[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SASTRA "UNDERGROUND", "PINGGIRAN DAN KELAS DUA".

** Milis Nasional Indonesia ppi-india **


DARI  NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: 


SASTRA "UNDERGROUND", "PINGGIRAN DAN KELAS DUA"

[Berbincang Santai Dengan Saudaraku Adrian Feletehan Dan Dialog Dengan Diri 
Sendiri].


Kukatakan Catatan yang kutulis di Notes Belajarku kali ini sebagai catatan 
"Dialog Dengan Diri Sendiri" karena ia pertama-tama merupakan tanya-jawab atau 
lebih tepat bisa disebut sebagai usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 
muncul pada diri sendiri dan dimunculkan oleh diri sendiri. 
Pertanyaan-pertanyaan  bisa muncul dari dalam diri sendiri melalui berbagai 
proses pengamatan, renungan dan bacaan, bisa juga muncul dan dimunculkan 
melalui perbincangan dengan orang lain yang sama-sama mencari. Bagiku 
berbincang dengan orang yang sama-sama mencari dan tidak berangkat dari posisi 
merasa hebat dan tidak merasa sudah selesai serta menempatkan diri pada 
kedudukan atas, jauh lebih menarik dan menyenangkan. Orang yang mencari dan 
tidak merasakan dirinya sudah sampai pada tingkat "selesai", memberikan tempat 
luas bagi pendapat dan pertanyaan orang lain sehingga perbincangan bisa 
dilakukan dengan sangat santai. Sifat santai perbincangan tidak menempatkan 
metode dan sistematik serta 
 rentetan acuan sebagai  hal utama, tapi akan menempatkan teman berbincang 
setara dengan dirinya sendiri bahkan terkadang merasakan teman berbincangnya 
tidak lain adalah dirinya sendiri. Perbincangan santai demikian biasanya 
diliputi oleh suasana bersahabat dan akrab, lebih-lebih ketika ia merasa yang 
diajak berdialog itu adalah dirinya sendiri. Pada saat ia merasa dirinya 
keliru, keduanya akan ngakak bersama menertawakan diri, atau kalau ada soal 
yang terlalu rumit untuk segera dijawab mereka akan menangguhkan soal tersebut 
untuk diperbincangkan di hari mendatang yang tidak pernah melenyap sekalipun 
siang tidak bermatahari dan malam tidak berbulan. Dari perbincangan begini, 
bisa diharapkan kemungkinan besar, keduanya bisa mendapatkan buah manis ranum 
pikiran yang dinikmati bersama. Aku sungguh  gembira bahwa kali ini secara 
kebetulan orang menarik demikian, aku dapatkan pada Adrian Feletehan.    

Melalui surat tanggapannya yang kedua atas Catatanku di Notes Belajar [di sini 
kusertakan kembali],Adrian Feletehan [selanjutnya kusingkat dengan Adrian] 
mengetengahkan hal-hal baru, antara lain : [1].sastra "underground", "pinggiran 
dan kelas dua"; [2]."sastra dan indokrinasi", [3]. harapan bagi sastra TKI, 
anak jalanan, dan lain-lain kelompok terpinggir; [4]. kenisbian keindahan; [5]. 
sastra dan perobahan masyarakat; [6].data statistik dan kenyataan hidup; [7]. 
fungsi sastra atau tulisan [soal ini sebenarnya bisa disatukan pada 
permasalahan ke-5: sastra dan perobahan masyarakat.

Surat tanggapan kedua Adrian ini [lihat lampiran], membuat pengenalanku akan 
Adrian makin meningkat, terutama ketika memperhatikan jumlah permasalahan yang 
menjadi renungan Adrian yang menulis sejak "sekolah dasar di akhir ntahun 70-an 
sampai sekarang". Jika dihitung dari indikasi ini, sekarang Adrian paling 
banyak berusia 30an tahun. "Usia keemasan", jika mengikuti pandangan orang di 
Tiongkok.

