[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [8]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Mon, 2 Aug 2004 05:00:17 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dari Notes Belajar Seorang Awam:
CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [8].
"BAKUL SEORANG IBU PENJUAL KUE PASAR KRANGGAN"
Tahun-tahun 60an, Perang Vietnam sedang marak berkecamuk. Presiden Soekarno=
yang dibesarkan oleh perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme ser=
ta salah satu tokoh penting Gerakan Asia-Afrika dan Amerika Latin yang dimu=
lai dengan Konfrensi Asia-Afrika di Bandung, tanpa keraguan sedikitpun meny=
okong perjuangan rakyat Vietnam melawan agresi imperialis Amerika Serikat u=
ntuk menyatukan negeri.=20
Ketika kemudian berada di Vi=EAt Nam, aku menyaksikan dan mendengarkan send=
iri bagaimana rakyat Vi=EAt Nam hingga jauh di pedesaan luas menuturkan den=
gan penuh kecintaan dan penghargaan kepada Indonesia yang mereka namakan Na=
m Dung [baca: Nam Zung, negeri/kepulauan selatan], di bawah pemerintah Pre=
siden Soekarno atas setiakawan ini. "Sekalipun Indonesia Soekarno sedang m=
enghadapi berbagai kesulitan, tapi dengan tulus Indonesia mengirimkan beras=
dan obat-obatan kepada kami. Soekarno bahkan menawarkan sukarelawan Indone=
sia untuk membantu kali", tutur orang-orang desa dari utara ke selatan nege=
ri yang berbentuk huruf S itu dengan penuh keharuan. Ya! Benar, Guk. Daerah=
pedesaan yang luas bukan perkotaan. Karena selama berada di negeri ini, bo=
leh dikatakan hampir seluruh waktu, aku berada di daerah pegunungan dan ped=
esaan. Hanoi, Haiphong, Da Nang, Hue, Saigon, tak terlalu kukenal dibanding=
kan daerah pegunungan dan pedesaan. Sambil bercerita terkadang mereka menya=
nyikan lagu-lagi berbagai daerah negeri kita seperti "Butet", "Ayo Mama", "=
A Sing Sing So", "Rayuan Pulau Kelapa", dan lain-lain.. dalam bahasa Vi=EAt=
Nam.=20=20=20=20
Waktu masih mahasiswa Gadjah Mada, organisasi-organisasi mahasiswa di lingk=
ungan universitas juga sering menerima kunjungan dan mendengar ceramah dari=
perwakilan-perwakilann Vi=EAt Nam, terutama dari Front Pembebasan Vi=EAt =
Nam Selatan. Ho Chi Minh yang di Vi=EAt Nam dipanggil Bac Ho [Paman Ho] pun=
pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden Soekarno. Beberapa d=
i antara anggota rombongan Bac Ho, ketika berada di Vi=EAt Nam sempat kutem=
ui kembali dan dari mereka inilah kudengar berbagai kesan serta rasa satuny=
a mereka dengan Nam Dung kita.=20
Kalau kau, pada suatu ketika berkesempatan ke negeri ini, hendaknya kau jan=
gan lupa ke Da Nang, bekas pangkalan militer terbesar Amerika Serikat. Di k=
ota ini, Museum Champa jangan sampai tidak kau kunjungi. Dari museum ini ba=
rangkali kau akan bisa melihat betapa dekatnya hubungan Indonesia dan Vi=EA=
t Nam dalam perjalanan sejarah Asia Tenggara. Hubungan taut-menaut antar ne=
geri-negeri Asia Tenggara dan Tiongkok inilah kemudian yang menjadi perhati=
an penting suami-istri Indonesianis terkemuka Perancis: alm. Denys Lombard =
dan Claudine Salmon. Sebagai ilustrasi bisa kukatakan bahwa guna menjajah =
Vi=EAt Nam, kolonialis Perancis pernah meminta pengalaman kolonialis Beland=
a dalam menghadapi Perang Aceh. Jadi antar kaum kolonialis dan imperialis p=
un ada setiakawan: setiakawan kaum penjajah, penindas dan penghisap. [Baran=
gkali istilah-istilah ini terasa asing sekarang bagi angkatanmu. Terdengar =
asing dan bombastis bahkan mungkin kau katakan sebagai demagogi. Aku memaha=
mimu jika pun kau dan yang lain-lain berkata dan merasa demikian, apalagi k=
au tumbuh di alur sejarah yang dibelokkan secara sengaja. Sejarah yang terk=
adang tanpa segan bahkan dipalsukan secara sadar!]. Ketika berada di Indone=
sia, melalui percakapan dengan berbagai kalangan, terutama dari angkatan mu=
da, diam-diam aku merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi jika sebuah=
angkatan tumbuh dan memimpin negeri tapi hampa kesadaran sejarah. Sering j=
uga kudapatkan bagaimana kesadaran sejarah ditempatkan pada kedudukan sanga=
t rendah dibandingkan dengan uang dan ketenaran nama diri. Ketenaran diri d=
an uang ditempatkan demikian tinggi dewasa ini walaupun ketenaran itu hampa=
, tanpa disertai oleh isi yang padan. Di tengah-tengah keadaan dan gaung ge=
ma suara-suara begini, aku hanya bisa menghibur diri dengan harapan bahwa a=
ku sedang melakukan kekeliruan penilaian atas keadaan serta salah dengar. K=
urang pandai membaca keadaan dan kurang pandai mendengar.
Dilihat dari sejarah, barangkali bisa dipandang bahwa setiakawan pemerintah=
Soekarno kepada perjuangan rakyat Vi=EAt Nam, sebagai kelanjutan dari perk=
embangan sejarah yang lama di antara kedua negeri dan rakyat.
Dengan latarbelakang sejarah nasional dan internasional seperti di ataslah,=
aku telah melewatkan masa remaja Yogyaku. Semangat anti imperialis membaka=
r jiwa angkatanku. Apalagi dari segi garis keluarga, aku memang dilahirkan =
dalam keluarga yang telah mempertaruhkan nyawa mereka guna menghalau milite=
risme Jepang dan kolonialisme Belanda. Masa kanakku menyaksikan bagaimana k=
akek dan nenek disiksa dan dipenjara oleh serdadu Belanda, ditambah lagi de=
ngan dongeng kakek pada subuh hari yang berjalan mondar-mandir di sekitar t=
empat tidurku. Sedangkan ibuku, kusaksikan sendiri, bagaimana ia dengan par=
ang dan tombak di tangan tanpa bergeming sedikitpun menghadapi musuh. Yang =
kusebut musuh, bukanlah orang-orang yang mengkritik, tapi perampok kampungh=
alaman dan pembunuh orang kampung secara nyata. Jadi bukan musuh-musuhan at=
au khayali. Musuh adalah kata yang mengandung pengertian filosofi dan menun=
jukkan tingkat kontradiksi dalam masyarakat yang sudah bersifat antagonisti=
s.Tingkat kontradiksi, jika aku katakan musuh, berarti sudah mencapai taraf=
kontradiksi pokok. Tahu siapa kawan dan lawan atau musuh,memang merupakan =
kunci dalam pertarungan pembebasan untuk memanusiawikan manusia, kehidupan=
dan masyarakat. Dengan ini aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa dalam bic=
ara dan menulis serta menggunakan kata, barangkali kita perlu cermat dan se=
cermat mungkin. Lebih-lebih bagi orang yang bekerja menggunakan bahasa sepe=
rti sastrawan. Awur-awuran menggunakan kata dan bahasa hanya memperlihatkan=
tingkat kerampungan pikiran secara konsepsional pemakainya.=20
Pada suatu hari, kepada para mahasiswa Gadjah Mada [Gama] disampaikan bahwa=
"besok" Universitas akan menerima Delegasi Front Pembebasan Vi=EAt Nam Sel=
atan [FPNVNS]. Delegasi akan menyampaikan ceramah di aula Sitinggil, ruang =
kuliah utama bagi Fakultas-fakultas Sosial-Politik, Hukum dan Ekonomi.Untuk=
menyatakan setiakawan kepada perjuangan rakyat Vi=EAt Nam yang diwakili ol=
eh FPVNS, sejumlah organisasi mahasiswa memutuskan untuk melakukan gerakan =
corat-coret anti imperialis Amerika Serikat [AS]. Teks corat-coret pun suda=
h ditetapkan. Jadi tidak asal-asalan. Baru kemudian kuketahui bahwa slogan =
dan corat-coret pun sesungguhnya memerlukan kecermatan berbahasa dan menggu=
nakan kata karena slogan dan corat-coret mengandung suatu konsep atau wawas=
an.Pemahaman begini lebih dipertegaskan lagi belakangan ketika aku mempelaj=
ari buku kumpulan corat-coret tembok semasa Revolusi Mei 1968 di Perancis.
Dalam gerakan corat-coret ini, aku tergabung dalam grup yang beroperasi di =
Jetis, Yogya utara, terutama di sekitar Jalan Diponegoro, di mana waktu itu=
terdapat Jefferson Library -- salah satu gedung termegah di zaman remajaku=
, berhadap-hadapan dengan Pasar Kranggan, tidak jauh dari asrama Palangka R=
aya di jalan Pakuningratan di mana aku tinggal.=20
Di pasar ini, saban malam, ada seorang ibu yang berjualan kue, sedangkan si=
ang, ia menjual makanan untuk para pelajar SMP & SMA. Ibu pemilik warung in=
i sangat memperhatikan aku dan teman-temanku. Juga sangat menyayangi murid-=
murid SMP dan SMA di mana aku mengajar dan sering makan bersama sebagai tem=
an.Selamanya aku memperlakukan murid-muridku sebagai teman yang sederajad. =
Setelah berulangkali makan di warungnya, kemudian sang ibu mengundangku k=
e rumahnya yang terletak di belakang gedung Jeferson Library, milik USIS [U=
nited States Information Service]. Hubungan kami makin akrab. Di bawah kau =
akan tahu, Guk, mengapa aku mesti bercerita tentang ibu ini.
Jam 01:00 pagi grupku yang terdiri dari tiga orang mulai beraksi. Seorang m=
embawa kaleng cat, seorang lagi memegang kuas untuk menuliskan corat-coret,=
seorang lagi mengamati jalan alias bertanggungjawab atas keamanan grup. Se=
dikitpun tak ada ketakutan menyelinap di hati kami. Yang ada di kepala tida=
k lain bagaimana menuliskan sebanyak mungkin slogan di tembok-tembok kota d=
an gedunjg-gedung yang disasar dalam waktu sesingkat mungkin. Dan kami tahu=
benar untuk apa kami melakukannya. Dalam melakukan operasi corat-coret ini=
,kami pun siap tertangkap karena kelengahan atau kurang teliti misalnya. Ka=
mi pun siap "dihajar" oleh polisi dan CPM yang biasa menggebuk dulu, baru d=
itanya.=20
Mungkin karena naluri atau terlatih, pihak kepolisian dan CPM [Corps Polisi=
Militer] yang bertopi baja putih dengan band putih bertuliskan CPM di leng=
an seragam mereka, berjip putih, menduga atau sudah tahu bahwa menjelang ke=
datangan Delegasi FPVNS akan dilakukan kegiatan tertentu di kota. Frekwensi=
patroli jip CPM berlipatganda dibandingkan dengan malam-malam biasa.
