[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: "KUHARAP KAMU TIDAK TERSINGGUNG"
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 28 May 2004 11:43:31 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dari Notes Belajar Seorang Awam:
"KUHARAP KAMU TIDAK TERSINGGUNG"
Kalimat di atas adalah baris terakhir dari sanjak Adrian Faletehan yang ber=
judul "Untuk tuhan" disiarkan oleh milis sastra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx [27 Mei=
2004]. Dibandingkan dengan sanjak-sanjak Adrian sebelumnya, sanjak "Untuk =
tuhan" ini lebih menggelitik diriku. Tentu saja, sanjak "Untuk tuhan" tetap=
mengandung ciri-ciri Adrian yang sederhana dan langsung mengucapkan hasil =
renungannya. Karena nampak Adrian adalah seorang anakmuda yang suka mengama=
t lingkungan dan kehidupan serta merenungi apa yang ia amati dan menyentuh =
jiwanya. Adrian memang seorang yang peka rasa tapi juga peka pikiran. Kary=
a-karyanya seperti juga dengan sanjak-sanjak Mega Evrestianiwati, merupakan=
paduan dari keduanya. Ia tidak hanyut dalam ombang-ambing rasa, tetapi sel=
alu mencoba menangkap sesuatu yang lebih dalam dari gejala . Dalam usaha in=
i, ia tidak selalu berhasil dan sering terasa tergesa-gesa sehingga dalam=
pengungkapannya sering terburu-buru atau barangkali disengaja untuk bercan=
da. Hanya terus-terang, bermain-main dengan berpuisi adalah suatu sikap yan=
g kurang kuminati karena terasa seperti ejekan terhadap sastra, khususnya p=
uisi. Karena aku memandang sastra, termasuk puisi sebagai sesuatu yang se=
rius. Ya, tentu saja hak seseorang untuk sinis, untuk memaki, bermain-main,=
serius dan bercanda, tapi sebaiknya tidak usah sampai melampaui batas apal=
agi memasuki pekarang pribadi seseorang yang tidak ada sangkutpautnya denga=
n puisi sesuai dengan pengertian kemerdekaan dan kebebasan. Memasuki pekara=
ngan pribadi tanpa sudah masuk kategori kekalapan tidak beradat jika menuru=
t istilah orang Dayak. Ini hendaknya dibaca sebagai pernyataan umum dan bu=
kan ditujukan kepada alamat tertentu -- sesuatu yang sering juga sulit diba=
ca oleh yang merasa diri bisa membaca. Berbeda dengan Mega, Adrian tidak pe=
rnah merevisi puisi yang pernah ia siarkan. Keberanian dan kebiasaan merevi=
si sanjak yang dilakukan oleh Mega, kuanggap sebagai sesuatu yang positif, =
ujud dari pencarian tak kenal henti, usaha mencapai ketinggian-ketinggian y=
ang tak pernah masuk hitungan dugaan..=20
Kesungguhan dan kesadaran berpuisi Adrian pun nampak selain dari isi sanjak=
nya, juga diperlihatkan oleh kesadarannya memilih kata dan cara menulis ses=
uatu. Misalnya dalam sanjak "Untuk tuhan", ia sadar benar tidak mau menulis=
kata "tuhan" dengan huruf besar:=20=20
".............................................
....maka kuputuskan=20
menulis namamu tanpa huruf besar
kuharap kamu tidak tersinggung"
Kesadaran berpuisi ini juga ia perlihatkan melalui komentar pendek atas ter=
jamahan sanjak-sanjak Federico Garcia Lorca dalam antologi puisi "Romancero=
Gitano" yang oleh sementara kritikus sastra Eropa Barat dipandang sebagai=
karya utama [master-piece] puisi Lorca, dan yang sekarang kucoba selesaika=
n. Dalam komentar pendeknya atas usaha ini, Adrian mengatakan bahwa untuk b=
isa mengalihbahasakan sebuah karya sastra, termasuk puisi, kita perlu memah=
ami latarbelakang sosial dan sejarah di mana karya itu dilahirkan. Komentar=
singkat ini telah melukiskan secara padat hubungan antara sastra-seni deng=
an masyarakat menurut pandangan Adrian. Bukti lain bisa kita dapatkan dari=
pandangan-pandangan kemasyarakatan yang pernah diungkapkan melalui milis s=
astra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx ini juga tentang misalnya apa yang disebut "ing=
atan kolektif", apa yang disebut "hukum" dan lebih-lebih lagi dari tutur=
annya tentang untuk apa ia menulis. Data-data ini semua menunjukkan bahwa A=
drian adalah seorang penyair yang mempunyai komitmen sosial. Ini adalah are=
na tarung umum yang ia geluti dengan berbagai sarana di tangan, antara lain=
puisi. Adrian ingin menjadi makhluk sosial anak bumi, putra kehidupan nyat=
a yang bukan sesudah mati.Ia ingin menjadi manusia yang manusiawi selagi ia=
hidup. Orang lain bisa tidak sepakat dengan komitmen dan pilihan Adrian. T=
api sama berhaknya dengan siapapun jika Adrian memilih jalan komitmennya se=
bagai hak pribadi seseorang untuk mencintai dan tidak mencintai. Dengan k=
esadaran begini, kiranya tidak berkelebihan jika dari anakmuda seserius Adr=
ian kita bisa mengharapkan banyak hal positif yang bakal bisa ia sumbangka=
n kepada masyarakat dan usaha memanusiawikan manusia. Sejauh ini nampak bah=
wa Adrian bukanlah sejenis manusia "alat jinak" [docile tool] siapapun, me=
nyandarkan otaknya kepada orang lain, dan tidak terperangkap oleh hal tetek=
-bengek, bukan pula jenis yang suka menggagahi orang lain. Ia hadir sebagai=
dirinya sendiri tanpa kompleks dengan keberanian dan ketegasan mengetenga=
hkan buah renungannya. Dalam hal ini aku melihat kesejajaran jalan yang dit=
empuh Adrian dengan Aguk Irawan dan teman-temannya di Kairo. Sejajar dengan=
jalan pencarian dan usaha menemukan serta usaha menjawab pertanyaan. Angk=
atan begini, aku lihat sebagai matahari "jam delapan sembilan pagi" yang mu=
ngkin memberikan kehangatan dan cahaya bagi bangsa, tanahair dan kemanusiaa=
n. Hadirnya angkatan begini sekalipun masih belum besar dan belum merupakan=
barisan panjang perkasa, meyakinkan diriku bahwa matahari tidak pernah ber=
henti bersinar. Sekalipun merupakan titik-titik cahaya kecil, di mana-mana =
kusaksikan dan kudapatkan kehadiran manusia tipe ini, termasuk di tengah hi=
ruk-pikuk Jakarta, Manik Purba dengan Majalah Budaya Aksara-nya, Jaringan K=
erja Budaya dengan Media Kerja Budaya-nya, tidak lain daripada titik-titik =
cahaya itu. Keadaan ini mengingatkan aku pada pesan seorang penyair-pemikir=
besar Asia yang mengatakan bahwa dalam keadaan sepekat apapun, akan selalu=
ada secercah cahaya. Tataplah cahaya itu. Melangkahlah ke arahnya! Angkat=
an Adrian, angkatan Manik Purba, angkatan Aguk Irawan dkk, angkatan Ronny T=
eguh di Kalteng, dan lain-lain yang sebaya, kulihat sebagai angkatan penang=
gungjawab timbul-tenggelamnya negeri dan bangsa ini. Angkatan harapan yang =
patut didukung oleh semua pencinta kemanusiaan dan haridepan yang manusiawi=
. Dalam proses angkatan matahari "jam delapan sembilan pagi" ini pasti akan=
makin tajam sorot pandang mereka, terutama ketika melihat tamasya politik.=
Hal ini mungkin mereka lakukan jika kenal lapangan seperti mereka mengenal=
garis-garis telapak tangan mereka. Mereka dipaksa mengenalnya jika tidak i=
ngin terjebak dan tersesat sebagai warga republik berdaulat sastra-seni. Si=
kap ilmuwan dan kepribadian sastrawan akan mengantar mereka ke kehidupan ny=
ata meninggalkan kenyamanan menara gading. Keinginan untuk setia pada peran=
an sebagai warga republik berdaulat sastra-seni ini diperlihatkan oleh Adri=
an melalui sanjaknya yang kuanggap padu dan paling berhasil dibandingkan de=
ngan sanjak-sanjak sebelumnya. Hasil ini membuktikan kembali kemampuan huku=
m kuantitas melahirkan kualitas, praktek merupakan guru sejati untuk berta=
han dan diuji. Sanjak Adrian yang kumaksudkan lengkapnya sebagai berikut:
Untuk tuhan
kita telah berkawan dekat
sejak ayah membisikkan namamu di telingaku
untuk meredakan tangis pertamaku
tapi
kau tak pernah menoleh, apalagi menyahut
setiap kali aku memanggilmu, maka kuputuskan=20
menulis namamu tanpa huruf besar
kuharap kamu tidak tersinggung
yogyakarta, 27 mei 2004
[Dari: sastra_tki@xxxxxxxxxxxxxxx=20
Thursday, May 27, 2004 4:34 AM]
Dengan kata-kata sederhana, Adrian menyimpulkan pengalaman dan menetapkan b=
agaimana menghadapi kehidupan yang garang dengan bersandar pada dua kaki da=
n tangannya. Kesederhanaan sering menyatu dengan kedalaman yang sekaligus m=
encakup ruang lingkup permasalahan hakiki yang saling bertarung di alam pik=
iran banyak orang dewasa ini.Sering artinya tidak selalu. Tapi kesederhanaa=
n ini yang telah dilakukan oleh Adrian melalui sanjak di atas. Kesederhanaa=
n orang yang berpikir. Apa yang diungkapkan oleh Adrian melalui sanjak ini=
, mengingatkan aku pada yang sering diuraikan oleh Moh.Arkoun, islamolog Pe=
rancis asal Aljazair tentang masalah kebenaran dan sumber kebenaran pada ab=
ad ke-13, titik awal yang menjadi kunci mengapa Barat "berkembang" dan Timu=
r "terbelakang". Dengan sanjak ini agaknya Adrian menempuh jalan Averro=E9s=
[Ibn Rushd].Masalah besar hakiki universal telah diangkat oleh Adrian deng=
an kesederhanaan puitik melalui sanjak di atas. Dan tanpa keraguan dan kemu=
nafikan, Adrian sekaligus telah menetapkan tempatnya berdiri, pilihan yang =
menunjukkan kadar dirinya sebagai warga republik berdaulat sastra-seni. Dil=
ihat secara lebih sempit, melalui sanjak di atas, Adrian tidak menyerahkan =
hidup pribadinya, tidak menumpukan nasib tanahair dan bangsanya pada kekuat=
an gaib yang "tak pernah menoleh apalagi menyahut setiap kali aku memanggil=
mu". Kenyataan demikian membuat Adrian bersikap "maka kuputuskan, menulis n=
amamu tanpa huruf besar". "Kuharap kamu tidak tersinggung", Adrian mengunci=
sanjaknya.=20
Di atas segalanya, tersinggung atau tidak, kita harus hidup dan menghidupi =
waktu-waktu kita! Mencoba menggantikan airmata dengan candaria tanpa menung=
gunya setelah ajal dan kedatangan malam kehidupan. Duka dan derita sudah te=
rlalu menyinggung anak manusia dan memerosotkan martabat anak manusia. Kasu=
s Nirmala Bonat adalah salah satu kemerosotan martabat manusia!Siapakah yan=
g menoleh? "Kuharap kamu tidak tersinggung" dengan pertanyaan ini.=20
Paris, Mei 2004.
--------------
JJ.Kusni=20=20
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: "KUHARAP KAMU TIDAK TERSINGGUNG"