Mengamati surat tanggapan keduanya dengan paling tidak telah menderetkan tujuh 
pertanyaan, nampak bahwa Adrian adalah seorang yang suka merenung, bertanya dan 
mencoba menjawab pertanyaannya. Ciri dari seorang penulis yang serius dan 
bertanggungjawab. Dan nampak Adrian tetap terus bertanya, bertanya serta 
mencoba mencari jawab, tak obah dengan seorang kapitan pinisi yang selalu 
melaut tak pernah melempar sauh, sadar akan kenisbian yang mencegah kemutlakan. 

Di lembaran-lembaran Notes Belajarku kali ini tentu saja tidak bisa kuterakan 
pendapat sekaligus tentang tujuh masalah yang diangkat oleh Adrian agar 
penuturan tidak rumit. Terus-terang aku bukan orang yang suka mencari-cari 
kerumitan dalam berkomunikasi karena menganggap komunikasi dengan menggunakan 
sarana atau bentuk apapun bertujuan agar isi komunikasi bisa disampaikan oleh 
pihak lain yang bernama pemirsa, pendengar atau pembaca alias audiences. Dalam 
hal ini, aku menjadi pengikut pendapat Lu Sin, pengarang Tiongkok tahun 30-an, 
yang mengatakan jika kita berbicara "ndakik-ndakik" yang oleh orang Tiongkok 
disebut sebagai "gaya delapanan" atau "ketiak ular", "apa yang kita ucapkan 
hanya dipahami oleh kita sendiri" [itupun kalau benar kita paham benar akan apa 
yang kita bicarakan, karena sering orang bicara dengan tujuan menggagahi orang 
lain dan mengangkat diri], sama halnya dengan "orang yang bermain kecapi di 
depan lembu". Oleh karena itu Ho Chi Minh, penyair dan budayawa
 n besar Vietnam selalu menggunakan bentuk-bentuk sangat sederhana, dan Mao Tse 
Dong, sebelum menyiarkan tulisan-tulisannya senantiasa menanyakan lapisan 
non-elite, seperti buruh dan tani apakah mereka paham apa yang ditulisnya. 
Dengan sikap ini, kedua budayawan dan penyair menjawab pertanyaan secara 
praktis: Menulis untuk siapa dan untuk apa serta apa yang menjadi sumber 
tulisan mereka? Lebih jauh, sikap ini memperlihatkan pandangan hidup dan nilai 
junjungan tertentu [yang orang lain bisa setuju, bisa tidak setuju, sesuai 
pilihan masing-masing. Pilihan yang dibentuk oleh latar sejarah dan sosial 
tertentu pula!]. Metode kedua budayawan besar tersebutpun, kukira secara 
tersirat menampilkan tipe manusia idaman mereka dalam usaha memanusiawikan 
manusia, kehidupan dan masyarakat, lepas dari segala nama yang diberikan kepada 
keinginan dan nilai tersebut. 

Setindak demi setindak akan kumasuki permasalahan yang dikemukakan oleh Adrian, 
terutama untuk menjawab diri sendiri. Tidakkah pada galibnya kita terlalu kuat 
terjerat oleh akuisme? Tinggal masalahnya bagaimana egoisme ini kita kelola 
sebijak mungkin agar tidak menjadi lawan kemanusiaan dan nilai-nilai republiken.

Aku mulai dengan persoalan soal pertama yaitu "sastra "underground", "pinggiran 
dan kelas dua" yang di Perancis sering juga disebut "sastra-seni geriliya". 
Kukira, istilah "underground" kurang tepat. Karena "underground" bertautan 
dengan masalah legalitas. Hukum. Pada masa Orde Baru Soeharto berkuasa, di 
Indonesia tumbuh subur sastra-seni "underground" atau bawahtanah, seperti 
halnya sastra samisdatz di zaman Uni Soviet. Di Indonesia, yang termasuk dalam 
sastra "bawahtanah" atau "underground" ini kukira adalah karya plesetan, 
perbandingan atau analogi [sering digunakan oleh tajuk koran-koran], karya 
dalam penjara dan rumah tahanan, karya-karya eksil, karya-karya yang disiarkan 
oleh penerbitan-penerbitan bawah tanah baik di dalam negeri maupun di 
mancanegara. Sayangnya sastra "bawahtanah" ini luput dari perhatian para 
npengamat sastra dan kritisi yang terpancang pada penerbitan legal. Padahal 
kukira sastra "bawahtanah" merupakan suara nurani bangsa kita yang 
sesungguhnya, suar
 a kemanusiaan yang tak terbungkamkan. Sastra bawahtanah dalam pengertian ini 
kukira lebih cocok juga disebut sastra-geriliya, karena sastra ini merupakan 
sastra tandingan dari sastra legal dan resmi yang dekat pada kekuasaan serta 
berwatak penakut dan penjilat. Disebababkan oleh imbangan kekuatan politik pada 
waktu itu, tentu saja sastra-bawahtanah berada di garis pinggir seperti halnya 
karya-karya Mas Marco, Semaun dan lain-lain pada zaman kolonialisme Belanda, 
bahkan sampai pada ketika karya-karya Balai Pustaka berdominasi dan dipandang 
sebagai standar nilai dan salah satu titik periode sastra negeri dan bangsa 
kita. Pandangan yang dengan kuat dibela atas nama ilmu pengetahuan [terutama 
ilmu-ilmu sosial] sampai periode tertentu. Lalu dari sini, tidakkah keadaan dan 
sikap serta pandangan ilmuwan sosial itu bebas dari keberpihakan? Contoh 
menyolok adalah pemutarbalikan sejarah Indonesia melalui karya tulis sejarah 
yang dipimpin oleh Nugroho Notosusanto.Jadi, obyektivitas dal
 am ilmu sosial, kukira bukanlah sesuatu yang mutlak. Atas nama ilmu sosial, di 
Perancis, telah ditulis tesis yang menyangkal bahwa kamar gas pembasmi Yahudi 
oleh Nazi Hilter tidak lain dari rincian sejarah TANPA bukti.  Demikian pula, 
bersiteguhnya orang di negeri ini mengutuk PKI dan menjadikan mantan anggota 
PKI dan ormas-ormasnya sebagai warganegara kelas dua, apakah lepas dari masalah 
kepentingan politik dan ekonomi yang tak segan menjadikan kebenaran dan 
keadilan sebagai puntungrokok? Barangkali keadaan ini, sebagai salahsatu 
contoh, bisa meneguhkan tekad melanjutkan perjalanan membela Indonesia sebagai 
konsep yang indah dan besar untuk berbangsa, bertanahair dan negara! 
Membayangkan dan melukiskan bahwa untuk mewujudkan konsep tersebut putusasa dan 
kekerdilan tidak diperlukan! Terus-terang dalam konteks ini, aku anggap 
proklamasi kemerdekaan dan tuntutan merdeka tidak lain dari kekerdilan jiwa dan 
kesukaan pada jalan pintas!  Kerdil, kosong, hampa dan kesukaan pada jal
 an pintas yang juga tercermin dalam dunia sastra kita, kukira adalah wajah 
jiwa dan mental kita hari ini! Orang mengira gelar akademi sudah menjadikan 
diri sendiri sudah pintar dan hebat dan serta modern. Boleh jadi! Tapi 
akademisi dan modernis tanpa kemanusiaaan [Kau bisa menagih uraian lebih rinci! 
Dan aku tidak pernah lupa bagaimana seorang anak muda penyandang gelar S1 yang 
sudah jadi kebanggaan, marah besar kepadaku ketika hal ini kuucapkan di 
berbagai seminar di Jogjakarta! Di sini aku batasi agar tidak "ngladrah"]. Hari 
ini agaknya menjadi Indonesia saja sudah tak gampang!

