya. Masyarakat =
sendiri juga lupa bahwa mereka harus turut melindungi kepentingan dan hak-h=
ak remaja perempuan dari derasnya pesan media yang masuk. Dan jika perlu, s=
eperti yang dilakukan oleh negara-negara lain, pemerintah harus ikut campur=
 tangan dalam berbagai regulasi dalam rangka melindungi perempuan dan anak =
dari efek buruk media. Paling tidak ada beberapa catatan tentang dampak bur=
uk media terhadap remaja perempuan; Pertama, Iklan-iklan dalam media telah =
menimbulkan mitos baru akan penampilan remaja perempuan dan definisi kecant=
ikan. Cantik menurut iklan itu adalah yang berkulit putih, berambut panjang=
 dan lurus, bertubuh langsing. Remaja perempuan lalu berlomba-lomba membeli=
 produk dan menghabiskan uang semata agar kulit mereka putih, rambut mereka=
 lurus, dan tubuh mereka kurus. Sementara mereka yang tidak sesuai dengan i=
mage itu lalu menjadi tidak percaya diri.=20

Kedua, saat ini tidak seperti halnya di negara-negara lain, media di Indone=
sia tidak memiliki kewajiban menyisihkan sedikit spot untuk Iklan Layanan M=
asyarakat (ILM), akibatnya pesan-pesan untuk menanggulangi pelecehan, keker=
asan dan eksploitasi seksual serta trafficking belum tersosialisasi dengan =
baik, sehingga saat ini masih banyak korban-korban yang berjatuhan. Ketiga,=
 sinetron, telenovela, rubrik kriminalitas, infoteintment, acara-acara teng=
ah malam yang mengutamakan sensualitas serta rubrik-rubrik dalam media ceta=
k yang menimbulkan imajinasi sensual, jika tidak disaring dapat menimbulkan=
 efek buruk pada remaja perempuan. Mereka lalu terjerumus dalam dunia prost=
itusi, narkoba, pornografi, mengalami kekerasan, dan itu semua akibat media=
 tidak memberlakukan sensor pada acara-acara atau rubrik yang dimaksud.=20

Keempat, pelecehan, kekerasan dan eksploitasi terhadap remaja perempuan ole=
h media justru dijadikan bahan berita yang sensual, seru dan lucu, misalnya=
 headline dalam beberapa harian ibukota berikut ini: =93Susu dan pantat ABG=
 diremas-remas=94, =93Vagina diobok-obok=94, dan lain sebagainya. Dan kelim=
a Komisi Penyiaran Indonesia sendiri tidak memiliki sanksi yang kuat apabil=
a sebuah media melanggar code of conduct dalam rangka melindungi kepentinga=
n perempuan dan anak. Akibatnya para praksisi media merasa tidak wajib meng=
ikuti prosedur tersebut.=20

Yayasan Jurnal Perempuan sendiri telah begitu lama mengamati perkembangan m=
edia di Indonesia, ini mrupakan hal yang dinilai penting sebab YJP sebagai =
media di luar mainstream (media alternatif) melihat bahwa ada kecenderungan=
 media untuk ikut-ikutan mengeksploitasi remaja perempuan tanpa mereka sada=
ri. Hal tersebut pernah dibahas dalam Jurnal Perempuan edisi 13 dimana sebu=
ah penelitian menyebutkan bahwa perempuanlah pasar potensial sekaligus kons=
umen terbesar dunia hiburan. Perempuan dalam media selain digambarkan kecan=
tikannya dengan berkulit putih, berambut lurus dan bertubuh kurus juga kera=
p di-stereotipkan sebagai sosok yang manja, aduhai dan menghibur. Sementara=
 itu media tidak berbuat apa-apa untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri p=
erempuan jika ia ingin tampil berbeda misalnya jika ia berambut keriting, b=
erkulit hitam ataupun bertubuh gemuk.=20

Dalam Jurnal Perempuan edisi 15 berjudul =93Wacana Tubuh Perempuan=94 antar=
a lain dituliskan bahwa negara tidak berbuat apa-apa untuk melindungi dan m=
enyelamatkan hidup perempuan dan anak-anak. Angka kematian ibu melahirkan m=
isalnya, masih sangatlah tinggi sekitar 307 dari 100.000 kelahiran hidup. K=
ekerasan terhadap perempuan termasuk pelecehan, kekerasan dan ekspolitasi s=
eksual terhadap remaja perempuan juga masih terus terjadi sementara RUU ant=
i kekerasan dalam rumah tangga hingga kini juga belum kunjung disahkan. Dem=
ikian juga dengan RUU anti perdagangan manusia, dari tahun ke tahun kasus t=
rafficking juga meningkat, hingga tahun 2003 yang lalu misalnya diperkiraka=
n sekitar 70.000 remaja perempuan telah dijual ke Malaysia dan Singapura me=
lalui Tanjung Balai (Sumut) dan Indonesia sendiri termasuk negara-negara ke=
lompok tier 2 (sangat mengkhawatirkan) dalam reputasinya sebagai negara pen=
girim, persinggahan dan tujuan perdagangan manusia untuk tujuan eksploitasi=
 dan kerja paksa (Data: ICMC, 2004). Semua fakta ini menunjukkan bahwa traf=
ficking di Indonesia kini telah menjadi fenomena gunung es dan harusnya men=
jadi tugas semua pihak untuk menanggulanginya termasuk media.=20

Dalam Jurnal Perempuan edisi 28 yang berjudul =93Perempuan dan Media=94 dis=
ebutkan pula bahwa di Indonesia saat ini belum ada gerakan untuk meng-count=
er media manakala mereka misalnya beramai-ramai menyudutkan =93feminitas re=
maja perempuan=94 dengan harus berkulit putih, wangi dan sebagainya. Di neg=
ara barat gerakan itu sudah ada, misalnya gerakan pemberdayaan perempuan da=
lam program acara Oprah Winfrey. Gerakan semacam ini perlu dimulai di Indon=
esia sehingga masyarakat dapat melihat dari sudut pandang yang lain, tidak =
hanya melulu dari kacamata media.=20

Kini, saatnya bagi media untuk melai menyadari pentingnya melindungi hak-ha=
k remaja perempuan dan mendorong semua pihak baik itu orang tua, pendidik, =
guru, pemerintah, kaum akademisi, LSM, lembaga internasional, dan seluruh p=
ihak yang peduli akan hak-hak remaja perempuan baik dari dalam maupun luar =
negeri dalam mendorong perubahan paradigma dalam institusi media dan menduk=
ung diberlakukannya regulasi baru di bidang media yang mengakibatkan hak-ha=
k remaja perempuan terabaikan. Hak yang dimaksud adalah hak untuk, Mendapat=
kan informasi yang benar, Meningkatkan rasa kepercayaan diri, Bebas dari di=
skriminasi, Terlindung dari pelecehan, kekerasan dan eksploitasi seksual, M=
endapatkan pendidikan yang layak, Bisa mengakses dan mendapatkan informasi =
yang seluas-luasnya tentang kesehatan reproduksinya, bebas dari ancaman pra=
ktek perdagangan manusia, pornografi, narkoba, dan sebagainya.=20

Semua itu kini telah dan akan terus dilakukan demi perbaikan nasib perempua=
n dan anak Indonesia, dan YJP terus berharap agar lebih banyak pihak yang p=
eduli dan mendukung gagasan-gagasan ini.=20



* Adriana Venny, adalah Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, Yayasan Jurnal P=
erempuan






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
 Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20

--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius 
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri 
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg 
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke: 
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi 
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------


Other related posts: