[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [7]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Sat, 31 Jul 2004 05:03:57 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dari Notes Belajar Seorang Awam:
CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [7].
"Festival Drama"
Ketika bekerja di Indonesia dan bolak-balik berkunjung ke berbagai daerah di
tanahair, keluhan yang paling sering kudengar adalah ketiadaan dana. Ketiadaan
danalah yang menghambat pemberdayaan dan pembangunan masyarakat. Buntut dari
ketiadaan dana adalah keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan.Selanjutnya
keterbelakangan, kebodohan membuat kita miskin dan kemiskinan membuat
menyebabkan ketiadaan dana. Jalan pikiran begini,pada hakekatnya menempatkan
kita, para penganutnya berada dalam suatu lingkaran setan, sehingga kita dengan
demikian akan selamanya berada dalam keadaan bodoh, miskin dan terbelakang.
Tentu saja aku tidak meremehkan arti dana, Guk. Tapi bagiku di atas segalanya
dan pertama-tama bukanlah dana tetapi manusia yang mengendali dan mengelola
dana. Dana sebanyak apapun jika dikelola dan dikendalikan oleh manusia yang
tidak becus dan mempanglimakan dana, maka dana sebanyak apapun akan ludes dalam
beberapa waktu. Sedangkan jika kita mempunyai manusia yang sadar akan keadaan
diri, artinya tahu di mana mereka berada, sadar untuk mencari jalan keluar,
artinya menjawab pertanyaan ke mana dan bagaimana mencapai arah ke mana itu,
maka dengan adanya manusia demikian, masalah dana dicarikan pemecahannya dan
mereka pun akan berusaha sebisa mungkin mengelola dana itu. Adanya kesadaran
begini, membuat manusia pemilik kesadaran demikian akan membangkitkan mereka
menjadi aktor pemberdayaan diri sendiri dan melakukan pembangunan yang akan
bergulir terus membesar seperti bola es. Kunci pemberdayaan adalah tumbuhnya
keadaran dan kemampuan di dalam masyarakat untuk menjadi aktor
pemberdayaan diri mereka sendiri yang berporos pada proses penyadaran.
Penyadaran dan pemecahan masalah-masalah mendesak akan saling bertautan.
Pembangunan yang tidak berdasarkan pada pemberdayaan kukira akan gagal.
[Masalah pemberdayaan dan pembangunan di sini tidak kulanjutkan karena akan
terlalu menyimpang dari soal festival teater atau festival drama, cerita kecil
yang di sini ingin kututurkan].
Lembaga drama Lekra Yogya seperti halnya dengan Lembaga Musik, melakukan
latihan-latihan periodik dengan menggunakan Sanggar-sanggar Pelukis Rakyat yang
terletak di Sentulrejo dan Sanggar Indonesia Muda [SIM] di dhadapan Alun-alun
Lor [Utara] atau di rumah teman-teman yang mempunyai pendapa atau ruangan luas.
Agar yang latihan merasa lebih terdorong, maka dirancangkan sekaligus waktu
pementasan. Sebab tanpa rencana pementasan, yang latihan akan menjadi kurang
bersemangat. Segi lain dari penyelenggaraan latihan-latihan, tentu saja agar
Lembaga selalu siap memenuhi permintaan dari berbagai kalangan baik di kota
ataupun di pedesaan. Bagaimana bisa memenuhi permintaan ini, jika Lembaga tidak
siap? Padahal permintaan dari berbagai kalangan tidak pernah berhenti datang ke
Lembaga.
Saban rencana pementasan ditetapkan, masalah yang selalu memusingkan memang
masalah dana. Yuran dan sumbangan anggota yang umumnya terdiri dari mahasiswa
dan pelajar, tentu tidak memadai. Paling-paling cukup untuk mencetak undangan
diskusi dan keperluan administratif . Lalu bagaimana membayar sewa gedung,
kursi, pembuatan spanduk, poster, ongkos latihan , dan lain-lain? Pada waktu
itu kami sama sekali tidak mengenal yang disebut sekarang dengan usulan proyek
dan donator baik dalam maupun luarnegeri untuk membantu menggerakkan kegiatan.