Ketika Adrian berbicara  tentang masalah sastra "pinggiran dan kelas dua", 
kukira sesungguhnya pada saat itu Adrian berbicara tentang masalah dominasi, 
hegemoni dan ketertindasan. Dalam konteks ini, aku jadi  teringat akan ucapan 
Presiden Soekarno yang secara bebas menyitat pendapat Karl Marx bahwa 
sastra-seni, bahwa kebudayaan pada saat tertentu tidak lain daripada 
sastra-seni dan kebudayaan kelas-kelas yang dominan. Yang tidak dominan atau 
tertindas jika memberikan variasi pada istilah Mill,  tidak lain dari pada 
satra tandingan [counter litterature] yang pada saat terjadi perobahan imbangan 
kekuatan sosial-politik pada gilirannya akan menjadi sastra dominan. Yang 
dominan akan senantiasa memandang counter litterzature sebagai sastra pinggiran 
dan kelas dua, bahkan tidak pernah mereka dihitung sebagai sastra sekalipun 
jika secara takaran obyektif apa yang diciptakan oleh sastrawan di lingkungan 
kekuasaan politik tidak senantiasa mempunyai nilai sastra. Jika kalangan ini 
meng
 anggap hanya karya merekalah yang bernilai sastra tentu saja bisa dipahami 
jika dilihat dari segi kepentingan politik yang memberikan mereka suatu 
"sorga". Lalu, tidakkah keadaan begini memperlihatkan kepada kita bahwa di 
dalam sastra-seni pun sebenarnya tidak terlepas dari pertarungan kepentingan, 
lebih-lebih ketika hidup di dalam masyarakat yang tertindas dan ditindas, yang 
dijajah dan yang menjajah, yang menghisap dan yang dihisap? Pada saat Adrian 
mengetengahkan istilah sastra "pinggiran dan kelas dua" kukira Adrian sekaligus 
melukiskan keadaan ini. 

Sehari sebelum melanjutkan perjalanan ke Paris, aku nsempat mengikuti diskusi 
Meja Budaya di TIM. Pada saat itu novelis Martin Aleida menyinggung masalah 
"otoritarianisme estetika" di Indonesia. Aku hanya bisa menebak-nebak maksudnya 
karena ketika kukejar Martin menolak memasuki masalah lebih lanjut padahal ia 
sendiri yang memulainya. Kucoba memancing-mancing hadirin memasuki soal 
tersebut,termasuk memancing reaksi Nirwan Dewanto yang juga hadir ketika itu,  
tapi tidak berhasil. Sampai sekarang aku menyesali diskusi tipe 
demikian.Diskusi tanggung. Lebih kusesalkan lagi, ketika Eka Kurniawan yang 
dalam sebuah tulisannya bicara tentang soal yang tidak pernah kusinggung dalam 
forum. Hal inipun kugugat pada Martin Aleida. Agaknya Eka Kurniawan termasuk 
jenis orang yang bisa menulis beratus-ratus halaman tapi tidak bisa berdiskusi 
dan tidak bisa menjadi pendengar yang rapi dan teliti.Paling tidak, Eka 
Kurniawan dalam tulisan menjawab kritikanku, belum memahami arti bersikap korek!
  Aku usulkan agar ia mendengar kembali rekaman diskusi dan umumkan jika masih 
menghargai nilai kejujuran. Jawab titik demi titik pendapat yang kuucapkan 
ketika itu tanpa merembet ke soal-soal yang tidak ada sangkut pautnya dengan 
yang kuucapkan. Ketika itu Eka sama sekali diam dan tak bicara apapun. 
Mudah-mudahan tulisan ini terbaca oleh Martin dan Eka. Yang aku minta benar 
agar Eka mendengar kembali rekaman apa yang aku kuucapkan di forum, dan belajar 
omong yang "genah". Kalimat-kalimat ini sekaligus merupakan pemenuhan janji 
bahwa aku akan menjawab artikel panjangnya  yang "ngladrah" ditujukan kepadaku. 
Kapanpun aku siap melayani Eka. Kapanpun! Tapi,aku harap agar Eka Kurniawan 
belajar dulu mendengar orang lain dan jawab apa yang jadi point orang.Jangan 
mencampurbaurkan yang orang lain katakan sebagai apa yang kukatakan. Jika 
tidak, ia tidak akan aku gubris dan kuanggap tidak ada walaupun kelak suatu 
hari ia menjadi penulis besar negeri ini. Tapi besar tentu ada takaran ob
 yektifnya. Pesan inipun kusampaikan kepada Martin Aleida. Aku merasa bahwa 
sia-sia menjawab artikel panjang Eka Kurniawan jika ia "ngladrah" dan ia dalam 
artikel panjangnya sangat "ngladrah". Untuk apa melayani orang manusia tipe 
begini?! 

Maaf, Adrian, aku gunakan ruangan ini untuk tujuan lain yang tak ada sangkut 
pautnya dengan Adrian. Tapi dengan mengentengahkan soal Eka Kurniawan, aku 
sekaligus ingin menunjukkan taraf mentalitas dan kesanggupan orang di negeri 
kita dalam melakukan debat ide, menempatkan kritik pada tempatnya saling 
menghargai dan bersikap korek. Debat ide tanpa emosi kukira sangat diperlukan 
dalam jalan pencarian tak berujung. Dari pengalamanku selama bekerja di 
Indonesia sebagai guru sebelum terpaksa meninggalkan Indonesia, 
kampung-halaman, agaknya kita masih perlu belajar melakukan debat ide ini. 
Masih ada enam titik yang masih perlu kukomentari kepada Adrian dan akan 
kutoreh di Notes Belajarku. Aku tidak lupa.

Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI


ACUAN:

Sumber: sastra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx
31 Maret 2004.

JJ.Kusni...
Terima kasih untuk sambutan yang hangat dan bersahabat dari Anda. Saya sendiri 
bukan penyair. Memang ada beberapa puisi --atau sebut saja sesuatu yang seperti 
puisi-- yang pernah saya tulis sejak saya sekolah dasar di akhir tahun 70-an 
dulu sampai sekarang. Tetapi, saya lebih suka menyebutnya sebagai marginalia 
karena sebagian besar saya tulis di balik sampul koleksi buku saya. Atau, untuk 
mudahnya, sebut saja itu semua adalah gumaman belaka karena saya tidak pernah 
membaginya dengan orang lain. Bahkan baru setahun belakangan ini saya mencoba 
mengumpulkan kembali semua itu dan sebagian besar justru hilang karena tidak 
terdokumentasi dengan baik.

Sebagai penulis populer untuk konsumsi media cetak, saya sendiri sudah tidak 
terlalu aktif lagi karena menulis di koran ternyata sangat tidak 
memuaskan saya. Bukan soal honorariumnya, tetapi karena frustrasi setelah 
mengetahui betapa tulisan di koran tidak mampu meyakinkan saya bahwa berbicara 
kepada masyarakat terdidik di lingkungan urban (konsumen utama media cetak) 
bisa memicu perubahan, sekecil apapun. Karenanya, saya berhenti.menulis di 
koran. Beberapa kawan yang sangat berbakat ternyata juga berpikiran sama dan 
mengurangi aktifitas menulis di koran.

Sebagai gantinya, saya dan beberapa kawan memilih bekerja bersama masyarakat 
yang kurang beruntung dalam struktur sosial dan politik di negeri kita. 
Meskipun kecil sekali, piece by piece, perubahan lebih bisa diukur dari 
aktifitas itu.

Kendati begitu, saya sangat menghargai dan berharap banyak kepada gejala 
munculnya ekspresi sastra di kalangan saudara-saudara kita yang kurang 
beruntung. Di Jogja sendiri ada media-media khusus yang dikelola oleh anak-anak 
jalanan, pengamen, pekerja rumah tangga dan sebagainya. Karya mereka sangat 
khas, baik dari sisi muatan pesannya, pilihan katanya, gaya bahasanya dan 
bahkan coretan tangannya (untuk karya yang ditulis tangan dan langsung 
dicetak/copy).

