[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [5]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>, <wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>, "ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Fri, 30 Jul 2004 08:11:52 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dari Notes Belajar Seorang Awam:
CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [5].
Ansambel Tari & Nyanyi Bhinneka Yogya.
Tentu kau tahu Guk, bahwa Lekra adalah sebuah lembaga kebudayaan yang mencakup
banyak lembaga kejuruan, seperti Lembaga Musik, Lembaga Drama, Lembaga Filem,
Lembaga Seni Rupa, dan Lembaga Sastra. Andaikan Tragedi Nasional September 1965
tidak meletus, bisa dipastikan lembaga-lembaga ini akan terus berkembang
sehingga tanggap dengan kegiatan berkesenian yang kian marak di seluruh
tanahair dari kota hingga ke daerah pedesaan yang luas. Di Jawa Tengah misalnya
seni pedalangan dan seni ketoprak berkembang sangat luar biasa sampai-sampai
muncul grup "Ketoprak Mahasiswa".
Lembaga-lembaga kejuruan inilah yang menangani kegiatan berkesenian secara
praktis, mulai dari pengaturan jadwal latihan sampai kepada pementasan,
penyimpulan pengalaman, jadwal belajar untuk meningkatkan diri dan ketrampilan
tekhnis, pameran, dan lain-lain... Dalam melakukan kegiatan praktis, rencana
pengembangan kegiatan tahunan, dan lain-lain.., Lembaga -Lembaga kejuruan ini
bersifat independen. Tapi sebagai Lembaga-lembaga yang berhimpun di bawah
Lekra, tentu saja kegiatan-kegiatan berkesenian mereka, bergerak di jalur umum
yang ditetapkan bersama seperti orientasi bahwa "sastra-seni itu diciptakan dan
dilakukan untuk mengabdi kepada rakyat". Kami tidak menghabiskan waktu dengan
mendiskusikan arah berkesenian ini, tapi lebih menekankan kepada
kegiatan.Kepada kreasi.
Di Yogya, Lekra pada waktu angkatanku, pernah menetapkan bahwa "kita harus bisa
berkesenian di segala rupa panggung, mulai dari ladang-ladang tebu, dari
barak-barak tentara & polisi, dari perkebunan dan pabrik-pabrik sampai ke
ruangan istana".
Permintaan berbagai kalangan akan pertunjukkan kesenian pada tahun-tahun 1960an
memang kian meningkat bahkan datang dari kampung-kampung dan pedesaan.
Permintaan-permintaan begini seperti tak ada hentinya. Untuk memenuhi
permintaan penduduk ini, kami merapikan organisasi lembaga-lembaga kejuruan,
meningkatkan pembentukan grup-grup tari nyanyi [waktu itu kami sebut Ansambel
Tari-Nyanyi] dan drama. Dari sebutannya, kau bisa melihat bahwa ansambel itu
mencakup berbagai bidang kesenian: sastra, musik, drama, tari, sandra-tari,
bahkan seni-melawak. Dengan demikian, ansambel bisa menyuguhkan pertunjukan
yang relatif beraneka ragam.
Semangat mengembangkan mengembangkan grup-grup Ansambel Tari-Nyanyi di daerah
Yogyakarta, nampak kian marak sejak kedatangan Ansambel Tari-Nyanyi Shin Seisha
Kuza dan Rombongan Kabuki Zen Zin Zha dari Jepang. Dari rombongan Shin Sheisha
Kuza, kami, selain belajar elan mereka, kami juga banyak belajar secara
tekhnis, terutama dalam soal dekorasi dan mengatur acara. Mereka singgah dua
kali di Yogya. Pertama dalam perjalanan keliling Jawa hingga Surabaya dan
kemudian dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Mereka menyukai Yogya dan dalam
perjalanan ke Jakarta mereka menginap beberapa hari di Kaliurang, kesempatan
yang kami manfaatkan benar untuk belajar. Yang sampai sekarang melekat dalam
ingatanku adalah elan, mobilitas dan bagaimana secara sederhana mengangkat ke
dalam kesenian masalah-masalah aktual kehidupan. Kedatangan Shin Sheisha Kuza
menyulut bara kegiatan dan setelah mereka berangkat nyala itu kian berkobar.
Kami merasa mendapatkan contoh dalam berkesenian. Tentang hal
ini aku ingin menuturkan cerita-cerita kecil dari praktek-praktek kecil remaja
kami pada waktu itu. Kukatakan remaja, karena usia tertua anggota grup
Ansambel Tari & Nyanyi Bhinneka [selanjutnya kusingkat Bhinneka] yang ingin
kukisahkan di bawah ini tidak lebih dari 20 tahun, tahun pertama atau kedua
universitas.Tapi umumnya, rata-rata masih berada di SMA.
Bhinneka hanyalah salah satu saja dari 6 grup Ansambel Tari Nyanyi yang berada
di bahwa naungan Lembaga Musik Indonesia Lekra Yogya pada waktu itu.
Masing-masing-masing grup beranggotakan paling sedikit 40-50 orang. Bhinneka
beranggota aktif 50 orang dan umumnya terdiri dari putra-putri Indonesia dari
etnik Tionghoa. Latihan-latihan dilakukan secara teratur di berbagai gedung
pertunjukan yang bisa kami gunakan secara cuma-cuma di daerah Pacinan pada
saat-saat lepas belajar , terutama di akhir pekan. Salah satu kekuatan grup
ini adalah rasa kesatuan dan disiplin. Adanya rasa kesatuan sebagai teman
membuat para anggota saling memperhatikan masalah-masalah masing-masing dan
jika masalah timbul para anggota terutama pimpinan grup mencoba memecahkannya.
Dalam rangka memelihara rasa kesatuan ini dan saling bantu, para
penanggungjawab grup sering berkunjung dari rumah ke rumah, berbicara dengan
orangtua para anggota. Kunjungan begini menimbulkan kepercayaan penuh dari
pihak orangtu
a kepada grup sehingga kalau kami melakukan pertunjukan ke tempat-tempat jauh
seperti Kediri, Klaten,Solo, Lampung dan daerah pedesaaan Jawa Tengah, untuk
waktu cukup lama, pihak orangtua samasekali tidak mengandung rasa cemas
sedikitpun melepaskan anak gadis mereka. Rasa kesatuan yang kuat menjelma
menjadi rasa persaudaraan. Kukira masalah ini sangat membantu kehidupan suatu
grup kesenian. Apa yang dicapai dirasakan sebagai hasil bersama, dan saban
pementasan dilakukan dengan keinginan memberikan yang terbaik dari diri
maasing-masing. Tidak kurasakan adanya rasa iri dan dengki sesama anggota, dan
kami coba kikis karena perasaan demikian hanya merusak kebersamaan. Apalagi
sama sekali bukan suatu kreasi seni.
Sedangkan adanya disiplin, memungkinkan grup mencapai taraf tidak jelek
dibandingkan dengan grup-grup lain, kalau tidak bisa dikatakan terbaik. Adanya
disiplin ini pula memungkinkan grup bisa menggunakan waktu secara efektif.
Dalam bidang musik, tenaga ahli dan profesional dari Akademi Seni Musik
Indonesia [ASMI] Yogyakarta, seperti Harri [penyanyi tenor] dan Supriyo
[pengajar pada pada ASMI, dengan sukarela menangani paduan suara. Sedangkan
Martin, si putera Kawanua, juga dari ASMI mengajar kami menggunakan kulintang,
alat musik khas Minahasa.Pada tahun 1965, sebenarnya Bhinneka dan ASMI
bermaksud mementaskan opera "Tanah Ketaon" yang ditulis oleh Magusig O Bungai.
Pementasannya direncanakan menunggu kepulanganku kembali ke Yogya, tapi malang,
aku tak juga datang-datang berbarengan dengan naik pentasnya opera berdarah
lain yaitu Tragedi September 1965. Dari jauh sejak itu aku mengikuti
perkembangan grup: siapa yang sudah hilang, siapa yang masih hidup. Di mana dan
bagaimana
mereka. Sedangkan dari anggota-anggota grup yang hidup dalam buruan juga
dengan 1001 cara mencoba mencariku dan memberi kabar di tanjung dan teluk
perantauan yang jauh.
Sebagai ilustrasi ingin kututurkan dengan segala kenangan, bahwa May Kwie,
salah seorang anggota Bhinneka yang telah dipinang oleh Ong, orangtua angkatku
untuk menjadi istriku, menulis minta izin kawin dengan anggota lain. Surat May
Kwie dikirimkan dengan jalan berlika-liku untuk akhirnya bisa sampai ke
tanganku. "Aku mencoba menunggu, tapi seperti kau, akupun tak tahu kapan kau
akan pulang", tulisnya di samping mengisahkan pengalaman demi pengalaman selama
tahun-tahun berdarah. Tentu saja, permintaan ini kusambut baik karena itulah
jalan paling nalar. Kisah ini hanyalah kisah kecil saja karena ia sangat
pribadi, Guk. Tapi dengan menuturkan kisah kecil ini, aku ingin menunjukkan
betapa "opera berdarah": Tragedi September 1965, melimpahkan duka dan derita
tak tertakar kepada banyak orang yang sebenarnya tak tahu apa-apa. Menuturkan
hal kecil ini, sama sekali bukan maksudku untuk memamerkan penderitaan seperti
yang pernah dituduhkan oleh seorang komentator dalam dunia maya. De
ngan menuturkannya, aku ingin agar kita tidak melupakan sejarah. Pahit atau
manis, kukira layak kita hadapi sebagaimana adanya kenyataan, sebagaimana orang
Dayak bilang, kemudian pahit dan manis dalam sejarah itu kita jadikan "penyang
pambelum" [sangu kehidupan] demi kehidupan manusiawi.
Pelibatan tenaga-tenaga ahli dan profesional seperti Supriyo, Harri, Martin dan
lain-lain ke dalam kegiatan berkesenian Bhinneka dilakukan bertolak dari
keinginan melaksanakan tiga pemaduan yaitu, memadukan kearifan & kreativitas
seniman, dengan kemampuan profesional & ahli dan pandangan pimpinan, agar bisa
mencapai taraf kesenian yang bermutu. Bhinneka tidak ingin berkesenian secara
asal-asalan. Pelibatan tenaga ahli dan profesional begini juga kami lakukan di
bidang seni tari. Untuk keperluan ini kami meminta bantuan Sutikno seorang
penari balet dan koreograf muda. Di bidang drama, kami libatkan tenaga-tenaga
ahli dari Akademi Seni Drama & Film Indonesia [ASDRAFI] Yogyakarta, seperti
Arifin. Kebijakan ini pun kami lakukan ketika membangun "Lembah Merapi", sebuah
ansambel tari-nyanyi di kabupaten Klaten yang terdiri dari anak-anak petani.
Melalui pentas lawatan ke berbagai daerah, terutama di sekitar Yogyakarta, kami
membangun dan memperkuat jaringan berkesenian di lapisan bawah, terutama di
kalangan kaum tani. Makin banyak makin baik sehingga dengan demikian para
seniman bisa menanggapi keperluan masyarakat akan kesenian. Selanjutnya Lembah
Merapi dan Bhinneka dalam banyak kegiatan memang melakukan kerjasama erat.
Lembah Merapi dilahirkan dari kancah Gerakan Aksi Sepihak di kabupaten Klaten.
Tentang hal ini kelak akan kuceritakan secara khusus. Tapi tidakkah nampak
bahwa dari lahirnya Lembah Merapi yang dibantu oleh tenaga-tenaga ahli dari
ASMI, ASDRAFI dan grup Bhinneka bahwa dalam kegiatan berkeseniannya Lekra
meneruskan tradisi lama sastra-seni bangsa kita tentang satunya sastra-seni
dengan kehidupan? Dan secara umum barangkali bisa dikatakan bahwa sesungguhnya
sastra-seni itu adalah anak zamannya.
Paris, Juli 2004.
----------------
JJ. Kusni
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [5]