[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SASTRA TKI & CIRI-CIRINYA
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 29 Mar 2004 17:42:53 +0200
** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM:
SASTRA TKI & CIRI-CIRINYA
Mengikuti kehidupan perpuisian di dunia maya dan media cetak tanahair, sampai
sekarang nampak bahwa sanjak cinta tetap merupakan arus kuat dan gelombang
besar yang menggemuruh dan berdebur. Yang saya maksudkan dengan sanjak cinta,
tidak lain daripada sanjak-sanjak yang mengambil cinta sebagai tema olahan.
Barangkali keadaan demikian berkaitan dengan usia relatif muda para penulis
karya-karya puisi tersebut, di samping asal strata sosial mereka yang bisa
dikelompokkan pada lapisan kelas menengah, lulusan "tiga pintu"[pintu keluarga,
sekolah dan kantor] dan masih asing dari badai topan perjuangan mayoritas
penduduk yang bersifat hidup-mati serta kalah-menang. Bersumber dari basis
sosial-ekonomi demikian maka sastra-seni yang dilahirkan pun mencerminkan
keadaan lapisan kelas-menengah dari mana para pendukungnya berasal. Wajah
sastra-seni yang agak kelimis, wangi parfum dan salon yang asyik dengan
keasyikan dunia tersendiri di mana tidak jarang soal-soal buruh, tani, politik
dili
rik sekilas atau dipandang dengan menyipitkan mata keheranan seperti orang
tercengang ketika tiba-tiba berhadapan dengan seekor kijang tersesat ke
halaman rumah pusat kota. Apalagi selama hampir tiga dasawarsa, rezim Orde Baru
Soeharto melakukan depolitisasi yang sangat sistematik.Di tengah-tengah syarat
politik, sosial-ekonomi dan budaya dominan yang demikian, maka munculnya
manusia penyair yang sekaligus sebagai aktivis gerakan demokratisasi seperti
Wiji Thukul yang berasal dari lapisan bawah masyarakat, tidaklah merupakan hal
yang jamak. Sekalipun memang dari sisi lain juga bisa dilihat bahwa Wiji Thukul
dengan begitu dilahirkan oleh zamannya seperti halnya Mas Marco atau Cak
Durasim dilahirkan oleh zaman masing-masing. Perbedaan asal strata-sosial serta
jauh dekatnya, terlibat tidaknya para penyair dengan kehidupan mayoritas dan
gerakan sosial-politik, memperlihatkan diri kembali pada karya, pada sikap
para seniman [dalam hal ini, penyair] ketika menempatkan puisi d
i tengah kehidupan dan masyarakat. Bahkan pada di mana mereka menempatkan diri
sendiri dalam kehidupan dan masyarakat yang tentu saja bersesuaian dengan
pandangan hidup yang banyak ditentukan oleh kondisi sosial.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah gejala yang diperlihatkan oleh
warga masyarakat Tenaga Kerja Indonesia [TKI], yaitu orang-orang Indonesia yang
mencari pekerjaan dan bekerja di luarnegeri. Seperti umum diketahui bahwa
jumlah TKI tidaklah kecil dan mereka tersebar di lima benua, mulai dari Amerika
melalui Eropa, Afrika dan Asia sampai ke Australia. Gejala yang saya maksudkan
adalah terutama gejala yang berkaitan dengan bidang sastra-seni. Walaupun masih
dalam jumlah yang belum menonjol agaknya warga masyarakat TKI sudah mulai
mengungkapkan diri, menuturkan pahit-getir serta permasalahan mereka dalam
bentuk karya sastra-seni seperti: puisi, laporan, esai, cerpen, lukisan dan
drama. Dalam bidang puisi, misalnya nama Mega Vristian [Hong Kong] nampak
paling menonjol, sedangkan bidang esai mulai menampilkan dua nama: Jelitheng
[Eropa Barat] dan Erine Endri [Beijing], lalu di bidang reportase atau laporan
telah muncul nama Suraiya Kamaruzzaman [Hong Kong]. Karya-karya me
reka muncul dan disiarkan selain melalui internet juga disiarkan di
penerbitan-penerbitan buruh migran di luar negeri serta majalah dan suratkabar
di Indonesia.
Karya-karya mereka memperlihatkan ciri yang berbeda dari karya-karya dominan
atau arus umum dalam sastra-seni yang berkembang di Indonesia dewasa ini.
Sekalipun para penulisnya hidup di luarnegeri mereka tidak mengesankan
tenggelam oleh glamour konsumerisme, tidak silau oleh kemerlap kehidupan negeri
orang. Melalui tulisan-tulisan mereka yang tidak lain dari warga masyarakat
TKI itu sendiri atau aktivis organisasi buruh migran, kita mengenal
pahit-getir, persoalan dan harapan para TKI.Keberpihakan kepada pihak yang
lemah, tuntutan akan keadilan dan kemanusiaan merupakan ciri utama karya-karya
warga masyarakat TKI ini. Sastra-seni bagi warga masyarakat TKI seperti halnya
Wiji Thukul dengan puisi-puisinya, merupakan alat memanusiawikan diri dan
kehidupan. Sikap ini nampak jelas dari sanjak-sanjak Mega yang belakangan
disiarkan seperti: "Megatruh Purwanti", "Satiyem: Ibu Indonesia", "Amien
Fahlan", "Elegi TKW", "Dari Taman Victoria", "Mariska", dan lain-lain... bahkan
pada san
jak tiga barisnya berikut:
"MALAM MINGGU"
malam mingu
cuma kuintip dari jendela kamar
ada darah menetes di wajah rembulan
Hong Kong, 27 Maret 2004."
"Darah [yang] menetes di wajah rembulan" itu adalah darah buruh migran,
terutama di Hong Kong di mana Mega hidup dan bekerja sebagai TKI. Mengapa fisik
dan jiwa warga masyarakat TKI di Hong Kong sampai berdarah? Penyair memancing
dan mengundang kritikus dan pembaca untuk mengenal permasalahan lebih jauh.
Melalui sanjak-sanjaknya yang belakangan, nampak Mega sudah memasuki tahap baru
dalam berpuisi. Keberpihakannya makin nyata dan jelas. Mega sudah meninggalkan
tema cinta dan memasuki wilayah perjuangan politik, sosial dan ekonomi, hak
azasi, keadilan. Mega, seperti halnya juga Erine Endri, Jelitheng dan Suraiya
menempatkan karya-karya mereka dalam kontek perjuangan TKI dan kemanusiaan.
Keberpihakan dan di mana puisi serta karya-karya ditempatkan oleh para penulis
warga masyarakat TKI, diungkapkan dengan tandas oleh Mega dalam sepucuk
suratnya [29 Maret 2004] kepada Mawi, penyair yang tinggal di Amsterdam, di
mana antara lain dikatakannya:
"Entah abang apakah masih menyediakan waktu untuk membaca puisi saya, yang ada
di beberapa milis sastra.Dari situ abang bisa memahami betapa hati dan nurani
saya merasa terbantai melihat penderitaan, penindasan dan ketidak adilan yang
di alami beberapa rekan TKI lainnya.
Saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka, walaupun mungkin apa yang saya
lakukan belum bisa menolong banyak terhadap mereka. Lewat puisi, saya berbicara
pada dunia, lewat puisi saya mengurai penderitaan mereka pada bunda
pertiwi,karena mereka adalah anak negeri yang perlu perhatian, belai sayang dan
pertolongan dari bunda pertiwi. Entah apakah bunda pertiwi Akan tega membiarkan
lima anaknya saat ini meregang takut menanti keputusan hukuman mati dari
pemerintah Singapura?"
Keberpihakan para penulis TKI ini tidak berhenti pada kata-kata, tapi mereka
ujudkan ke dalam kenyataan dengan terjun langsung sebagai aktivis. Mega dan
Suraiya misalnya aktif di Indonesia Migrant Worker Union [IMWU], Jelitheng
aktif dalam berbagai kegiatan humaniter di Eropa Barat, Erine yang tadinya di
Xiamen melanjutkan kegiatan serupa di Beijing. Kata dan praktek disatukan oleh
para penulis TKI karena kata dan praktek adalah kehidupan mereka sendiri.