Karya-karya itu memang sangat berbeda dibanding karya para penyair atau penulis 
"salon" yang tumbuh di lingkungan yang "extremely comfortable". Puisi, cerpen 
atau karya lain dari saudara-saudara kita yang tidak diuntungkan oleh keadaan 
berbicara tentang kenyataan yang hanya muncul samar-samar dalam statistik; 
kemiskinan, penindasan, pemerkosaan, perundungan seksual dan sebagainya (Lies, 
damn lies and statistics.......). Kita bisa menyebutnya lebih banyak lagi 
kenyataan yang mestinya membuat kita tidak bisa tidur lelap.

Bagi mereka, kehidupan yang berat dan sangat menekan bukanlah pilihan. 
Sedangkan bagi mereka yang berasal dari lapisan masyarakat yang cukup mapan, 
kenyataan pahit dari saudara-saudara yang menderita bolah jadi cuma menjadi 
kelangenan yang mencerahkan atau wisata intelektual yang bermanfaat untuk 
menjaga ketegangan kreatif dalam diri mereka. Dari sini, barangkali, kita bisa 
melihat perbedaan antara Wiji Thukul dengan WS Rendra atau antara Arundhati Roy 
dengan kaum dalit di India sana..

Saya tidak bermaksud mengurangi penghargaan terhadap penyair dan penulis 
seperti Rendra atau Arundhati Roy melainkan ingin mengingat kembali bahwa 
mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam menyodorkan realitas --yang pahit 
sekalipun-- dengan ungkapan kesenian yang "estetis" dan bisa diselami dengan 
nyaman oleh mereka yang tidak secara langsung melihat atau menjadi bagian dari 
realitas itu. Bukankah itu salah satu "tugas" sastrawan?

Karena itulah, saya lebih menyukai Nyanyian Angsa milik Rendra daripada pamflet 
yang dia tulis lebih kemudian...

Bahwa menjadi bagian dari realitas yang pahit bukanlah pilihan bagi para TKI, 
anak jalanan, pengamen, gelandangan, pekerja seksual komersial maupun pekerja 
rumah tangga, itu sama-sama kita pahami. Tetapi, ungkapan kesenian yang lahir 
dari keterlibatan itu memikul beban yang sama dalam hal penyampaian pesan dan 
nilai "estetis" yang mestinya melekat dalam karya seni. Saya pikir, dengan 
unsur estetika dan bobot pesan yang seimbang, sebuah karya akan sastra 
mempertegas perbedaannya dengan pamflet politik atau pedoman indoktrinasi 
partai..(hi..hi..hi..saya kok merasa perbandingan itu terlalu ekstrem, ya?)

Kembali ke soal puisi TKI. Sebagai orang yang cuma penikmat pemula karya-karya 
sastra (dan layaknya penonton sepak bola..) saya akan bertepuk riuh jika yang 
saya nikmati memuaskan. Dan saya akan memberikan "boooo......!!" jika saya 
tidak puas. Kepada karya para TKI, saya berharap proses kreatif dan penciptaan 
mereka terus berjalan dan memberikan pembelajaran yang berharga bagi mereka 
sehingga karya menjadi makin matang (setidaknya menurut para kritikus 
sastra...). Berikutnya, saya berharap media yang sudah tersedia bagi mereka 
bisa dikembangkan menjadi lebih populer dalam arti bisa diakses oleh semakin 
banyak orang. Soalnya, karya-karya sastra yang "dinilai" sejauh ini didominasi 
oleh karya yang didukung korporasi dan industri media. Karya-karya di luar 
jangkauan korporasi dan industri media masih dianggap underground, pinggiran 
dan kelas dua....Menyedihkan sekali..

Nha, soal strateginya, mari kita pikirkan bareng-bareng. Soalnya, kalau karya 
sastra para TKI kita anggap sebagai pembawa pesan, maka ia harus menjangkau 
kalangan yang lebih luas lagi. Jika tidak, saya khawatir mata, telinga dan hati 
masyarakat kita tetap tertutup terhadap realitas yang pahit sekalipun 
berita-berita tentang penderitaan, penindasan, pelecehan seksual, dan 
sebagainya yang dialami para TKI kita setiap hari muncul di koran dan televisi.

Maaf kalau diskusi ini jadi lari ke mana-mana.....

Salam hangat,
AF



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Other related posts: