[ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: BERNARD HENRI LEVY [4]
- From: "Budhisatwati KUSNI" <katingan@xxxxxxxxxxxxxxxx>
- To: "kmnu2000" <kmnu2000@xxxxxxxxxxxxxxx>,<wanita-muslimah@xxxxxxxxxxxxxxx>,"ppiindia" <ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx>
- Date: Thu, 1 Jul 2004 06:19:07 +0200
** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **
Dari Notes Belajar Seorang Awam:
BERNARD HENRI LEVY -- SALAH SEORANG FIGUR REBUPLIK BERDAULAT SASTRA-SENI PE=
RANCIS KEKINIAN [4]
Dalam tulisannya berjudul "Mes V=E9rities" [Yang Sebenarnya Tentang Diri Sa=
ya"] di majalah mingguan Nouvelle Observateur, Paris [29 April-5 Mei 2004]=
, BHL juga membandingkan antara kehidupan intelektual di Amerika Serikat da=
n Perancis. Menurut BHL, para cendekiawan Perancis "mempunyai suatu kebeba=
san bertindak yang terlalu besar" [trop grand libert=E9 d'allure], atau "=
biasa mempunyai kekuasaan" alias pengaruh dan sering berkecenderungan "menj=
engkelkan" oleh kebawelan mereka sekalipun mereka miskin uang. "Menjengkelk=
an" terutama pihak penguasa politik karena pertanyaan-pertanyaan yang merek=
a kemukakan. Mendingan jika berhenti pada pertanyaan dan tidak dilanjutkan =
pada mobilisasi. Yang terjadi di Perancis, biasanya pertanyaan diikuti deng=
an mobilisasi. Karena itu para sastrawan dan cendekiawan mempunyai pengaruh=
atau sejenis kekuasaan, terutama kekuasaan moral. "Sekalipun saya miskin u=
ang, tapi saya tidak akan mengobah kebiasaan penampilan diri saya", ujar BH=
L. "Saya akan meneruskan kebiasaan saya hanya tidur empat atau lima jam seh=
ari semalam", tambah BHL, "kalau tidak bagaimana saya bisa mempunyai waktu =
tambahan untuk berkarya dan bekerja?", lanjutnya. "Cendekiawan dan seniman =
memang memerlukan uang, tapi uang bukanlah tujuan seniman dan cendekiawan".=
"Seniman tidak bisa diperbudak oleh uang" , ujar BHL. Sastrawan dan cendeki=
awan, menurut BHL mempunyai dua ciri utama yaitu kebebasan berpikir dan ber=
tindak serta rasa ingin tahu. "Dua ciri ini tentu saja dibimbing oleh arah =
keberpihakan saya", ujarnya lagi, dan "dalam keadaan apapun dengan risiko a=
papun saya tidak akan mencampakkan keberpihakan serta dua ciri sastrawan d=
an cendekiawan tersebut", tandasnya. "Malah saya harus menuntut diri lebih =
keras lagi dalam melaksanakan arah keberpihakan saya sebagai sastrawan dan =
cendekiawan", ujar BHL pasti.=20
Dengan keinginan belajar dari pengalaman orang lain dari manapun ia berasal=
dan dari aliran pikiran serta kepercayaan apapun, yang menjadi pertanyaan=
saya: Apakah dua ciri cendekiawan dan sastrawan yang diungkapkan oleh BHL =
di atas sudah menandai kehidupan para cendekiawan dan sastrawan kita? Pada =
Chairil Anwar, jika mengamat esai-esai dan sanjaknya, barangkali ciri ini k=
ita dapatkan. Chairil tidak memasang tabu dan pagar bentuk apapun bagi rasa=
ingin tahunya. Kuriusitas [rasa ingin tahu] dan kebebasan ini pulalah yan=
g membuat Chairil menjadi manusia terbuka dan sanggup menjadi "binatang j=
alang" yang "dari kumpulannya terbuang". Pramoedya dan Rendra agaknya juga =
memiliki ciri ini. Mereka menentang pola pikir tunggal [la pens=E9e unique]=
yang menentang hakekat kemanusiaan. [Di sini saya tidak memasuki rincianny=
a karena akan berada di luar konteks tulisan ini!]. Kebebasan dan kuriusita=
s seorang sastrawan dan cendekiawan sekaligus merupakan karakteristik dari =
warga Republik Berdaulat Sastra-seni, menjadikan para warga Republik Berdau=
lat ini bisa melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan sumbangan-sumban=
gan intelektualitas kepada kehidupan. Tentu saja ciri-ciri ini bertolakbela=
kang dengan eskapisme, budakisme apalagi fatalisme. Pertanyaan lain jika pa=
ra sastrawan dan cendekiawan tidak memiliki ciri-ciri tersebut di atas, sum=
bangan apakah gerangan yang bisa diharapkan dari mereka untuk memanusiawika=
n manusia, kehidupan dan maasyarakat? Ada tentu, yaitu mendorong anggota-an=
ggota masyarakat menjadi manusia-manusia fatalis, budak, dan eskapis serta =
menyukai jalan pintas. KKN [korupsi, kolusi dan nepotisme] adalah salah sat=
u bentuk dari jalan pintas. Sejarah Republik Indonesia telah menyediakan co=
ntoh tidak sedikit di bidang sastra-seni dan intelektualitas. Lebih-lebih p=
ada zaman Orde Baru Soeharto yang menterapkan pendekatan "kemananan dan sta=
bilitas nasional" yang mempengaruhi seluruh sektor kehidupan masyarakat. Si=
sa pendekatan ini masih jelas nampak pada pola pikir dan mentalitas anak ba=
ngsa dan negeri bernama Indonesia. Yang menggelikan setelah Soerhato turun =
panggung, tidak sedikit orang-orang mengaku-ngaku diri bahwa dahulu mereka =
pun sangat anti Orba. Saya membaca dan mendengar gejala ini sebagai salah s=
atu ujud dari pola pikir dan mentalitas di negeri ini yang tak obah seperti=
kata orang Minang "seperti bendera di atas bukit", "begitu ikan meloncat k=
ita tahu jantan betinanya".=20
BHL sadar benar akan fungsi dan ciri sastrawan serta cendekiawan yang demik=
ian, karena ia merasa dirinya pertama-tama dan di atas segalanya adalah seo=
rang sastrawan. "Di atas segalanya saya pertama-tama adalah seorang sastraw=
an" [ Je suis d'abord =E9crivain], tulisnya dalam artikel "Mes V=E9rities".=
Dunia sastra adalah dunia yang pertama-tama dan utama ia kecimpungi. Dari =
dunia sastra inilah kemudian BHL merambah jalan ke kegiatan-kegiatan lain. =
Menurut BHL , dunia sastra tidak mengenal dan tidak berlaku akal bulus. Di =
dunia sastra segalanya jadi telanjang bulat, termasuk diri penulis. Karya ,=
sekalipun sebaris dua sanjak, sudah bisa memperlihatkan apa-siapa sang pen=
ulis, apakah ia seorang "r=F4deur" [bandit, gelandangan] ataukah sastrawan =
sejati. Ketelanjangan ini tentu erat hubungannya dengan karakteristik dunia=
sastra yang bebas dan penuh kuriusitas, tanda dari manusia yang berpikir d=
an bisa membaca makna. Oleh pilihan utamanya pada dunia sastra, maka BHL m=
elihat bahwa jangkauan waktu dunia sastra tidak bisa mulur mengkerut. Pasti=
, berbeda dengan sifat waktu pada umumnya. Maksud BHL bahwa sastra lahir d=
an dilahirkan serta mencerminkan waktu tertentu. Menurut pengamatan BHL, si=
fat waktu dalam dunia sastra yang tidak melar ini nampak dalam sejarah bahk=
an sejak zaman Herodotus. Memahami sifat waktu dalam dunia yang ia cintai, =
yaitu dunia sastra, maka BHL ingin hidup di berbagai dunia sekaligus. Dalam=
sikap ini, BHL terilham oleh film "Bugsy" di mana ia melihat tokoh Warren =
Beatty suatu ketika berada di dapur, kali lain dengan topi pembuat roti mem=
buat sendiri kue ulangtahun untuk anak lelakinya, kemudian pada saat lain =
berada di kamar lain menunggu kedatangan kelompok mafia untuk membunuhnya. =
Dari filem Bugsy ini , BHL seperti melihat bahwa kehidupan nyata itu sering=
berlangsung demikian, karena itu BHL ingin memaksimalkan waktu hidupnya se=
cara serentak berada di berbagai dunia.=20
Hal lain yang menarik bagi saya di sini adalah bagaimana BHL sebagai seoran=
g sasatrawan dan pemikir melihat filem Bugsy. Nampak bahwa BHL menafsirkan =
filem ini secara jauh dan sangat mendalam yaitu dengan mengetengahkan perta=
nyaan apa hakekat hidup melalui tokoh Warren Beatty. Cara mengapresiasi seb=
uah karya seni secara mendalam begini tentu tidak lepas dari dasar pendidik=
annya yang memang dilatih di fakultas filsafat sehingga ia bisa menukik ja=
uh ke dasar gelaja. Gejala hanyalah wahana untuk menggapai hakekat. Karena =
itu sering saya katakan bahwa boleh jadi kita tidak buta aksara tapi tidak =
mampu membaca makna alias buta makna. Sedangkan rakyat yang di bawah tanpa =
gelar S1, S2 dan S3 atau profesor, boleh jadi buta aksara tapi peka dan pan=
dai membaca makna. Sastra-seni sesungguhnya memang berbicara tentang hakeka=
t dengan metode dan sarana sastra-seni. Membandingkan cara pandang BHL deng=
an para otopraklamasi esais dan sastrawan di Indonesia dan berkeliarannya p=
ara "r=F4deur" di dunia sastra-seni Indonesia, saya lalu mempertanyakan tar=
af sastra-seni yang sudah kita capai. Terkesan pada saya bahwa di Indonesia=
, begitu gampangnya menjadi esais, menjadi sastrawan dan penyair tanpa men=
dalami apa sesungguhnya makna sebutan dan kata benda yang berasal dari kata=
kerja itu.
[Bersambung....]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->=20
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->=20
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg=
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;=20
4. Posting: ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxx
5. Satu email perhari: ppiindia-digest@xxxxxxxxxxxxxxx
6. No-email/web only: ppiindia-nomail@xxxxxxxxxxxxxxx
7. kembali menerima email: ppiindia-normal@xxxxxxxxxxxxxxx
=20
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
ppiindia-unsubscribe@xxxxxxxxxxxxxxx
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
=20
--------------------------------------------------------------------------
Bagi Anda yang ingin berdiskusi tentang apa saja dg akrab, santai tapi serius
dan penuh persahabatan dg seluruh masyarakat/mahasiswa Indonesia di luar negeri
serta tokoh-tokoh intelektual dan pejabat Tanah Air, silahkan bergabung dg
milis ppiindia@xxxxxxxxxxxxxxxx Kirim email kosong ke:
ppiindia-subscribe@xxxxxxxxxxxxxxx atau kunjungi
www.geocities.com/arsip_nasional/
--------------------------------------------------------------------------
Other related posts:
- » [ppi] [ppiindia] DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: BERNARD HENRI LEVY [4]