Dituntut oleh kehidupan sebagai TKI, karya, juga puisi di tangan mereka bukan
menjadi lagu ninabobok tapi untuk memanusiawikan diri dan kehidupan. Kehidupan
jugalah yang mendesak mereka untuk menjadi penyair, menjadi penulis tapi
sekaligus sebagai aktivis praktis yang menerjuni langsung kancah pertarungan
yang membuat "rembulan" pun terpercik "darah". Di kancah pertarungan berdarah
[yang jauh dari wangi salon dan kelimis wajah fisik dan kekenesan jiwa kelas
menengah] inilah mereka menempa, mengobah dan mematangkan diri dan k
arya-karya mereka. Dengan latarbelakang kehidupan begini maka tokoh yang lahir
dari karya-karya penulis TKI bukanlah noni-noni dan sinyo kota serta salon yang
suka bingung dan stress.
Dua jenis sastra-seni lahir dari dua sastra sosial berbeda. Keduanya lahir dan
hidup di dunia sastra Indonesia sekalipun sastra dan karya yang ditulis
diciptakan oleh lapisan bawah sering tidak dipandang sebelah mata, dipandang
tidak bernilai seni, kurang bobot universal dan penuh demagogi oleh penulis
dan seniman salon. Sikap beginipun memperlihatkan bahwa di dunia sastra-seni
terdapat paling tidak dua standar dan norma. Standar salon dan standar populer
di kalangan bawah.Yang menggelikan bahwa kehidupan sering mempertontonkan
pertunjukan dimainkan para seniman dan manusia salon yang bicara tentang
universalisme, tentang kemanusiaan, demokratisasi atau keadilan, sementara pada
detik yang sama tindakan mereka menyangkal ucapan mereka sendiri. Sehingga
kita dipaksa merenung apakah universalisme tidakkah sama dengan kepentingan
kelompok dan golongan; kemanusiaan sinonim dari perbudakan, demokratisasi sama
dengan otokorasi dan diktatur; sedangkan keadilan berupa penindasa
n terhadap yang lain.
Jika demikian, apakah tidak perlu sejarah sastra ditulis kembali atau sejarah
sastra lapisan bawah yang tidak dindahkan atau kurang diperhatikan, memang
sudah selayaknya ditulis? Jika kelak ia ditulis, saya kira sastra TKI, sastra
bawah tanah, sastra-eksil, karya-karya di tahanan dan penjara serta yang selama
ini tidak diperhatikan, akan mendapat tempat yang patut.
Catatan belajar ini hanyalah suatu usaha awal memahami ciri-ciri sastra-seni
TKI yang sekarang memperlihatkan tanda-tanda keberadaannya di dunia sastra
Indonesia. Pernahkah gejala ini sejenak berkelebat di mata perhatian para
pengamat sastra dan kalangan akademisi negeri kita? Ataukah karya yang
dihasilkan warga TKI akan senasib dengan TKI itu sendiri di kalangan bangsanya.
Boleh jadi begini: Warga TKI dan penulis-penulis TKI pertama-tama dan terlebih
dahulu, layak pandai dan bisa menghargai serta menghormati diri sendiri. Dalam
hal ini organisasi buruh migran seperti IMWU bisa memainkan peranan penting.
Siapapun tidak akan menghormati dan menghargai diri kita kalau kita tidak
pertama-tama menghormati dan menghargai diri sendiri. Mengapa tidak misalnya
ILWU menerbitkan karya-karya tentang TKI dalam dua bahasa: Inggris dan
Indonesia? Saya melihat bahwa sastra TKI mempunyai ciri dan watak tersendiri
yang hanya membuatmenambah pelangi sastra tanahair bertambah warna.
"Pengorbanan berat membulatkan tekad
yang kuasa menempa surya dan candra
bercahya di cakrawala baru"
demikian seorang penyair Tiongkok menulis ketika Tiongkok menghadapi kesulitan
demi kesulitan beruntun. Barangkali kata-kata penyair Tiongkok inipun bisa
diterapkan dalam usaha warga TKI termasuk para penulisnya, guna menghormati dan
menghargai diri sendiri. Banyak yang bisa dilakukan ketika prakarsa tersulut
dan marak.
Paris, Maret 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: SASTRA TKI & CIRI-CIRINYA