Semua kami bekerja dengan sukarela tanpa iumbalan sepeserpun. Tapi rencana
kami tetapkan bukan untuk menjadi rencana mati dan berhenti di atas kertas.
Tidak pernah ada rencana pementasan yang kami batalkan.
Setelah berkali-kali melakukan pementasan semalam dengan satu cerita, maka pada
suatu ketika kami menetapkan untuk menyelenggarakan festival drama selama
seminggu sekalipun di kas Lembaga sama sekali tidak ada dana tersedia untuk
kegiatan sepanjang itu. Tapi rencana kami tetapkan juga dan kami bertekad
menyelenggarakan Festival tersebut. Grup-grup ditetapkan berdasarkan lakon yang
akan diangkat ke pentas. Batas waktu latihan minimal ditetapkan dan bisa
diundur jika ternyata hasil latihan dinilai kurang memenuhi harapan. Ketika
grup-grup lakon berlatih dengan giat, penanggungjawab Lembaga Drama mulai
berunding mencari jalan pembeyaan yang tentu saja tidak kecil dan jadinya
tidak sesederhana keinginan. Beaya untuk mencetak karcis festival pun kami
tidak punya.
Dalam sebuah rapat khusus membicarakan masalah beaya festival, seorang teman
mengusulkan agar para penanggungjawab dengan kerelaan menggadaikan
barang-barang mereka yang kira-kira bisa memenuhi keperluan mendesak dan
bersifat kunci yaitu karcis. Pengusul kemudian melanjutkan keterangannya bahwa
dengan uang penggadaian itu, kita cetak karcis dan dengan hasil penjualan harga
karcis itu kita tebus kembali barang-barang gadaian. Sisanya kita gunakan untuk
membeayai festival drama. Peserta rapat semua tertawa dengan usul ini karena
merasa kasihan pada diri sendiri. Tapi usul inilah yang kami terima sebagai
keputusan untuk dilaksanakan. Seorang teman segera melepaskan cincin emas dari
jarinya, meletakkannya di meja. Aku sendiri menyediakan sepeda yang kugunakan
sehari-hari untuk digadaikan. Dua sepeda dan sebuah cincin emas kami bawa ke
rumah gadai.
Aku lupa sudah berapa rupiah yang kami peroleh dari menggadaikan barang-barang
tersebut, tapi yang jelas, jumlahnya jauh dari mencukupi keperluan mencetak
karcis.
Ketika meninggalkan rumah gadai, di sepanjang jalan aku tak habis pikir,
bagaimana cincin emas bisa dinilai tinggi oleh rumah gadai. Keheranan yang naif
barangkali. Tapi jujur kukatakan sebelum pergi ke rumah gadai, di mataku emas
tidak terlalu berharga. Karena di kampungku di Sungai Katingan, kalau ibu
memerlukan emas untuk perhiasan kakak dan adik-adik perempuanku, ibu tinggal
turun sungai, mendulang beberapa jam, ibupun sudah memperoleh emas yang
diperlukan. Emas bagi kami di kampung, terutama di mata bocahku, pada waktu itu
sama sekali bukan barang mewah. Rumah gadai Yogya lah yang membuatku kemudian
sadar akan nilai emas dalam masyarakat. Sekalipun demikian, emas masih saja
belum menarik perhatianku dibandingkan dengan buku. Ketika kembali dari
perjalanan panjang puluhan tahun, kusaksikan justru emas sudah menghancurkan
alam kampung kelahiranku.
Masalah karcis sudah terpecahkan. Setelah mengetahuinya, grup-grup lakon
berlatih makin tekun dan kian bersemangat.
Persoalan berikutnya yang kami hadapi adalah bagaimana mengobah karcis menjadi
uang sehingga kami bisa menyewa gedung, kursi, membuat spanduk, poster dan
membeayai keperluan-keperluan lain pementasan. Kami kembali melakukan rapat dan
memutuskan untuk melakukan "operasi dari pintu ke pintu". Kota Yogya, kami bagi
dalam sektor-sektor: Utara, Selatan, Barat dan Timur. Petugas-petugas dan
penanggungjawab sektor pun ditetapkan. Tugas tim-tim sektor adalah mengetok
pintu demi pintu di sektor masing-masing dan meminta sumbangan sukarela dengan
imbalan karcis festival. Jadwal operasi ditetapkan. Sebulan! Saban minggu
dilakukan penyimpulan bersama, sedangkan tim sektor bebas menetapkan rancangan
penyimpulan.
Melalui "operasi dari pintu ke pintu" ini, karcis festival teredar habis
mendahului jadwal, dengan hasil melebihi anggaran minimal, termasuk untuk
menebus barang gadaian: dua sepeda dan cincin emas.Aku merasa lega karena
dengan tertebusnya kembali sepedaku, aku tidak lagi ke mana-mana dengan
berjalan kaki.
Teman-teman pelukis dari berbagai sanggar, segera membuat spanduk dan poster
lebih besar dari papan tulis sekolah dan dipancangkan di simpang empat di depan
kantor pos utama. Tak lama kemudian poster dari Teater Muslim asuhan dramawan
Diponegoro dan Arifin C. Noer serta poster Teater Rendra muncul berdampingan
dengan poster Lembaga Drama. Barang tentu, waktu pementasan kami tidak
bersamaan sehingga masing-masing bisa saling menyaksikan pertunjukan. Kukira
ini adalah suatu perlombaan sehat dan menguntungkan karena, terutama kami, bisa
belajar keunggulan teman-teman dari kelompok-kelompok teater lain. Perlombaan
sehat ini kian menyemarakkan kehidupan berkesenian di kota. Hasil pertunjukan
berbagai kelompok ini kemudian dibawa ke dalam diskusi-diskusi penyimpulan di
sanggar-sanggar. Menyimpulkan pengalaman dan pekerjaan merupakan keniscayaan
bagi Lembaga-lembaga Lekra. Kegiatan demi kegiatan berkesenian serta
penyimpulannya merupakan proses belajar bagi semua anggota.
Pengalaman mengumpulkan dana untuk suatu kegiatan ini pun kemudian ketika aku
bekerja di Palangka Raya sampai tahun 2001, kuterapkan dalam mengirimkan tiga
tenaga guna belajar tentang masalah Kredit Simpan Pinjam [Credit Union].
Tawaran bantuan beaya dari luar kutolak, karena kurasakan bantuan demikian
tidak mendidik. Ternyata kami pun berhasil mengirimkan tiga teman kami untuk
belajar selama berbulan-bulan di tempat yang cukup jauh.
Apa yang dikatakan oleh praktek di atas? Kukira yang paling pokok, bahwa
pertama-tama bukanlah dana tetapi adanya manusia yang sadar. Kesimpulan ini
juga dikuatkan oleh pengalaman kami di Paris ketika membangun Koperasi Restoran
Indonesia yang sudah berusia lebih dari 21 tahun dan sampai hari ini masih
lancar berfungsi di tengah-tengah ibukota Perancis. Dalam membangun koperasi
Restoran Indonesia, kami sama sekali tidak punya pengalaman berusaha, kami juga
tidak punya modal. Yang kami punya pertama-tama adalah ide dan setelah matang,
ide inilah yang kami ujudkan dan dicarikan jalan mewujudkannya. Kami tidak
mulai dari tersedianya dana. Tapi dari manusia. Manusia yang tersedia inilah
kemudian yang mencari dana dan mengelola dana.
Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [7]