Temanku mencelup kuas besar ke dalam kaleng cat berwarna putih yang kupegan=
g untuk menuliskan di tembok-tembok Jefferson Library slogan:"Yankee, Out o=
f Vi=EAt Nam!", "Long Live FNPNS!","Ganyang Imperalis AS!". Baru selesai me=
nuliskan kata "Ganyang", teman yang mengamati jalan berteriak "CPM!". Teman=
ku yang menulis masih bersemangat untuk menyelesaikan kalimat slogan. "CPM!=
Cepat sembunyi!", teriak teman kami yang menjaga jalan sambil berlari. Tema=
nku menulis segera berlari memasuki gang-gang kampung, sedangkan aku mengam=
bil jurusan lain, menyeberangi jalan, memasuki Pasar Kranggan. Dengan lari =
memencar, CPM perlu memilih siapa yang akan dikejar sehingga tidak bisa me=
nangkap semua anggota grup. Sebelum menghentikan jip putihnya di depan gedu=
ng Jefferson Library, salah seorang dari anggota CPM menembakkan pistolnya =
ke atas. Mendengar suara pistol dan melihat aku berlari sekencang bisa, ibu=
penjual kue yang kukenal baik bertanya:
"Ada apa, nak?" Aku meliriknya sejenak dan ingin mencari tempat sembunyi ya=
ng aman.
"CPM!" jawabku singkat sambil memegang kaleng cat putih yang sudah kututup =
rapat. Sang ibu penjual kue berdiri dari dingklik dan mengambil bakul besa=
r di sampingnya. "Duduk!" Perintah sang ibu dengan tegas, yang segera kupat=
uhi. Ibu menutupku dengan bakul besar yang ia gunakan untuk membawa jualann=
ya, lalu duduk di atasnya sambil melanjutkan jualannya dengan tenang. Tak l=
ama kemudian tiga orang anggota CPM datang, bertanya:
"Tadi ada orang lari ke jurusan ini?"
"Benar", kata ibu. "Ia lari ke arah utara dengan kaleng cat di tangan", la=
njut sang ibu menunjuk utara dan melanjutkan gorengan ketelanya seperti tid=
ak terjadi apa-apa.=20
"Kita cegat di Kranggan lalu Pakuningratan", kudengar salah seorang di anta=
ra mereka berkata.
"Ia tak akan bisa pergi jauh", lanjutnya lagi kemudian melangkah meninggal=
kan warung sang ibu menuju jip putih. Tak lama kemudian deru mesin dan suar=
a jip yang melaju. Selang lima menit kemudian, ibu warung mengangkat bakul=
besarnya sambil tertawa:=20
"Sudah,nak! Mereka sudah pergi!"
"Panas, bu. Kalau tambah 15 menit lagi, aku akan pingsan!". Ibu dan para la=
ngganannya yang terdiri dari abang-abang becak yang ketika CPM lewat berlag=
ak tidak tahu apa-apa, tertawa terbahak-bahak.=20
"Untung saja ibu tidak kentut", tambahku sambil mengusap rambut.Para abang =
becak kembali ngakak dan ibu warung hanya senyam-senyum kecil.=20
Pengalaman bagaimana dilindungi oleh rakyat kecil lapisan bawah ini, kembal=
i terulang aku dikejar-kejar polisi pada masa Gerakan Aksi Sepihak di Klate=
n. Pengalaman-pengalaman kecil ini mengajarku bahwa sesungguhnya rakyat kec=
il tahu benar apa yang adil dan tidak, dan mereka sanggup mempertaruhkan ny=
awa mereka demi keadilan. Mereka tidak akan mengkhianati keadilan. Mereka a=
dalah benteng keadilan itu sendiri.
Setelah mencium kening ibu warung yang telah melindungiku, aku kembali men=
cari dua teman yang ternyata sudah menunggu di depan gedung Jefferson Libra=
ry. Kami melanjutkan operasi kecil kami sampai jam lima pagi di daerah yang=
sudah ditetapkan.
Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts: