[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SASTRA "UNDERGROUND", "PINGGIRAN DAN KELAS DUA".
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Wed, 31 Mar 2004 20:20:52 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:
SASTRA "UNDERGROUND", "PINGGIRAN DAN KELAS DUA"
[Berbincang Santai Dengan Saudaraku Adrian Feletehan Dan Dialog Dengan Diri
Sendiri].
Kukatakan Catatan yang kutulis di Notes Belajarku kali ini sebagai catatan
"Dialog Dengan Diri Sendiri" karena ia pertama-tama merupakan tanya-jawab atau
lebih tepat bisa disebut sebagai usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
muncul pada diri sendiri dan dimunculkan oleh diri sendiri.
Pertanyaan-pertanyaan bisa muncul dari dalam diri sendiri melalui berbagai
proses pengamatan, renungan dan bacaan, bisa juga muncul dan dimunculkan
melalui perbincangan dengan orang lain yang sama-sama mencari. Bagiku
berbincang dengan orang yang sama-sama mencari dan tidak berangkat dari posisi
merasa hebat dan tidak merasa sudah selesai serta menempatkan diri pada
kedudukan atas, jauh lebih menarik dan menyenangkan. Orang yang mencari dan
tidak merasakan dirinya sudah sampai pada tingkat "selesai", memberikan tempat
luas bagi pendapat dan pertanyaan orang lain sehingga perbincangan bisa
dilakukan dengan sangat santai. Sifat santai perbincangan tidak menempatkan
metode dan sistematik serta
rentetan acuan sebagai hal utama, tapi akan menempatkan teman berbincang
setara dengan dirinya sendiri bahkan terkadang merasakan teman berbincangnya
tidak lain adalah dirinya sendiri. Perbincangan santai demikian biasanya
diliputi oleh suasana bersahabat dan akrab, lebih-lebih ketika ia merasa yang
diajak berdialog itu adalah dirinya sendiri. Pada saat ia merasa dirinya
keliru, keduanya akan ngakak bersama menertawakan diri, atau kalau ada soal
yang terlalu rumit untuk segera dijawab mereka akan menangguhkan soal tersebut
untuk diperbincangkan di hari mendatang yang tidak pernah melenyap sekalipun
siang tidak bermatahari dan malam tidak berbulan. Dari perbincangan begini,
bisa diharapkan kemungkinan besar, keduanya bisa mendapatkan buah manis ranum
pikiran yang dinikmati bersama. Aku sungguh gembira bahwa kali ini secara
kebetulan orang menarik demikian, aku dapatkan pada Adrian Feletehan.
Melalui surat tanggapannya yang kedua atas Catatanku di Notes Belajar [di sini
kusertakan kembali],Adrian Feletehan [selanjutnya kusingkat dengan Adrian]
mengetengahkan hal-hal baru, antara lain : [1].sastra "underground", "pinggiran
dan kelas dua"; [2]."sastra dan indokrinasi", [3]. harapan bagi sastra TKI,
anak jalanan, dan lain-lain kelompok terpinggir; [4]. kenisbian keindahan; [5].
sastra dan perobahan masyarakat; [6].data statistik dan kenyataan hidup; [7].
fungsi sastra atau tulisan [soal ini sebenarnya bisa disatukan pada
permasalahan ke-5: sastra dan perobahan masyarakat.
Surat tanggapan kedua Adrian ini [lihat lampiran], membuat pengenalanku akan
Adrian makin meningkat, terutama ketika memperhatikan jumlah permasalahan yang
menjadi renungan Adrian yang menulis sejak "sekolah dasar di akhir ntahun 70-an
sampai sekarang". Jika dihitung dari indikasi ini, sekarang Adrian paling
banyak berusia 30an tahun. "Usia keemasan", jika mengikuti pandangan orang di
Tiongkok.
Mengamati surat tanggapan keduanya dengan paling tidak telah menderetkan tujuh
pertanyaan, nampak bahwa Adrian adalah seorang yang suka merenung, bertanya dan
mencoba menjawab pertanyaannya. Ciri dari seorang penulis yang serius dan
bertanggungjawab. Dan nampak Adrian tetap terus bertanya, bertanya serta
mencoba mencari jawab, tak obah dengan seorang kapitan pinisi yang selalu
melaut tak pernah melempar sauh, sadar akan kenisbian yang mencegah kemutlakan.
Di lembaran-lembaran Notes Belajarku kali ini tentu saja tidak bisa kuterakan
pendapat sekaligus tentang tujuh masalah yang diangkat oleh Adrian agar
penuturan tidak rumit. Terus-terang aku bukan orang yang suka mencari-cari
kerumitan dalam berkomunikasi karena menganggap komunikasi dengan menggunakan
sarana atau bentuk apapun bertujuan agar isi komunikasi bisa disampaikan oleh
pihak lain yang bernama pemirsa, pendengar atau pembaca alias audiences. Dalam
hal ini, aku menjadi pengikut pendapat Lu Sin, pengarang Tiongkok tahun 30-an,
yang mengatakan jika kita berbicara "ndakik-ndakik" yang oleh orang Tiongkok
disebut sebagai "gaya delapanan" atau "ketiak ular", "apa yang kita ucapkan
hanya dipahami oleh kita sendiri" [itupun kalau benar kita paham benar akan apa
yang kita bicarakan, karena sering orang bicara dengan tujuan menggagahi orang
lain dan mengangkat diri], sama halnya dengan "orang yang bermain kecapi di
depan lembu". Oleh karena itu Ho Chi Minh, penyair dan budayawa
n besar Vietnam selalu menggunakan bentuk-bentuk sangat sederhana, dan Mao Tse
Dong, sebelum menyiarkan tulisan-tulisannya senantiasa menanyakan lapisan
non-elite, seperti buruh dan tani apakah mereka paham apa yang ditulisnya.
Dengan sikap ini, kedua budayawan dan penyair menjawab pertanyaan secara
praktis: Menulis untuk siapa dan untuk apa serta apa yang menjadi sumber
tulisan mereka? Lebih jauh, sikap ini memperlihatkan pandangan hidup dan nilai
junjungan tertentu [yang orang lain bisa setuju, bisa tidak setuju, sesuai
pilihan masing-masing. Pilihan yang dibentuk oleh latar sejarah dan sosial
tertentu pula!]. Metode kedua budayawan besar tersebutpun, kukira secara
tersirat menampilkan tipe manusia idaman mereka dalam usaha memanusiawikan
manusia, kehidupan dan masyarakat, lepas dari segala nama yang diberikan kepada
keinginan dan nilai tersebut.
Setindak demi setindak akan kumasuki permasalahan yang dikemukakan oleh Adrian,
terutama untuk menjawab diri sendiri. Tidakkah pada galibnya kita terlalu kuat
terjerat oleh akuisme? Tinggal masalahnya bagaimana egoisme ini kita kelola
sebijak mungkin agar tidak menjadi lawan kemanusiaan dan nilai-nilai republiken.
Aku mulai dengan persoalan soal pertama yaitu "sastra "underground", "pinggiran
dan kelas dua" yang di Perancis sering juga disebut "sastra-seni geriliya".
Kukira, istilah "underground" kurang tepat. Karena "underground" bertautan
dengan masalah legalitas. Hukum. Pada masa Orde Baru Soeharto berkuasa, di
Indonesia tumbuh subur sastra-seni "underground" atau bawahtanah, seperti
halnya sastra samisdatz di zaman Uni Soviet. Di Indonesia, yang termasuk dalam
sastra "bawahtanah" atau "underground" ini kukira adalah karya plesetan,
perbandingan atau analogi [sering digunakan oleh tajuk koran-koran], karya
dalam penjara dan rumah tahanan, karya-karya eksil, karya-karya yang disiarkan
oleh penerbitan-penerbitan bawah tanah baik di dalam negeri maupun di
mancanegara. Sayangnya sastra "bawahtanah" ini luput dari perhatian para
npengamat sastra dan kritisi yang terpancang pada penerbitan legal. Padahal
kukira sastra "bawahtanah" merupakan suara nurani bangsa kita yang
sesungguhnya, suar
a kemanusiaan yang tak terbungkamkan. Sastra bawahtanah dalam pengertian ini
kukira lebih cocok juga disebut sastra-geriliya, karena sastra ini merupakan
sastra tandingan dari sastra legal dan resmi yang dekat pada kekuasaan serta
berwatak penakut dan penjilat. Disebababkan oleh imbangan kekuatan politik pada
waktu itu, tentu saja sastra-bawahtanah berada di garis pinggir seperti halnya
karya-karya Mas Marco, Semaun dan lain-lain pada zaman kolonialisme Belanda,
bahkan sampai pada ketika karya-karya Balai Pustaka berdominasi dan dipandang
sebagai standar nilai dan salah satu titik periode sastra negeri dan bangsa
kita. Pandangan yang dengan kuat dibela atas nama ilmu pengetahuan [terutama
ilmu-ilmu sosial] sampai periode tertentu. Lalu dari sini, tidakkah keadaan dan
sikap serta pandangan ilmuwan sosial itu bebas dari keberpihakan? Contoh
menyolok adalah pemutarbalikan sejarah Indonesia melalui karya tulis sejarah
yang dipimpin oleh Nugroho Notosusanto.Jadi, obyektivitas dal
am ilmu sosial, kukira bukanlah sesuatu yang mutlak. Atas nama ilmu sosial, di
Perancis, telah ditulis tesis yang menyangkal bahwa kamar gas pembasmi Yahudi
oleh Nazi Hilter tidak lain dari rincian sejarah TANPA bukti. Demikian pula,
bersiteguhnya orang di negeri ini mengutuk PKI dan menjadikan mantan anggota
PKI dan ormas-ormasnya sebagai warganegara kelas dua, apakah lepas dari masalah
kepentingan politik dan ekonomi yang tak segan menjadikan kebenaran dan
keadilan sebagai puntungrokok? Barangkali keadaan ini, sebagai salahsatu
contoh, bisa meneguhkan tekad melanjutkan perjalanan membela Indonesia sebagai
konsep yang indah dan besar untuk berbangsa, bertanahair dan negara!
Membayangkan dan melukiskan bahwa untuk mewujudkan konsep tersebut putusasa dan
kekerdilan tidak diperlukan! Terus-terang dalam konteks ini, aku anggap
proklamasi kemerdekaan dan tuntutan merdeka tidak lain dari kekerdilan jiwa dan
kesukaan pada jalan pintas! Kerdil, kosong, hampa dan kesukaan pada jal
an pintas yang juga tercermin dalam dunia sastra kita, kukira adalah wajah
jiwa dan mental kita hari ini! Orang mengira gelar akademi sudah menjadikan
diri sendiri sudah pintar dan hebat dan serta modern. Boleh jadi! Tapi
akademisi dan modernis tanpa kemanusiaaan [Kau bisa menagih uraian lebih rinci!
Dan aku tidak pernah lupa bagaimana seorang anak muda penyandang gelar S1 yang
sudah jadi kebanggaan, marah besar kepadaku ketika hal ini kuucapkan di
berbagai seminar di Jogjakarta! Di sini aku batasi agar tidak "ngladrah"]. Hari
ini agaknya menjadi Indonesia saja sudah tak gampang!
Ketika Adrian berbicara tentang masalah sastra "pinggiran dan kelas dua",
kukira sesungguhnya pada saat itu Adrian berbicara tentang masalah dominasi,
hegemoni dan ketertindasan. Dalam konteks ini, aku jadi teringat akan ucapan
Presiden Soekarno yang secara bebas menyitat pendapat Karl Marx bahwa
sastra-seni, bahwa kebudayaan pada saat tertentu tidak lain daripada
sastra-seni dan kebudayaan kelas-kelas yang dominan. Yang tidak dominan atau
tertindas jika memberikan variasi pada istilah Mill, tidak lain dari pada
satra tandingan [counter litterature] yang pada saat terjadi perobahan imbangan
kekuatan sosial-politik pada gilirannya akan menjadi sastra dominan. Yang
dominan akan senantiasa memandang counter litterzature sebagai sastra pinggiran
dan kelas dua, bahkan tidak pernah mereka dihitung sebagai sastra sekalipun
jika secara takaran obyektif apa yang diciptakan oleh sastrawan di lingkungan
kekuasaan politik tidak senantiasa mempunyai nilai sastra. Jika kalangan ini
meng
anggap hanya karya merekalah yang bernilai sastra tentu saja bisa dipahami
jika dilihat dari segi kepentingan politik yang memberikan mereka suatu
"sorga". Lalu, tidakkah keadaan begini memperlihatkan kepada kita bahwa di
dalam sastra-seni pun sebenarnya tidak terlepas dari pertarungan kepentingan,
lebih-lebih ketika hidup di dalam masyarakat yang tertindas dan ditindas, yang
dijajah dan yang menjajah, yang menghisap dan yang dihisap? Pada saat Adrian
mengetengahkan istilah sastra "pinggiran dan kelas dua" kukira Adrian sekaligus
melukiskan keadaan ini.
Sehari sebelum melanjutkan perjalanan ke Paris, aku nsempat mengikuti diskusi
Meja Budaya di TIM. Pada saat itu novelis Martin Aleida menyinggung masalah
"otoritarianisme estetika" di Indonesia. Aku hanya bisa menebak-nebak maksudnya
karena ketika kukejar Martin menolak memasuki masalah lebih lanjut padahal ia
sendiri yang memulainya. Kucoba memancing-mancing hadirin memasuki soal
tersebut,termasuk memancing reaksi Nirwan Dewanto yang juga hadir ketika itu,
tapi tidak berhasil. Sampai sekarang aku menyesali diskusi tipe
demikian.Diskusi tanggung. Lebih kusesalkan lagi, ketika Eka Kurniawan yang
dalam sebuah tulisannya bicara tentang soal yang tidak pernah kusinggung dalam
forum. Hal inipun kugugat pada Martin Aleida. Agaknya Eka Kurniawan termasuk
jenis orang yang bisa menulis beratus-ratus halaman tapi tidak bisa berdiskusi
dan tidak bisa menjadi pendengar yang rapi dan teliti.Paling tidak, Eka
Kurniawan dalam tulisan menjawab kritikanku, belum memahami arti bersikap korek!
Aku usulkan agar ia mendengar kembali rekaman diskusi dan umumkan jika masih
menghargai nilai kejujuran. Jawab titik demi titik pendapat yang kuucapkan
ketika itu tanpa merembet ke soal-soal yang tidak ada sangkut pautnya dengan
yang kuucapkan. Ketika itu Eka sama sekali diam dan tak bicara apapun.
Mudah-mudahan tulisan ini terbaca oleh Martin dan Eka. Yang aku minta benar
agar Eka mendengar kembali rekaman apa yang aku kuucapkan di forum, dan belajar
omong yang "genah". Kalimat-kalimat ini sekaligus merupakan pemenuhan janji
bahwa aku akan menjawab artikel panjangnya yang "ngladrah" ditujukan kepadaku.
Kapanpun aku siap melayani Eka. Kapanpun! Tapi,aku harap agar Eka Kurniawan
belajar dulu mendengar orang lain dan jawab apa yang jadi point orang.Jangan
mencampurbaurkan yang orang lain katakan sebagai apa yang kukatakan. Jika
tidak, ia tidak akan aku gubris dan kuanggap tidak ada walaupun kelak suatu
hari ia menjadi penulis besar negeri ini. Tapi besar tentu ada takaran ob
yektifnya. Pesan inipun kusampaikan kepada Martin Aleida. Aku merasa bahwa
sia-sia menjawab artikel panjang Eka Kurniawan jika ia "ngladrah" dan ia dalam
artikel panjangnya sangat "ngladrah". Untuk apa melayani orang manusia tipe
begini?!
Maaf, Adrian, aku gunakan ruangan ini untuk tujuan lain yang tak ada sangkut
pautnya dengan Adrian. Tapi dengan mengentengahkan soal Eka Kurniawan, aku
sekaligus ingin menunjukkan taraf mentalitas dan kesanggupan orang di negeri
kita dalam melakukan debat ide, menempatkan kritik pada tempatnya saling
menghargai dan bersikap korek. Debat ide tanpa emosi kukira sangat diperlukan
dalam jalan pencarian tak berujung. Dari pengalamanku selama bekerja di
Indonesia sebagai guru sebelum terpaksa meninggalkan Indonesia,
kampung-halaman, agaknya kita masih perlu belajar melakukan debat ide ini.
Masih ada enam titik yang masih perlu kukomentari kepada Adrian dan akan
kutoreh di Notes Belajarku. Aku tidak lupa.
Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
ACUAN:
Sumber: sastra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx
31 Maret 2004.
JJ.Kusni...
Terima kasih untuk sambutan yang hangat dan bersahabat dari Anda. Saya sendiri
bukan penyair. Memang ada beberapa puisi --atau sebut saja sesuatu yang seperti
puisi-- yang pernah saya tulis sejak saya sekolah dasar di akhir tahun 70-an
dulu sampai sekarang. Tetapi, saya lebih suka menyebutnya sebagai marginalia
karena sebagian besar saya tulis di balik sampul koleksi buku saya. Atau, untuk
mudahnya, sebut saja itu semua adalah gumaman belaka karena saya tidak pernah
membaginya dengan orang lain. Bahkan baru setahun belakangan ini saya mencoba
mengumpulkan kembali semua itu dan sebagian besar justru hilang karena tidak
terdokumentasi dengan baik.
Sebagai penulis populer untuk konsumsi media cetak, saya sendiri sudah tidak
terlalu aktif lagi karena menulis di koran ternyata sangat tidak
memuaskan saya. Bukan soal honorariumnya, tetapi karena frustrasi setelah
mengetahui betapa tulisan di koran tidak mampu meyakinkan saya bahwa berbicara
kepada masyarakat terdidik di lingkungan urban (konsumen utama media cetak)
bisa memicu perubahan, sekecil apapun. Karenanya, saya berhenti.menulis di
koran. Beberapa kawan yang sangat berbakat ternyata juga berpikiran sama dan
mengurangi aktifitas menulis di koran.
Sebagai gantinya, saya dan beberapa kawan memilih bekerja bersama masyarakat
yang kurang beruntung dalam struktur sosial dan politik di negeri kita.
Meskipun kecil sekali, piece by piece, perubahan lebih bisa diukur dari
aktifitas itu.
Kendati begitu, saya sangat menghargai dan berharap banyak kepada gejala
munculnya ekspresi sastra di kalangan saudara-saudara kita yang kurang
beruntung. Di Jogja sendiri ada media-media khusus yang dikelola oleh anak-anak
jalanan, pengamen, pekerja rumah tangga dan sebagainya. Karya mereka sangat
khas, baik dari sisi muatan pesannya, pilihan katanya, gaya bahasanya dan
bahkan coretan tangannya (untuk karya yang ditulis tangan dan langsung
dicetak/copy).
Karya-karya itu memang sangat berbeda dibanding karya para penyair atau penulis
"salon" yang tumbuh di lingkungan yang "extremely comfortable". Puisi, cerpen
atau karya lain dari saudara-saudara kita yang tidak diuntungkan oleh keadaan
berbicara tentang kenyataan yang hanya muncul samar-samar dalam statistik;
kemiskinan, penindasan, pemerkosaan, perundungan seksual dan sebagainya (Lies,
damn lies and statistics.......). Kita bisa menyebutnya lebih banyak lagi
kenyataan yang mestinya membuat kita tidak bisa tidur lelap.
Bagi mereka, kehidupan yang berat dan sangat menekan bukanlah pilihan.
Sedangkan bagi mereka yang berasal dari lapisan masyarakat yang cukup mapan,
kenyataan pahit dari saudara-saudara yang menderita bolah jadi cuma menjadi
kelangenan yang mencerahkan atau wisata intelektual yang bermanfaat untuk
menjaga ketegangan kreatif dalam diri mereka. Dari sini, barangkali, kita bisa
melihat perbedaan antara Wiji Thukul dengan WS Rendra atau antara Arundhati Roy
dengan kaum dalit di India sana..
Saya tidak bermaksud mengurangi penghargaan terhadap penyair dan penulis
seperti Rendra atau Arundhati Roy melainkan ingin mengingat kembali bahwa
mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam menyodorkan realitas --yang pahit
sekalipun-- dengan ungkapan kesenian yang "estetis" dan bisa diselami dengan
nyaman oleh mereka yang tidak secara langsung melihat atau menjadi bagian dari
realitas itu. Bukankah itu salah satu "tugas" sastrawan?
Karena itulah, saya lebih menyukai Nyanyian Angsa milik Rendra daripada pamflet
yang dia tulis lebih kemudian...
Bahwa menjadi bagian dari realitas yang pahit bukanlah pilihan bagi para TKI,
anak jalanan, pengamen, gelandangan, pekerja seksual komersial maupun pekerja
rumah tangga, itu sama-sama kita pahami. Tetapi, ungkapan kesenian yang lahir
dari keterlibatan itu memikul beban yang sama dalam hal penyampaian pesan dan
nilai "estetis" yang mestinya melekat dalam karya seni. Saya pikir, dengan
unsur estetika dan bobot pesan yang seimbang, sebuah karya akan sastra
mempertegas perbedaannya dengan pamflet politik atau pedoman indoktrinasi
partai..(hi..hi..hi..saya kok merasa perbandingan itu terlalu ekstrem, ya?)
Kembali ke soal puisi TKI. Sebagai orang yang cuma penikmat pemula karya-karya
sastra (dan layaknya penonton sepak bola..) saya akan bertepuk riuh jika yang
saya nikmati memuaskan. Dan saya akan memberikan "boooo......!!" jika saya
tidak puas. Kepada karya para TKI, saya berharap proses kreatif dan penciptaan
mereka terus berjalan dan memberikan pembelajaran yang berharga bagi mereka
sehingga karya menjadi makin matang (setidaknya menurut para kritikus
sastra...). Berikutnya, saya berharap media yang sudah tersedia bagi mereka
bisa dikembangkan menjadi lebih populer dalam arti bisa diakses oleh semakin
banyak orang. Soalnya, karya-karya sastra yang "dinilai" sejauh ini didominasi
oleh karya yang didukung korporasi dan industri media. Karya-karya di luar
jangkauan korporasi dan industri media masih dianggap underground, pinggiran
dan kelas dua....Menyedihkan sekali..
Nha, soal strateginya, mari kita pikirkan bareng-bareng. Soalnya, kalau karya
sastra para TKI kita anggap sebagai pembawa pesan, maka ia harus menjangkau
kalangan yang lebih luas lagi. Jika tidak, saya khawatir mata, telinga dan hati
masyarakat kita tetap tertutup terhadap realitas yang pahit sekalipun
berita-berita tentang penderitaan, penindasan, pelecehan seksual, dan
sebagainya yang dialami para TKI kita setiap hari muncul di koran dan televisi.
Maaf kalau diskusi ini jadi lari ke mana-mana.....
Salam hangat,
AF
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SASTRA "UNDERGROUND", "PINGGIRAN DAN KELAS DUA".